Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Transfer of Shares to Third Parties as an Event of Failure of Repo Transactions According to Pojk Number 9/Pojk.04/2015 Andisa Sekarani Wibowo; Henni Wijayanti
Journal of Social Research Vol. 2 No. 3 (2023): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v2i3.704

Abstract

According to Article 1 number 1 of POJK No. 9/POJK.04/2015, the Repurchase Agreement Transaction hereinafter referred to as the Repo Transaction, is a contract to sell or buy securities with the promise of buying or selling again at a predetermined time and price. The essence of a repo transaction, that is, the Seller can buy back the securities he has sold to the Buyer at the price and at the specified time. However, such securities have often been sold by the Buyer to a Third Party before the expiration of the repurchase period. In this journal research, the author uses a case approach with a juridical-normative method, namely legal research carried out by examining library materials or secondary data as basic material for research by conducting a search for regulations and literature related to the subject matter under study. The results showed that the mechanism for transferring shares of Public Companies through repo transactions according to POJK No. 9 / POJK.04 / 2015 consists of 2 buying and selling transactions known as the first leg and second leg and is generally carried out through the negotiation market. Furthermore, the results showed that the transfer of MYRX shares by buyers to third parties was an event of repo transaction failure. The explanation of Article 3 paragraph (3) of POJK No. 9/POJK.04/2015 has outlined several circumstances that are classified as events of default, one of which is the failure to fulfill its obligations related to Repo Transactions. This is because the transfer of shares by the buyer to a third party causes the seller to be unable to repurchase the shares he has sold, so the Buyer fails to fulfill his obligation to resell the securities in the repo transaction to the Seller.
Sinergitas Pemerintah Lokal, Elit Lokal dan Komunitas dalam Penyiapan Pencegahan Konflik Horizontal di Wilayah Rawan Konflik Lusi Andriyani; Henni Wijayanti; Mohamad Nasih
INDEPENDEN: Jurnal Politik Indonesia dan Global Vol 4, No 1 (2023): INDEPENDEN : Jurnal Politik Indonesia dan Global
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/independen.4.1.50-61

Abstract

Konflik yang terjadi di masyarakat tidak hanya konflik yang disebabkan faktor sosial dan ekonomi, namun juga faktor politik. Hadirnya pemilihan langsung pada saat Pemilu atau Pilkada saat ini telah memunculkan ekses konflik sosial ditingkat horisontal dalam rentang waktu yang lama, bahkan sampai pada pemilu atau pilkada tahun berikutnya. Terkait hal tersebut penting dibangun sinergitasyang kuat antara pemerintah lokal, elit lokal dan komunitas yang ada di masyarakat untuk berperan penting sebagai aktor pencegahan dan penyelesaian konflik. Pemerintah lokal dan elit lokal selama ini melakukan tindakan melalui program pencegahan konflik sebelum perhelatan pemilu atau pilkada dilaksanakan. Kegiatan tersebut seringkali belum menjadi fokus program, baik pemerintah lokal, elit lokal dan komunitas masyarakat. Sehingga kondisi tersebut dapat mengganggu social sustainability khusunya dalam jalinan kehidupan masyarakat yang longgar karena konflik politik. Berdasarkan kodisi yang ada di masyarakat tersebut, Tujuan Penelitian: untuk mengkaji 1) bagaimana tingkat kesiapan pemerintah lokal dan elit lokal dalam menyiapkan pencegahan dan penanganan konflik di masyarakat. 2) Mengapa konflik karena kegiatan politik seperti Pemilihan umum/Pilkada berlangsunglama di masyarakat. 3) Bagaimana dampak konflik terhadap social sustainability. Tahapan Penelitian: Pengambilan data dilakukan di wilayah Tangerang Selatan sebagai bagian dari Provinsi Banten.Wilayah Banten merupakan wilayah rawan konflik dari 10 wilayah yang menjadi prioritas POLRI pada tahun 2019. Hasil Penelitian; A) Faktor Penyebab Konflik Horisontal; Konflik internal parpol,ketidak siapan untuk kalah, konflik berasal dari kepentingan ormas, hadirnya media, buzzer, lembaga survey yang tidak bertanggungjawab. B) Isu yang berkembang pada proses pemilu: Memilih Figur, pendidikan politik. C) Tingkat kesiapan pemerintah lokal dan elit lokal dalam menyiapkan pencegahan dan penanganan konflik di masyarakat. (1) Tahapan Sebelum Pemilu/Pilkada dilaksanakan: Mengeluarkan surat edaran, Sosialisasi Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), Pendidikan Politik, Evaluasi dan Silaturahmi ke masyarakat. (2) Tahapan Pada Pelaksanaan Pemilu/pilkada: Menjaga jarak dengan Pemerintah daerah, Melibatkan Tokoh Agama, Satpol PP dan Ormas: Tidak mengobralJanji-janji politik. (3) Tahapan paska Pemilu/Pilkada: Konsolidasi dengan tokoh, kunjungan ke tokoh. D) Upaya Mitigasi Konflik: Menyiapkan program pembahasan potensi konflik, memetakanscope/wilayah jangkauan konflik, kerjasama dan osialissasi politik, Pemetaan model konflik, sumber konflik dan kantong-kantong konflik.
Implementasi PP No. 47 Tahun 2012 dalam Pelaksanaan Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan pada PT. Pembangunan Jaya Ancol Henni Wijayanti; Tomi Hidayatullah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.186 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i2.6192

Abstract

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan merupakan kewajiban bagi perseroan sebagaimana diatur dalam pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 dan diatur lebih lanjut dengan PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas. Berdasarkan ketentuan tersebut maka setiap Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib menganggarkan sebagian keuntungan perusahaan untuk melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai kontribusi dalam pengembangan ekonomi, sosial maupun lingkungan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dilakukan PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk dan untuk mengetahui bagaimana penerapan PP No. 47 Tahun 2012 dalam pelaksanaan CSR pada PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Dalam penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif digunakan data primer berupa hasil wawancara dengan manajemen PT. Pembangunan Jaya Ancol.Tbk, yang berlokasi Jl. Lodan Timur No. 7, Kelurahan Ancol Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Di samping itu sebagai penunjang dalam menjawab rumusan masalah diperlukan data sekunder yang diperoleh dari kepustakaan berupa UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, PP No. 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas dan Laporan Tahunan PT Jaya Ancol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Pembangunan Jaya Ancol,Tbk merupakan perusahaan yang memenuhi kriteria sebagaimana ditentukan dalam Pasal 74 UU No. 40 tahun 2007, karena perusahaan ini menjalankan kegiatan di bidang Pembangunan (Real Estate) dan Jasa Konsultasi Bidang Perencanaan dan Pembangunan serta di Bidang Usaha Kawasan Pariwisata (Rekreasi), Perhotelan dan Sarana Olahraga. Penyelenggaraan CSR di PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk dilakukan berdasarkan keputusan Direksi No: 604/DIRPJA/X/2014 dengan sasaran perbaikan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, dengan mencanangkan: Economic Performance, Social Performance, dan Environmental Performance sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas.Tanggungjawab Sosial dan lingkungan pada PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk tahun 2017 telah terealisasi berupa pemberian dana perseroan bagi kepentingan masyarakat di sekitar perusahaan yaitu Kelurahan Pademangan Barat, Ancol, Sunter Agung, dan Pademangan Timur yang diwujudkan dalam proyek pembangunan masjid, pembangunan dan fasilitas sekolah serta fasilitas kesehatan dan sosial.
Legal Protection of Trade Secrets in a Business Portfolio Against Misuse by Former Employees: An Analysis of Judgment No. 1035/Pdt.G/2022/Pn.Jkt.Pst Henni Wijayanti; Syaela Rizkiah
International Journal of Social Service and Research Vol. 6 No. 6 (2026): International Journal of Social Service and Research
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/ijssr.v6i6.1440

Abstract

In the rapidly evolving digital economy, business information such as marketing strategies, product designs, customer databases, and project portfolios possesses significant economic value due to its capacity to provide competitive advantages for business actors. This study analyzes the legal protection of Trade Secrets concerning the Van Houten Portfolio owned by PT Flux Asia Solusindo, which was unlawfully used by its former employee, as well as examines the application of law by the judges in Decision Number 1035/Pdt.G/2022/PN.Jkt.Pst. This research employs a normative juridical method using a statutory and case approach. The findings indicate that the defendant’s actions fulfilled the elements of trade secret infringement as stipulated under Article 13 of Law Number 30 of 2000 on Trade Secrets, as well as the elements of an unlawful act pursuant to Article 1365 of the Indonesian Civil Code. However, the judges’ consideration, which relied solely on Article 1365 of the Civil Code as the legal basis for the decision, does not fully reflect the application of the principle of lex specialis derogat legi generali, whereby specific legal provisions should prevail over general provisions.
Legal Protection of Vulnerable Consumers in Digital Transactions in Indonesia Dewi Nadya Maharani; Muhamad Afifullah; Fauzan Muzakki; Henni Wijayanti; Roosdiana Harahap
Rechtsidee Vol. 14 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/jihr.v14i1.1143

Abstract

General Background: The rapid growth of e-commerce, fintech, and digital platforms has transformed consumer interactions while increasing consumer risks in the digital economy. Specific Background: Consumer protection in Indonesia is governed by the Consumer Protection Law and supported by the Electronic Information and Transactions Law, the Personal Data Protection Law, and sectoral regulations related to electronic systems. Knowledge Gap: Despite these regulations, legal fragmentation creates uncertainty and fails to explicitly recognize vulnerable consumers in digital transactions. Aims: This study develops a conceptual framework for vulnerable consumers and examines its incorporation into Indonesia’s Consumer Protection Law. Results: The findings reveal that Indonesia’s legal framework remains formally equal and fragmented, providing only partial protection through sectoral regulations while leaving many vulnerable groups insufficiently protected. Novelty: The study integrates theories of legal protection, distributive justice, the welfare state, and consumer rights to propose a vulnerability-sensitive framework. Implications: The findings support the harmonization of consumer protection, electronic transaction, and personal data protection laws to establish a more adaptive and inclusive consumer protection system in Indonesia’s digital ecosystem.  Highlights: Indonesia’s consumer protection regime does not explicitly recognize vulnerable consumers in digital transactions. Regulatory fragmentation creates legal uncertainty and protection gaps. Legal harmonization is needed to support an inclusive digital consumer protection framework. Keywords: Legal Protection, Vulnerable Consumers, Digital Transactions