Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rendemen Tar Pirolisis Sampah Kota dengan Komposisi Organik/Anorganik (70/30% w/w) Anggreini Beta Citra Dewi; Dwi Aries Himawanto; Mohammad Masykuri
Ekosains Vol 10, No 3 (2018)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.73 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rendemen tar yang dihasilkan dalam pirolisis sampah kota terseleksi 70 %/30 % organik/anorganik. Penelitian diawali dengan pengumpulan dan penyiapan bahan baku. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampah kota terseleksi yang terdiri dari styrofoam, komponen berbahan dasar biomass (daun pisang), komponen berbahan dasar biomass (bambu), dan pembungkus makanan ringan, dimana jenis sampah yang digunakan adalah sampah yang belum terolah secara maksimal di TPA Putri Cempo Surakarta. Bahan baku tersebut kemudian dikeringkan sehingga memiliki kadar air maksimal 10 % dan dihaluskan hingga lolos ukuran 20 mesh. Pencampuran bahan baku dengan variasi persentase berat sampah organik dan sampah anorganik, 70 % sampah organik : 30 % sampah anorganik seberat 200 gram. Tahap selanjutnya adalah proses pirolisis yang dilakukan dalam sebuah fixed bed pyrolyser dengan temperatur akhir yang digunakan adalah 550 0C, 650 0C dan 750 0C . Untuk swept gas digunakan nitrogen dengan laju aliran sebesar 100 ml/menit. Adapun variasi heating yang digunakan 15 0C/menit, 25 0C/menit, 35 0C/menit, dan 45 0C/menit. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada perlakuan heating rate 25 0C/menit perlakuan suhu mempengaruhi jumlah rendemen tar. Akan tetapi, hasil analisis pada heating rate 15 0C/menit, 35 0C/menit, dan 45 0C/menit menunjukkan bahwa interaksi perlakuan suhu dan heating rate tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen tar yang dihasilkan, dikarenakan terjadinya secondary cracking. Pembentukan fraksi cair maksimum pada sekitar 500 °C dan menunjukkan bahwa pembentukan gas lebih menonjol dari titik ini karena fraksi cair akan retak pada suhu di atas 500 ° C. Pirolisis pada suhu yang terlalu tinggi dan waktu yang terlalu lama akan menyebabkan pembentukan asap cair berkurang karena suhu dalam air pendingin semakin meningkat sehingga asap yang dihasilkan tidak terkondensasi secara sempurna.
Pengaruh Tekanan Panas Terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Shaping Folding Aurina Firda Kusuma Wardani; Seviana Rinawati; Anggreini Beta Citra Dewi; Fathoni Firmansyah; Endah Marlina; Siti Rachmawati
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. 7 No. 2 (2023): Industrial Hygiene and Occupational Health
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jihoh.v7i2.9136

Abstract

Industri makanan dengan proses produksinya menyebabkan KAK dan PAK seperti di PT. X. Hasil pengukuran tekanan panas rata-rata pada bagian shaping folding adalah 36,7 ⁰C, dan hasil pengukuran kelelahan kerja mengalami kelelahan kerja sedang. Kondisi panas yang berlebihan akan menyebabkan kelelahan dan kantuk, mengurangi stabilitas dan menyebabkan kelelahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh tekanan panas terhadap kelelahan kerja pada tenaga kerja shaping folding di Unit 2 PT. X. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Unit 2 PT.WXY pada tahun 2017. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan hasil sampel sebanyak 50 orang. Instrumen penelitian untuk mengukur tekanan panas menggunakan Area Heat Stress Monitor dan kelelahan menggunakan Reaction Timer. Tekanan panas di tempat kerja dan kelelahan kerja dengan uji data statistik Pearson Product Moment. Hasil tekanan panas tertinggi 37,4 ⁰C dan kelelahan tertinggi dengan waktu reaksi 628 mili detik. Dari hasil pengukuran diketahui 34 orang mengalami kelelahan kerja sedang. Hasil analisis dengan uji Pearson Product Moment, terdapat pengaruh yang signifikan antara tekanan panas dengan kelelahan kerja (p = 0,000). Sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh tekanan panas terhadap kelelahan kerja pada tenaga kerja bagian shaping folding di Unit 2 PT. X. Kata Kunci: Tekanan Panas, Kelelahan Kerja
ASSOCIATION BETWEEN OCCUPATIONAL NOISE EXPOSURE AND HYPERTENSION RISK: META ANALYSIS Aurina Firda Kusuma Wardani; Siti Rachmawati; Anggreini Beta Citra Dewi
Journal of Vocational Health Studies Vol. 9 No. 3 (2026): March 2026 | JOURNAL OF VOCATIONAL HEALTH STUDIES
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jvhs.V9.I3.2026.224-230

Abstract

Background: Noise is a common occupational physical hazard that, when esposure exceeds threshold limits, can elevate blood pressure. Work-related hypertension may affect workers’ productivity. Purpose: To conduct meta-analysis of the association between occupational noise exposure and the risk of high blood pressure. Review: The authors performed meta-analysis of 10 articles published between 2018-2023 from different sources, including Google Scholar, PubMed, and Science Direct. The terms "noise exposure" or "occupational noise" and "hypertension" and "multivariate analysis" were used to search for papers, which were then chosen based on inclusion and exclusion criteria. Review Manager (RevMan) 5.3 was used to analyze this study. Result: According to the findings of a meta-analysis of 10 publications, being exposed to noise at work raised one's risk of developing hypertension by a factor of 1.83 in comparison to not being exposed to it (aOR = 1.83; 95% CI = 1.49-2.24; p-value = 0.001). Conclusion: Working in a noisy environment increases the risk of high blood pressure.