Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Dan Simulasi Efek Non Linier Three Wave Mixing Pada Link Dense Wavelength Division Multiplexing (dwdm) Sistem Komunikasi Serat Optik Herin Damara Ditya; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena efek non linieritas pada sistem komunikasi serat optik (SKSO) sangat mempengaruhi terhadap performansi jaringan dan teknologinya termasuk teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Teknologi ini adalah teknologi yang sangat berkembang pesat dari sistem komunikasi serat optik (SKSO) sehingga mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Tetapi dibalik kelebihan, ada kekurangannya yang mempengaruhi kinerja teknologi tersebut diantaranya efek non linieritas serat optik jenis Three Wave Mixing (TWM). Pada pembuatan tugas akhir ini, disimulasikan pemodelan link sistem Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) pada perangkat lunak simulator agar diketahui pengaruh dari yang dihasilkan oleh efek non linieritas jenis Three Wave Mixing (TWM) terhadap performansi sistem komunikasi serat optik (SKSO) dan terdapat tiga skenario pengujian pada simulasi. Skenario pertama, mengubah variabel besar nilai bitrate dan jarak link. Pada skenario kedua, mengubah variabel spasi kanal. Pada skenario ketiga, mengubah variabel daya transmitter [5]. Hasil simulasi yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa efek non linier Three Wave Mixing (TWM) membawa dampak buruk bagi performansi link Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), semua nilai Q-Factor yang dihasilkan dibawah standard kelayakan sistem. Pada link dengan bitrate 10 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factorsebesar 6.1653525 dan nilai terburuk sebesar 1.0608313 namun dapat di perbaiki menjadi 1.6512025. Pada link dengan bitrate 40 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factor sebesar 4.0759025 dan nilai terburuk sebesar 0.3180738 namun dapat di perbaiki menjadi 0.9686463. Pada link dengan bitrate 100 Gbps didapatkan nilai terbaik Q-Factor sebesar 3.09007 dan nilai terburuk sebesar 1.6770563 namun dapat di perbaiki menjadi 1.76733375. Kata kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), Three Wave Mixing (TWM), Q-Factor
Pencarian Perangkat Menggunakan Double Uav Dengan Kombinasi Flying Path Meutia Qoonita Noviyani; Arfianto Fahmi; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tugas Akhir ini bertujuan untuk mensimulasikan kondisi bencana dimana jaringan telekomunikasi tidak mampu beroperasi secara optimal sehingga digunakan teknologi komunikasi Device-to-Device pada area bencana untuk mengurangi energi pada sisi pengguna. Dua Unmanned Aerial Vehicle (UAV) bertipe quadcopter yang dipasang perangkat RF digunakan sebagai pengganti Base Station untuk melakukan proses device discovery secara Network Assisted sehingga jaringan telekomunikasi tidak terputus. Terdapat tiga skenario flying path yang akan digunakan, yaitu kombinasi Rectangular-Path dan O-path, kombinasi Rectangular-Path dan Zigzag-Path dan Double S-Path dengan area simulasi berbentuk persegi sebesar 100 km2 pada ketinggian quadcopter 80 hingga 150 m. Berdasarkan hasil simulasi yang diujikan pada tugas akhir ini, hasil yang didapatkan dari tiga skenario yang dianalisis berdasarkan penelitian adalah 80% perangkat dapat terdeteksi dengan skenario Double S-Path namun total durasi pada Rectangular & O Path 3 kali lebih cepat dari Double S-Path. Pada saat terjadi bencana waktu menjadi faktor penting dalam disaster relief sehingga untuk kondisi bencana di rekomendasikan menggunakan skenario Rectangular & O Path untuk diterapkan. Walaupun selisih jumlah perangkat yang terdeteksi di antara Rectangular & O Path dan Double S-Path cukup besar, namun secara umum penggunaan dua UAV meningkatkan banyaknya perangkat yang terdeteksi daripada penggunaan satu UAV.Kata Kunci: Device discovery, UAV, D2D
Analisis Perencanaan Jaringan Long Term Evolution (lte) Di Kota Bandung Menggunakan Metode Optimal Fractional Frequency Reuse (offr) Sebagai Manajemen Interferensi Rizwan Jufri Nst; Rina Pudji Astuti; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepuasan akan kebutuhan informasi yang dapat diakses dimana saja menjadi hal yang sangat penting bagi semua user khususnya bagi user yang berada di daerah tepi dari suatu base station, sering sekali mendapatkan sinyal yang sangat lemah. Lemahnya sinyal bisa terjadi akibat interferensi dari banyak sinyal. Oleh karena itu pada tugas akhir ini dilakukan perencanaan jaringan LTE yang dapat meningkatkan performansi khususnya bagi user yang berada di tepi sel. Perencanaan didasarkan pada dua hal, yaitu dari kapasitas bisa didapatkan jumlah sel yang akan digunakan dan pada cakupan bisa didapatkan alokasi daya pancar yang dibutuhkan oleh suatu base station. Untuk mengurangi interferensinya akan digunakan teknik pengalokasian frekuensi yaitu skema frekuensi reuse yang menerapkan metode Optimal Fractional Frequency Reuse. Simulasi perencanaan dilakukan dengan menggunakan software Atoll. Dari perencanaan melalui perhitungan didapatkan hasil estimasi kebutuhan throughput perencanaan sampai tahun 2021 untuk wilayah kota Bandung sebesar 23.189,681Mbps dengan jumlah user yang dapat dilayani sebanyak 632.388 user. Radius sel di tiap-tiap klasifikasi daerahnya sebesar 0.4km (Dense urban), 0.58km(Urban) dan 0.95km(Sub urban). Jumlah site yang diperlukan untuk meng-cover wilayah kota Bandung hingga 5 tahun kedepan ada sebanyak 245 site. Nilai CINR terkecil dengan OFFR hanya ada di 0,03% dari total luas area kota Bandung. Kata kunci: LTE, perencanaan kapasitas, perencanaan cakupan, interferensi, OFFR
Analisis Performansi Optical Distribution Network (odn) Ng-pon2 Menggunakan Teknologi Time-and-wavelength Division Multiplexing (twdm) Satya Prianggono; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi komunikasi serat optik yang baru saja dikembangkan adalah Next-Generation Passive Optical Network Stage 2 (NG-PON2). NG-PON2 digagas untuk memenuhi kebutuhan jaringan akses broadband masa depan dengan kemampuan untuk meningkatkan bitrate hingga lebih dari 10 Gbps dengan metode agregasi OLT dan menggunakan teknologi Time-and-Wavelength Division Multiplexing (TWDM). Pada Tugas Akhir ini dilakukan perancangan dan analisis performansi jaringan NG-PON2 berbasis TWDM. Perancangan dilakukan untuk mengetahui pengaruh fisik khususnya segmen distribusi terhadap performansi NG-PON2. Skenario pengujian menggunakan 4 OLT dengan kecepatan 40 Gbps, lima tipe serat optik berdasarkan standar ITU-T G.652.C/D, G.652.B, G.653, G.655, dan G.652.A, dengan jarak 20 km menggunakan dua titik pembagi (dengan total split ratio 1:64 dan 1:128). Dari hasil simulasi, dilakukan analisis terhadap Link Power Budget (LPB), Signal to Noise Ratio (SNR), Q-factor, dan Bit Error Rate (BER). Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan tipe serat G.652.C dan G.652.D memberikan performansi yang terbaik pada setiap parameter performansi. Dengan 64 ONU arah downstream menghasilkan LPB = -25,407 dBm, Q-factor = 9,115, BER = 2,72 x 10-19, sedangkan arah upstream menghasilkan LPB = -25,037, Q-factor = 10,619, BER = 1,36 x 10-24. Dan dengan 128 ONU arah downstream menghasilkan LPB = -25,491 dBm, Q-factor = 8,576, BER = 6,86 x 10-16, sedangkan arah upstream menghasilkan LPB = -25,047 dBm, Q-factor = 12,064, BER = 1,59 x 10-24 .Kata kunci: NG-PON2, ODN, TWDM
Simulasi Dan Analisis Pengaruh Edfa Pada Sistem 80 G Twdm-pon Berbasis Next Generation Passive Optical Network Stage 2 Muhammad Yasyir; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh ITU-T (G.989.1 hingga G.989.3), generasi terbaru dari PON yaitu NG-PON2 dapat mengirimkan data dengan bitrate downstream lebih dari sama dengan 40 Gbit/s dan 10 Gbit/s untuk upstream. NG-PON2 dapat menjadi salah satu solusi teknologi dalam mengatasi permasalahan terbatasan bandwidth pada teknologi PON saat ini. Dikarenakan penggunaan Teknik TWDM dengan metode aggregasi atau stacking OLT yang menjanjikan jaringan broadband masa depan dengan bandwidth sangat besar. Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan evaluasi sistem dan jaringan bi-directional NG-PON2 dengan teknik TWDM. Dilakukan simulasi perancangan sistem delapan kanal TWDM dengan total bitrate 80 Gbit/s pada sisi downstream (WDM) dari OLT yang masing-masing bitrate tiap kanalnya adalah 10 Gbit/s dan 10 Gbit/s untuk upstream (TDM). Kemudian, untuk simulasi perancangan jaringan memiliki tiga titik splitting dengan splitting ratio 1:256 dan jarak terjauh transmisi adalah 40 km. Serta menambahkan EDFA yang memiliki panjang 1 hingga 5 meter sebagai pre-amplifer dan booster amplifier dengan Pump Laser Power 100 mW hingga 1000 mW serta Pump Laser Wavelength 980 dan 1480 nm. Dari hasil simulasi, dilakukan analisis sistem dengan parameter pengukuran Power Received, Q factor dan BER. Serta, dilakukan analisis amplifier terhadap perubahan daya dan panjang gelombang dengan parameter pengukuran Gain dan OSNR. Berdasarkan dari hasil simulasi, didapatkan EDFA dengan panjang 2 meter, daya 400 mW, dan panjang gelombang 1480 nm dapat memberikan peningkatan performansi yang terbaik untuk transmisi downstream dengan nilai parameter Q factor sebesar 9,99 hingga 15,75; BER sebesar 3,33x10-56 hingga 7,06x10-26; Power Received sebesar -20,12 hingga -19,11 dBm; Gain sebesar 14,18 hingga 15,60 dB; dan OSNR sebesar 54,01 hingga 54,37 dB. Sedangkan untuk performansi transmisi upstream ditunjukkan EDFA dengan panjang 2 meter, daya 600 mW, dan panjang gelombang 1480 nm dengan nilai parameter Q factor sebesar 10,09 hingga 15,40; BER sebesar 7,68x10-54 hingga 2,75x10-24; Power Received sebesar -14,11 hingga -11,62 dBm, Gain sebesar 17,97 hingga 20,44 dB dan OSNR sebesar 54,01 hingga 54,37 dB. Kata Kunci: TWDM, NG-PON2, EDFA, WDM, TDM
Pengaruh Edfa Pada Sistem 160 G Twdm-pon Berbasis Ng-pon2 Rizky Maulana Arpan; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Passive Optical Network (PON) merupakan salah satu teknologi yang menjadi solusi untuk kebutuhan masyarakat yang menginginkan teknologi yang cepat dan efisien. Generasi terbaru dari PON yaitu Next Generation Passive Optical Network stage 2 (NG-PON2) dapat mengirimkan kecepatan data dengan bitrate ? 40 Gbps untuk sisi downstream dan 10 Gbps untuk sisi upstream. TWDM direkomendasikan sebagai solusi utama untuk merancang dan melaksanakan NG-PON2. Penelitian ini dilakukan perancangan dan simulasi jaringan bidirectional -NG-PON2 dengan teknik TWDM yang memiliki total bitrate 160 Gbps untuk downstream dan 80 Gbps untuk upstream. Sistem yang dibuat menggunakan enam belas kanal TWDM dengan masing-masing kanal mempunyai bitrate 10 Gbps untuk downstream dan 2,5 Gbps untuk upstream. Kemudian, sistem ini memiliki jarak transmisi sejauh 40 km dengan tiga titik pembagi daya dengan total split ratio 1:128. Selain itu, sistem ini juga menggunakan penambahan EDFA sebagai booster amplifier dan pre-amplifier yang memiliki panjang 1 sampai dengan 5 meter dengan Pump Laser Power sebesar 100 mW sampai dengan 1000 mW. Setelah itu, dilakukan analisis terhadap sistem berdasarkan parameter pengukuran Power Received, Q factor dan BER. Selanjutnya, dilakukan analisis amplifier terhadap perubahan panjang EDFA dan daya pompa laser dengan parameter pengukuran Gain dan OSNR. Berdasarkan dari hasil simulasi, transmisi downstream didapatkan panjang EDFA 2 meter dengan daya pompa 700 mW memberikan performansi yang terbaik dengan parameter Q factor sebesar 18,59; BER sebesar 1,9x10-77; Power Received sebesar -18,61 dBm; Gain sebesar 10,86 dB; dan OSNR sebesar 54,29. Sedangkan, untuk performansi pada transmisi upstream ditunjukkan panjang EDFA 2 meter dengan daya pompa 800 mW dengan nilai parameter Q factor sebesar 19,67; BER sebesar 5,6x10-85; Power Received sebesar -15,16 dBm, Gain sebesar 14,18 dB dan OSNR sebesar 25,69. Kata kunci : PON, NG-PON2, TWDM, EDFA, Booster Amplifier, Pre-Amplifier
Perancangan & Implementasi Visible Light Communication Untuk Komunikasi Radio Fm Achmad Rifiandi; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

bentuk sinyal informasi. Jaringan wireless pada umumnya menggunakan sinyal elektromagnetik yang memiliki kekurangan diantaranya adalah interferensi gelombang, kapasitas pengiriman data masih rendah, dan penggunaan energi kurang efisien seperti komunikasi radio FM yang masih digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Dengan teknologi VLC kekurangan yang dimiliki jaringan wireless dapat menjadi lebih baik lagi. Karena sifat cahaya yang digunakan oleh VLC mempunyai kecepatan yang tinggi, bisa tahan terhadap interferensi radiasi gelombang elektromagnetik, energi yang digunakan lebih efisien, dan lain-lain. Pada tugas akhir ini perancangan sistem VLC terdiri dari blok transmitter dan receiver. Di bagian transmitter terdapat Light Emitting Diode (LED) sebagai sumber cahaya yang memancarkan sinyal, yang digabungkan dengan sistem penerima sinyal radio FM menggunakan modul kit Hex3653 AV2B. Sedangkan pada bagian receiver terdiri dari photodetetor untuk mengubah sinyal cahaya ke sinyal listrik dan headphone sebagai alat untuk menghasilkan suara dari sinyal yang telah didapat. Pada bagian transmitter maupun receiver dilengkapi rangkaian penguat didalamnya. Dari hasil pengujian, sistem VLC dapat mengirim sinyal audio dari siaran radio FM dengan jarak maksimum 450 cm dengan nilai tegangan sinyal output yang diterima sebesar 0.011 Volt serta atenuasi sebesar -12.49 dB. Pada jarak 5 meter suara tidak terdengar pada output tegangan sinyal 79,9 mV dengan nilai atenuasi -16,13 dB.Kata kunci : VLC, LED, transmitter, receiver, radio FM, headphone.
Deteksi Sinyal Spectrum Sensing Menggunakan Nilai Eigen Pada Cognitive Radio Balthazar Isra; Rina Pudji Astuti; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cognitive Radio adalah sebuah sistem yang dapat memahami lingkungan komunikasinya dan dapat mengatur parameternya secara optimal dalam melakukan proses komunikasi. Dengan teknologi ini Secondary User dapat mengisi lubang spektrum Primary User yang sedang tidak digunakan tanpa mengakibatkan interferensi. Salah satu fungsi utama dari Cognitive Radio adalah Spectrum Sensing. Fungsi inilah yang akan mendeteksi semua lubang spektrum agar bisa dipakai nantinya. Salah satu metode spectrum sensing ini adalah Deteksi Energi. Tetapi karena Deteksi Energi masih sensitif dengan ketidakpastian noise maka dibutuhkan metode lain untuk menunjang performansi metode ini, yaitu dengan menggunakan Nilai Eigen. Pada jurnal ini akan menganalisis kinerja dan membandingkan dua metode yaitu, Deteksi Energi menggunakan Nilai Eigen. Sinyal Primary User akan dibangun menggunakan OFDM yang nantinya akan ditransmisikan melalui kanal yang terdistribusi oleh hamburan Rayleigh dan ditambahkan oleh Additive White Gaussian Noise (AWGN). Setelah itu sinyal yang diterima oleh secondary user (SU) denga menggunakan single detector yang setelahnya disampling dengan jumlah sampel untuk dihitung Nilai Eigen dari matriks tersebut tersebut. Kemudian akan dibandingkan kinerja deteksi kedua metode tersebut menggunakan Kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Kinerja dari Metode Nilai Eigen akan terus meningkat bila menggunakan jumlah antenna 16 ataupun 32. Bila Semakin besar nilai Signal-to-Noise Ratio (SNR). SNR 0 dB akan mempunyai deteksi lebih bagus dibandingkan SNR -8dB Kata kunci :Cognitive Radio, OFDM, Deteksi Energi, Spectrum Sensing, Threshold, Nilai Eigen.
Analisis Kinerja Kombinasi Topologi Jaringan Ng-pon2 Sarah Shafira Wijaya; Akhmad Hambali; Afief Dias Pambudi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NG-PON2 merupakan teknologi terbaru untuk mengatasi permasalahan keterbatasan bandwidth pada teknologi PON saat ini. Teknik time-and-wavelength division multiplexing dengan metode agregasi/staxking OLT pada NG-PON2 menjanjikan jaringan broadband masa depan yang memberikan bandwidth sangat besar. Namun dalam penggelaran jaringan akses NG-PON2 belum pernah dilakukan. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi performansi kinerja jaringan NG-PON2 dengan teknik TWDM. Evaluasi performansi dilakukan untuk mengetahui adakah pengaruh pada performansi NG-PON2 apabila dilakukan penambahan ODC dengan pemakaian hingga 3 ODC kanal TWDM. Skema pengujian menggunakan kecepatan 40 Gbps downstream dan kecepatan 10 Gbps upstream. Pengukuran terhadap kelayakan jaringan NG-PON2 dilakukan dengan mengubah parameter panjang link yaitu 20 dan 40 km. Analisis kelayakan jaringan adalah Q-Factor, BER dan SNR. Hasil simulasi dan perhitungan yang telah dilakukan didapatkan bahwa kapasitas feeder yang dapat digunakan yaitu 96 core yang dapat mengakomodir semua user pada skema penelitian. Kapasitas user hanya dapat mengakomodir 56 ONU dengan penggunaan 2 ODC pada panjang link 20 dan 40 km. Kata Kunci : NG-PON2, Time-and-Wavelength Division Multiplexing, Sistem Komunikasi Serat Optik, Kapasitas per User dan per Feeder