This Author published in this journals
All Journal LIMNOTEK
Fachmijany Sulawesty
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENYISIHAN NUTRIEN DENGAN KULTUR Eichornia Crassipes DALAM AIR LIMBAH KOLAM IKAN RESIRKULASI SEMI TERTUTUP Awalina Satya; Tjandra Chrismadha; Fachmijany Sulawesty; Gunawan P. Yoga; Yayah Mardiyati
LIMNOTEK Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol. 21 No. 2 (2014)
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/limnotek.2014.13284

Abstract

Air Limbah kolam ikan resirkulasi memiliki karakteristik yang mirip dengan perairan eutrofik sehingga tidak aman untuk dibuang ke perairan umum secara langsung. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi kemampuan tiga variasi kepadatan eceng gondok (Eichornia crassipes) untuk memperbaiki kualitas air limbah kolam ikan resirkulasi tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk 1) mengungkapkan dinamika kualitas air dalam “batch culture†2) kinetika laju reduksi nutrien nitrogenik-fosforik dan konstituen pencemar lainnya, dan 3) efektifitas penyisihan nutrien. Eksperimen terdiri atas empat bak plastik, B1, B2, B3 dan B4. Bak B1 merupakan kontrol, hanya berisi air limbah tanpa eceng gondok. Bak B2, B3 dan B4 berisi eceng gondok dengan kepadatan awalnya berturut-turut adalah 1.618,40 gram/m2; 2.436,51 gram/m2 ; dan 3.243,93 gram/m2. Percobaan dilakukan selama empat hari. Pengukuran pH,Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen,DO), konduktifitas, suhu, Total Dissolved Solid (TDS), dan % DO saturation dilakukan tiga kali sehari pada jam 09.00-09.30 ; 12.00-12.30 dan 16.00-16.30, sedangkan Senyawa nutrien nitrogenik (N-NH3+; N-NO2-; N-NO3-, Total Nitrogen (TN)), fosfor (TP), Total Suspended Solid (TSS) dan Total Organic Matter (TOM) dianalisis dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Reduksi parameter konduktifitas,TDS, nutrien, nitrogenik, dan fosforik dalam bak-bak yang ditumbuhi eceng gondok mengikuti model kinetika order pertama. Kepadatan eceng gondok ideal adalah 2.436,51 gram/m2 (bak B3) karena menghasilkan pertambahan densitas yang paling tinggi (147,13 gram/m2). Bak berisi eceng gondok paling efektif menyisihkan turbiditas (94,28%-100%), N-nitrit (98,21%-98,93%), TP (92,86%-93,62%), N-nitrat (58,33%-83,33%), TN (59,46%-66,06%), N-ammonia (18.82%-46,88%) dan konduktifitas (16,34%-23,54%). Seluruh perlakuan dan kontrol terbukti tidak efektif untuk menyisihkan material organik.
LAJU PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio L) DENGAN PEMBERIAN PAKAN LEMNA (Lemna perpusilla TORR.) SEGAR PADA KOLAM SISTEM ALIRAN TERTUTUP Fachmijany Sulawesty; Tjandra Chrismadha; Endang Mulyana
LIMNOTEK Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol. 21 No. 2 (2014)
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/limnotek.2014.13286

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja budidaya perikanan melalui pemanfaatan pakan alternative yang murah dan ramah lingkungan. Pakan alternatif yang dipilih adalah jenis tumbuhan air, lemna (Lemna perpusilla Torr) yang dikultur secaraintegratif pada suatu sistem produksi perikanan sehingga mempunyai fungsi sebagai sumberpakan alami sekaligus menyerap bahan pencemar kegiatan budidaya. Pengamatan inibertujuan untuk melihat pengaruh pemberian lemna segar terhadap laju pertumbuhan ikan mas(Cyprinus carpio L) pada kolam sistem aliran tertutup. Biomassa lemna segar digunakan untukmengantikan pellet pada porsi setara 50% dari berat kering pakan yang diberikan pada ikanmas sebanyak 3% dari berat badannya per hari. Pengamatan dilakukan selama 24 minggu.Ukuran berat awal ikan mas rata-rata 4,75 - 6,5 g dngan padat penebaran100 ekor per wadah.Parameter pengamatan adalah berat rata-rata ikan,, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversipakan, faktor kondisi, dan tingkat kelangsungan hidup ikan. Pemberian campuran lemna segarpada pakan ikan mas memberikan nilai laju pertumbuhan spesifik lebih tinggi, yaitu sebesar2,00 %/hari, dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan pellet (1,75 %/hari). Berat ratarata,nilai konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup ikan yang diberi pakan campuranlemna segar bertutut-turut: 162,7 g, 2,00, dan 64 %, lebih tinggi dibandingkan dengan ikanyang diberi ransum pellet saja (berturut-turut 108,9 g, 3,34, dan 61 %). Pertumbuhan ikanbersifat allometrik negatif (nilai b < 3) dengan nilai b pada ikan yang diberi pakan campuranpellet dan lemna segar lebih tinggi (2,737) dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan pelletsaja (2,537). Hasil ini mengindikasikan adanya pengaruh positif pemberian lemna segar yaitudapat meningkatkan pertumbuhan ikan mas. Pemanfaatan biomassa lemna segar untukcampuran pakan ikan mas dapat meningkatkan efisiensi produksi pada usaha budidaya ikanmas.
KOMUNITAS FITOPLANKTON KAITANNYA DENGAN KUALITAS PERAIRAN DANAU SENTANI Fachmijany Sulawesty
LIMNOTEK Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol. 23 No. 2 (2016)
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/limnotek.2016.13317

Abstract

Phytoplankton response to changes in the environment can be seen from changes in species diversity and abundance. Lake Sentani is one of the large lakes located in Papua Province, precisely in the district of Jayapura. Various activities in this lake will affect the waters quality of Lake Sentani, then made observations regarding the composition and abundance of phytoplankton in Lake Sentani. Observations were made in April 2014 at eight locations in the Lake Sentani are assumed to represent the condition of the waters of the lake. Samples taken as many as 10 liters of water, filtered using a plankton net no. 25, and preserved with Lugol 1%. Abundance computed using Sedgwick Rafter method. Analysis of the phytoplankton community structure seen by calculating the Diversity Index, Eveness Index and Dominance Index. There are six phyla and 50 species of phytoplankton were found, comprised of Chlorophyta (23 species), Cyanophyta (6 species), Bacillariophyta (18 species), Chrysophyta (1 species), dinoflagellate (1 species) and Euglenophyta (1 species). The abundance of phytoplankton in April 2014 ranged between 231-11.693 individual/Liter. Based on its abundance, the category of Lake Sentani mesotrofik, even when viewed from the dominant species, the tendency is eutrophic. Diversity Index ranged from 0.609 to 2.464 indicates low to moderate community stability, Eveness Index ranged from 0.047 to 0.243, this value is close to zero means the uniformity among species in community is lower, there is usually a species that dominates. If viewed from Dominance Index, dominance species occur in some areas of observation at Lake Sentani. CCA ordination showed no major effect of phosphate parameter on phytoplankton distribution in any location either on the surface and secchi depth. But in the bottom waters, phosphate, nitrate, dissolved oxygen, pH and temperature have an influence on the distribution of phytoplankton in Lake Sentani .
HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DAN TINGKAT PENCEMARAN DI SITU GUNUNG PUTRI, KABUPATEN BOGOR Thoriq Ilham; Zahidah Hasan; Yuli Andriani; Heti Herawati; Fachmijany Sulawesty
LIMNOTEK Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol. 27 No. 2 (2020)
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/limnotek.2020.13377

Abstract

The purpose of this study was to determine the level of pollution of Situ Gunung Putri waters based on the plankton community. This research was conducted from February to March 2019. This research was carried out in situ at Situ Gunung Putri Bogor and ex situ at the Limnology Research Center of the Indonesian Institute of Sciences, Cibinong, Bogor, West Java. The method used is the survey method while the plankton calculation uses the Sedgewick Rafter method. The results of this study showed that plankton diversity consisted of four phytoplankton phylum and two zooplankton phylum with saprobic index value of 0.16 indicating that the waters experienced moderate levels of pollution and belonged to the β / α-Mesosaprobic phase.