Edit Lesa Aditia
Departemen Ilmu Produksi Dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Agripet

Tingkat Produksi dan Keragaman Vegetasi Hijauan Pakan di Padang Penggembalaan Berdasarkan Sistem Penanaman Berbeda Iwan Prihantoro; Panca DMH Karti; Asep Tata Permana; Edit Lesa Aditia; Sherly Dwi Putri
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.28096

Abstract

ABSTRACT. Padang penggembalaan yang berkualitas baik akan menghasilkan produktivitas ternak yang optimal. Sistem penanaman hijauan pakan secara monokultur dan polikultur berperanan penting dalam menciptakan padang penggembalaan yang berkualitas baik. Tujuan penelitian adalah untuk mengukur tingkat produksi dan keragaman vegetasi hijauan pakan di padang penggembalaan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas berdasarkan sistem penanaman berbeda. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua perlakuan berdasarkan perbedaan sistem penanaman (monokultur dan polikultur) dan 4 ulangan. Data penelitian dianalisis menggunakan T-test paired sample berdasarkan perbedaan sistem penanaman. Peubah yang diamati adalah karakteristik warna dan pH tanah, tingkat keragaman vegetasi, dan tingkat produksi tanaman pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan sistem penanaman monokultur dan polikultur menghasilkan hasil yang sama baik dan tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap pH tanah, produksi biomassa tanaman dan kapasitas tampung. Visualisasi warna tanah adalah cenderung gelap dan pedok didominasi tanaman pakan sesuai desain penanaman, yakni Brachiaria decumbens pada sistem monokultur, Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus untuk sistem penanaman polikultur. Kesimpulan dari penelitian bahwa tingkat produksi hijauan dan kapasitas tampung padang penggembalaan tidak berbeda nyata (P0,05) antara perlakuan monokultur dan polikultur, tetapi cenderung lebih tinggi pada perlakuan sistem penanaman polikultur, yakni 4,86 0,88 ST/ha/th dan 5,26 2,42 ST/ha/th. Keragaman vegetasi dari rumput yang dikembangkan berdasarkan indeks nilai penting (INP) adalah tinggi dan dominan Brachiaria decumbens pada sistem monokultur. Begitu juga INP yang tinggi dan dominan dari tanaman Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus untuk sistem penanaman polikultur.(Production rate and diversity of forage vegetation at pasture base on planting system)ABSTRAK. Good quality pasture will produce optimum livestock productivity. Forage planting system both monoculture and polyculture have important role to provide good quality pasture. The objective of the research was to evaluate production rate and forage diversity at Center of Animal Breeding and Forage (BPTUHPT) Padang Mengatas based on different planting system. A completely randomized design with 2 treatments based on planting system (monoculture and polyculture) and 4 replication were applied for the research. Data was analyzed by T-test paired sample based on planting system. Parameters observed were color characteristics and soil pH, vegetation diversity rate, and forage productivity. Research shows that planting system by monoculture and polyculture provide similar result (P0,05) for soil pH, biomass production and carrying capacity. Soil color visualization tend to be darker and paddock was dominated by Brachiaria decumbens for monoculture system, meanwhile Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus were dominant for polyculture system. Production rate and carrying capacity of pasture were not significantly different (P0,05) for both monoculture and polyculture system, but tend to be higher on polyculture system. The average production rate were 4,860,88 AU/ha/yr for monoculture system and 5,262,42 AU/ha/yr for polyculture system. Diversity of forage vegetation according to the Importance Value Index (IVI) was high and dominance for Brachiaria decumbens at monoculture system. In addition, it was similar result for Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus with polyculture system.
Produktivitas dan Nilai Ternak Sapi Lokal serta Kerbau di Pasar Tradisional Asti Fatmawati Fatonah; Rudy Priyanto; Henny Nuraini; Edit Lesa Aditia
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.22818

Abstract

ABSTRACT. Kebutuhan domestik daging sapi dan kerbau sebagian besar disuplai dari ternak lokal. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi produktivitas sapi Bali, sapi PO, dan kerbau serta nilai ternak di pasar tradisional berdasarkan kondisi ternak hidup, karkas dan non karkas serta komponen karkas dan non karkas. Penelitian ini menggunakan 17 ekor sapi lokal dan kerbau jantan, meliputi sapi Bali 6 ekor, sapi PO 6 ekor, dan kerbau 5 ekor dengan umur I2-I4. Data dianalisis menggunakan analysis of covariance dengan prosedur general linear model dan least square mean. Peubah yang diamati meliputi bobot potong, bobot dan persentase karkas, bobot komponen karkas, bobot dan persentase non karkas, bobot komponen non karkas, serta nilai ternak di pasar tradisional di daerah Bogor. Hasil penelitian menunjukkan ternak lokal dengan produktivitas karkas dan daging tertinggi yaitu sapi Bali, diikuti sapi PO dan kerbau. Persentase karkas sapi Bali 50,39%, sapi PO 49,96%, dan kerbau 46,41%. Sapi Bali memiliki persentase total daging tertinggi yaitu 72,23%, diikuti sapi PO 69,54%, dan kerbau 67,61%. Namun, kerbau memiliki hasil non karkas tertinggi, diikuti sapi PO dan sapi Bali. Berdasarkan bobot karkas dan komponen karkas, sapi Bali memiliki nilai ternak tertinggi, sedangkan sapi PO memiliki nilai ternak yang tinggi pada non karkas. Sapi Bali dan sapi PO memiliki nilai ternak lebih tinggi dari kerbau. Sapi dan kerbau akan mempunyai nilai tambah tertinggi pada saat diolah menjadi komponen karkas dan komponen non karkas.(Productivity and economic value of local cattle and buffalo in traditional markets)ABSTRAK. Domestic beef and buffalo supply mainly comes from local livestock. The purpose of this study was to compare the productivity of Bali cattle, PO cattle, and buffaloes, and their economic values for traditional markets based on live weight, carcass weight, and carcass and non-carcass component weights. This study used 17 heads of local bull and male buffaloes, comprising 6 Bali cattle, 6 PO cattle and 5 local buffaloes aged I2-I4. Data were analyzed using Analysis of Covariance, with the general linear model and least square mean procedures. Parameters observed included slaughter weight, weight and percentages of carcass, carcass components, non-carcass, non-carcass components, and their prices according to Bogor traditional market. The results showed that the local cattle with the highest productivity and meat yield were Bali cattle, followed by PO cattle and buffalo. The carcass percentage of Bali cattle were 50.39%, PO cattle were 49.96%, and buffalo were 46.41%. Bali cattle produced the highest meat yield 72.23%, followed by PO cattle 69.54%, and buffalo 67.61%. However, buffalo had the highest non-carcass productivity, followed by PO and Bali cattle. Based on carcass and its component weights, Bali cattle had the highest economic value, whereas PO cattle had the highest value on non-carcass weights. Bali cattle and PO cattle had higher economic value than buffalo. The ruminant animal had its highest added value when processed into carcass and non-carcass components.