Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Identifikasi jenis alga Koralin di pulau Salawati, Waigeo Barat kepulauan Raja Ampat dan pantai Malalayang kota Manado Tampanguma, Biondi; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Manembu, Indri; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14986

Abstract

Alga koralin merupakan kelompok alga laut (seaweed) yang diklasifikasikan kedalam Divisi Rhodophyta, Kelas Florideophyceae, Ordo Cryptonemiales, Famili Corallinaceae. Secara morfologi (external appearance) kelompok famili ini terbagi atas 2 bagian, yaitu: alga koralin bersegmen (articulated/geniculated Coralline Algae) dan alga koralin tidak bersegmen (non-articulated/nongeniculated Coralline Algae). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis alga koralin dan mendeskripsikan morfologi alga koralin. Pengambilan sampel dilakukan di Pulau Salawati, Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat dan Pantai Malalayang Kota Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan bantuan peralatan SCUBA dan diambil pada kedalaman 1-5 meter dengan menggunakan metode survey jelajah. Setiap alga koralin yang di ambil dimasukan ke dalam plastik sampel. Sampel alga koralin di bawah ke Laboratorium Biologi Kelautan FPIK UNSRAT. Selanjutnya, setiap alga diidentifikasi, dicatat dan didokumentasi menggunakan kamera. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi berjumlah 4 spesies alga koralin. Keempat spesies tersebut yaitu 1 Mastophora rosea dari Waigeo Barat, 2 dari Pulau Salawati Amphiroa rigida dan Galaxaura rugosa, dan 1 dari Pantai Malalayang Peyssonnelia caulifera.
Morfologi Sargassum sp dI kepulauan RAJA AMPAT, PAPUA BARAT Pansing, Jenita; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Ompi, Medy; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14990

Abstract

Sargassum sp. merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir yang memiliki fungsi ekologis dan ekonomis bagi masyarakat pesisir. Di Kepulauan Raja Ampat ini belum banyak alga Sargassum yang di eksplorasi. Alga Sargassum memiliki berbagai macam bentuk morfologi tallus, misalnya ada yang berbentuk seperti benang yang halus, bercabang banyak, berbentuk gelembung, daun yang lebar, bergerigi pada bagian daun dan bertalus lebar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan mendeskripsikan morfologi Sargassum yang ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Dari hasil penelitian ditemukan ada 4 spesies di Pulau Yeftip Yefnawam (S. paniculatum, S. grevillei, S. cristaefolium), dan yang ditemukan di Pulau Salawati (S. polycystum).
Seagrass Community At Kampung Ambong’s Water East Likupang Subdistrict, North Minahasa Regency Surabi, Astevi; Kondoy, Khristin I. F.; Manu, Gaspar D.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.17861

Abstract

This Research is done at Kampung Ambong’s Water East Likupang Subdistrict, North Minahasa Regency. The aim of this research is to know the type composition of seagrass and to analyzed soliding, dominatting index, various index, index of spreadness. The data taken with the line transect method. The transect placement divided become 3 transect line that  located it uphold straight of beach line  each of them 95 meter long. Meanwhile the space between one transect to another (second and third) each 100 m.Meanwhile the space between one transect to another (second and third) each 100 m. All of them identified as : Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halphila minor,  Thalassia hempricii, Halodule uninervis, Halophila spinulosa. From the soliding each species show the highest score which is Cymodocea rotundata 2608 individu/m2, Syringodium isoetifolium 816 individu/m2, Halophila decipiens 420 individu/m2, Halodule pinifolia 292 individu/m2, Cymodocea serrulata 268 individu/m2, Enhalus acoroides 260 individu/m2, Halophila minor 224 individu/m2, Thalassia hempricii 160 individu/m2, Halodule uninervis 124 individu/m2, Halophila spinulosa 20 individu/m2.Whereas dominatting index be obtained 0.3 be in low category. its mean there is no species that to dominate in that water. Various index be obtained 1.65 be in mid category. it show that species community almost in spread condition, because it has the same opportunity.Index of spreadness be obtained 0.72 be in   high category, because it has a mixing seagrass field.Keywords:  community, composition, seagrass soliding. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Perairan Kampung Ambong Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara.Tujuan dari penelitian ini mengetahui komposisi jenis lamun dan menganalisis kepadatan, indeks dominasi, indeks keanekaragaman, indeks kemerataan.  Pengambilan data dilakukan dengan metode garis transek.  Penempatan transek di bagi menjadi 3 garis transek yang di letakkan tegak lurus garis pantai dengan panjang masing-masing garis transek 95 meter.  Sedangkan jarak antara transek 1 dengan transek yang lain (2 dan 3) masing-masing 100 m. Dari hasil penelitian komposisi jumlah spesies lamun (seagrass) adalah 10. Kesepuluh spesies yang teridentifikasi yaitu: Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halphila minor,  Thalassia hempricii, Halodule uninervis, Halophila spinulosa.Kepadatan masing-masing spesies  diperoleh menunjukkan nilai tertinggi yaitu Cymodocea rotundata 2608 individu/m2, Syringodium isoetifolium 816 individu/m2, Halophila decipiens 420 individu/m2, Halodule pinifolia 292 individu/m2, Cymodocea serrulata 268 individu/m2, Enhalus acoroides 260 individu/m2, Halophila minor 224 individu/m2, Thalassia hempricii 160individu/m2, Halodule uninervis 124individu/m2, Halophila spinulosa 20 individu/m2.  Sedangkan indeks dominasi diperoleh 0.3 berada dalam kategori rendah, artinya tidak ada spesies yang mendominasi di perairan tersebut. Indeks keanekaragaman diperoleh 1.65 berada dalam kategori  sedang.  Hal ini menunjukkan bahwa komunitas spesies dalam kondisihampir merata, karena memiliki peluang yang sama. Indeks kemerataan diperoleh 0.72 berada dalam kategori tinggi, karena memiliki padang lamun campuran.Kata kunci : komunitas, komposisi, kepadatan lamun.
Seagrass Thalassia hemprichii Biomass in Waleo Waters, Kema District, Minahasa Utara Regency Alelo, Meske Leny; Kondoy, Khristin I. F.; Moningkey, Ruddy D.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.19544

Abstract

This study was aimed at knowing the aquati environmental condition, the fresh weight and ry weight of root, rhizome, and leaf of  Thalassia hemprichii, and the ratio of seagrass biomass of Thalassia hemprichii with sampling sites.It was done in Waleo waters, Kema district, Minahasa Utara regency. Data collection used 50×50 cm quadrat, and each T. hemprichii in the quadrat was removed.  Water temperature and salinity were measured. Each study site was photographed.This study was done at the lowest tide in 3 locations, near mangrove forest, in the seagrass bed, and coral reefs. Seagrass samples were put in separated plastic bags with location, placed in the cool box, ans brought to the laboratory for further analysis. The samples were cleansed and put in the alcohol-containing plastic bag. Then, the samples were dried and weighed. Results showed that the highest biomass occurred in root, then leaf, and rhizome for all study sites. Keywords: seagrass, biomass, Thalassia hemprichii. ABSTRAKTujuan Penelitian adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan di lokasi penelitian, untuk mengetahui berapa besar berat basah dan berat kering dari bagian-bagian (akar, rhizoma, dan daun) dari lamun Thalassia hemprichii, untuk mengetahui perbandingan biomassa dari lamun Thalassia hemprichii berdasarkan masing-masing stasiun pengambilan sampel. Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Waleo Kecamatan Kema Minahasa Utara. Pengambilan data menggunakan kuadaran 50×50 cm, dan  setiap lamun Thalassia hemprichii di  dalam kuadran dicabut. Suhu dan salnitas air juga diukur. Lokasi penelitian diambil gambar bawah air. Pengambilan sampel dilakukan pada saat surut terrendah dekat hutan mangrove, di hamparan lamunn dan daerah terumbu karang. Sampel lamun dimasukan ke dalam plastik di pisahkan sesuai sub lokasi, sampel di masukan kedalam cool box dan di bawah ke laboratorium untuk di teliti. Lamun dicuci bersih menggunakan air bersih dan diisi dalam plastik sampel dengan memakai alkohol. Lamun di bawah ke laboratorium akan di keringkan dan ditimbang. Hasil biomassa lamun Thalassia hemprichii di lokasi penelitian menunjukkan bahwa biomassa tertinggi terdapat pada akar, kemudian daun, dan batang.Kata Kunci : Lamun, Biomassa, Thalassia hemprichii.  
Anatomical characteristics of macroalgal species from Bombuyanoi Island, East Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Patra, Frian; Kepel, Rene Ch.; Lumingas, Lawrence J.L.; Gerung, Grevo S.; Kondoy, Khristin F.; Sumilat, Deiske A.; Undap, Suzanne L.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 9, No 2 (2021): OCTOBER
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.v9i2.35229

Abstract

This research aims to study the anatomical structure of macroalgae. Sample of macroalga was collected by using Line Intercept Transect (LIT) method with sampling quadrat. Macroalgae samples were dried and separated from the roots, stems, leaves and receptacles (if present). Samples were cut transversely and longitudinally at each section and observed under binoculared microscope of Olympus CX with monitor. Based on the histology, anatomical structure of macroalgae species can be divided into two tissues from outside to inside, namely cortex and medullary cells. The cortex is composed of one layer or more. The cortex is the area between the epidermis and the central column. The medulla cells only have one layer which is the largest layer. Based on the observation result of cells type from observed spesies Eucheuma denticilatum, Gracilaria arcuata, Hydropuntia edulis, G. salicornia, Hypnea valentiae, Turbinaria deccurens, and T. ornata, it shows that cells of medulla become small toward cortex.Indonesian title:  Karakteristik anatomi jenis makroalga dari Pulau Bombuyanoi, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara
Morphometric study of seagrass Thalassia hemprichii in the coastal area of the Bahoi Village, West Likupang Sub-distritct, North Minahasa District Yuneke Kansil; Khristin I.F. Kondoy; Joudy R.R. Sangari; Alex D. Kambey; Adnan S. Wantasen; Hermanto Manengkey
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol. 10 No. 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.204 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.10.3.2019.27490

Abstract

The purposes of the morphometrics of seagrass Thalassia hemprichii study (based on samples taken from the coast of Bahoi Village, Likupang Barat Sub-district, North MInahasa District) were as follow: (1) to know the environmental conditions (temperature, salinity, pH, substrate) on the coastal area of Bahoi Village, (2) to describe the morphometrics of seagrass T. hemprichii,  and (3) to compare the morphometric of seagrass Thalassia hemprichii based on sampling stations. Data were collected using a survey method, to sample the seagrass T. hemprichii in three locations. As many as 30 individuals at each study location, were then measured using a digital caliper. The results of the measurement analyzed statistically show that the value was not significantly different. There is no significant difference in the size of the seagrass growth due to environmental conditions or environmental parameters that exist at these 3 stations and supposedly are still within the safe limits for seagrass growth. This evidence was gained based on the results of the ANOVA test (one way ANOVA) which was not significantly different.Keyword : Morphometrics; Thalassia hemprichii; Seagrass; Bahoi Village; Coast ABSTRAKTujuan Penelitian ini adalah mengetahui morfometrik Lamun Thalassia hemprichii berdasarkan sampel yang diambil di Pesisir Pantai Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat. yaitu : (1) Mengetahui kondisi lingkungan perairan lamun (suhu, salinitas, pH, substrat) di Pesisir Pantai Desa Bahoi, (2) Mendeskripsikan morfometrik dari lamun Thalassia hemprichii, (3) Membandingkan morfometrik lamun Thalassia hemprichii berdasarkan stasiun pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakaan metode survei jelajah, dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) dan dilanjutkan dengan pengambilan sampel Lamun Thalassia hemprichii sebanyak 30 individu pada setiap lokasi penelitian,   kemudian  diukur dengan menggunakan caliper digital. Hasil yang analisis diperoleh berdasarkan nilai statistik Thalassia hemprichii di Pesisr Pantai Desa Bahoi adalah tidak berbeda nyata. Tidak adanya perbedaan yang nyata dari ukuran pertumbuhan  lamun tersebut  disebabkan oleh kondisi lingkungan atau parameter lingkungan yang ada  pada ke 3 stasiun ini masih dalam batas yang aman bagi pertumbuhan Lamun. Dibuktikan dengan Hasil uji ANOVA satu jalur (one way ANOVA) diperoleh tidak berbeda nyata.Kata kunci : Morfometrik; Thalassia hemprichii; Lamun; Desa Bahoi; Pesisir
Morfometric study of Seagrass Thalassia hemprichii, in Pasir Panjang Beach, Paputungan Village, West Likupang, Minahasa Utara Trifany Zachawerus; Khristin I. F. Kondoy; Jety K. Rangan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22731

Abstract

This study was aimed at knowing seagrass species in the study site and comparing the morphometry of seagrass Thalassia hemprichii with sampling station. Sample collection employed haphazard survey, and samples and substrate were taken using a big knife, washed in seawater, an in seawater, and put into a seawater-containing bucket. Sampling points were determined by GPS, and 30 individuals of T. hemprichii were taken. Results showed that T. hemprichii in Pasir Panjang coastal waters has bigger size in mangrove and seagrass areas than that in the coral reefs. It could result from that mangrove and seagrass areas grew in muddy substrate that contained higher nutrients and calmer water condition than those in coral reefs with coral debris substrate.Keywords : Morfometrics, Thalassia hemprichii, Pasir Panjang BeachABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun apa saja yang ada di lokasi penelitian ini dan membandingkan ukuran morfometrik lamun Thalassia hemprichii berdasarkan stasiun pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan mengunakan metode survei jelajah, sampel diambil dengan parang bersamaan dengan substrat, dicuci dengan air laut dan dimasukan kedalam ember yang berisi air laut. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan mengunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sample lamun Thalassia hemprichii sebanyak 30 individu setiap stasiun, Pada hasil yang diperoleh terlihat bahwa spesies Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Pasir Panjang yang lebih besar di daerah mangrove dan daerah lamun dan yang lebih kecil adalah daerah terumbu karang.  Hal ini disebabkan, karena daerah mangrove dan lamun tersebut tumbuh pada subsrat lumpur yang memiliki kandungan nutrien lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terumbu karang dengan subsrat pecahan karang, dan keadaan perairan pada subsrat lumpur lebih tenang sehingga banyak mengendapkan sedimen.Kata Kunci : Morfometrik. Thalassia hemprichii. Pantai Pasir Panjang
CO2 Absorptibility of Seagrass, Enhalus acoroides, From Tongkaina Coast, North Minahasa, North Sulawesi Province Khristin I. F. Kondoy
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 1 (2016): EDISI JANUARI-JUNI 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.1.2016.13454

Abstract

ABSTRACT Climate change results from increase in green house effect and particles in the atmosphere. It comes from 1) fossil fuel combustion, green house gas removals, such as CO2, called  “brown carbon”, and dust particles called “black carbon”; 2) emission from forest vegetation clear cut, forest fire, and agricultural activities (fertilizer); 3) low ability of the natural ecosystem to absorb  carbon in photosynthesis and store it called “green carbon”. Seagrass can function to absorb CO2 in photosynthesis that produces biomass providing important storage of carbon. Carbon held in a vegetation is separated into aboveground carbon and underground carbon. CO2 absorptibility measurement used carbohydrate method. This measurement was aimed to know the ability of the seagrass, E. Acoroides, to absorb  CO2 through the carbohydrate content of the leaf. Results showed that CO2 absorptibility per individual of  E. acoroides was 0.50 g and the net absorptibility was 145.5 (g/Ha/hour. Keyword: seagrass, CO2, E.acoroides ABSTRAK Perubahan iklim disebabkan karena meningkatnya kandungan gas rumah kaca dan partikel di atmosfer. Pertama, disebabkan karena pembakaran bahan bakar fosil, pelepasan gas rumah kaca seperti CO2, dikenal sebagai “brown carbon”, dan partikel debu, dikenal sebagai “black carbon”. Kedua, disebabkan karena emisi yang berasal dari penebangan vegetasi hutan, kebakaran hutan, dan emisi dari kegiatan pertanian (pupuk). Ketiga, disebabkan karena pengurangan kemampuan ekosistem alami untuk menyerap karbon dalam proses fotosintesis dan menyimpannya, dikenal sebagai “green carbon”. Lamun dapat berperan dalam menyerap CO2 dalam proses fotosintesis. Fotosintesis pada lamun tersebut menghasilkan biomassa yang menyediakan simpanan penting karbon. Cadangan karbon yang tersimpan pada suatu vegetasi terbagi menjadi karbon di atas permukaan (above gound carbon) dan karbon yang berada di bawah permukaan atau dalam tanah (below gound carbon). Pengukuran daya serap CO2 dalam penelitian ini menggunakan metode karbohidrat  Pengukuran ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan tumbuhan lamun E. acoroides yang ditemukan di lokasi penelitian dalam menyerap CO2 melalui kandungan karbohidrat daun. Hasil yang didapatkan adalah daya serap CO2 per individu  E. acoroides adalah 0,50 g dan daya  serap bersih per hektar luas lahan (E. acoroides 145.5 (g/Ha/jam). Kata Kunci: Lamun, CO2, E.acoroides 1Staf pengajarFakultasPerikanandanIlmuKelautanUniversitas Sam Ratulangi
Morphometric Structure of Seagrass Halophila ovalis in Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District Coastal Waters Delya Amale; Khristin I. F. Kondoy; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14018

Abstract

Seagrass is vascular plant with rhizome roots system, trunk system and leafs that can be differenciated. Genesal characteristic of this family, amoy others, the leaf tend to have two branches, (and absent of) ligula as been found an Potamogetonaceae family, linier form af leaf, round, oval, sessile, enlarge branch with paraleel vfinger like ciramferule connected wirb crossed lower duct or perpendicular. This study was conducted in two locations namely Tongkeina, Bunaken Subdistrict, Manado City and Mokupa, Tombariri Subdistrict, Minahasa District coastal waters. Until recently there is no study yet been done regarding the comparison on morphological size of H. ovalis based on different sample location (near mangroves, seagrass beds and coral reefs) and comparing the result of morphological measurement among the locations studied. Data collection was done by using exploratory survey method where samples are directly collected, washed with seawater and put it on plastic bag. The sampling site was determined by using GPS before collecting the sample of H. ovalis that consist of 20 individuals from each station. The samples that been washed and labeled were then put in the plastic bag with alcohol to avoid the damage on seagrass sample. The results show that H. ovalis from Mokupa village is smaller than from Tongkaina. This is possibly caused the pressure of villager in Mokupa usually having their main activity to catch fish along the coastal areas which is treatening also the life of seagrass.  The discarded of both organic and non organic garbages remained from house holds and local tradiitional market also can hinder the growth of H. ovalis. Keyword : Morphometric, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa   Abstrak Lamun adalah tumbuhan vascular sejati, memiliki akar dengan sistem perakaran rhizoma, struktur batang dan daun yang dibedakan dengan jelas. Halophila ovalis termasuk dalam family Hydrocharitaceae. Ciri-ciri umum dari famili ini antara lain daun cenderung bercabang dua, daunnya tidak memiliki ligula seperti yang dimiliki oleh famili Potamogetonaceae, bentuk daun linier (lurus), membulat, oval, sessile atau bercabang membesar dengan jari-jari paralel yang dihubungkan dengan saluran silang menurun atau perpendikuler. Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu di Perairan Pantai Tongkaina Kecamatan Bunaken Kota Manado dan Pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilakukan karena belum ada data mengenai perbandingan morfometrik lamun Halophila ovalis di dua lokasi ini. Tujuan penelitian yaitu membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan stasiun pengambilan sampel (daerah dekat mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang) dan membandingkan ukuran morfologi Halophila ovalis berdasarkan lokasi pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah, sampel langsung dikumpulkan, dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam kantung plastik sampel. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan menggunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sampel lamun Halophila ovalis sebanyak 20 individu setiap stasiun, kemudian sampel lamun di cuci dan di masukan dalam plastik yang sudah di berikan lebel, dan diisi alkohol agar sampel lamun tidak rusak. Pada hasil yang di peroleh terlihat bahwa Spesies Halophila ovalis di desa Mokupa lebih kecil dibandingkan Halophila ovalis di Tongkaina. Hal ini disebabkan aktivitas masyarakat desa Mokupa dilakukan dipinggir pantai dan juga aktivitas pembuangan sampah organik. Kata Kunci : Morfrometrik, Halophila ovalis, Tongkaina, Mokupa 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Study on Density and morphometrics of seagrass Enhalus acoroides from Different Substrates on Coastal Waters of Tongkeina, City of Manado Metris S. Wangkanusa; Khristin I. F. Kondoy; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15934

Abstract

This research was conducted in coastal waters of Tongkeina, Bunaken Sub-district, Manado City, North Sulawesi. The purpose of this research is to know the density and morphometric characters of seagrass, Enhalus acoroides on different substrates in Tongkeina waters. Data collection was conducted by using quadrant transect method. At the location of the study, three data retrieval points consist of muddy substrate, muddy sand substrate, and rubble were established. To collect data, 6 quadrant transects were lied down parallel to the coastline along the seagrass bed with a total distance of 50 m while the distance of 10 m between quadrant were applied. At each sampling point a 50 cm x 50 cm quadrant transect is placed systematically on 6 points in the each sub-station. Density observation was done by counting the number of seagrass stands on the transect at each observation point at each station. Pictures were taken with a waterproof camera and were classified accordingly based on the size of the squares. The highest numbers seagrass and morphometric characters of seagrass were found on the muddy substrate.  This is because the substrate relatively in quiet waters and the growth of the seagrass is more concentrated on the length and width of the leaf. While the peak of the leaf blade is often eroded by the wave energy and the openness of the study site to the tides in relatively shallow waters, it could be also caused by environmental factors such as the strong currents that obtained at these stations. This fact also contributing to cause the growth of seagrasses is centered on leaves and roots as a form to defend themselves on fine sediments. Density and morphometric of seagrass such as leaf length, leaf width, and root length on the substrate indicate significant value or show a relationship.Keyword : Density,  morphometrics, seagrassABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di perairan pantai Tongkaeina Kecamatan Bunaken Kota Manado Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Kerapatan dan  karakter morfometrik Lamun Enhalus acoroides pada substrat yang berbeda di perairan Tongkeina. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan mampu memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan Lamun Enhalus acoroides di Desa Tongkeina di masa yang akan datang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode transek kuadran. Pada lokasi penelitian, di tentukan tiga titik pengambilan data, yaitu substrat berlumpur, substrat pasir berlumpur, dan pecahan karang (rubble). Pada setiap kedalaman diletakkan 6 transek ulangan kuadran sejajar dengan garis pantai sepanjang areal lamun dengan jarak 50 m sedangkan jarak antara kuadran 10 m. Pada tiap stasiun untuk pengambilan sampel diletakan secara sistematis transek kuadran 1 x 1 sebanyak 6 titik pada tiap sub-stasiun. Untuk pengamatan kerapatan dilakukan dengan menghitung jumlah tegakan lamun dalam transek pada setiap titik pengamatan pada setiap stasiun. Kemudian mengambil gambar dengan kamera kedap air dan gambar diambil sesuai dengan ukuran kuadrat. Kerapatan dan morfometrik lamun tertinggi ditemukan pada substrat berlumpur, hal ini disebabkan karena pada substart belumpur perairannya relatif  tenang dan pertumbuhan lamun lebih terpusat pada panjang dan lebar daun. Sedangkan puncak dari helaian daun seringkali terkikis oleh energi gelombang dan keterbukaan terhadap pasang surut pada perairan yang relatif dangkal juga disebabkan oleh faktor lingkungan seperti arus yang kuat didapatkan pada stasiun ini menyebabkan pertumbuhan lamun terpusat pada  daun dan akar untuk mempertahankan diri pada sedimen halus. Kerapatan dan morfometrik lamun seperti panjang daun, lebar daun, dan panjang akar terhadap substrat menunjukkan nilai yang signifikan atau memperlihatkan adanya hubungan.Kata kunci:      Kerapatan, morfometrik, lamun.
Co-Authors Adnan S. Wantasen Adnan Wantasen Alelo, Meske Leny Alex D. Kambey Anneke V. Lohoo Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Ari B. Rondonuwu Arsida N.A. Kamaludin Billy Th. Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Delya Amale Erly Y. Kaligis Esry T Opa Esther D. Angkouw Frans Lumoindong, Frans Fransine B. Manginsela Gaspar D. Manu, Gaspar D. Grevo S Gerung Hermanto Manengkey Indri Manembu Iyanleba, Jonathan Yohanes Jety K. Rangan John L. Tombokan Joshian N.W. Schaduw Joudy R.R. Sangari Lalita, Jans Djoike Lawrence J. L. Lumingas Lawrence J.L. Lumingas, Lawrence J.L. Leslida, Ayu Lumingas, Lawrens .J. L . Mandagi, Stephanus V. Mandagi, Stephanus Vianny Manengkey, Hermanto Manginsela, Fransine B Mantiri, Rose. O.S.E Manurung, Nia Dopa Medy Ompi Menajang, Febry S. I Menajang, Febry S. I. Metris S. Wangkanusa Mikhael A Maramis Moningkey, Ruddy D. Namoua, Dilivia J. Nego E. Bataragoa, Nego E. Nickson J. Kawung Pansing, Jenita Patra, Frian Pelle, Wilmy Rafii, Keken Angliyana Rangan, Jetty K. Rangan, Jety Rangan, Jety K. Rene Charles Kepel, Rene Charles Ridwan Lasabuda Roeroe, Kakaskasen Andreas Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Rumping, Agustiani M. V. Runturambi, Melinda Sangari, Joudy R. R. Surabi, Astevi Suzanne L Undap Tampanguma, Biondi Tamsir, Chika Litawaty Togolo, Festy Tombokan, John Leonard Tombokan, Leonard J. Trifany Zachawerus Tualangi, Jehezkiel Timotius Umasangadji, Muhammad Hasril Unstain N. W. J. Rembet, Unstain N. W. J. Vinsensius V. Makawaehe Wakkary, Paramitha G. Yuneke Kansil