Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Perbandingan Performansi Posisi Penguat Optik Hybrid Soa – Edfa (semiconductor Optical Amplifier - Erbium Doped Fiber Amplifier) Pada Sistem Dwdm (dense Wavelength Division Multiplexing) Berbasis Soliton Arumadina Islamiq; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penguat hybrid adalah suatu cara untuk memberikan performansi yang lebih baik karena dapat mengoptimalkan peningkatan spektrum lebar bandwidth dari sistem DWDM, mengurangi kerugian karena induksi non linearitas dan mencegah penggunaan biaya tinggi. Tugas Akhir ini menganalisis penguat optik Hybrid SOA-EDFA sebagai power amplifier (Booster), inline amplifier, preamplifier dengan menggunakan sebuah pulsa soliton. Serta akan menganalisis pengaruh bitrate dan panjang link terhadap BER, Q-factor. Simulasi ini dirancang dengan jumlah 16 buah kanal, panjang gelombang pada windows daerah C-Band (1510nm – 1560nm), pompa laser 980 nm, power input 3 dBm, bandwidth 20 Gbps dan akan disimulasikan menggunakan software OptiSystem 7.0. Dari hasil analisis yang dilakukan bahwa penguat Hybrid SOA-EDFA ini memiliki korelasi terhadap kinerja sistem DWDM ini, dimana didapatkan skema preamplifier yang terbaik diantara keempat skema Hybrid SOA-EDFA yang dirancang karena pada skema preamplifier nilai Q faktor bernilai paling maksimal yaitu sebesar 9.7024 atau 1.46494x10-22 pada BER dengan panjang link 50 km dan bitrate 2.5 Gbps. Sedangkan nilai Q faktor yang bernilai paling mínimum yaitu sebesar 0 atau 1 untuk nilai BER yang terjadi pada skema sistem tanpa penguatan yaitu kondisi panjang link 100 km hingga 200 km dengan bitrate 2.5 Gbps, 5 Gbps, dan 10 Gbps. Sehingga Skema preamplifier sangat cocok digunakan untuk link jauh. Skema Inline Amplifier dan Booster amplifier bisa bekerja untuk link jauh namun perfomansinya buruk karena nilai Q faktor di bawah standart kelayakan. Dan skema tanpa penguatan tidak layak digunakan karena performansinya sangat buruk. Kata kunci : DWDM, Hybrid, EDFA, SOA, Soliton
Perencanaan Optical Amplifier Pada Jaringan Palapa Ring Untuk Link Ambon (maluku) - Sorong (papua) Ahyadan Weka Pratomo; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam menjadikan seluruh masyarakat Indonesia yang cepat mengetahui segala informasi, pemerintah melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan telekomunikasi menggelar mega-proyek serat optik bawah laut yang dinamakan Palapa Ring. Jaringan inilah yang akan menghubungkan Ambon - Sorong yang dapat terkoneksi dengan jaringan tersebut agar masalah ketinggalan informasi tidak terjadi lagi . Pada penelitian ini dilakukan penempatan optical amplifier dan analisis link power budget dan bit error rate dengan menggunakan beberapa skema. Skema 1 ROA (Raman Optical Amplifier) ditempatkan pada jarak 128 km dari titik labuh di Ambon dan sorong. Sedangkan antar ROA diberi jarak 127 km. Di skema 2 jarak ROA nya menggunakan jarak maksimal sistem tanpa mengunakan penguat yaitu 128 km. Pada skema 3 ini penempatan ROA nya berbeda dengan skema 2. Hal ini bertujuan untuk mengurangi redaman yang dihasilkan oleh splice antar perangkat dengan jarak 100 km antar ROA. Hasil dari penelitian ini pada skema 1 digunakan maka ROA yang dibutuhkan hanya 3 buah, namun pada skema ini daya terima pada receiver hanya -53,9 dBm dan nilai BER yang didapat dengan nilai Qfactor tersebut adalah 0,129. Skema 2 digunakan maka ROA yang dibutuhkan lebih banyak dari skema 1 yaitu 4 buah ROA, sehingga pada skema ini daya terima pada receiver -24,1 dBm dengan nilai BER yang didapat dengan nilai Qfactor tersebut adalah 0,67.10-4. Pada skema 3 ini, diperoleh daya terima di receiver sebesar -23,7 dBm dan nilai BER yang didapat dengan nilai Qfactor tersebut adalah 4,718.10-5. Dengan nilai link power budget dan nilai BER, skema 3 yang lebih baik diantara skema a1 dan 2. Kata kunci : Palapa Ring, Link Power Budget, Bit Error Rate, Qfactor, Ambon, Sorong
Simulasi Dan Analisis Optical Add Drop Multiplexer (oadm) Menggunakan Fiber Bragg Grating (fbg) Pada Link Long Haul Yuliana Permata Sari; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Teknologi Wavelenght Division Multiplexing (WDM) dapat dipadukan dengan perangkat Optical Add Drop Multiplexing (OADM), sehingga didapatkan konektivitas dan fleksibilitas yang lebih besar dalam jaringan WDM. Optical Add Drop Multiplexing (OADM) merupakan perangkat yang digunakan untuk menambah (add) dan mengurangi (drop) panjang gelombang pada suatu link komunikasi. Untuk memilih panjang gelombang sesuai dengan karakter yang diinginkan, maka dibutuhkan suatu reflektor, yaitu Fiber Bragg Grating (FBG). Perangkat Optical Add Drop Multiplexing (OADM) menggunakan Fiber Bragg Grating (FBG) disimulasikan pada perangkat lunak untuk analisis matematis. Teknik Phase Mask digunakan untuk fabrikasi FBG. Selain itu, teori coupled mode dan metode transfer matriks digunakan untuk mendapatkan karakteristik spektrum dalam FBG. Terdapat beberapa parameter dalam penerapan OADM menggunakan FBG seperti panjang grating (l), modulasi indeks bias grating (Δn), jumlah grating (N). Pada desain perancangan OADM, panjang gelombang yang di-drop dan add adalah panjang gelombang kedua dan keempat. Pada tugas akhir ini, menggunakan lima masukan panjang gelombang dalam rentang C-Band, yaitu λ1 = 1550.92 nm, λ2 = 1551.72 nm, λ3 = 1552.52 nm, λ4 = 1553.33 nm, λ5 = 1554.13 nm, dengan spasi kanal 100 GHz atau 0.8 nm. Pada simulasi didapatkan nilai reflektivitas panjang gelombang kedua (R2) sebesar = 1 dengan Poutλ1 = 1 dB,sehingga tidak mengakibatkan crosstalk. Sedangkan padapanjang gelombang keempat (R4) = 1 dengan Poutλ4 = 1 dB, sehingga tidak mengakibatkan crosstalk. Kata Kunci : WDM, OADM, FBG, Crosstalk
Analisis Sistem Komunikasi Rof (radio Over Fiber) Berbasis Wdm (wavelength Division Multiplexing) Dengan Oadm (optical Add Drop Multiplexing) Untuk Jarak Jauh Gede Teguh Laksana; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radio over fiber merupakan suatu proses pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Melihat perkembangan komunikasi di dunia yang sangat pesat, Radio over Fiber dapat diaplikasikan guna mendukung layanan multimedia. Dalam rangka mendukung layanan multimedia, Radio over Fiber diharapkan dapat mendukung komunikasi untuk jarak jauh. Oleh karena itu dilakukan analisis terhadap Radio over Fiber untuk komunikasi jarak jauh yang dikombinasikan dengan teknik WDM (Wavelength Division Multiplexing) dan dipadukan dengan perangkat OADM (Optical Add Drop Multiplexer). Radio over Fiber disimulasikan oleh sinyal frekuensi radio 2.5 GHz yang ditumpangkan kedalam suatu panjang gelombang. Laju data yang digunakan sebesar 1 Gbps. Untuk mencapai penerima pada jarak yang jauh akan dilakukan penguatan oleh Optical Amplifier berupa EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier). Teknologi Radio over Fiber untuk komunikasi jarak jauh sangat rentan terhadap nilai BER dan redaman yang tinggi sehingga dibutuhkan perancangan sistem yang matang dan spesifikasi perangkat yang memadai. Adapun performansi yang didapatkan oleh keempat panjang gelombang pada jarak terjauh yaitu 155.5 km masih berada diatas sensitivitas penerima yaitu -17.217 dBm. Keempat panjang gelombang juga masih mencapai nilai BER minimal untuk layanan multimedia yaitu 10-9. Kata kunci: radio over fiber, optical add drop multiplexer, wavelength division multiplexing, komunikasi jarak jauh
Simulasi Dan Analisis Efek Cross-phase Modulation Pada Performansi Link Dwdm Dengan Chromatic Dispersion Compensation Muhammad Luthfi Ramadhan Abdul Rachman; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu yang akan memengaruhi penurunan kualitas layanan pada DWDM ialah efek nonlinear yang terjadi pada serat optik, dimana efek non-linear yang umumnya muncul ialah Cross Phase Modulation (XPM). Dimana pada XPM ini akan menyebabkan pelebaran spektral dan distorsi pada bentuk pulsa keluaran di penerima. Pada penelitian ini, akan dilakukan pemodelan dan simulasi link DWDM pada software OptiSystem 7.0, kemudian melakukan Analisis efek XPM dengan skema non compensation (tanpa kompensasi) dan tiga skema yang ada pada Chromatic Dispersion Compensation. Dari keseluruhan skema yang dimodelkan, dilakukan perubahan variabel daya pengirim dan panjang link. Dari hasil simulasi didapatkan bahwa XPM terjadi, terlihat dari data simulasi yang didapat. Dimana pada skema non compensation 2.5 dan 4 km dengan nilai 15.461 dan 7.407, BER bernilai 1 (50, 100, 150, 250, 800, 1000 km) dan bukaan ‘mata’ eye diagram semakin mengecil mulai dari panjang link 10 km hingga 1000 km. Pada skema pre compensation, post compensation dan symetric compensation berturut-turut didapat Q Factor terbaik bernilai 26.797, 22.534, dan 28.445, dan ketiganya memiliki BER terbaik bernilai 0. Dengan kunci terletak pada penggunaan DCF yang memiliki dispersi negatif, sehingga mampu menciptakan delay antara kanal DWDM yang berdekatan dan tentunya membuat Inter Symbol Interference (ISI) pada tingkatan minimum. Kata Kunci : DWDM, XPM, Chromatic Dispersion Compensation, BER, Q Factor, eye diagram.
Analisis Perbandingan Pulsa Gaussian Dengan Pulsa Secant-hiperbolik Pada Transmisi Soliton Mohamad Fadhian; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi berbasis cahaya belakangan ini telah menjadi perkembangan yang semakin dibutuhkan, salah satunya adalah soliton. Soliton merupakan sebuah pulsa yang dapat mempertahankan bentuk pulsanya akibat saling menghilangkannya efek GVD dan SPM pada medium serat optik. Pulsa soliton sendiri dapat dibangkitkan oleh dua pembangkit yaitu Gaussian Pulse Generator (GPG) dan Sech Pulse Generator (SPG). Pada penelitian ini dilakukan analisis perbandingan antara kedua pembangkit tersebut dengan merubah parameter jarak dan bit rate untuk single link. Jarak dilakukan pengubahan dari 180 – 1800 km sedangkan bit rate 10 – 40 Gbps. Setelah itu dilakukan analisis pada DWDM dengan bit rate 10 Gbps, menggunakan 0.4 nm spasi kanal dan mengubah jumlah kanal dari 4, 8, 16, 32 panjang gelombang. Hasil simulasi menunjukkan pulsa soliton dengan GPG memiliki Q factor yang lebih tinggi pada bit rate 10 Gbps. Sedangkan bit rate diatasnya, SPG memiliki nilai Q factor yang lebih tinggi. Pada transmisi DWDM dengan parameter yang sama, pulsa soliton dengan SPG memiliki Q factor yang lebih tinggi (11.968) daripada GPG (10.709). Pada jaringan DWDM, muncul efek nonlinier lain yaitu Four Wave Mixing (FWM). Untuk 32 panjang gelombang muncul 1636 panjang gelombang baru yang tidak diinginkan. Kata kunci: Soliton, Pulsa Gaussian, Pulsa Sech, FWM, Q factor.
Analisa Kinerja Sistem Komunikasi Optik Jarak Jauh Dengan Teknologi Dwdm Dan Penguat (edfa) Winda Friandawa; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi optik jarak jauh menyebabkan berkurangnya daya yang diterima pada sisi penerima, hal ini disebabkan oleh adanya dispersi dan redaman lainnya. Oleh karena itu, untuk mengoptimalisasi daya yang diterima pada sisi penerima digunakan sebuah penguat agar pada sisi penerima sinyal yang dikirimkan dapat diterima dengan baik. Pada Tugas Akhir ini, akan dilakukan pemodelan dan simulasi link DWDM menggunakan software Optisystem 7.0, kemudian akan dilakukan tiga skema yang ada pada erbium doped fiber amplifier (EDFA) tanpa menggunakan Dispersion Compensation Fiber. Tiga skema EDFA yaitu, booster amplifier, In-line amplifier, dan pre amplifier. EDFA dipilih pada Tugas Akhir ini karena EDFA dapat menguatkan sinyal optic tanpa mengubahnya menjadi sinyal elektrik terlebih dahulu. Pada Tugas Akhir ini, serat optik akan diatur panjangnya setiap 2 Km. Panjang link yang digunakan yaitu 72 Km, 142 Km dan 396 Km, bitrate yang digunakan yaitu 10 Gbps dan 40 Gbps, format modulasi yang digunakan yaitu NRZ dan RZ. Selanjutnya, hasil dari simulasi akan dilihat nilai dari Q faktor dan BER masing-masing skema EDFA, sehingga didapatkan nilai yang terbaik dari ketiga skema EDFA yang digunakan . Dari hasil analisa yang dilakukan, penguat (EDFA) memiliki korelasi terhadap kinerja sistem DWDM ini, dimana didapatkan skema booster amplifier yang terbaik diantara ketiga skema EDFA yang ada karena pada skema booster amplifier Q faktor bernilai paling maksimal yaitu sebesar 7.70079 dan BER yang bernilai paling optimal yaitu sebesar 5.58823×10-15 yang terjadi pada saat kondisi panjang link 72 Km, bitrate 10 Gbps dan line coding RZ. Kata Kunci: DWDM, EDFA, Q Faktor, BER.
Analisis Performansi Migrasi Jaringan Dslam Cascade Ke Jaringan Gpon Untuk Mendukung Layanan Triple Play Bernadetta Sekar Pratiwi; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan internet mengakibatkan penyedia layanan internet dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan akan internet dengan kecepatan yang tinggi. Saat ini PT. Telkom sebagai salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi telah menyediakan layanan internet, yaitu Speedy. Speedy adalah layanan akses internet broadband dengan kecepatan tinggi yang menggunakan teknologi ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line). Dengan layanan ini, jaringan akses telepon pelanggan ditingkatkan kemampuannya menjadi jaringan digital berkecepatan tinggi, yang memungkinkan pelanggan untuk dapat menggunakan fasilitas telepon sekaligus dapat melakukan akses internet dengan kecepatan tinggi. Dengan menggunakan Speedy, pelanggan dapat menggunakan fasilitas USeeTV yaitu layanan IPTV. Akan tetapi, performansi Speedy sebagai layanan broadband saat ini dirasa masih kurang dan seringkali terjadi gangguan. Selain itu masih banyak pengguna Speedy yang tidak dapat berlangganan UseeTV karena jaringan yang tidak support. Untuk meningkatkan performansi layanan Speedy, meminimalisasi terjadinya gangguan, dan mensupport layanan IPTV, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan optimalisasi pada jaringan DSLAM cascade. Optimalisasi dilakukan.dengan menggunakan teknologi GPON, yang sudah mendukung layanan Triple Play, dan menggunakan Splitter 1:2 di tiap DSLAM agar tidak menyebabkan terjadinya gangguan beruntun. Dalam tugas akhir ini dihasilkan jaringan cascade DSLAM yang sudah menggunakan GPON agar dapat meningkatkan performansi dan mendukung layanan Triple Play. Pada pengukuran dan pengujian di lapangan didapatkan hasil Prx = -17.8578 dB untuk jarak maksimum dan rise time budget 0.229 ns. Hasil pengukuran di lapangan memenuhi syarat kelayakan suatu jaringan dimana Prx ≥ -25 dB dan rise time budget ≤ 0.28 ns. Kata kunci : DSLAM, GPON, Cascading, Triple Play.
Analisis Panjang Gelombang Downstream Dan Upstream Pada Sistem Jaringan Ng-pon 2 Dengan Menggunakan Teknologi Twdm Rasyid Vikri Prisdiansyah; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era digital ini, perkembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia sangat berkembang pesat, terutama pada sistem transmisi. Salah satu sistem jaringan serat optik yang saat ini ada adalah Next-Generation Passive Optical Network 2 (NG-PON 2). Untuk mendukung Sistem jaringan NG-PON 2 dapat menggunakan teknologi Time and Wavelength Division Multiplexed (TWDM). TWDM merupakan penggabungan teknologi TDM dan WDM. Pada tugas akhir ini menganalisis pengaruh panjang gelombang downstream dan juga upstream pada sistem jaringan NG-PON 2 dengan menggunakan teknologi TWDM. Panjang gelombang TWDM dibandingkan dengan panjang gelombang yang lain, yaitu yang digunakan pada sistem G-PON dan XG-PON. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah selain panjang gelombang TWDM dapat digunakan pada sistem ini. Selisih panjang gelombang antar kanal / channel spacing juga dianalisis. Selisih panjang gelombang antar kanal yang digunakan adalah 50 GHz, 100 GHz, 150 GHz, dan 200. GHz. Analisis dilakukan dengan cara melihat pengaruh panjang gelombang dan channel spacing pada sistem jaringan NG-PON 2. Parameter performansi yang digunakan adalah SNR, Q-Factor, dan BER. Hasil dari analisis melalui perhitungan manual maupun menggunakan simulasi didapatkan bahwa panjang gelombang XG-PON dan GPON layak untuk sistem jaringan NG-PON 2 dengan teknologi TWDM walaupun nilai parameter performansinya masih dibawah nilai TWDM. Rentang panjang gelombang atau channel spacing tidak mempengaruhi nilai parameter performansi secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan nilai dari semua parameter performansi yang tidak memiliki perbedaan yang signifikan maupun berubah beraturan. Kata kunci: Panjang gelombang, NG-PON 2, TWDM.
Simulasi Dan Analisis Efek Nonlinier Pada Performansi Sistem Very Narrow Channel Spacing Dwdm-rof Hermawan Widiyanto; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan teknologi telekomunikasi dewasa ini telah me munculkan kebut uhan seperti me mberikan jaminan QoS yang baik kepada pelanggan, rugi- rugi akibat interferensi yang rendah, peningkatan cakupan layanan, akses data berkecepatan tinggi, dan kebut uhan bandwidth yang besar. Teknik Radio over Fiber (RoF) dengan sistem termultipleksi DWDM dapat me njadi pilihan unt uk me ntransmisikan sejumlah besar data melalui sebuah serat optik. Akan tetapi dibalik se mua kelebihan yang didapatkan, terdapat suat u fenome na yang me mbatasi performansi sistem komunikasi serat optik seperti efek nonlinier yang dapat disebabkan oleh kerr effect. Pada t ugas akhir ini, dirancang suat u pemodelan yang menggabungkan teknik RoF dengan teknik DWDM dengan software OptiSystem unt uk me ngetahui pe ngaruh dari Cross Phase Modulation (XPM) pada kondisi very narrow channel spacing. Lalu dilakukan perubahan variabel-variabel pengujian seperti spasi kanal antar panjang gelombang, dan me nguji link dengan dua optical amplifier yang berbeda pada skenario jumlah kanal dengan 4,8,16, dan 32 kanal DWDM. Dari hasil penelitian akhir ini, didapatkan bahwa skema yang paling optimal dalam me minimalisir efek non linier Cross Phase Modulation adalah dengan menggunakan penguat SOA pada link DWDM-RoF dengan 8 kanal pada spasi kanal 0.6 nm. Didapat nilai rata-rata Q factor tertinggi yait u 5.8587275, dan tiga dari delapan kanalnya me miliki nilai Q factor diatas 6 atau BER dibawah 10 -9 . Kata kunci: DWDM-RoF, Cross Phase Modulation, Spasi Kanal, dan Q factor