Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PEMETAAN GURU BAHASA DAN SASTRA SUNDA SMP/MTS DI JAWA BARAT PERMANA, RUSWENDI
LOKABASA Vol 7, No 1 (2016): Vol. 7, No. 1, April 2016
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v7i1.3420

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh belum adanya informasi pemetaan guru bahasa dan sastra Sunda  SMP/MTs di Jawa Barat. Penelitian ini menjawab pertanyaan “Bagaimana kebutuhan guru bahasa dan sastra Sunda SMP/MTs di Jawa Barat?” Metode deskriptif dengan teknik angket dan dokumentasi digunakan dalam penelitian ini. Temuan penelitian ini menunjukkan beberapa hal. Pertama, jumlah sekolah  SMP/MTs di Jawa Barat adalah 588 negeri dan 1.979 swasta. Kedua, jumlah siswa SMP/MTs di Jawa Barat adalah SMP/MTs Negeri 76.076 siswa dan SMP/MTs swasta 50.298 siswa. Secara keseluruhan siswa SMP/MTs di Jawa Barat berjumlah 236.850 siswa. Ketiga, jumlah romobongan belajar SMP/MTs adalah 126.374 rombel. Keempat, kebutuhan guru bahasa Sunda di SMP/MTs mencapai 296 guru. Berdasarkan kesimpulan di atas, penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) perlu dilakukan pendataan guru bahasa Sunda dengan menggunakan sistem digital  mapping guru agar semua guru dapat diakses dan (2) perlu dilakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dan akurat.  AbstractThis research is motivated by the lack of information on the mapping of Sundanese language and literature teacher at Junior High School (SMP) and Madrasah Tsanawiyah (MTs) in West Java. This study answers the question "How is the need of Sundanese language and literature teacher at Junior High School (SMP) and Madrasah Tsanawiyah (MTs) in West Java?" a descriptive method with questionnaires and documentation techniques were used in this study. The findings of this study indicate several things. Firstly, the number of schools (SMP/MTs) in West Java is 588 public and 1,979 private schools. Secondly, the number of students (SMP/MTs) in West Java is 76.076 students of public schools (SMP/MTs) and 50.298 students of private schools (SMP/MTs). The overall number of students (SMP/MTs) in West Java is amounted to 236.850 students. Thirdly, the number of learning group of SMP/MTs is 126.374 groups. Fourthly, the need of Sundanese teacher at SMP/MTs level reaches 296 teachers. Based on the findings, the study concludes that (1) there should be a database of Sundanese language teachers by employing digital mapping system of teachers so that all teachers are accessible; and (2) there is a need of further more in-depth and accurate research. 
KAJIAN STRUKTUR CERITA RAKYAT DI KABUPATEN CIANJUR PERMANA, RUSWENDI
LOKABASA Vol 6, No 2 (2015): Vol. 6, No. 2 Oktober 2015
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v6i2.3170

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan keberadaan cerita rakyat di Wilayah Kabupaten Cianjur. Cerita rakyat yang ada di Kabupaten Cianjur memiliki ragam jenis yang berbeda. Berdasarkan pada isi tersebut cerita rakyat itu ada yang tergolong mite, fabel, parabel, dan legenda. Keempat jenis ragam cerita ini masih cukup dikenal di dalam kehidupan masyarakat, baik anak-anak, remaja maupun dewasa. Dengan demikian jelaslah bahwa cerita rakyat, khususnya legenda merupakan materi yang dapat menciptakan berkembangnya cerita rakyat yang bercorak baru dan selaras dengan perkembangan zaman. Fungsi cerita rakyat khususnya legenda di Kabupaten Cianjur memiliki fungsi sebagai berikut: (1) Sebagai alat untuk mewariskan tata cara hidup, dat istiadat, dan kebiasaan, (2) Sebagai alat untuk mewariskan kepercayaan, (3) Sebagai alat untuk menyampaikan pendidikan, baik pendidikan lahir maupun batin, (4) Sebagai cara untuk meyampaikan asal-usul terjadinya hal-hal yang mengandung sejarah, (5) Sebagai alat hiburan, mengisi waktu senggang. Penutur cerita rakyat cukup beragam, baik umur, jenis kelamin maupun pekerjaan. Dilihat dari jenis kelamin penutur pria lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita, umur penutur rata-rata berkisar dari 36-80 tahun. Adapun pekerjaan umumnya sebagai pendidik (guru). Para penutur umumnya orang-orang yang dianggap mengenal dengan baik daerahnya masing-masing dan dianggap cukup mampu untuk memberikan informasi tentang daerahnya. Para penutur ini umumnya bersuku Sunda. The aim of this study was to describe the presence of folklore in Cianjur Regency. The folklore in Cianjur Regency has a variety of types. Based on the contents, the folklore covers myth, fable, parable, and legend. The four types are still well known in public life, whether children, adolescents and adults. Thus, it is clear that the folklore, in particular the legend, is the material that can create a new development of folklore characters and in tune with the times. The functions of folklore, in particular legend, in Cianjur cover (1) as a means to pass on the way of life, traditions, and customs; (2) as a means to pass on trust; (3) as a means to deliver inner and outer education; (4) as a way to present the origin of the things that contains history; and (5) as a means of entertainment, to fill spare time. The folklore tellers are quite diverse in age, gender, or occupation. Mostly, they are men. The average age of the tellers ranged from 36-80 years old. Generally, they are educators (teachers). The tellers are commonly the people who are considered to know well their regions and are considered capable enough to provide information about the area. The tellers are generally the Sundanese.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DALAM KHAZANAH SASTRA SUNDA KLASIK: TRANSFORMASI DARI KELISANAN (ORALITY) KE KEBERAKSARAAN (LITERACY) CARITA PANTUN MUNDINGLAYA DI KUSUMAH (KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK DAN ETNOPEDAGOGI) Koswara, Dedi; Haerudin, Dingding; Permana, Ruswendi
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 14, No 2 (2014): PEMBELAJARAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai cerita pantun Sunda dewasa ini jauh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan penelitian tentang teks sastra Sunda tertulis seperti yang berupa naskah (manuscript: handschrift). Dalam cerita pantun sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter, seperti dalam dalam teks Cerita pantun Mundinglaya Di Kusuma (CPMK). Beberapa alasan pentingnya dilakukan penelitian terhadap teks CPMK adalah sebagai berikut: (1) Teks CPMK belum pernah diteliti mengenai transformasi dari kelisanan ke keberaksaraannya, (2) Teks CPMK belum pernah dikaji secara struktural-semiotik, (3) Teks CPMK belum pernah dikaji berdasarkan pendekatan etnopedagogi sehingga diperoleh informasi berkenaan dengan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa dari teks tersebut. Pendekatan sastra yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan objektif dengan metode struktural-semiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Tradisi dan transmisi penurunan teks CPMK dilakukan secara lisan melalui pergelaran mantun, sedangkan tradisi dan transmisi teks tulis WMK tidak dapat diketahui dengan pasti karena teks itu merupakan satu teks unikum. (2) Teks lisan CPMK dan WMK memiliki struktur formal dan struktur naratif. Struktur formal CPMK terbentuk oleh 8 formula, sedangkan struktur formal WMK terbentuk oleh puisi pupuh. Struktur naratif CPMK tersusun dalam 13 fungsi dan 7 lingkungan tindakan, sedangkan struktur naratif WMK tersusun dalam 6 model aktan dan 1 model fungsional yang terdiri atas 3 tahapan jalan cerita. (3) Transformasi yang terjadi dari kelisanan (orality) CPMK ke keberaksaraan (literacy) WMK ada pada tataran bentuk formal, sedangkan tataran isi cerita tetap sama. (4) Hadirnya transformasi dari kelisanan CPMK ke keberaksaraan WMK, secara semiotik, dapat dimaknai sebagai suatu upaya untuk melestarikan dan mempertahankan eksistensi nilai ajaran moral yang tertuang dalam cerita pantun ke dalam era (zaman) wawacan sejalan dengan situasi dan kondisi serta minat masyarakat Sunda masa itu.Kata kunci: pendidikan, karakter, etnopedagogi
KEEFEKTIFAN MODEL INVESTIGASI KELOMPOK DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA TERHADAP APRESIASI CERITA PENDEK Permana, Ruswendi
Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 14, No 1 (2014): INOVASI MODEL DALAM PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpp.v14i1.3215

Abstract

Penelitian ini dilandasi isu bahwa kemampuan apresiasi cerpen mahasiswa masih belum memuaskan. Oleh karena itu, perlu dicari faktor-faktor penyebab masalah tersebut serta upaya penanggulangannya. Salah satu upaya alternatif untuk menanggulangi masalah tersebut serta meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam apresiasi cerpen adalah pembelajaran sastra melalui Model Investigasi Kelompok (MIK). Dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen dengan desain kelompok kontrol prates-pascates yang dirandom. Data penelitian ini berupa hasil tes, hasil angket, hasil wawancara, dan hasil observasi. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa MIK dapat menanggulangi kendala apresiasi cerpen serta efektif untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam apresiasi cerpen Indonesia. Dengan membandingkan hasil kemampuan awal dan akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol serta kemampuan akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dikonsultasikan dengan tabel Distribusi t, harga t1.α pada α = 0,01, n = 74 ialah 2,37780, dan harga t hitung sebesar 1,16943. Dengan demikian, t hitung lebih kecil daripada harga t1.α, atau dengan kata lain kriteria t hitung  t1.α terpenuhi, atau Ha diterima. Jadi, hipotesis kemampuan apresiasi cerpen Indonesia mahasiswa yang menggunakan Model Investigasi Kelompok lebih tinggi daripada menggunakan Model Terlangsung diterima pada taraf nyata α = 0,05 atau tingkat kepercayaan 95%. Dengan kata lain, MIK dalam pembelajaran apresiasi cerpen Indonesia secara kualitas efektif untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa JPBD FPBS UPI. Penelitian ini menemukan bahwa prosedur yang digunakan dalam MIK, berkontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan apresiasi cerpen Indonesia.
Konservasi Naskah Sunda Kuno di Kabupaten Bandung Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16929

Abstract

The conservation of Ancient Sundanese manuscripts through transliteration training was motivated by concerns about the condition of the ancient Sundanese manuscripts that had been decayed so that they were unreadable because they were eaten by termites and were hit by time bombs. Such conditions can cause the contents information of the text cannot be extracted and conveyed to the next generation. Based on the above background, there is a need to organize an activity to provide training of the procedures in collecting, documenting, describing, and transliterating Sundanese manuscript written in Arab Pegon script into Latin script. The intended ancient Sundanese manuscript is a manuscript originating from an individual collection or those which are still scattered in the community. The target community is Sundanese language teacher community in Kabupaten Bandung. The approach used is a philological approach along with training and workshop methods. The results obtained revealed that Sundanese Language teachers in Kabupaten Bandung have a strategic role in preserving the Ancient Sundanese manuscript. Teachers have a very important role to provide information to the public about the preservation of ancient Sundanese manuscripts in the area where they live. The manuscripts from transliteration as well as studies that esteem the education of local cultural wisdom can be used as alternative teaching material in the school.AbstrakKonservasi naskah Sunda Kuno melalui pelatihan transliterasi yang dilaksanakan ini dilatarbelakangi adanya kekhawatiran terhadap kondisi naskah (manuscript; handscrift) Sunda Kuno yang sudah lapuk sehingga tidak terbaca karena rusak dimakan rayap dan terkena bom waktu. Kondisi demikian dapat menyebabkan informasi isi teks yang terkandung di dalamnya tidak tergali dan tidak tersampaikan kepada generasi berikutnnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu adanya suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pelatihan tentang tatacara mengumpulkan, mendokumentasikan, mendeskripsikan, serta mekanisme transliterasi naskah Sunda beraksara Arab Pegon ke dalam aksara Latin. Naskah Sunda Kuno yang dimaksud adalah naskah yang berasal dari koleksi perseorangan atau yang masih tersebar di masyarakat. Masyarakat yang menjadi sasaran adalah kelompok masyarakat guru bidang studi Bahasa daerah/Sunda di Kabupaten Bandung. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filologis dengan metode pelatihan dan workshop.  Hasil yang diperoleh yaitu bahwa guru bidang studi Bahasa Daerah/Sunda di Wilayah Kabupaten Bandung memiliki peran strategis dalam melestarikan naskah Sunda Kuno. Guru memiliki peranan sangat penting untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang pelestarian naskah Sunda Kuno yang berada di daerah tempat mereka tinggal. Naskah hasil transliterasi serta kajiannya yang bernilai pendidikan kearifan budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan-ajar di sekolah.
Tatakrama Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana Karya Yoseph Iskandar Isnendes, Retty; Ruhaliah, Ruhaliah; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16943

Abstract

There is a presumption that Sundanese people leadership is weak and feeble so they can not compete on the national level. Though history recorded some names of Sundanese leaders, such as Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu Kanca, and Sri Baduga Maharaja. In the literature, the name of King Siliwangi is an icon and symbol of the great and successful Sundanese leader of all time. The identity and symbolism of the Sundanese leader are also reflected in the historical novel of Tanjeur na Juritan Jaya di Buana written by Yoseph Iskandar. Uniquely, the novel relies on the manuscript of Prince Wangsakerta from Cirebon which in the 1980s appalled Indonesia history. The novel has been awarded Rancage from Ajip Rosidi's Rancage Foundation. By using descriptive method and literature review technique and interpretation, the novel will be examined his leadership ethics in ethno pedagogic scope. The aims of this study are: (a) to describe the principles of Sundanese leadership in the novel, (b) to describe the etnopedagogical aspect in the novel, and (c) to compare the leadership principles of the past and the present as models of cultural education. The expected outcomes are the descriptions of figures of Sundanese leadership, Sundanese leadership manners, and the cultural education model found in the novel analyzed.AbstrakAda anggapan bahwa kepemimpinan Sunda lemah sehingga tidak dapat bersaing di panggung nasional. Padahal sejarah mencatat sejumlah nama pemimpin panutan Sunda, misalnya saja Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Dalam tataran sastra nama Prabu Siliwangi merupakan ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda yang besar dan berhasil sepanjang masa. Ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda tergambar juga dalam novel sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana yang ditulis oleh Yoseph Iskandar. Unik dan utamanya, novel tersebut bersandar pada naskah Pangeran Wangsakerta dari Cirebon yang tahun 1980-an menggemparkan jagat kesejarahan Indonesia. Novel tersebut telah mendapat hadiah Rancage dari Yayasan Rancage Ajip Rosidi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik telaah pustaka dan interprerasi, novel tersebut akan dikaji tatakrama kepemimpinannya dalam lingkup etnopedagogik. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (a) mendeskripsikan tatakrama kepemimpinan Sunda dalam novel, (b) mendeskripsikan aspek etnopedagogik dalam novel, dan (c) membandingkan tatakrama kepemimpinan masa lalu dan masa sekarang sebagai model pendidikan budaya. Hasil yang diharapkan adalah terdeskripsikannya tokoh-tokoh dalam kepemimpinan Sunda, tatakrama kepemimpinan Sunda, dan model pendidikan budaya dari novel yang dianalisis.
Naskah Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran” Karya Yus Rusyana (Kajian Struktural dan Semiotik) Mustaqim, Farhan; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 2 (2019): Vol. 10, No. 2, Oktober 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i2.21337

Abstract

This research entitled “The Manuscript “Hutbah Munggaran di Pajajaran” by Yus Rusyana (A Structurally Semiotic Study). Nowdays, there are tot much author that write Sunda manuscript drama, beside that write drama manuscript in comparison with author short story, novel or poetry. Drama to load manuscript is limited, so it is difficult ti find a book manuscript collection drama. Purpose of this study was conducted to identify and describle works of literature, in particular manuscript drama based on structure-semiotic then applied as a learning materian in SMA/SMK/MA. The description of these problem the authors, used two methods namely descriptive analytical method used in data processing, and structural-semiotic. Structural studies are used to describle the structure of the drama while semiotic studies are used to identify and describle the meaning contained in the text of manuscript by Yus Rusyana entitled “Hutbah Munggaran di Pajajaran. The data source used in this research is from the drama manuscript by Yus Rusyana entitled “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. After the identification of the manuscript drama can be described theme of religion that is the issue of moral. Other findings based on studies semiotic is in the script “Hutbah Munggaran di Pajajaran” there are 17 icons, 15 index, and 11 symbols.AbstrakDewasa ini tidak banyak pengarang yang menulis naskah drama Sunda, apalagi jika dibandingkan dengan penulis cerpen, novel, atau puisi. Lahan untuk memuat naskah drama pun terbatas, sehingga sulitnya mencari buku kumpulan naskah drama. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karya sastra, khususnya naskah drama berdasarkan struktur dan semiotiknya kemudian diterapkan sebagai bahan pembelajaran di SMA/SMK/MA. Dalam pendeskripsian permasalahan tersebut, penulis menggunakan dua metode, yakni metode deskriptif analitis, dan struktural-semiotik. Kajian struktural digunakan untuk mendeskripsikan struktur drama sedangkan kajian semiotik digunakan dalam mendeskripsikan makna yang terdapat dalam naskah karya Yus Rusyana yang berjudul “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari naskah drama karya Yus Rusyana yang berjudul “Hutbah Munggaran di Pajajaran”. Setelah proses identifikasi terhadap naskah drama tersebut dapat dideskripsikan naskah tersebut bertemakan tentang réligi yang memiliki fokus di persoalan moral. Penemuan lainnya berdasarkan kajian semiotik yaitu, dalam naskah “Hutbah Munggaran di Pajajaran” terdapat 17 ikon, 15 indeks dan 11 simbol.
Nilai Moral dalam Novel Si Bohim jeung Tukang Sulap Karangan Samsoedi Untuk Bahan Pembelajaran Membaca Novel Haryanti, Haryanti; Permana, Ruswendi; Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34139

Abstract

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Anak Guha Karang Legok Pari Karya Hidayat Susanto Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi; Suherman, Agus
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.29145

Abstract

A Collection of Short Stories Dirawu Kelong by Ahmad Bakri (Structural Analysis) Aisah, Nur; Permana, Ruswendi; Koswara, Dedi
International Journal of Language and Culture Vol. 2 No. 2 (2024): International Journal of Language and Culture
Publisher : CV. Goresan Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63762/ijolac.v2i2.16

Abstract

This research is titled “A Collection of Short Stories Dirawu Kelong by Ahmad Bakri (Structural Analysis).” It is motivated by the unique characteristics of Ahmad Bakri's works, especially in terms of story structure and language. One of Ahmad Bakri’s notable works is the Collection of Short Stories Dirawu Kelong. Based on this background, the study aims to analyze the story structure in the Collection of Short Stories Dirawu Kelong by Ahmad Bakri. The elements described include theme, characters, setting, plot, point of view, language style, and moral message. This research employs a descriptive method. Data was collected through literature study techniques. Selected data, namely the short story Dirawu Kelong, were analyzed using direct element analysis and structural analysis. The findings show that the theme of the short story is social; there are four characters; the plot follows a sequential structure; the setting includes daytime as the time and the kitchen and forest as places. The point of view is the first person; the language style is simple, and the moral message is that we should strive to be good children to everyone.