Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Evaluasi Kegagalan dan Perbaikan Lereng Galian Tanah Pasir Kelempungan Pada Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Pekanbaru – Dumai KM 23+175 S.D 23+375 Frandika Rizal Nuryansyah; Trihanyndio Rendy Satrya; Indrasurya B. Mochtar
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 5 No. 7 (2026): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v5i7.8003

Abstract

Pembangunan jalan tol sering menghadapi permasalahan geoteknik, salah satunya longsoran pada Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Pekanbaru – Dumai KM 23+175 s.d 23+375 sisi B yang tersusun oleh tanah pasir kelempungan konsistensi lepas hingga medium dan telah diperbaiki dengan shotcrete, soil nailing, horizontal drain, serta median concrete barrier. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi mekanisme kegagalan lereng, mengevaluasi efektivitas desain perbaikan menggunakan Geostudio Slope/W dengan metode konvensional dan pendekatan crack soil, serta membandingkan berbagai alternatif penanganan untuk meningkatkan stabilitas lereng jangka panjang. Pemodelan dilakukan dengan memvariasikan kedalaman muka air tanah (-12m dan -15m) dan pendekatan crack soil untuk mengidentifikasi kondisi paling kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi muka air tanah kedalaman -12m dan asumsi crack soil menghasilkan angka keamanan paling kritis (<1,00), sementara evaluasi alternatif penanganan menyimpulkan bahwa pengendalian muka air tanah melalui subdrain merupakan upaya paling signifikan dalam meningkatkan stabilitas. Evaluasi pada konstruksi perbaikan terbangun menunjukkan lereng dalam kondisi stabil, namun tidak seluruhnya memiliki angka keamanan yang sama; pada kondisi muka air tanah tinggi, stabilitas menurun drastis ke angka 1,12–1,25, yang teridentifikasi di lapangan melalui rembesan air dari retakan shotcrete saat cuaca cerah. Penelitian ini merekomendasikan penambahan subdrain, penutupan retakan shotcrete, pemasangan instrumen pemantauan (inclinometer dan patok geser), serta pembangunan saluran permukaan untuk menjamin stabilitas jangka panjang..
Evaluation of the Effectiveness of Soil Nailing Configurations on Slope Stability as an Alternative for Slope Reinforcement in Deep Excavations Case Study of the Rengat–Pekanbaru Toll Road, Pekanbaru Ring Road Section, STA 205+600 Rully Finaliyah Santoso; Trihanyndio Rendy Satrya; Ria Asih Aryani Soemitro
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 7 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i7.53397

Abstract

This study evaluated the effectiveness of soil nailing configurations for slope stability as an alternative slope reinforcement method in deep excavations along the Rengat–Pekanbaru Toll Road, Pekanbaru Ring Road Section, Sta 205+600. Limited right-of-way (ROW) conditions required the construction of steeper slopes, necessitating a reinforcement system to maintain slope stability. The analysis was conducted using geotechnical investigation data, including laboratory test results, borehole data, and project-specific geotechnical parameters. The evaluated variations included soil nail length and installation angle, with assessments performed for global stability and internal stability under long-term service conditions (static conditions) and earthquake loading conditions (pseudostatic conditions). The results showed that increasing soil nail length improved the factor of safety (FS) values for both global and internal stability. The highest global stability FS value was achieved with a 19 m soil nail length, while internal stability against pullout resistance increased as soil nail length increased and the installation angle became steeper. Under pseudostatic conditions, soil nailing reinforcement did not provide a significant improvement in global stability for clay soils; however, it continued to enhance internal stability. Based on technical evaluation and cost-efficiency considerations, the 15 m soil nail length with a 30° installation angle was identified as the most effective configuration, as it provided an optimal improvement in safety factors while maintaining more economical construction costs.