Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hermeneutika Fiqh: Gagasan Epistemologi Pesantren Oliviatie, Shava; Wahyudi, Chafid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1160

Abstract

Tulisan ini mengkaji hermeneutika fiqh sebagai paradigma epistemologis pesantren dalam menjembatani dialektika antara tradisi keilmuan Islam klasik dan tantangan modernitas. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang berakar pada teks-teks turats, namun seringkali terjebak dalam formalisme normatif yang menjauh dari dimensi sosial dan moral hukum Islam. Melalui pendekatan hermeneutik, fiqh ditempatkan bukan sekadar sebagai sistem hukum yang mengatur halal dan haram, tetapi sebagai instrumen epistemik yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan historis. Artikel ini menelaah integrasi hermeneutika filosofis (Gadamer), sosial (Asad), dan moral (Abou El-Fadl) ke dalam praksis keilmuan pesantren untuk membangun sistem pengetahuan yang kontekstual, kritis, dan humanistik. Pendekatan ini mendorong transformasi pesantren dari lembaga reproduksi teks menuju pusat produksi pengetahuan integratif-interkonektif yang memadukan wahyu, rasio, dan realitas sosial. Dengan demikian, hermeneutika fiqh berfungsi sebagai jantung pembaruan epistemologi pesantren yang meneguhkan peran fiqh sebagai etika sosial dan sumber keadilan dalam masyarakat modern.
Pandemi dalam Tafsir Sufi: Dialektika Trilogi Sufistik ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī, Ibn ‘Arabī dan Achmad Asrori al-Ishaqi Chafid Wahyudi; Ainul Yaqin
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 13 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/mutawatir.2023.13.1.149-168

Abstract

The pandemic has reignited longstanding tensions between science and religion, transforming their once harmonious relationship into an intense conflict. This discord has cast a shadow on the credibility of religion in the midst of the pandemic and the evolution of scientific civilization. This study presents a religious discourse through the Sufi trilogy of ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī, Ibn ‘Arabī, and Achmad Asrori al-Ishaqi. Within this interpretative framework, al-Jīlānī suggests the pandemic symbolizes destiny and human misbehavior consequences. Ibn ‘Arabiī views it as part of the Absolute phenomenon, while al-Ishaqi sees it as a reflection of an unfriendly human-nature relationship. This exploration aims to provide nuanced insights, transcending binary conflicts, and fostering a comprehensive understanding of the challenges posed by the pandemic within the context of science and religion integration.
Realitas Civil Religion dalam Pergulatan Politik Islam Indonesia Wahyudi, Chafid
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 3 No 1 (2019): AnCoMS 2019
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.764 KB) | DOI: 10.36835/ancoms.v3i1.243

Abstract

Dinamika relasi agama dan negara di dunia Islam secara masif menjadi perdebatan abadi, yakni menjadikan negara teokrasi berhadapan dengan negara sekuler. Pusaran ini menggiring bangsa Indonesia terlibat di dalam perdebatan. Meski demikian, pembentukan dasar konstitusi Indonesia pada akhirnya tidak mengadopsi pemisahan agama dan negara, atau sebaliknya. Adapun bentukan dasar konstitusi yang disepakati adalah mengantarkan pada gagasan substansial civil religion. Sebuah gagasan yang menempatkan makna general di dalam keberagamaan. Pemaknaan civil religion menemukan momentum pada saat kemerdekaan Indonesia yang menempatkan Pancasila sebagai dasar konstitusi setelah merevisi Piagam Jakarta. Sebagai konstitusi negara berdasarkan konsensus dan kompromi, dalam realitasnya terdapat ketegangan-ketegangan khususnya konflik antara agama yang inheren. Pemberontakan dan intrik-intrik politik berusaha untuk mengamandemem menjadi tak terelakkan. Pancasila sebagai padanan civil religion adalah sebagai norma bersama yang esensial dan transendental, mengandung semangat profetik setiap agama dan kepercayaan, untuk mempertahankan kesatuan nasional yang religius. Dengan Pancasila sebagai dasar negara menjadikan Indonesia tidak murni menjadi negara sekuler tidak juga menjadi negara Islam
The Concept of Dihliz in the Sufi Philosophy of Kiai Achmad Asrori al-Ishaqi: Bridging Traditionality and Modernity in Religious Practices in Indonesia Wahyudi, Chafid; Zuhri, Achmad Muhibin; Yaqin, Ainul; Ramadhani, Moch. Rafly Try
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 23 No 2 (2025): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 23 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31291/jlka.v23i2.1287

Abstract

Studies on Nusantara Sufism often treat tarekat communities as socio cultural phenomena and overlook their potential as sources of epistemological innovation. This gap limits understanding of how Sufi traditions generate knowledge that negotiates textual authority and spiritual experience. This article examines the concept of dihliz in KH Achmad Asrori al Ishaqi’s al Muntakhabat to propose a model of liminal Sufi epistemology. The study uses qualitative literature based data drawn from al Muntakhabat as the primary source, supported by secondary works on Sufism and Nusantara intellectual history. The analysis combines hermeneutics to interpret textual meaning and anthropology to situate the text as a cultural artefact, supported by Foucault’s archaeology of knowledge and Bourdieu’s theory of habitus. The findings show three key points. First, dihliz functions as an epistemic threshold that regulates the transition between sharia-based normativity and Sufi experiential knowledge. Second, it produces a hybrid epistemology that integrates rational reflection, textual authority, and intuitive insight. Third, dihliz shapes an epistemic habitus within the tarekat community, enabling the negotiation of tradition and modernity in contemporary religious practice. These findings demonstrate that dihliz offers a conceptual framework for understanding Sufism as a dynamic mode of knowledge production. The study concludes that dihliz provides a useful model for strengthening religious literacy, reconciling doctrinal differences, and supporting peace oriented Islamic education. Future research may apply this framework to other Nusantara Sufi texts to map broader patterns of liminal epistemology.