Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Analisis Bauran Pemasaran pada Omzet Penjualan Obat Bebas dan Bebas Terbatas pada Proses Swamedikasi Apotek Kimia Farma di Kabupaten Blora Sri Suwarni; Destine Harenda; Khamdiyah Indah Kurniasih
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.305 KB) | DOI: 10.35960/snppkm.v0i0.1002

Abstract

Bauran pemasaran merupakan upaya untuk meningkatkan omzet penjualan swamedikasi obat bebas dan bebas terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan omzet penjualan obat bebas dan bebas terbatas pada swamedikasi dengan implementasi bauran pemasaran,mengetahui bauran pemasaran yang berpengaruh dan kendala yang terjadi terhadap implementasi bauran pemasaran.Penelitian metode observasi analisis data kuantitatif yaitu data omzet penjualan obat bebas dan bebas terbatas sebelum dan setelah implementasi bauran pemasaran. Pengambilan data berdasarkan lembar observasi data penjualan obat bebas dan bebas terbatas selama bulan September - Desember 2020 dan Januari - April 2021 dan data kualitatif lembar depth interview dengan Apoteker Pengelola Apotek Kimia Farma Kabupaten Blora.Hasil analisis data omzet total penjualan obat bebas dan bebas terbatas nilai t 0,39>0,05 dan analisis data omzet swamedikasi obat bebas dan bebas terbatas nilai t 0,059>0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada omzet total penjualan dan omzet swamedikasi obat bebas dan bebas terbatas dengan implementasi bauran pemasaran di apotek Kimia Farma Kabupaten Blora. Bauran pemasaran belum dapat meningkatkan omzet swamedikasi karena terkendala kebiasaan masyarakat untuk cenderung menggunakan obat racikan dan jamu tradisional karena pengalaman
Studi Penggunaan Antibiotik pada Ulkus Diabetikum di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto pada Tahun 2021 Sunarti Sunarti; Imroatun Nafingah; Reina Melani; Khamdiyah Indah Kurniasih
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2022: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2022)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.004 KB) | DOI: 10.35960/snppkm.v2i1.1173

Abstract

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit yang termasuk kedalam kelompok metabolic yang ditandai dengan peningkatan glukosa darah secara tidak normal. Ulkus diabetikum merupakan komplikasi pada pasien Diabetes Melitus yang sering terjadi. Pengobatan pada pasien ulkus diabetikum salah satunya dengan pemberian terapi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi sehingga dapat mengakibatkan pengobatkan kurang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien Ulkus Diabetikum di RSUD Margono Soekarjo tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif analitik dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada pasien ulkus diabetikum yang menggunakan antibiotic kemudian dianalsis secara kualitatif dengan menggunakan metode gyssens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kasus 65 sampel yang didapat diperoleh hasil bahwa ketepatan penggunaan antibiotik pada kategori gyssens yaitu pada kategori 0 (tepat) sebanyak 42 pasien (65,63%), kategori IIb (tidak tepat interval) sebanyak 4 pasien (6,25%), kategori IIIb (terlalu lama) sebanyak 8 pasien (12,31%), dan paga kategori IVa (lebih efektif) sebanyak 10 pasien (15,38%).
Formulasi dan Uji Stabilitas Masker Gel Peel-Off Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) dengan Perbandingan PVA dan HPMC Rizky Widya Ayuning Tias; Desy Nawangsari; Khamdiyah Indah Kurniasih
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 20
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v3i1.1240

Abstract

Ekstrak daun kersen (EDK) mengandung antioksidan dengan nilai IC50 8,04 ppm yang termasuk kategori sangat kuat sehingga peneliti tertarik untuk dikembangkan menjadi sediaan kosmetik yang bertujuan untuk mengetahui stabilitas sediaan masker gel peel-off dengan perbandingan konsentrasi film forming dan gelling agent. Ekstraksi menggunakan metode remaserasi dengan pelarut etanol 96%. Formula dibuat menjadi 3 dengan perbandingan konsentrasi PVA dan HPMC yaitu FI (9:3), FII (8:4), dan FIII (7:5). Hasil stabilitas uji pH menghasilkan pH (5,2-5,4) yang masih memenuhi rentang persyaratan pH kulit, uji viskositas menghasilkan (5.672,5-5.694,1 cps) yang masih memenuhi rentang viskositas, uji daya lekat menghasilkan (4,50-6,62 detik) yang masih memenuhi rentang daya lekat yaitu > 4 detik, uji daya sebar menghasilkan (4,5-5,4 cm) dan uji waktu mengering diperoleh (22,33-27,66 menit). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan uji paried sampel t-test semua formula menujukkan kesetabilan terhadap pH, daya lekat, daya sebar dan waktu mengering dengan nilai (2-tailed>0,05) namun pada viskositas hanya stabil pada FI sedangkan pada FII dan FIII tidak stabil dengan nilai sig. (2-tailed<0,05) maka menunjukan bahwa perbandingan PVA dan HPMC pada FI (9:3) memenuhi semua parameter persyaratan sifat fisik dan stabilitas.
Cost Effectiveness Analysis Kombinasi Amlodipin-Kandesartan Dibandingkanamlodipin-Irbesartan Pada Hipertensi Komorbid Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUD Goeteng Taroenadibrata Linda Lia erfika; Silma Kaaffah; Khamdiyah Indah Kurniasih
Syntax Idea 3181-3192
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i7.4088

Abstract

Hipertensi merupakan permasalahan global karena menjadi salah satu penyebab kematian dan penyakit di seluruh dunia. Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah seseorang berada di atas angka normal (< 140/90 mmHg). Seseorang yang mengalami hipertensi komorbid diabetes mellitus (DM) tipe 2 mengalami peningkatan risiko 2-4 kali lipat terhadap penyakit kardiovaskular. Pengobatan hipertensi membutuhkan biaya yang cukup tinggi, sehingga perlu adanya penggunaan biaya yang rasioal untuk pengobatan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengobatan antihipertensi yang paling efektif dengan biaya yang murah untuk pasien hipertensi komorbid DM tipe 2 di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dengan metode Cost-effectiveness analysis (CEA). Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Menggunakan data rekam medis pasien yang mendapat antihipertensi amlodipin-kandesartan atau amlodipin-irbesartan sampel sebanyak 91 sampel. Hasil penelitian didapatkan bahwa efektivitas terapi paling besar pada pasien hipertensi komorbid DM adalah kombinasi amlodipin-kandesartan yaitu sebanyak 36 pasien (55.2 %), sedangkan kombinasi amlodipin-irbesartan hanya 26 pasien (44.8 %). Nilai ACER dan ICER yang memiliki biaya paling efektif adalah kombinasi amlodipin-kandesartan dimana nilai ACER sebesar Rp. 46.821 per pasien dan nilai ICER Rp.-6,029. Kesimpulannya kombinasi antihipertensi amlodipin-kandesartan lebih cost effective dibandingkan kombinasi amlodipin-irbesartan
Analisis Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Kecemasan Yang Mendapatkan Zolpidem dan Escitalopram di RSUD Goeteng Taroenadibrata Menggunakan Instrumen EQ-5D-5L Saskia Nur Ubay; Khamdiyah Indah Kurniasih; Fauziah Fauziah
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 4 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i4.1083

Abstract

Anxiety disorders are among the most common mental health problems in society and can affect patients’ quality of life. This study provides a comparative overview of the quality of life of patients with anxiety disorders at Goeteng Taroenadibrata Regional General Hospital who received Zolpidem or Escitalopram therapy. The purpose of this study was to determine whether there was a significant difference in the quality of life between patients using Zolpidem and those using Escitalopram. This study was a descriptive quantitative study using a cross-sectional approach. The study population consisted of patients with anxiety disorders at Goeteng Taroenadibrata Regional General Hospital, with a sample of 60 patients divided into two groups based on the therapy received, namely Zolpidem (30 patients) and Escitalopram (30 patients). Quality of life was measured using the EQ-5D-5L instrument. The results showed that 53.3% of patients in the Zolpidem group were male, while 66.7% of those in the Escitalopram group were female. In terms of age, most patients were over 60 years old, both in the Zolpidem group (83.3%) and the Escitalopram group (80.0%). In addition, the majority of patients in both groups had been undergoing treatment for more than six months (66.7%), with 20 patients in each therapy group. Statistical analysis using the Mann-Whitney test showed no significant difference in the quality of life between patients receiving Zolpidem and those receiving Escitalopram, with a p-value greater than 0.05.
Analisis Rasionalitas Penggunaan Antiplatelet Aspirin Dan Clopidrogel Sebagai Monoterapi Pada Pasien Stroke Iskemik Ridho Dwi Muktiono; Khamdiyah Indah Kurniasih; Silma Kaaffah
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16 No 2 (2025): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v16i2.2053

Abstract

Stroke termasuk faktor utama disabilitas dan kematian nomor dua di dunia. Antiplatelet yaitu pengobatan untuk stroke iskemik dilakukan dengan memberi obat anti-agregasi platelet yang bertujuan untuk menghambat penggumpalan trombosit, sehingga mencegah terbentuknya trombus yang sering terjadi pada sistem arteri. Aspirin dan clopidogrel termasuk agen antiplatelet yang direkomendasikan oleh kementerian kesehatan melalui Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stroke Tahun 2019. Tujuan penelitian ini supaya tahu rasionalitas pemakaian antiplatelet aspirin dan clopidrogel sebagai monoterapi pada pasien Rawat inap stroke iskemik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini yakni deskriptif kuantitatif dengan pendekatan secara retsrospektif dengan memakai data sekunder yaitu rekam medis pasien di RSUD Prof. Dr. Margono. Hasil penelitian dari total 100 pasien stroke iskemik mayoritas laki laki banyaknya 60 pasien (60%) dan wanita banyaknya 40 pasien (40%). Usia pasien mayoritas 56 – 65 tahun banyaknya 41 pasien (41%). Pemakaian obat antiplatelet yang paling banyak dipakai yaitu clopidogrel banyaknya 83%. Evaluasi rasionalitas sesuai tepat pasien 100%, tepat obat 83%, tepat dosis 100%, dan tepat interval 100%.
Drug Utilization Analysis in Stroke Patients at Cilacap Regional Public Hospital Using the ATC/DDD Method and DU 90% Argi Asih; Sunarti; Khamdiyah Indah Kurniasih
Viva Medika Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v17i1.1353

Abstract

Stroke is a serious medical condition in which the blood supply to the brain is disrupted, leading to the death of brain cells. The use of stroke medications aims to prevent and treat thromboembolism, and the increased use of stroke medications reflects the high global morbidity and mortality rates. This study aims to describe the utilization of drugs for stroke in patients treated at Cilacap Regional Public Hospital in 2022. The research method used was a descriptive study with a retrospective approach, referring to medical record data. A total of 167 samples were taken by purposive sampling, and the samples were evaluated using the ATC/DDD method and DU 90%. The results showed that the highest DDD/100 bed days value was for oral Acetylsalicylic Acid at 128124.19, and the lowest DDD/100 bed days value was for intravenous Phytomenadione at 6.73. The stroke medication included in the DU 90% was the ischemic stroke drug, oral Acetylsalicylic Acid, with a DU% value of 97.61%. The stroke medications in the 10% segment were the ischemic stroke drugs, namely oral Clopidogrel, oral Cilostazol, and oral Warfarin, as well as the hemorrhagic stroke drugs, intravenous Tranexamic Acid and intravenous Phytomenadione. The DDD per 100 bed days value for stroke medications exceeded the WHO's appropriateness criteria.
Analysis of the Effectiveness of Antihypertensive Drugs on Blood Pressure Reduction in Patients Receiving Calcium Channel Blocker and Angiotensin Receptor Blocker Therapy Fauziah; Reina Meilani; Zahra Amalia Ristiana; Khamdiyah Indah Kurniasih; Amelia Sari; Nurmalia Zakaria
Viva Medika Vol 19 No 2 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v19i2.2088

Abstract

This study aimed to analyze the effectiveness of antihypertensive drugs from the Calcium Channel Blocker (CCB) and Angiotensin Receptor Blocker (ARB) classes in reducing blood pressure among hypertensive patients. The study employed a retrospective observational design using medical record data collected from November 2024 to February 2025 and was conducted in four primary healthcare centers in Banyumas Regency. A total of 70 patients enrolled in the PROLANIS program were selected using purposive sampling. Data were analyzed based on changes in blood pressure and statistically tested using the One-Way ANOVA test. The results showed that the ARB + CCB combination therapy was the most frequently used regimen (50%) and achieved the lowest mean blood pressure value (129.94/77.25 mmHg) among the therapy groups. Statistical analysis indicated a significant difference in systolic and diastolic blood pressure between patients receiving monotherapy and combination therapy (p < 0.05). These findings suggest that the ARB + CCB combination therapy was associated with greater blood pressure reduction compared to monotherapy among hypertensive patients in primary healthcare settings.
Development of a Pilot Chatbot to Detect Interactions Between Monotherapy and Combination Therapy with Captopril Using a Local (LLM) in Cardiovascular Therapy Ikhwan Yuda Kusuma; Afriza Pujiati; Khamdiyah Indah Kurniasih; Siti Setianingsih; Bizhar Ahmed Tayeb; Nur Arifin Akbar; Muhammad Syaiful Aliim
Journal of Advanced Health Informatics Research Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Peneliti Teknologi Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59247/jahir.v4i1.422

Abstract

Cardiovascular diseases (CVDs), including hypertension and heart failure, remain major contributors to global morbidity and mortality and frequently require long-term polypharmacy. The concurrent use of multiple medications increases the risk of drug–drug interactions (DDIs), which may reduce therapeutic effectiveness, increase toxicity, and contribute to adverse drug reactions. This study aimed to develop and validate a locally deployed large language model (LLM)-based chatbot for detecting drug–drug interactions involving captopril in both monotherapy and combination therapy settings. A development and validation study was conducted using DDI data obtained from DrugBank and Drugs.com. The chatbot was developed using the LLaMA-3 model integrated with LangChain, Ollama, and FastAPI and was evaluated through iterative testing and 5-fold cross-validation. System performance was assessed using accuracy, sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), and negative predictive value (NPV), while usability was evaluated using the System Usability Scale (SUS) and Single Ease Question (SEQ) questionnaires completed by pharmacists. The chatbot demonstrated progressive performance improvement throughout development and achieved excellent performance during final validation involving 300 drug pairs, with an accuracy of 99.0%, sensitivity of 100.0%, specificity of 98.0%, PPV of 100.0%, and NPV of 92.0%, exceeding all predefined acceptance thresholds. Usability testing indicated only fair to moderate usability, with a mean SUS score of 65.0 and a mean SEQ score of 5.0, suggesting that further refinement of the user interface and workflow may be required. The locally deployed LLM-based chatbot demonstrated satisfactory diagnostic performance and preliminary feasibility for captopril-related DDI screening. Although the system showed promising classification performance, additional usability optimization and evaluation in real-world clinical workflows are needed before broader implementation can be considered as a pharmacist-supportive screening system.
Drug Utilization Review of Antibiotics in Geriatric Outpatients at Cilacap Regional General Hospital During the COVID-19 Pandemic Cindy Ade Safitri; Khamdiyah Indah Kurniasih; Fauziah Fauziah; Fiqih Nurkholis; Ikhwan Yuda Kusuma
JURNAL ILMIAH FARMASI SIMPLISIA Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/jifs.v5i2.850

Abstract

Infectious diseases are challenging for the geriatric due to higher infection risk and atypical symptoms, leading to more diagnostic uncertainty. This study aimed to evaluate antibiotic use patterns among geriatric outpatients at Cilacap Regional General Hospital in Indonesia during the COVID-19 pandemic. A retrospective study analyzed electronic medical records of geriatric outpatients who received antibiotics from January to December 2021. Data collected included demographic characteristics, types of antibiotics based on the AWaRe classification, route of administration, ICD-10 codes, and antibiotic use. The results showed that the age group of 65–69 years was the most frequent user of antibiotics, with solid oral formulations being the most commonly prescribed. Most antibiotics prescribed belonged to the Watch category, such as cefixime and levofloxacin. The most common diagnosis based on ICD-10 codes was Z098. These findings indicate a tendency toward the use of broad-spectrum antibiotics, which poses a risk of increasing antibiotic resistance. Therefore, stricter antibiotic stewardship interventions and continuous education are necessary to improve the rational use of antibiotics in the geriatric population.