Putu Ari Natih
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PANCA SATYA TERSIRAT DALAM EPOS MAHABHARATA SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI HINDU Putu Ari Natih
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Guna Widya Volume 8 Nomor 2 September 2021
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.162 KB) | DOI: 10.25078/gw.v8i2.513

Abstract

The epic Mahabharata is a story of heroism originating from the Hindu religious scriptures part of the Itihasa book which consists of 18 parwa. Of the eighteen parwa contain many ethical and moral teachings to be used as guidelines in character education today, because there is a lot of moral degradation which greatly affevts the character of a child. In this paper we will explore one of the teachings of panca satya through character plays which are told in several parwa sections. The teachings of the panca satya are teachings about loyality, honesty and based on truth, which consists of satya wecana which is loyal to word, satya mitra is loyal to friends, satya laksana isloyal to the actions that are done, satya hredaya is true to conscience, and satya semaya is true to promise. Of the five parts of the panca satya that are implied in the Mahabharata epic, it is very thick with character education that emphasizes honest, responsible, independent, religious, friendly, creative, curiosity, love of the country, hard work, respect for prestige, and social care. The purpose of this paper is to adopt the characters of several plays as contained in the educational curriculum which emphasizes 18 characters. This type of research is qualitative by using the story analysis method.
NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM UPACARA MABYAKALA PADA HARI PENAMPAHAN GALUNGAN DI DESA TUMBAK BAYUH KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG Putu Ari Natih; Ni Wayan Arini; Ni Made Suyeni
Upadhyaya : Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 Nomor 2 April 2021
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/up.v2i1.2647

Abstract

Masyarakat Hindu di Bali dikenal memiliki seni, budaya dan adat istiadat yang tidak terlepasdari adanya upacara. Upacara berarti jalan untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang HyangWidhi Wasa dengan tulus ikhlas disebut yajña. Landasan dilaksanakan yajña karena adanya TriRna, seperti upacara mabyakala pada hari penampahan galungan yang memiliki keunikantersendiri karena ditatab oleh laki-laki yang telah melaksanakan upacara ngrajasingha/menekkelih hingga kaum laki-laki lansia saja pada hari penampahan galungan di Desa TumbakBayuh. Dalam tulisan ini akan membahas tentang prosesi, fungsi dan nilai-nilai pendidikanagama Hindu yang terkandung dalam upacara mabyakala pada hari penampahan galungandengan menggunakan metode deskripsi kualitatif dan teori religi, teori fungsional struktural danteori nilai. Sejarah upacara ini dilihat dari konteks historis desa dan sastra dengan prosesinyadiawali persiapan pembuatan banten, pelaksanaannya dilakukan dengan natab pabyakalan,prayascita dan tebasan pebersian, hingga pada tahap akhir yakni ngelebarin. Dalam upacaraini memiliki fungsi peningkatan keyakinan atas adanya siklus pralina dari kekuatan negatif,fungsi penyucian diri dari ahamkara dan gangguan Sang Kala Tiga Wisesa, fungsikeharmonisan dalam konsep Tri Hita Karana dan fungsi pelestarian kebudayaan melaluipembinaan persiapan hingga tahap pelaksanaan. Upacara ini juga kental akan nilai-nilaipendidikan agama Hindu yang terdiri dari nilai material yakni bahan dalam pembuatan banten,nilai vital yakni banten yang digunakan dan nilai kerohanian yang terbagi lagi atas nilaikebenaran akan upacara mabyakala, nilai keindahan yang terdapat dalam reringitan dantetandingan banten serta seha/mantra, nilai kebaikan yang merupakan pengimplementasianajaran Tri Kaya Parisudha dan nilai religius atas keyakinan dalam pelaksanaan upacara