Iriana Maharani, Iriana
Otolaryngology Head&Neck Surgery Department of Medical Faculty Brawijaya University / Dr. Saiful Anwar Regional Public Hospital

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Laporan Kasus: Chronic Invasive Fungal Rhinosinusitis dengan Fistula Oroantral Prasetyo, Samuel; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Chronic Invasive Fungal Rhinosinusitis (CIFRS) adalah infeksi jamur pada sinus yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk fistula oroantral, yaitu hubungan abnormal antara rongga mulut dan sinus maksilaris. Kondisi ini sering terjadi pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita diabetes mellitus. Diagnosis yang terlambat dan penanganan yang tidak adekuat dapat menyebabkan morbiditas yang tinggi. Tujuan: Laporan ini bertujuan untuk mendokumentasikan kasus CIFRS dengan fistula oroantral pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2, serta mengevaluasi strategi diagnosis dan penatalaksanaan yang efektif dalam menangani kondisi ini. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 51 tahun mengeluhkan keluarnya nanah dari gusi kiri atas sejak satu bulan setelah pencabutan gigi molar atas kiri. Pasien memiliki riwayat sinusitis kronis dan diabetes mellitus tipe 2. Pemeriksaan fisik dan pencitraan menunjukkan sinusitis maksilaris kiri dengan fistula oroantral. Kultur jaringan sinus mengidentifikasi Corynebacterium sp., sementara histopatologi menunjukkan peradangan kronis dan jaringan granulasi. Pasien menjalani Middle Meatal Antrostomy (MMA), prosedur Caldwell-Luc, serta perbaikan fistula oroantral. Namun, karena komorbiditas diabetes mellitus, luka pascaoperasi tidak sembuh sempurna, sehingga dilakukan revisi penutupan fistula. Kesimpulan: Penanganan CIFRS dengan fistula oroantral memerlukan pendekatan multidisiplin, termasuk debridemen bedah, terapi antibiotik, serta manajemen faktor predisposisi seperti diabetes. Keberhasilan perbaikan fistula oroantral bergantung pada pengendalian infeksi sinus dan teknik bedah yang tepat. Diagnosis dini dan penatalaksanaan komprehensif sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN OTITIS MEDIA EFUSI Ghutama, Bio Swadi; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi (RA) adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi 10-25% populasi dunia, menyebabkan morbiditas signifikan. Gejala umum meliputi bersin, hidung tersumbat, dan rinorea. RA sering dikaitkan dengan otitis media efusi (OME), kondisi cairan di telinga tengah tanpa infeksi akut, yang merupakan penyebab umum gangguan pendengaran pada anak. Deteksi dini gangguan telinga tengah terkait RA penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Tujuan: Makalah ini bertujuan memahami hubungan kausal antara rinitis alergi dan otitis media efusi, serta meninjau strategi penatalaksanaan kedua kondisi tersebut. Diskusi: RA adalah penyakit inflamasi yang dimediasi IgE, dengan prevalensi meningkat secara global. Patofisiologinya melibatkan reaksi alergi fase cepat dan lambat. Penatalaksanaan RA meliputi penghindaran alergen, farmakoterapi (antihistamin, kortikosteroid intranasal), dan imunoterapi. OME bersifat multifaktorial, dengan faktor risiko seperti disfungsi tuba Eustachius, rinitis kronis, dan alergi. Reaksi alergi dapat memicu OME melalui edema tuba Eustachius dan peningkatan sekresi mukosa telinga tengah. Penanganan RA yang efektif krusial untuk mencegah OME. Kesimpulan: RA dan OME adalah kondisi umum dengan hubungan kompleks. Pemahaman lebih lanjut tentang hubungan kausal dan strategi pengobatan optimal sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien, terutama pada populasi anak.
MUKOPIOKEL SINUS PARANASAL Fatimatuzzahra, Fitri; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Mukokel merupakan lesi pseudocystic, ekspansif yang tumbuh lambat. MukokelĀ  berisi kista dengan epitel pseudokolumnar. Gejala umum mukokel meliputi obstruksi hidung, gangguan pada pergerakan bola mata, proptosis, gangguan visus, diplopia dan nyeri kepala. Tujuan: Laporan ini menyajikan satu kasus mukopiokel sinus paranasal dengan perluasan orbita. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada Desember 2023-Februari 2024 dengan kata kunci "Mucocele in Paranasal Sinus"DAN"Mucopyocele" DAN "FESS". Dalam database Pubmed Medline, Science Direct dan Google Scholar, diperoleh 15 literatur yang kemudian disaring dalam bentuk publikasi dari 10 tahun terakhir, relevansi dengan topik, serta naskah lengkap yang tersedia. Hasil: Kasus ini merupakan kasus mukopiokel sinus paranasal perluasan orbita. Tatalaksana dengan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional. Didapatkan kantong berisi nanah yang mendesak sinus etmoid anterior dan posterior, dilakukan marsupialisasi parsial. Setelah operasi, tidak ditemukan adanya keluhan hidung dan mata pada pasien. Kesimpulan: Mukokel merupakan lesi non neoplasma yang tumbuh berisi kista dengan epitel kolumnar dan bersifat jinak. Tatalaksana mukopiokel pada kasus ini dilakukan dengan pendekatan bedah sinus endoskopik fungsional dengan keuntungan minimal invasive, perdarahan minimal, tidak ada bekas luka dan penyembuhan lebih cepat.
Upaya Pencegahan bagi Pasien dengan Rinitis Alergi: A Systematic Review Djatioetomo, Yudha Adi Pradana; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 5 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis pada mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) dan ditandai dengan gejala rinore, bersin, pruritus, dan obstruksi hidung. Penyakit ini memiliki prevalensi tinggi secara global dan dapat menurunkan kualitas hidup serta berhubungan dengan penyakit saluran napas lain seperti asma. Upaya pencegahan menjadi penting untuk mengurangi morbiditas dan mencegah progresivitas penyakit, namun efektivitas berbagai strategi pencegahan masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Meninjau secara sistematis bukti ilmiah mengenai berbagai strategi pencegahan pada pasien dengan rinitis alergi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain systematic review dengan pendekatan PRISMA. Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data ilmiah menggunakan kata kunci terkait rinitis alergi dan pencegahan. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan menggunakan kerangka PICO. Kualitas metodologis studi dinilai menggunakan Newcastle-Ottawa Scale, kemudian data diekstraksi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Berbagai strategi pencegahan rinitis alergi yang ditemukan meliputi pengendalian alergen lingkungan, penggunaan penjernih udara, intervensi nutrisi seperti probiotik dan pola diet tertentu, praktik menyusui dan pengenalan makanan pada anak, serta allergen immunotherapy (AIT). Dari berbagai intervensi tersebut, imunoterapi alergen menunjukkan potensi paling kuat dalam memodifikasi perjalanan alami penyakit, sementara intervensi lain seperti kontrol lingkungan dan suplementasi nutrisi menunjukkan hasil yang bervariasi antar penelitian. Kesimpulan: Upaya pencegahan rinitis alergi melibatkan pendekatan multifaktorial yang mencakup pengendalian lingkungan, intervensi nutrisi, serta imunoterapi alergen. Imunoterapi alergen merupakan strategi yang paling konsisten menunjukkan manfaat dalam memodifikasi perjalanan penyakit, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat bukti terkait strategi pencegahan lainnya.