Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Identifikasi Rantai-Pasok dalam Industri Konstruksi Indonesia untuk Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pribadi, Krishna S.; Fatima, Ima; Yustiarini, Dewi
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 4 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.46 KB)

Abstract

Abstrak. Produk industri konstruksi biasanya dibuat atas dasar permintaan dari pemberi kerja (pemerintah atau swasta) oleh pihak kedua yang dikontrak (kontraktor), dengan mengerahkan berbagai sumberdaya seperti bahan konstruksi, peralatan, dan tenaga kerja. Dalam proses produksinya berbagai komponen produk konstruksi dipasok oleh berbagai pemasok yang bertingkat-tingkat, kemudian dirakit di lokasi proyek oleh para kontraktor, baik kontraktor utama maupun sub kontraktor. Rantai-pasok proses produksi konstruksi pada tahap pelaksanaan konstruksi telah didentifikasikan dalam rangka mengkaji bentuk-bentuk pengawasan dan penjaminan mutu pada rantai-pasok tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei ke lapangan melalui wawancara secara mendalam ke pelaku rantai-pasok pada proyek yang ditinjau. Indikator yang digunakan untuk pertanyaan wawancara dikembangkan berdasar pola ISO 9001:2000 yang telah diterapkan oleh para Kontraktor responden sebagai pelaku utama dalam rantai pasok. Hasil pengamatan menunjukkanadanya pola penjaminan mutu yang didasari empat elemen utama, meliputi pendefinisian jangkauan proyek, penetapan spesifikasi dan sistem dasar, pembuatan barang dan jasa, dan penyampaian barang dan jasa ke pelanggan. Elemen ini dilaksanakan dengan melakukan dua belas tindakan oleh pelaku rantai pasok sehingga akhirnya jaminan mutu dapat tercapai. Proses tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam standar ISO 9001:2000. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri konstruksi, untuk membuat pola rantai pasok yang di dalamnya terdapat penjaminan mutu terhadap hasil kerja guna memperoleh kepuasan pengguna jasa.Abstract. The construction industry products are usually created based on request from the clients (government organizations or private sector) by the contracted second party (contractor) who mobilizes various resources such as construction material, equipment and labor, which are supplied by a series of suppliers then assembled at the project site by the various contractors (prime and sub-contractors).The supply chain within the construction production process during the construction stage has been identified, in light of investigating the quality assurance processes within each supply chain components. Observations are made by survey to project sites through semi-structured depth interviewing for all the supply chain actors within the case study projects. Indicators used in the survey are based on ISO 9001:2000 procedures already adopted by the contractors. The observation result shows that there are four basic elements required to assure the quality of the product: defining project scope, specifying features and baseline system, build product, and deliver product to customer. To implement these elements, twelve steps need to be completed by the supply chain parties in order to accomplish quality assurance process. The process is found to be very similar with those of ISO 9001:2000 standards.The result of this study is expected to be usefull for parties involved in construction industry in setting up their supply chain, where quality assurance of the construction products is a major issue in improving costumer satisfaction.
Dampak Pelatihan Konstruksi Bangunan Tahan Gempa Terhadap Perbaikan Kinerja Buruh Bangunan Herman, Nanang Dalil; Yustiarini, Dewi; Maknun, Johar; Busono, Tjahyani
INVOTEC Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Technological and Vocational Education-Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/invotec.v6i1.6135

Abstract

This research aim to re-build labours capacity on concept and knowledge about housing throughconstruction workshop in endure building from earthquake. The result from this research found thatknowledge of participant had been increase to 41% (fourty one percents) through the workshop.
A Identification Of Transparency Provision Of Public Infrastructure In Greater Bandung: Identifikasi Transparansi Penyediaan Infrastruktur Publik Di Bandung Raya Susanto, Wildan Miftah Anugerah; Yustiarini, Dewi
Jurnal Pengadaan Barang dan Jasa Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Pengadaan Barang dan Jasa, Edisi April 2024
Publisher : Ikatan Fungsional Pengadaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55961/jpbj.v3i1.45

Abstract

Abstract The public is increasingly feeling the ease of obtaining information in the digital era. With the rise of infrastructure development by the Government, the role of the community as supervisors of development needs to be increased to reduce criminal acts of corruption. Corruption can be reduced if the principle of transparency is implemented. The aim of this research is to determine the information needed by Multistakeholders regarding public infrastructure needs, and to measure the quality of providing infrastructure information as an embodiment of the principle of transparency in the construction services sector in Greater Bandung using the CoST (Construction Sector Transparency) and LPSE (Electronic Procurement Services) Infrastructure Data Standard Instruments. The type of research is qualitative research with a case study method. The results of the research state: 1) The information needed by multi-stakeholders regarding public infrastructure transparency refers to the CoST IDS and LPSE instruments, namely related to project identity, project preparation, project completion, project procurement process, and project implementation, 2) The quality of providing infrastructure information as an embodiment principles of transparency in the construction services sector in Greater Bandung with Infrastructure Data Standard Instruments: a) CoST (Construction Sector Transparency). Measured with 40 questions, an average figure of 64% was obtained, which is in the interval 60.00% - 69.00% (medium category). This indicates that public information providers are available at all times regarding infrastructure information in Greater Bandung, and b) LPSE (Electronic Procurement Services). Measured with 27 questions, an average figure of 72% was obtained. namely in the interval 70.00% - 79.00%. (medium category). This indicates that public information providers are available at all times regarding infrastructure information in Greater Bandung. Keywords: Transparency, Public Infrastructure, Procurement of Goods and Services.
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja pada Pekerjaan Struktur Atas Proyek Pembangunan Gedung Bertingkat Menggunakan Metode IBPRP Irgiansyah, Virgi; Yustiarini, Dewi; Pratama, Naufal Ariq
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2025): October Edition
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v17i2.7861

Abstract

Sektor konstruksi di Indonesia menghadapi tantangan serius terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dengan kontribusi signifikan terhadap total kecelakaan kerja nasional. Pekerjaan struktur atas di gedung tingkat tinggi memiliki risiko tinggi karena kompleksitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan risiko kecelakaan kerja pada pekerjaan struktur atas di Proyek Pembangunan Learning Center Bank Tabungan Negara Dago Pakar, Bandung. Studi ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Analisis Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Penentuan Pengendalian Risiko, dan Peluang (IBPRP), sesuai dengan Permen PUPR No. 10 Tahun 2021. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden ahli dan pekerja, serta data sekunder dari studi literatur dan dokumen proyek. Hasil menunjukkan 21 aktivitas pekerjaan struktur atas, dengan 50 variabel risiko tergolong tinggi dan 48 sedang. Pengendalian risiko awal meliputi rekayasa teknis (pengamanan), administrasi (SOP, pelatihan, inspeksi), dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm, sepatu, sarung tangan, dan body harness. Penelitian ini menegaskan pentingnya IBPRP untuk mengelola risiko konstruksi. Disarankan studi lebih lanjut untuk mengeksplorasi variabel risiko spesifik, peran pekerja di K3, dan meningkatkan pengawasan terhadap pekerja.Kata Kunci: Analisis Risiko, Kecelakaan Kerja, IBPRP, Keselamatan Konstruksi
Analisis Risiko Kecelakaan Kerja pada Proyek Konstruksi Bangunan Bertingkat Menggunakan Metode Bowtie Padmarini, Amanda Parahita; Yustiarini, Dewi; Pratama, Naufal Ariq
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2025): October Edition
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v17i2.7725

Abstract

Abstrak — Industri konstruksi memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, terutama pada proyek gedung bertingkat. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kecelakaan kerja pada proyek pembangunan gedung pendidikan di Kabupaten Sumedang dengan menyoroti faktor risiko utama serta upaya pengendaliannya. Data diperoleh melalui kuesioner kepada 10 responden berpengalaman minimal dua tahun, kemudian dianalisis menggunakan matriks kemungkinan dan keparahan (AS/NZS 4360:2004) serta metode Bowtie untuk memetakan hubungan antara penyebab, kejadian, dan dampak risiko. Hasil menunjukkan terdapat 45 faktor risiko, dengan empat kategori tinggi, yakni pekerja terjatuh saat pemasangan scaffolding, pengecoran, pembongkaran bekisting, dan teriris alat saat pembesian. Kondisi kerja yang tidak aman dan kelalaian pekerja menjadi penyebab dominan. Pendekatan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai pengelolaan risiko pekerjaan struktur atas yang dapat diterapkan pada proyek konstruksi serupa.Kata-kata Kunci: risiko kecelakaan kerja, analisis risiko, metode Bowtie, proyek konstruksi. Abstract — The construction industry presents a high risk of work accidents, particularly in multi-story building projects. This study aims to analyze occupational accident risks in an educational building project in Sumedang Regency by identifying key risk factors and corresponding control measures. Data were obtained from questionnaires distributed to 10 respondents with at least two years of field experience. The analysis employed likelihood and severity matrices (AS/NZS 4360:2004) and the Bowtie method to map the relationship between causes, events, and consequences. Results indicate 45 risk factors, with four classified as high: workers falling during scaffolding installation, concreting, and formwork dismantling, and workers cut by sharp tools during rebar work. Unsafe working conditions and worker negligence were identified as dominant causes. This approach provides a comprehensive understanding of risk management for upper-structure work that can be adapted for similar construction projects.Keywords: work accident risk, risk analysis, Bowtie method, construction project.
Analisis Identifikasi Kecelakaan Kerja pada Pekerjaan Pemasangan Bekisting Menggunakan Metode JSA dan HIRARC Sundawa, Airlangga; Yustiarini, Dewi
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 12 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i12.2830

Abstract

HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) merupakan identifikasi bahaya yang dilakukan untuk pencegahan dan pengurangan risiko kecelakaan. Penyusunan HIRARC dilakukan, mengingat banyak kecelakaan kerja dan resiko kecelakaan bahkan pada pekerjaan bekisting yang masih termasuk di sektor konstruksi, dipengaruhi kurangnya kesadaran dalam penerapan K3L dan penggunaan APD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko kerja, dan merumuskan solusi pencegahan kecelakaan kerja pada pekerjaan bekisting kolom, balok, dan plat lantai dengan mengintegrasikan metode Job Safety Analysis (JSA) dan HIRARC. Menggunakan metode purposive sampling, dengan mewawancarai narasumber yang terkait. Hasil wawancara pun dimasukan kedalam form HIRARC dan JSA, dengan hasil terdapat 39 jenis bahaya. Dengan penilaian tingkat risiko Sangat Tinggi (V.High) sebanyak 0 bahaya (0 %), bahaya pada tingkat risiko Tinggi (H) sebanyak 0 bahaya (0 %), bahaya pada tingkat risiko Menengah (Moderate) sebanyak 13 bahaya (33,33%), dan bahaya pada tingkat risiko Rendah (Low) sebanyak 26 bahaya (66,67%). Temuan menunjukkan bahwa risiko utama berasal dari kerja di ketinggian, pemindahan material dengan tower crane, dan potensi tertimpa material. Kontribusi penelitian ini adalah penyajian hasil analisis dalam format tabel terpadu yang praktis untuk implementasi di lapangan (field-oriented), serta rekomendasi pengendalian risiko berbasis hierarki kontrol K3. Rencana tindak pengendalian risiko menggunakan cara kontrol teknik, administrasi, dan alat pelindung diri (APD).
ANALISIS PENJADWALAN PROYEK DENGAN METODE CPM (CRITICAL PATH METHOD) (STUDI KASUS: PEMBANGUNAN GUDANG PT REL-ION STERILIZATION) Ramadina, Putri Natasya; Nurasiyah, Siti; Yustiarini, Dewi
Jurnal Education and Development Vol 14 No 1 (2026): Vol 14 No 1 Januari 2026
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v14i1.7564

Abstract

Penjadwalan proyek merupakan elemen penting dalam manajemen konstruksi untuk memastikan proyek selesai tepat waktu, efisien, dan sesuai spesifikasi teknis. Salah satu metode penjadwalan yang efektif adalah Critical Path Method (CPM), yang berfungsi mengidentifikasi jalur kritis rangkaian aktivitas tanpa kelonggaran waktu (zero float) yang menentukan durasi total proyek. Penelitian ini bertujuan menganalisis penjadwalan proyek pembangunan Gudang PT. Rel-Ion Sterilization Services di Cibitung, Bekasi, menggunakan metode CPM, serta membandingkan hasilnya dengan penjadwalan konvensional yang sebelumnya digunakan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis studi kasus. Data sekunder berupa Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan time schedule proyek dianalisis menggunakan teknik forward pass dan backward pass untuk menghitung earliest start (ES), earliest finish (EF), latest start (LS), latest finish (LF), serta float tiap aktivitas. Diagram jaringan kerja disusun untuk memvisualisasikan hubungan ketergantungan antar aktivitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode CPM mampu mengidentifikasi aktivitas-aktivitas kritis yang perlu diawasi secara ketat untuk mencegah keterlambatan. Penerapan CPM menghasilkan total durasi proyek yang lebih efisien dibanding metode konvensional, serta memberikan dasar yang lebih akurat bagi pengambilan keputusan manajerial terkait pengendalian waktu dan alokasi sumber daya. Temuan ini menegaskan bahwa CPM merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan ketepatan jadwal dan efisiensi pelaksanaan proyek konstruksi, sekaligus mengurangi risiko keterlambatan.