Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Moderasi Beragama dalam Pendidikan Islam di Indonesia Devi Indah Sari; Ahmad Darlis; Irma Sulistia Silaen; Ramadayanti Ramadayanti; Aisyah Al Azizah Tanjung
Journal on Education Vol 5 No 2 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i2.873

Abstract

Al-Quran is the holy book of Muslims whose contents are very relevant for all times and places (mashalih li kulli Zamanin wa eatin), one of the interesting conceptions of the Koran is about religious moderation. Religious moderation is a theory that contains the idea of ​​being moderate, fair and mediocre in every aspect of life in this world. Both are moderate in Aqidah, Worship, Muamalah/akhlaq, or moderate in Tasyri' (Sharia Formation). Meanwhile, the term religious moderation is always described in the Koran in a large set of various types of characters, including the character of honesty, intertwined mindset, love, and flexible character, which are integrated with each other, holistic and universal, all of which cannot be separated, interrelated. strengthen and benefit. Religious moderation is also emphasized in Islamic education in Indonesia, especially in aspects of learning techniques and content of material which includes material from the Koran hadith, Fiqh of Worship, Aqidah Akhlaq, Sharia (Islamic law) and Islamic Dates (Islamic history). All of the Islamic education materials above are presented in ways and techniques that uphold high values ​​and the principles of moderation in religion so as to foster character and personality that has flexibility, love, pluralism, concern and is able to act fairly and in the middle in dealing with every problem that comes and more and more a plurality generation that upholds the principle of goods and mutual respect for the principle of difference, more and more generations are emerging who love diversity in diversity so that Indonesia becomes a country that is Baldatun Thoyyiibatun Wa Rabbun Ghafur.
Pandangan Fiqih Kontemporer Terhadap Kebebasan Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) Devi Indah Sari; Indah Pratiwi; Nur Sa’adah Pulungan; Ahmad Shiddiq; Ali Imran Sinaga
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.921

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membuka ruang perdebatan serius dalam diskursus fiqih kontemporer, khususnya menyangkut batas-batas kebebasan penggunaannya oleh umat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan pandangan fiqih kontemporer terhadap kebebasan penggunaan AI, mengidentifikasi landasan metodologis yang digunakan para ulama kontemporer, serta merumuskan kerangka hukum Islam yang koheren dan adaptif dalam merespons tantangan AI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) melalui analisis isi (content analysis) terhadap fatwa, karya fiqih kontemporer, dan literatur akademis relevan dari tahun 2015 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan fiqih kontemporer terpetakan ke dalam tiga arus utama: permisif-kondisional yang mengedepankan maslahah mursalah, kehati-hatian ketat berbasis sadd al-dzari'ah, dan reformis-progresif yang menekankan ijtihad kolektif. Penelitian ini menemukan bahwa belum ada konsensus (ijma') ulama tentang status hukum AI, namun mayoritas ulama menekankan bahwa AI tidak memiliki agensi moral (taklif) sehingga tanggung jawab hukum sepenuhnya berada pada penggunanya. Kontribusi penelitian ini adalah menawarkan kerangka analitik baru berbasis maqasid syariah lima dimensi yang dapat digunakan sebagai peta jalan penentuan hukum AI secara komprehensif.