Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Soil Water Characteristic Curve (SWCC) Pada Pemodelan Tanggul Yang Menggunakan Material Campuran Lumpur Sidoarjo (LuSi) Dan Tanah Lempung Indra Rahma Hardiana; Ria Asih Aryani Soemitro; Indarto .; Trihanyndio Rendy Satrya
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.661 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v19i2.7591

Abstract

BNPB (2016) menyatakan lebih dari 10 kali tanggul penahan lumpur Sidoarjo mengalami keruntuhan. PPLS (2018) telah melakukan penelitian pemanfaatan LuSi untuk tanggul uji. Berdasarkan pengamatan tahun 2019 terdapat retakan pada tanggul ditengarai akibat perubahan karakteristik tanah saat terjadi perubahan musim. Penelitian ini bersifat pemodelan menggunakan data sekunder penelitian terdahulu. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor keamanan konfigurasi geometri tanggul pada variasi muka air tanah dan endapan lumpur dengan pengaruh nilai suction pada SWCC dari data penelitian terdahulu. Hasil pemodelan pada muka air tanah (M.A.T) 0 m rentang angka keamanan 1,7-3,4 dan muka air tanah (M.A.T) -30 m rentang antara 2,4 - 4,6. Pemodelan pengaruh endapan lumpur yaitu saat endapan lumpur rendah (1 m) rentang angka keamanan yaitu 1,8-3,5, untuk endapan lumpur tinggi (3 m) rentang  2,5-7,0. Besar pemampatan segera (Immediate Settlement) semakin tinggi timbunan rentang pemampatan 0,08876 m -0,10107 m dan semakin besar kemiringan tanggul rentang 0,08876 m - 0,02166 m. 
Alternatif Perencanaan Abutment dan Oprit Fly Over Kandangan, Surabaya, Jawa Timur Pungky Aditya Saputra; Suwarno Suwarno; Trihanyndio Rendy Satrya
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.419 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5032

Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang selalu bermasalah dalam bidang transportasi terutama kemacetan. Adanya pembangunan fly over yang melintasi jalur trek ganda kereta api Stasiun Benowo – Stasiun Kandangan KM 219+958 yang terletak di Desa Kandangan ini termasuk salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Surabaya barat khususnya di daerah Kandangan dan sebagai jalur alternatif menuju Gresik. Pada penulisan studi ini penulis memodifikasi desain awal fly over Kandangan yang awalnya dengan konstruksi pilar disetiap bentangnya, dirubah menjadi timbunan tanah dengan alasan biaya timbunan lebih ekonomis daripada konstruksi pilar jembatan. Direncanakan alternatif bentuk timbunan` oprit serta perkuatan tanah timbunan dan perbaikan tanah dasarnya. Dua alternatif bentuk timbunan yang dibandingkan yaitu timbunan bersisi tegak dan bersisi miring. Dalam perencanaan perkuatan oprit bersisi tegak akan dibandingkan dua alternatif perkuatan antara lain: geotextile wall reinforcement kombinasi dengan flat sheet-pile concrete, dan geogrid wall reinforcement kombinasi dengan keystone wall. Sedangkan untuk perencanaan perkuatan oprit bersisi miring akan dibandingkan dua alternatif perkuatan antara lain: geotextile slope reinforcement dan cerucuk berupa micropile beton. Abutment direncanakan dengan kestabilan konstruksi harus ditinjau terhadap pengaruh gaya-gaya eksternal maupun terhadap gaya-gaya internal yang dapat menyebabkan pecahnya konstruksi. Apabila abutment tidak memenuhi maka daya dukungnya harus direncanakan pondasi dalam berupa tiang pancang. Hasil dari perhitungan total biaya konstruksi pada perencanaan oprit didapatkan diantaranya untuk oprit bersisi tegak dengan alternatif perkuatan geotextile kombinasi sheet-pile adalah Rp. 86.280.857.674,34 dan untuk alternatif perkuatan geogrids kombinasi keystone-wall adalah Rp. 73.797.613.851,84. Sedangkan untuk oprit bersisi miring dengan alternatif perkuatan geotextile adalah Rp. 103.183.365.174,93 dan untuk alternatif perkuatan micropile adalah Rp. 134.243.009.394,93. Maka dipilih alternatif timbunan dan perkuatan yang paling efektif dari segi biaya, pelaksanaan, dan hemat ruang sehingga oprit bersisi tegak dengan perkuatan geogrids kombinasi keystone-wall adalah yang paling sesuai. Sedangkan untuk abutment direncanakan dengan lebar melintang 32,725 m dan tinggi total 12,530 m. Dimensi pilecap 32,725 m x 6,5 m. Pondasi dalam dipakai tiang pancang PC Spun Pile diameter 60 cm berjumlah 84 buah dengan dipancang kedalaman 42 m dari OGL.
Comparison of Embankment Reinforcement Requirements with Geotextile on Soft Soil with 2D and 3D Slope Stability Analysis Methods Nur ‘ Arfiati Shoffiana; Yudhi Lastiasih; Trihanyndio Rendy Satrya
Journal of Infrastructure & Facility Asset Management Vol 4, No 2 (2022): Journal of Infrastructure & Facility Asset Management
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jifam.v4i2.14369

Abstract

Slope stability analysis is very important in slope design so it can manage and maintain the infrastructure assets. If the slope is unstable, it can damage the infrastructure around the slope. The method commonly used in slope stability analysis is 2D modeling which assumes the length of the landslide area is not limited or continuous. In fact, landslides that occur in the field are limited and not continuous, so 3D modeling is more suitable than 2D modeling. 3D slope stability analysis has been developed by various researchers. Most of the results of previous studies stated that the 3D and 2D factor of safety ratio was more than one for cohesive soils and less than one for non-cohesive soils. This safety factor affects the amount of reinforcement needed. Differences in 2D and 3D safety factors will cause differences in the amount of reinforcement needed. Therefore, this study was conducted to determine the differences in the 2D and 3D slope stability analysis result. Slope stability analysis was carried out using LEM, where the 2D slope stability used the Fellenius method while the 3D slope stability used the Hovland method. Calculate the required reinforcement amount using geotextiles with Tult = 250 kN/m. The results obtained from this study are the 2D safety factor is smaller than the 3D safety factor. The 3D and 2D safety factor ratios range from 1.09 – 1.397. While the amount of reinforcement required in the 3D analysis is less than in the 2D analysis with the ratio of 3D and 2D reinforcement requirements ranging from 0.5 to 0.955 depending on the width and height of the embankment.
Geotechnical Mapping for Soil Physical and Mechanical Parameters and Hard Soil Depth in Badung Regency Zefira Wisna Maulidha; Trihanyndio Rendy Satrya; Yudhi Lastiasih
Journal of Infrastructure & Facility Asset Management Vol 4, No 2 (2022): Journal of Infrastructure & Facility Asset Management
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/jifam.v4i2.14371

Abstract

The infrastructure is important for the great life of a region and most of the country. Therefore, infrastructure  must be always in proper condition in its functionality. Furthermore, it must follow the main principle which is infrastructure asset management. In this case, geotechnical mapping is also related to the principles of Infrastructure Asset Management in planning, designing, and feasibility studies of an infrastructure project in Badung Regency, hence the infrastructure projects are better prepared. The research methods include collecting soil investigation data, processing soil investigation data, describing the results of soil investigation data with mapping tools, and geotechnical zoning with statistical analysis. The results obtain geotechnical map of Badung Regency in 2 and 3-dimensional form. The 2D results in the form of a hard soil depth map can be concluded that South Kuta District has a variation depth of 0.4 – 15 meters, North Kuta District has a variation depth of 1.5 – 5 meters, Kuta District has a variation depth of 1.5 – 10 meters, Mengwi District has a variation depth of 1.5 – 10 meters, Abiansemal District has a variation depth of 5-15 meters, Petang District has a variation depth of 5-22 meters. The 3D Zone 1 lithology map can be concluded that Zone 1 area covered with hard soil depth around 5 – 10 meter is dominated by sandy silt, silty sand, sand and a little clayey silt. That area covered with hard soil depth about 1.5 – 5 meter is dominated by clay, clayey silt, sandy silt, silty sand and sand with heterogeneous distribution. The Zone 1 area is dominated by the specific volume saturated value (γsat) range of 1.5 – 2.0 t/m3. The values > 2.0 t / m3 is found in Sading area with hard soil depth of 5-10 meters. The Zone 1 area is dominated by the range of N-SPT values = 0 - 30. The N-SPT values > 30 are found in Sading area with hard soil depth 5-10 meters.
Pemasyarakatan dan Pendampingan Sinergis Terhadap Pelaku Usaha Mikro di Surabaya Timur Guna Mendukung Proses Sertifikasi Halal Niken Anggraini Savitri; Rizki Revianto Putera; Niniet Indah Arvitrida; Dody Hartanto; Iwan Vanany; Ahmad Rusdiansyah; Suparno; Trihanyndio Rendy Satrya
Sewagati Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3167.864 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v7i2.470

Abstract

Undang-undang Jaminan Produk Halal telah menetapkan kewajiban bersertifikat halal bagi seluruh produk yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia. Namun masih banyak pelaku UMKM yang belum melakukan sertifikasi halal terhadap produknya karena kurangnya pemahaman mengenai proses sertifikasi halal dan kendala pembiayaan. Untuk menangani persoalan tersebut, diadakan kegiatan pengabdian masyarakat yang terdiri atas pemasyarakatan, pelatihan, dan pendampingan terkait proses produksi halal kepada para pemilik UMKM di kota Surabaya Timur. Sebanyak 14 UMKM telah mengikuti pelatihan penyelia halal dan mendapatkan pendampingan dalam proses pengajuan sertifikasi halal. Selain itu, pelaku UMKM juga didampingi dalam mengajukan Nomor Ijin Berusaha (NIB). Terdapat 12 UMKM yang telah mengajukan sertifikasi halal secara self-declare, sedangkan 2 UMKM mengajukan sertifikasi halal secara reguler.