Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

MICROBIOLOGICAL SOURCE TRACKING BAKTERI Escherichia coli DENGAN METODE ANTIBIOTIC RESISTANCE ANALYSIS DI SUNGAI CIKAPUNDUNG Ferlita Andriani; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.6

Abstract

Abstrak: Saat ini DAS Citarum Hulu tengah mengalami penurunan kualitas air sungai. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan ini adalah adanya pencemaran pada anak sungai yang masuk ke badan air Citarum Hulu. Sungai Cikapundung merupakan salah satu anak sungai yang turut berkontribusi dalam penurunan kualitas air Sungai Citarum Hulu. Usaha pencegahan pencemaran yang efektif dan efisien hanya dapat dilakukan apabila sumber pencemar telah diketahui. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pelacakan sumber pencemar adalah Microbiological Source Tracking (MST). Terdapat dua metode utama dalam MST yaitu konvensional dan modern. Antibiotic Resistance Analysis (ARA) merupakan salah satu cara modern dalam mendeteksi bakteri yang bertujuan membedakan diversitas resistensi bakteri terhadap antibiotik sehingga dapat terlihat perbedaan pola resistensi dan dapat diidentifikasi sumber bakterinya. Pada Sungai Cikapundung, pelacakan E. coli dilakukan dengan menguji resistensi dari tiap isolat yang diambil dari 3 titik sampling di sepanjang badan air terhadap 10 jenis antibiotik. Pada titik 1 yang terletak di hulu Cikapundung, belum ditemukan adanya pencemaran fekal. Sedangkan, sebaran E. coli pada titik 2 dan 3 berasal dari sumber manusia. Dengan diketahuinya sumber pencemar spesifik, maka diharapkan dapatdilakukan penanganan lebih lanjut yang tepat sasaran. 
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PADA JARINGAN PIPA TRANSMISI CRUDE OIL DI PERUSAHAAN MIGAS Megahapsari Martaningtyas; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.1

Abstract

Abstrak: Kegiatan operasi di bidang migas telah banyak dilakukan, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. PT. X merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, pengolahan serta produksi minyak dan gas bumi di Indonesia yang menggunakan sistem perpipaan dalam proses distribusinya. Penggunaan sistem perpipaan sebagai sarana untuk menyalurkan produk minyak dan gas dianggap lebih efektif dan efisien dari segi kapasitas dan jarak yang ditempuh. Proses penyaluran di area utara PT. X menggunakan fasilitas jalur pipa offshore dan onshore sebagai sarana distribusi produksi minyak mentah. Apabila terjadi kegagalan pada jalur pipa maka dapat mengakibatkan dampak kerugian yang besar seperti kebocoran, tumpahan, dan ledakan. Oleh karena tingginya potensi bahaya dan risiko tersebut maka perlu dilakukan penilaian risiko pada sistem perpipaan yang digunakan, termasuk risiko pada jaringan pipa transmisi crude oil. Pada penelitian ini dilakukan analisis risiko dengan pendekatan loss prevention and risk assessment yang dikembangkan oleh Muhlbauer (2004). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor risiko yang paling besar memberikan kontribusi terhadap kemungkinan kegagalan jalur pipa transmisi minyak 18 inci dari A platform sampai S terminal adalah faktor kerusakan oleh pihak ketiga. Segmen pipa yang paling berisiko untuk mengalami kegagalan yang menyebabkan kebocoran tertinggi adalah pada segmen pipa offshore. Sedangkan faktor konsekuensi dengan nilai dampak tertinggi adalah pada segmen riser. Analisis risiko ledakan atau kebakaran dengan metode Dow's F & EI pada pipa transmisi memiliki nilai sebesar 113,168 dengan kategori intermediate. Hasil tersebut menyatakan bahwa pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan dan mengawasi secara lebih seksama pada jaringan pipa transmisi, sehingga dapat melakukan tindakan mitigasi risiko secara cepat apabila terjadi kegagalan pipa. Kata kunci: crude oil, Dow's F & EI, metode Muhlbauer, pipa transmisi, risk assessment Abstract: Oil and gas operations have been carried out widely, both managed by the government and private parties. PT. X is one of the companies engaged in the exploration, processing and production of oil and gas in Indonesia that used pipeline system in the distribution processes of oil and gas. The use of pipeline systems was considered more effective and efficient in terms of capacity and distance passed by to distribute oil and gas. The operation processes in the northern area of PT. X use offshore and onshore pipeline facilities to distribute crude oil. The event of a failure on the pipeline can cause major loss impacts such as leaks, spills and explosions. The high potential hazards and risks need to be carried out by risk assessment on the pipeline system used, including the risks in the transmission pipeline network of crude oil. In this research, risk analysis with loss prevention and risk assessment approach developed by Muhlbauer (2004), is measured using semi-quantitative pipeline risk on third party index of damage index, corrosion, pipe design, improper operation. The results of this study indicate that the biggest risk factor contributing to the possibility of failure of the 18-inch oil transmission pipeline from A platform to S terminal is the damage factor by third parties. The pipe segment which is most at risk for failure which causes the highest leakage is in the offshore pipeline segment. Whereas the consequence factor with the highest impact value is in the riser segment. Explosion or fire risk analysis with Dow's F & EI method on transmission pipes has a value of 113.168 with an intermediate category. The results stated that the management of the company must pay close attention to and supervise the transmission pipeline network, so that it can carry out risk mitigation actions quickly if a pipe failure occurs. Keywords: crude oil, Dow's F & EI, Muhlbauer method, risk assessment, transmission pipe
The Determination of Algae Group as Bioindicator of Water Quality Change Affected by Mercury Release from Artisanal Small-Scale Gold Mining (ASGM) Herto Dwi Ariesyady; Indah Yusliga Sari Purba
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 54 No. 4 (2022)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2022.54.4.14

Abstract

Artisanal small scale gold mining (ASGM) practices typically use mercury for amalgamation. Near water environments this can degrade water quality and aquatic biota, including algae. Changes in algal communities can reflect water environment disturbance. The aim of this study was to determine if algae can be used as bioindicator of river water quality impacted by ASGM activities. The research was conducted from July to October 2018 at thirty sampling sites along rivers near ASGM areas in several regencies of Indonesia. Composite samples of water and sediment were collected. A plankton net and brushing methods were used to collect planktonic and benthic algae, respectively. The physicochemical parameters of the water and the sediment as well as the dominant algae genera were analyzed statistically with principal component analysis. The results showed that the total mercury concentration in the water ranged from <0.04 to 20 µg.L-1, while in the sediment the maximum value was 13,500 µg.kg-1. The total mercury content in the sediment was negatively correlated with the dominant benthic Navicula at a significance level of p < 0.05. This means that a low density of benthic Navicula can be proposed as a bioindicator of water quality, indicating the increase of mercury pollution in sediment.
IDENTIFIKASI LEDAKAN DAN KEBAKARAN PT X SIAK DENGAN METODE Lean-FMEA, RCA, DAN KUANTIFIKASI MENGGUNAKAN DIAGRAM PARETO Dini Aulia Sari Ermal; Herto Dwi Ariesyady; Fatma Lestari; Zultiniar Zultiniar
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol 23, No 1 (2023): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/stsp.v23i1.526

Abstract

Ledakan dan kebekaran merupakan kegagalan proses yang tidak diinginkan apabila terjadi pada industri minyak. Kegagalan tersebut disinyalir dapat terjadi akibat kurangnya maintanance alat dan kelalaian kerja. Perlu adanya identifikasi serta pengecekkan pada setiap alur proses pengolahan minyak, guna membantu menentukan titik terbesar kemungkinan terjadinya kegagalan tersebut. Pada penelitian ini titik lokasi identifikasi berada pada area pengumpul minyak mentah di industri X (Gathering Station). Penelitian ini dilakukan karena terdapat area produksi minyak mentah (on shore) sehingga perlu dilakukannya proses identifikasi yang akurat. Metode identifikasi yang dipilih untuk diaplikasikan dalam menemukan kegagalan ini adalah metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan pengembangan konsep lean-waste serta dibantu dengan analisis penyebab kegagalan menggunakan Root Cause Analysis (RCA), serta pemberian data secara kuantitatif dengan menambahkan metoda diagram Pareto untuk memperoleh persentase kegagalan yang terjadi. Berdasarkan hasil identifikasi, diperoleh 2 jenis waste yaitu Defect dan Inappropriate processing. Defect waste terjadi pada penyambung pipa utama bocor dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi yaitu 170,02 dan persentase Pareto adalah 17,9%, sedangkan Innapropriate processing waste terjadi pada arus listrik pendek di shipping tank dengan nilai RPN tertinggi 131,63 dan persentase Pareto sebesar 17,8%.
Identifikasi Ledakan dan Kebakaran PT. X Siak dengan Metode Lean-FMEA, RCA, dan Kuantifikasi Menggunakan Diagram Pareto Dini Aulia Sari Erma; Herto Dwi Ariesyady; Fatma Lestari; Zultiniar Zultiniar
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 23 No. 1 (2023): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/hww2e316

Abstract

Ledakan dan kebekaran merupakan kegagalan proses yang tidak diinginkan apabila terjadi pada industri minyak. Kegagalan tersebut disinyalir dapat terjadi akibat kurangnya maintanance alat dan kelalaian kerja. Perlu adanya identifikasi serta pengecekkan pada setiap alur proses pengolahan minyak, guna membantu menentukan titik terbesar kemungkinan terjadinya kegagalan tersebut. Pada penelitian ini titik lokasi identifikasi berada pada area pengumpul minyak mentah di industri X (Gathering Station) yang berlokasi di Siak Sri Indrapura. Penelitian ini dilakukan karena terdapat area produksi minyak mentah (on shore) sehingga perlu dilakukannya proses identifikasi yang akurat. Metode identifikasi yang dipilih untuk diaplikasikan dalam menemukan kegagalan ini adalah metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan pengembangan konsep lean-waste serta dibantu dengan analisis penyebab kegagalan menggunakan Root Cause Analysis (RCA), serta pemberian data secara kuantitatif dengan menambahkan metoda diagram Pareto untuk memperoleh persentase kegagalan yang terjadi. Berdasarkan hasil identifikasi, diperoleh 2 jenis waste yaitu Defect dan Inappropriate processing. Defect waste terjadi pada penyambung pipa utama bocor dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi yaitu 170,02 dan persentase Pareto adalah 17,9%, sedangkan Innapropriate processing waste terjadi pada arus listrik pendek di shipping tank dengan nilai RPN tertinggi 131,63 dan persentase Pareto sebesar 17,8%.
Identifikasi Ledakan dan Kebakaran PT. X Siak dengan Metode Lean-FMEA, RCA, dan Kuantifikasi Menggunakan Diagram Pareto Dini Aulia Sari Erma; Herto Dwi Ariesyady; Fatma Lestari; Zultiniar Zultiniar
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 23 No. 1 (2023): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/hww2e316

Abstract

Ledakan dan kebekaran merupakan kegagalan proses yang tidak diinginkan apabila terjadi pada industri minyak. Kegagalan tersebut disinyalir dapat terjadi akibat kurangnya maintanance alat dan kelalaian kerja. Perlu adanya identifikasi serta pengecekkan pada setiap alur proses pengolahan minyak, guna membantu menentukan titik terbesar kemungkinan terjadinya kegagalan tersebut. Pada penelitian ini titik lokasi identifikasi berada pada area pengumpul minyak mentah di industri X (Gathering Station) yang berlokasi di Siak Sri Indrapura. Penelitian ini dilakukan karena terdapat area produksi minyak mentah (on shore) sehingga perlu dilakukannya proses identifikasi yang akurat. Metode identifikasi yang dipilih untuk diaplikasikan dalam menemukan kegagalan ini adalah metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan pengembangan konsep lean-waste serta dibantu dengan analisis penyebab kegagalan menggunakan Root Cause Analysis (RCA), serta pemberian data secara kuantitatif dengan menambahkan metoda diagram Pareto untuk memperoleh persentase kegagalan yang terjadi. Berdasarkan hasil identifikasi, diperoleh 2 jenis waste yaitu Defect dan Inappropriate processing. Defect waste terjadi pada penyambung pipa utama bocor dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi yaitu 170,02 dan persentase Pareto adalah 17,9%, sedangkan Innapropriate processing waste terjadi pada arus listrik pendek di shipping tank dengan nilai RPN tertinggi 131,63 dan persentase Pareto sebesar 17,8%.
A NEBA- AHP Decision Framework for Sustainable Remediation of Petroleum-Contaminated Soils: A Case Study from Tropical Oil Palm Plantations in Indonesia Nur Septiani; Herto Dwi Ariesyady; Qomarudin Helmy
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study developed and demonstrated an integrated NEBA–AHP framework for selecting remediation technologies at four petroleum-contaminated sites in active palm oil plantations at four sub-areas in Bengkalis Regency, Riau Province. This study integrates Net Environmental Benefit Analysis (NEBA) and Analytic Hierarchy Process (AHP), as the quantitative component, and guided interviews with 20 respondents across four sub-areas as the qualitative component. Four remediation alternatives were evaluated. The proposed framework consistently discriminated between remediation alternatives across all sub-areas: bioremediation received the highest NEBA-AHP score, while ISCO and excavation with backfilling (Dig & Fill), despite the highest technical effectiveness, were consistently penalized for physical disturbance and socioeconomic disruption. Stakeholders showed strong agreement across sub-areas in ranking preferences and rated bioremediation significantly more acceptable than enhanced natural attenuation. These results illustrate how the framework balances technical, environmental, and social criteria to identify context-appropriate remediation strategies, here favoring bioremediation under the evaluated conditions. The NEBA-AHP framework is transferable to other contaminated sites, provided that criterion weights are re-elicited through local expert panels reflecting site-specific regulatory, ecological, and socioeconomic conditions.