Nur Rahmad Yahya Wijaya
Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perihal Pewahyuan kepada Para Nabi dan Para Rasul Menurut Fazlur Rahman Nur Rahmad Yahya Wijaya; Anwar Rudi
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.695 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i1.166

Abstract

Wahyu-wahyu Allah selain al-Qur’an juga diwahyukan melalui ide-kata. Al-Qur’an adalah satu-satunya Wahyu yang benar-benar telah diwahyukan oleh Allah dengan lafal dan maknanya. Sebagian para ulama menafsirkan wahy sebagai ilham yang hanya mendatangkan makna tanpa kata. Tidak sedikit para orientalis yang meneliti kejiwaan Muhammad, apakah beliau orang yang sehat atau sakit, karena pengakuannya sebagai nabi sangat dianggap mustahil. Karena melihat al-Qur’an sebagai berasal dari kitab-kitab suci sebelumnya dan menolak kenabian Muhammad sebagai peristiwa trans historis, bagi mereka kenabian Muhammad adalah imitasi. Fazlur Rahman membedakan hakikat Wahyu al-Qur’an yang unik dari bentuk-bentuk pengetahuan kreatif lainnya dan meletakkan al-Qur’an berada pada urutan paling atas berkenaan dengan hakikat keilahian dan inpirasi ide-kata. Rahman menyatakan bahwa seluruh pengetahuan kreatif, bentuk puitis serta bentuk-bentuk kreatif seni lainnya masuk ke dalam kategori yang sama dengan Wahyu al-Qur’an: ide-ide dan kata-kata lahir dalam pikiran si penerima inspirasi. Secara psikologis, tidak diragukan bahwa kesemuanya itu sama dan membentuk tingkatan-tingkatan yang menarik dari fenomena inspirasi yang sama
KONSEP TASAWUF PERSPEKTIF NEO-SUFISME Nur Rahmad Yahya Wijaya; Rasuki
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 10 No. 1 (2022): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.604 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v10i1.225

Abstract

Some say that the essence of Sufism is in fana' (ecstasy, self-destruction before God) and kasyf (disclosure to God) because through both, ma'rifah (direct relationship with God) as the goal of Sufism occurs. Neo-Sufism, as a new Sufism movement, rejects or doubts the ecstatic-mystical-philosophical elements of classical Sufism, and therefore prefers elements of puritanism (its compatibility with Islamic orthodoxy) and changes its escapist character (escape from the world) to activism (positive attitude towards, and self-involvement in, the world). The aim of this study is to further examine the differences between the nature of classical Sufism and neo-Sufism and to further assess neo-Sufism. As a method, the answers found regarding the nature of (classical) Sufism are used as a benchmark for assessing neo-Sufism. On this basis, it was later discovered that neo-Sufism cannot be called Sufism. That was because of his denial or doubt about kasyf as the essence of Sufism, with which, the goals of Sufism, such as ma'rifah and other Sufism experiences (al-ahwa al-sufiyyah) occur. Without the experience of Sufism there can be no Sufism.