Saswal Ukba
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

NILAI PENTING DAN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN BENTENG WUNA Saswal Ukba; Syahrun Syahrun; Sandy Suseno
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 6 No. 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan unsur nilai penting dan untuk merumuskan sebuah strategi pengolaan yang baik pada situs Benteng Wuna. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitif dan memiliki jenis penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini melibatkan unsur stakeholder atau pemangku kepentingan untuk mengetahui pihak yang berkepentingan terhadap upaya pengelolaan. Dari hasil penelitian yang dilakukan Benteng Wuna diketahui memiliki unsur nilai penting, yaitu nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting kebudayaan, dan nilai penting ekonomi. Sementara untuk strategi pengelolaan yang dapat diterapkan yakni strategi berbasis partisipatif masyarakat dan berbagi tanggung jawab.
POTENSI HUNIAN PRASEJARAH DI PULAU BUTON: GAMBAR CADAS GUA LAUMEHE DAN PERSPEKTIF PENGELOLAAN Ukba, Saswal
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v9i2.394

Abstract

Temuan terbaru gambar cadas pada Gua Laumehe Buton Tengah menambah pemahaman baru bahwa potensi hunian manusia prasejarah tidak saja sampai pada Kawasan Situs Prasejarah Gua Liang Kobori Pulau Muna. Temuan arkeologis Gua Laumehe kemungkinan memiliki hubungan dengan situs-situs prasejarah lainnya yang ditemukan di Pulau Sulawesi, yaitu Maros Pangkep, Matarombeo, dan Pulau Muna. Observasi langsung dan mengandalkan data sekunder melalui kepustakaan yang relevan menjadi metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui cara kualitatif serta menggunakan studi komparasi dengan mencocokkan gambar cap tangan pada Gua Laumehe dengan gua prasejarah yang terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara untuk menemukan hubungan kontak budaya yang terjadi, serta menggunakan perspektif manajemen sumber daya arkeologi untuk menjelaskan perspektif pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi temuan gambar cadas cap tangan di Sulawesi Tenggara dan menjelaskan perspektif pengelolaan pada Gua Laumehe saat ini. berdasarkan penelitian diketahui bahwa gambar cap tangan Gua Laumehe memiliki tiga gambar negatif cap tangan kiri (hand stancil) yang di duga melambangkan hasil aktivitas yang kurang beruntung. Gua Laumehe memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai situs cagar budaya karena didukung dengan nilai-nilai budaya, ornamen stalaktit, stalagmit, dan gambar cap tangan yang dimilikinya. Temuan arkeologis tersebut dapat menjadi tanda-tanda untuk menemukan bukti gua prasejarah lainnya apabila eksplorasi dilakukan pada kawasan sepanjang pantai Buton Tengah.
NILAI PENTING DAN STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN BENTENG WUNA Saswal Ukba; Syahrun Syahrun; Sandy Suseno
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 6 No 2: December 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i2.1911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan unsur nilai penting dan untuk merumuskan sebuah strategi pengolaan yang baik pada situs Benteng Wuna. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitif dan memiliki jenis penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini melibatkan unsur stakeholder atau pemangku kepentingan untuk mengetahui pihak yang berkepentingan terhadap upaya pengelolaan. Dari hasil penelitian yang dilakukan Benteng Wuna diketahui memiliki unsur nilai penting, yaitu nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting kebudayaan, dan nilai penting ekonomi. Sementara untuk strategi pengelolaan yang dapat diterapkan yakni strategi berbasis partisipatif masyarakat dan berbagi tanggung jawab.
THE PEPPER PLANTATION SYSTEM DURING THE EAST INDIA COMPANY ERA IN BENGKULU 1685–1825 Taufik Hidayat; Febta Pratama; Utomo, Susilo Setyo; Saswal Ukba; Ayu Febriyanti Akbar
Jurnal Historica Vol. 10 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jhis.v10i1.60007

Abstract

This study aims to analyze the pepper plantation system in Bengkulu during the East India Company (EIC) period from 1685 to 1825, with a particular focus on colonial exploitation mechanisms, labor dynamics, and Bengkulu's integration into global pepper trade networks. The central questions examined include how the EIC constructed its pepper production system, mobilized and exploited labor, implemented colonial policies, and positioned Bengkulu within the global commodity trade. This research employs a historical research methodology encompassing the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography, drawing on primary sources from the National Archives of the Republic of Indonesia (ANRI) and Sumatra Factory Records, supplemented by relevant historiographical secondary literature. The study finds that the EIC constructed the pepper plantation system through three primary mechanisms: (1) monopoly agreements with local rulers that obligated each household to cultivate a minimum of 1,000 pepper vines; (2) the use of enslaved African laborers as the operational backbone of the plantation system, with their numbers reaching 1,121 in 1778; and (3) the deployment of British Residents in pepper-producing districts as instruments of colonial control. Bengkulu was integrated into global trade networks through two principal export routes   Fort Marlborough–India–London with annual export volumes reaching 453,600–907,200 kg to European markets during the eighteenth century. This study concludes that the EIC's plantation system in Bengkulu constituted a systematic and exploitative form of colonial capitalism, integrating the region into the world economy not for the benefit of its inhabitants, but for the commercial gain of European merchants as evidenced by the recurring resistance of the Bengkulu population throughout the 140 years of EIC occupation.