Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Prototipe Alat monitoring Suhu dan Kelembaban pada Rumah Penyimpan Tembakau Berbasis Internet of Thing (IoT) Muthmainnah Muthmainnah; Aan Syaifudin; Ninik Chamidah
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol 13 No 1 (2023): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v13i1.853

Abstract

Telah dibuat prototipe alat monitoring suhu dan kelembaban pada rumah penyimpan tembakau berbasis IoT. Sensor suhu dan kelembaban yang digunakan adalah DHT22. Pengukuran suhu dan kelembaban dilakukan sebanyak 10 percobaan dan diulang sebanyak 5 kali. Rata-rata standar deviasi pada pengukuran suhu adalah 1,21 0C. Pada pengukuran kelembaban rata-rata nilai standar deviasinya adalah 1,19%. Prosentase akurasi pengukuran suhu adalah 96,36% dengan membandingkan sensor DHT22 dengan termometer. Akurasi pengukuran kelembaban adalah 95,33% dengan membandingkan sensor DHT22 dengan HTC-2. ESP8266 diterapkan untuk menerima data dari sensor dan memancarkannya melalui perangkat wifi. Data suhu dan kelembaban dapat dimonitoring melalui smartphone android dan aplikasi blynk. Hasil perekaman data suhu relatif sama setiap hari dan berkisar antara 24 0C sampai dengan 36 0C. Nilai kelembaban yang telah dimonitoring juga relatif sama setiap hari yaitu berkisar antara 19% sampai dengan 42%.
Desain dan Pengembangan Monitoring Cairan Infus Berbasis Internet of Things (IoT) Telegram Muthmainnah Muthmainnah; Hafid mansur; Ninik Chamidah
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol 13 No 3 (2023): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v13i3.1178

Abstract

Infus merupakan terapi kesehatan untuk menggantikan asupan makan atau cairan. Umumnya terapi infus diterapkan pada pasien yang menjalani rawat inap. Terapi infus memerlukan pemantauan dan pengawasan yang kontinyu oleh tenaga kesehatan. Masalah akan muncul jika dalam sebuah rumah sakit memiliki keterbatasan jumlah tenaga kesehatan sementara jumlah pasien sangat banyak. Keterlambatan penggantian infus atau macetnya tetesan infus dapat berakibat fatal bagi pasien. Untuk menghindari kejadian tersebut diperlukan teknologi tepat guna yang dapat memonitoring jumlah cairan infus. Pada penelitian ini telah dilakukan pengembangan monitoring cairan infus berbasis IoT. Sensor yang digunakan adalah sensor berat load cell yang dikonversi pada besaran volume. Alat ini memanfaatkan mikrokontroler ESP8266 yang memiliki modul wifi. Pemograman ESP8266 menggunakan Arduino IDE yang bersifat open source. Alat ini juga dilengkapi dengan LCD yang diletakkan pada tiang infus untuk menampilkan data cairan. Hasil monitoring dapat dipantau melalui smartphone melalui aplikasi telegram. Notifikasi akan masuk pada smartphone tenaga kesehatan jika level cairan infus berada pada level dibawah 50 ml. hasil pengukuran cairan infus memiliki rata-rata error 1,61 dengan error tertinggi adalah 3,5 dan error terendah adalah 0,3. Prosentase akurasi alat memiliki nilai paling rendah adalah 93%, paling tinggi adalah 99,91%, dan rata-rata prosentase akurasi adalah 98,65%.
Development of Optical Sensor Technology for Non-Invasive Hemoglobin Measurement Muthmainnah; Fabriansyah Zakaria Arabani; Imam Tazi; Ninik Chamidah; Wiwis Sasmitaninghidayah; Mokhamad Tirono
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 11 (2023): November
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i11.5610

Abstract

This research focuses on the development of hardware and software required to implement optical sensor technology. The optical sensor used is the MAX30102, equipped with infrared (IR) and red-light sources along with a receiver. The signals generated by the sensor are processed by NodeMCU and displayed on the OLED. The calibration results indicate the relationship between hemoglobin obtained using the invasive method and the output of the MAX30102 sensor, which is in the form of wavelength. It has the equation  with an  value of 0.9114. This equation is utilized to program the NodeMCU through the Arduino IDE. Validation and clinical trials have been conducted to evaluate its accuracy and applicability in clinical contexts. The results show that the non-invasive device has an average standard deviation of 0.32, indicating consistent measurement values. The non-invasive device demonstrates an average accuracy of 99.24%, signifying high precision and similarity to invasive methods. This suggests that the device holds potential as an innovative solution for Hemoglobin measurement.
Optimizing Formalin Detection in Fish Using QCM Sensors with TOMAC Membrane Coatings for Product Quality Monitoring Muthmainnah Muthmainnah; Khoirul Aini; Imam Tazi; Ninik Chamidah; Kusairi Kusairi
INDONESIAN JOURNAL OF APPLIED PHYSICS Vol 14, No 2 (2024): October
Publisher : Department of Physics, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/ijap.v14i2.92912

Abstract

Detection of formalin in fishery products is a significant concern in the food industry to ensure consumer safety. This study compared the performance of Quartz Crystal Microbalance (QCM) sensors without a membrane and with a Trioctyl methyl ammonium Chloride (TOMAC) membrane coating in detecting formalin in fish samples. The research findings indicate that QCM without a membrane for formalin samples has a lower detection limit of 150 ppm and an upper detection limit of 350 ppm with a sensitivity of 2194.171 Hz/ppm. On the other hand, QCM with a TOMAC membrane coating has a lower detection limit of 400 ppm and an upper detection limit of 550 ppm with a sensitivity of 842.7551 Hz/ppm. Meanwhile, QCM without a membrane for formalin in fish samples has a lower detection limit of 450 ppm and an upper detection limit of 650 ppm with a sensitivity of 15386.38 Hz/ppm. At the same time, QCM with a TOMAC membrane coating for formalin in fish samples has a lower detection limit of 350 ppm and an upper detection limit of 500 ppm with a sensitivity of 23108.9 Hz/ppm. Response time analysis shows that both sensors reach a steady state condition after 12 seconds. This study highlights the importance of selecting appropriate sensors for detecting formalin in fishery products, considering detection limits, sensitivity, and response time as crucial criteria. Thus, these findings can guide the fisheries industry in choosing effective and accurate formalin detection technology.