Claim Missing Document
Check
Articles

PEMANFAATAN BENTONIT TERAKTIVASI ASAM KLORIDA UNTUK PENGOLAHAN MINYAK GORENG BEKAS Anwar, Rizky Nurarief; Sunarto, Wisnu; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 5 No 3 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v5i3.9283

Abstract

Minyak goreng yang telah digunakan akan mengalami kerusakan, karena proses hidrolisis, oksidasi dan polimerisasi yang menghasilkan senyawa-senyawa alkohol, asam lemak bebas, peroksida, aldehid dan keton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar efektivitas bentonit teraktivasi HCl 1M digunakan untuk meningkatkan kualitas minyak goreng bekas dengan metode adsorpsi. Variasi yang digunakan yaitu rasio massa bentonit : volume minyak goreng bekas 1,25:50, 2,5:50, 3,75:50, 5:50, 7,5:50, 10:50, 15:50, 20:50 dan 25:50 gram : ml dan waktu kontak 10, 20, 30, 40, 50, 60 dan 70 menit. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum dicapai pada massa bentonit : volume minyak goreng bekas dan waktu kontak yaitu 15 gram : 50 ml dan 30 menit. Angka asam menurun dari 1,0941 mgKOH/gram menjadi 0,2626 mgKOH/gram dengan %penurunan 75,9985%, kemudian angka peroksida menurun dari 11,8643 meq/Kg menjadi 1,6478 meq/Kg dengan %penurunan 86,1114% dan kadar air menurun dari 1,3865%b/b menjadi 0,1250%b/b dengan %penurunan 90,9845%.
ADSORPSI REMAZOL BRILLIANT BLUE MENGGUNAKAN ZEOLIT YANG DISINTESIS DARI ABU LAYANG BATUBARA Maghfiroh, Luluatul; Mahatmanti, F Widhi; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i1.11213

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik zeolit yang disintesis dari abu layang batubara, dan mengaplikasikannya sebagai adsorben remazol brilliant blue serta menentukan kapasitas adsorpsinya. Abu layang (silika 34,0%) digunakan sebagai bahan sintesis zeolit. Zeolit hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD dan FTIR, untuk mengetahui kondisi optimum adsorpsi dilakukan variasi pH (5, 6, 7, 8, dan 9), waktu kontak (30, 60, 90, 120, dan 150 menit), dan konsentrasi remazol brilliant blue (50, 100, 150, 200 dan 250 ppm). Hasil penelitian menunjukkan sintesis menghasilkan zeolit yang mirip Na-P1 dan carcrinite. Karakterisasi FTIR menunjukkan bahwa zeolit telah terbentuk dengan serapan spesifik pada bilangan gelombang 432,05 cm-1. Adsorpsi zeolit terhadap zat warna optimum terjadi pada pH 6 dengan waktu kontak 120 menit pada konsentrasi awal larutan remazol brilliant blue 200 ppm. Adsorpsi remazol brilliant blue cenderung mengikuti pola isoterm Langmuir dan memiliki kapasitas adsorpsi sebesar 6,45 mg/g dengan energi 20,44 kJ/mol.
PREPARASI NANOPARTIKEL Fe3O4 (MAGNETIT) SERTA APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN ION LOGAM KADMIUM Maylani, Amanda Shinta; Sulistyaningsih, Triastuti; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v5i2.11447

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel Fe3O4 dengan metode kopresipitasi dan mengaplikasikannya sebagai adsorben ion logam kadmium. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi seperti pH, waktu optimum, dan konsentrasi awal diteliti. Selain itu, studi isoterm dan kinetika adsorpsi juga dipelajari dalam penelitian ini. Sampel Fe3O4 yang telah disintesis dikarakterisasi  dengan FTIR, XRD, dan SAA. Hasilnya, sampel tersebut merupakan nanopartikel dengan ukuran partikel rata-rata 19,3448 nm, luas permukaan 56,973 m2/g dan diameter rata-rata pori sebesar 10,7969 nm. Kondisi optimum adsorpsi tercapai pada pH 8 selama 60 menit dan pada konsentrasi awal adsorbat 4,9017x10-6 mol/L. Adsorpsi ini mengikuti model adsorpsi isoterm Langmuir dengan qmax = 16,0302 mg/g dan kinetika isoterm Ho dengan konstanta laju adsorpsi ion Cd2+ sebesar 7,8864 g/mg menit.
IMOBILISASI DITIZON PADA KITOSAN DAN APLIKASINYA UNTUK PENURUNAN KADAR ION Pb2+ Amalina, Dina; Susatyo, Eko Budi; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i1.11533

Abstract

Ion Pb2+ adalah ion logam berat beracun dan berbahaya. Kitosan dapat berfungsi sebagai adsorben namun kapasitas adsorpsinya masih cenderung kecil. Salah satu usaha untuk meningkatkan kapasitas adsorpsinya adalah dengan mengimobilisasi ditizon pada kitosan karena terdapat gugus S=C dan –NH yang berperan sebagai pembentuk kelat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik kitosan, kitosan terimobilisasi ditizon, dan kitosan terimobilisasi ditizon setelah mengadsorpsi ion Pb2+ menggunakan FT-IR, dan aplikasi kitosan terimobilisasi ditizon untuk penurunan kadar ion Pb2+ pada pH, waktu kontak, dan konsentrasi optimum. Metode adsorpsi yang digunakan adalah metode batch. Hasil spektra kitosan terimobilisasi ditizon muncul gugus S=C dari ditizon pada bilangan gelombang 1380,77 cm-1 dan pada kitosan terimobilisasi ditizon setelah mengadsorpsi ion Pb2+, terjadi pergeseran bilangan gelombang dari 1380,77 cm-1 menjadi 1354 cm-1 karena gugus S=C telah mengikat ion Pb2+, yaitu C=S-Pb. Proses adsorpsi ion Pb2+ diperoleh kapasitas adsorpsi sebesar 17,54 mg/g untuk kitosan dan 27,03 mg/g untuk kitosan terimobilisasi ditizon.
PERAN ABU VULKANIK SEBAGAI FILLER DALAM SINTESIS PEM BERBAHAN DASAR KITOSAN Karlina, Yhuni; Kusumastuti, Ella; Prasetya, Agung Tri
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i1.11653

Abstract

Telah dilakukan penelitian sintesis membran menggunakan kitosan sebagai matriks polimer dan abu vulkanik sebagai filler yang dimodifikasi dengan surfaktan kationik CTAB. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu pengadukan optimum sintesis membran silika abu vulkanik/kitosan terbaik dan mengetahui komposisi silika abu vulkanik/kitosan (b/b) optimum yang menghasilkan sifat-sifat terbaik. Sintesis membran menggunakan metode inverse fasa dengan variasi komposisi silika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran terbaik dihasilkan oleh membran dengan rasio massa kitosan-silika abu vulkanik 2% yang memiliki modulus young sebesar 22,39 N/mm2 dengan selektivitas sebesar 7,769.104 S s/cm3. Hasil analisis FT-IR membran optimum menunjukkan hanya terjadi interaksi fisik antara kitosan dengan silika abu vulkanik. dan hasil analisis SEM yang diperoleh bahwa membran komposit kitosan abu vulkanik termodifikasi memiliki morfologi antarmuka cukup baik.
PENGARUH PENAMBAHAN ABU LAYANG TERMODIFIKASI TERHADAP KARAKTERISTIK MEMBRAN ELEKTROLIT BERBAHAN DASAR KITOSAN Wulandari, Ari Vitri; Kusumastuti, Ella; Sulistyaningsih, Triastuti
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i2.12233

Abstract

Penelitian mengenai sintesis membran sel bahan bakar berbahan kitosan dan abu layang batubara yang dimodifikasi dengan CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh lamanya waktu pengadukan dan penambahan silika termodifikasi CTAB dalam sintesis membran. Metode yang digunakan adalah inversi fasa dengan variasi waktu pengadukan selama 2, 4, dan 8 jam dan variasi jumlah silika yaitu 0; 0,5; 1; 2; dan 5% b/b kitosan. Hasil penelitian menunjukkan waktu pengadukan optimum adalah 4 jam. Membran dengan performa terbaik adalah membran 5% dengan kuat tarik 19,3 N/mm2, Modulus Young 1092,5 N/m2, konduktivitas proton 1,4634 x 10-4 S/cm, permeabilitas metanol 9,0893 x 10-8 cm2/s dan selektivitas 1,6100 x 104 S s/cm3. Hasil uji FT-IR (Fourier Transform Infrared) menunjukkan bahwa hanya terjadi interaksi fisik antara kitosan dengan silika. Berdasarkan hasil analisis SEM (Scanning Electron Microscope) disimpulkan bahwa membran memiliki morfologi antarmuka cukup baik antara matriks kitosan dengan silika.
Effect of Silane Addition on Chitosan-Fly Ash/CTAB as Electrolyte Membran Isnaeni, Diana; Kusumastuti, Ella; Sulistyaningsih, Triastuti
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i2.12253

Abstract

Electrolyte membrane was composed of chitosan and fly ash wich was modified using cetyl trimetil ammonium bromide (CTAB and silane had been done successfully. This research aims to determine the best membrane based on mechanical properties, proton conductivity, methanol permeability, and membrane selectivity. The steps consist of silica preparation from fly ash, modification of silica surface with CTAB, silica coupling process with GPTMS, synthesis of membranes, and membrane characterization. The result showed the best membrane produced by membrane with 10% silane addition with tensile strength 23,10 Mpa, elongation at break 3,17%, modulus young 6,72 Mpa, proton conductivity 8,00 x 10-4 S/cm, methanol permeability 3,37 x 10-7 cm2/s, and membrane selectivity 2,12 x 103 S s/cm3. The Fourier Transform Infra Red (FT-IR) membrane analysis result showed that only occured physical interaction and Scanning Electron Microscopy (SEM) analysis showed the distribution of particle wa spread evently and there was not agglomeration.
Pemanfaatan Serat Daun Nanas Dalam Sintesis Geopolimer Berbasis Abu Layang Batubara Hisan, Aisyah Khoirotun; Kusumastuti, Ella; Mahatmanti, Widhi
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i2.12272

Abstract

Sintesis geopolimer dengan penambahan serat daun nanas telah dilakukan. Sintesis dilakukan dengan mencampurkan abu layang, NaOH, dan Na2SiO3 pada rasio SiO2/Al2O3 5,29 mol, kemudian ditambahkan serat daun nanas dengan variasi 0-2,5% (b/b). Penambahan serat optimum terjadi pada 1,5% (b/b) dengan kuat tekan 41,91 MPa dan kuat tarik belah 16,28 MPa. Sampel uji geopolimer dengan penambahan serat 1,5% memiliki fasa amorf yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan sampel uji 0 dan 2,5% serat. Analisis gugus fungsi geopolimer dengan FT-IR (Fourier Transform Infrared) menunjukkan adanya gugus CH pada 2924,09 cm-1. Analisis morfologi menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy) menunjukkan bahwa morfologi terlihat lebih homogen dan terdapat partikel serat yang berada di antara matriks geopolimer.Geopolymer synthesis with the addition of pineapple leaf fibers have been done. Synthesis is done by mixing fly ash, NaOH, and Na2SiO3 at a ratio of SiO2/Al2O3 5.29 mol, then add pineapple leaf fibers with variations from 0 to 2.5% (w/w). The addition of optimum fiber occurred in 1.5% (w/w) with a compressive strength of 41.91 MPa and 16.28 MPa tensile strength sides. Geopolymer test samples with addition of 1.5% fibers have an amorphous phase is relatively large when compared to the test sample 0 and 2.5% fiber. Chemical bonds analysis of geopolymer by FT-IR (Fourier Transform Infrared) showed that bond CH at 2924.09 cm-1. Morphology analysis using SEM (Scanning Electron Microscopy) showed that the morphology looks more homogeneous and there is a fiber particles that are among the geopolymer matrix.
INTERKALASI MONTMORILONIT DENGAN KITOSAN SERTA APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN METHYLENE BLUE Machiril, Dhonirul; Jumaeri, Jumaeri; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i2.13400

Abstract

Montmorilonit terinterkalasi kitosan (MMT-Kts) disiapkan dengan menambahkan larutan kitosan ke dalam suspensi Na-montmorilonit (Na-MMT) selama 24 jam. Na-MMT dan MMT-Kts diuji menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR) dan Surface Area Analyzer (SAA). Interkalasi kitosan ke dalam antar lapis Na-MMT menyebabkan peningkatan basal spacing dari 8,92725 Ã… menjadi 9,64672 Ã… dan munculnya serapan baru pada bilangan gelombang 2931,73 dan 1561,1 cm-1. Interkalasi juga menyebabkan naiknya luas permukaan dan volume total pori. Efektivitas adsorpsi methylene blue (MB) menggunakan MMT-Kts telah diteliti pada kondisi pH larutan, waktu kontak, dan konsentrasi awal larutan MB yang berbeda dan dibandingkan dengan adsorpsi MB menggunakan Na-MMT. Hasil penelitian menunjukkan Na-MMT efektif digunakan untuk adsorpsi MB pada pH 4, waktu kontak 60 menit, dan konsentrasi awal larutan MB 1000 mg/L dengan efisiensi 62,43%. Sedangkan MMT-Kts efektif digunakan untuk adsorpsi MB pada pH 2, waktu kontak 90 menit, dan konsentrasi awal larutan MB 1000 mg/L dengan efisiensi 10,17%.
KOMPARASI BIOPLASTIK KULIT LABU KUNING-KITOSAN DENGAN PLASTICIZER DARI BERBAGAI VARIASI SUMBER GLISEROL Sofia, Aya; Prasetya, Agung Tri; Kusumastuti, Ella
Indonesian Journal of Chemical Science Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcs.v6i2.13822

Abstract

Bioplastik berbahan dasar pati dibuat untuk mengurangi limbah plastik. Penggunaan kulit labu kuning (Curcubita sp) sebagai sumber pati dapat mengurangi pencemaran limbah domestik. Kitosan mampu meningkatkan sifat mekanik bioplastik dan gliserol hasil samping biodiesel sebagai plasticizernya. Penelitian ini membandingkan sifat mekanik, gugus fungsi dengan Fourier Transform Infrared (FT-IR), daya serap air dan biodegradabilitas dari bioplastik dengan penambahan gliserol murni (15%) dan gliserol minyak jelantah (15, 30, dan 60% b/b pati). Komposisi terbaik pada bioplastik kulit labu kuning-kitosan-gliserol minyak jelantah 15% dengan kuat tarik 1,73 MPa, elongasi 11,14%, elastisitas 0,15 MPa, daya serap air sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni 21,5% suhu 25 dan 69,09% pada suhu 100 , tetapi persen degradabilitasnya rendah (30,76% dalam 10 hari). Apabila dibandingkan dengan bioplastik-gliserol murni 15% sifat mekaniknya hampir sama (kuat tarik 1,95 MPa, elongasi 12,66%, dan elastisitas 0,18 MPa), tetapi bioplastik-gliserol murni daya serap airnya tinggi (383% pada suhu 25 dan 727,73% suhu 100 ), dan degradabilitasnya mendekati SNI (52,82% dalam 10 hari).