Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Warta Perkaretan

PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP MODIFIKASI SELULOSA BAKTERI DENGAN SILANE Si69 SEBAGAI FILLER KARET ALAM Purbaya, Mili
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.1110

Abstract

Karet alam banyak digunakan dalam berbagai industri, namun membutuhkan filler untuk meningkatkan sifat mekanik dan ketahanannya. Filler konvensional seperti karbon hitam dan silika memiliki kelemahan terkait dampak lingkungan dan berat jenis yang tinggi, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selulosa bakteri merupakan kandidat potensial berkat kemurnian tinggi, kekuatan mekanik yang baik, dan sifat biodegradabilitasnya. Namun, perbedaan polaritas antara selulosa bakteri yang hidrofilik dan karet alam yang hidrofobik menjadi tantangan dalam aplikasinya, sehingga diperlukan modifikasi permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi modifikasi selulosa bakteri menggunakan silane coupling agent Si69 dengan dua jenis pelarut, yaitu N,N-dimethylacetamide (DMAc) dan etanol, serta mengevaluasi efek variasi rasio selulosa bakteri terhadap silane (1/2, 1/4, 1/6, dan 1/8). Proses modifikasi dilakukan dengan mereaksikan selulosa bakteri dan silane dalam pelarut yang dipilih, kemudian hasilnya dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan X-Ray Fluorescence (XRF). Hasil FTIR menunjukkan kemunculan puncak baru pada 1242 cm⁻¹ (gugus Si–O–Si) dan 688 cm⁻¹ (gugus S–S atau C–S), sedangkan analisis XRF mengkonfirmasi keberadaan unsur silikon (Si) dan sulfur (S) pada selulosa bakteri yang telah dimodifikasi. Modifikasi dengan pelarut DMAc menghasilkan kandungan silikon dan sulfur yang lebih tinggi dibandingkan etanol, menunjukkan efektivitas modifikasi yang lebih baik. Formula optimum diperoleh pada rasio 1/8 BC/Si69 (DMAc). Studi ini memberikan dasar untuk pengembangan filler berbasis selulosa bakteri yang lebih kompatibel untuk aplikasi karet karet.
POTENSI KARET ALAM SEBAGAI BAHAN LEM : STUDI KINERJA DAN FORMULASI Pranata, Dina Eka; Purbaya, Mili; Wijaya, Andi
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.1128

Abstract

Karet alam merupakan komoditas perkebunan utama di Indonesia yang memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara dan penyediaan lapangan kerja. Pada tahun 2022, total produksi karet alam Indonesia mencapai 3,13 juta ton. Namun, sebagian besar produksi karet alam Indonesia di ekspor dalam bentuk karet mentah, sementara konsumsi karet alam di dalam negeri hanya sebesar 20% dari total karet alam yang di produksi. Untuk meningkatkan konsumsi domestik, diperlukan upaya diversifikasi produk, salah satunya dengan memanfaatkan karet alam sebagai bahan baku lem. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi karet alam sebagai bahan lem alami melalui uji kualitatif. Lem yang dibuat telah diuji waktu rekat terhadap material seperti kertas, kain, busa, dan kayu, serta ketahanan terhadap beban tarik. Pada pengujian waktu rekat lem menunjukkan bahwa lem formulasi II dengan fomula II-H (70% lateks pekat : 30% pengental) dan I (60% lateks pekat : 30% pengental : 10% resin) memiliki daya adhesi lebih baik dibanding formula lainnya. Sedangkan, pada pengujian ketahanan beban, lem karet alam (formula II-H) hanya dapat menahan beban sebesar 44 kg, sedangkan lem sintetis jenis PVAC dapat menahan beban hingga lebih dari 50 kg. Temuan ini menunjukkan bahwa karet alam memiliki potensi sebagai bahan lem alami, meskipun perlu pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan kekuatan dan kestabilan adhesinya agar mampu bersaing dengan lem sintetis.
POTENSI IRADIASI ELEKTRON BEAM DALAM VULKANISASI KARET ALAM: SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK INDUSTRI KARET Purbaya, Mili
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 2 (2025): Volume 44, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i2.1138

Abstract

Karet alam merupakan material polimer yang banyak digunakan dalam berbagai industri karena sifat mekaniknya yang unggul, seperti elastisitas dan kekuatan tarik yang tinggi. Namun, material ini memiliki kelemahan, termasuk ketergantungan pada suhu, kandungan protein alergen, dan dampak lingkungan dari proses vulkanisasi konvensional. Metode vulkanisasi konvensional berbasis sulfur dan akselerator dapat menghasilkan senyawa berbahaya, seperti N-nitrosamin, yang memiliki potensi risiko bagi kesehatan dan lingkungan. Alternatif yang lebih ramah lingkungan adalah vulkanisasi menggunakan radiasi, khususnya dengan teknologi elektron beam. Teknologi ini memungkinkan pembentukan ikatan silang tanpa memerlukan bahan kimia tambahan, sehingga mengurangi emisi polutan, meningkatkan ketahanan termal, dan menurunkan kandungan protein dalam karet alam. Vulkanisasi berbasis radiasi telah terbukti meningkatkan sifat mekanik karet tanpa perlu penggunaan sulfur atau bahan kimia dalam jumlah besar. Meskipun radiasi sinar gamma dan elektron beam dapat membentuk ikatan silang dalam karet, dosis yang diperlukan cukup tinggi, sehingga efisiensi proses perlu ditingkatkan. Berbagai pendekatan telah dikembangkan, termasuk kombinasi radiasi dengan gelombang mikro serta penggunaan sensitizer untuk menurunkan dosis radiasi yang diperlukan. Namun, pemilihan sensitizer harus mempertimbangkan aspek keamanan dan dampak lingkungan. Kajian ini membahas mekanisme interaksi elektron beam dengan polimer, pembentukan ikatan silang, efektivitas elektron beam dalam mengurangi kandungan protein lateks karet alam, serta evaluasi vulkanisasi dengan dan tanpa sensitizer. Dengan perkembangan teknologi dan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan, vulkanisasi elektron beam memiliki potensi besar dalam mengatasi tantangan industri karet alam saat ini, menawarkan solusi yang lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan metode konvensional.