Teresia Noiman Derung
Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Toleransi dalam bingkai moderasi beragama: Sebuah studi kasus pada kampung moderasi di Malang Selatan Teresia Noiman Derung; Hironimus Resi; Intansakti Pius X
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.723

Abstract

The established tolerance in the religiously moderate village of Sidodadi and Gajahrejo in South Malang is a result of the previous conflicts between different community groups regarding the interpretation of sacrificial animal blood and the challenges faced by minority groups of the Protestant faith in constructing places of worship. This article aims to describe the efforts made by the religiously moderate community in preserving and promoting religious tolerance within society. The descriptive qualitative method was employed, utilizing interview, observation, and documentation techniques. The study's findings indicate that tolerance in the religiously moderate village has been established and sustained due to the community's acceptance of religious pluralism, the cultivation of tolerance through formal and informal education, and the preservation of the Bari'an tradition to foster interfaith tolerance. In conclusion, tolerance has become an integral part of the community in the religiously moderate village, as the community works collectively to ensure that tolerance is effectively implemented, thus embodying the values of Pancasila and creating a harmonious and balanced society. AbstrakToleransi yang terjalin sangat baik di kampung moderasi beragama Desa Sidodadi dan Gajahrejo Malang Selatan memiliki latar belakang percekcokan antarkelompok masyarakat terkait perbedaan pemaknaan darah hewan qurban dan kesulitan membangun rumah ibadat bagi kelompok minoritas yang beragama Protestan. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh masyarakat kampung mode-rasi beragama dalam menjaga dan melestarikan toleransi beragama dalam masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil Kajian memperlihatkan bahwa toleransi di kampung moderasi beragama dapat terbangun dan tetap lestari sampai saat ini, karena masyarakat menerima pluralisme agama, menanamkan toleransi dalam pendidikan formal dan informal, dan melestarikan tradisi Bari’an sebagai wadah untuk menjalin toleransi antaragama. Dari Kamian dapat disimpulkan bahwa toleransi telah menjadi bagian integral dalam masyarakat di kampung moderasi beragama, karena masyarakat bahu membahu mengusahakan berbagai cara agar toleransi dapat diimplementasikan dengan baik, untuk  mengejawantahkan nilai Pancasila sehingga tercipta masyarakat yang hidup dalam harmoni dan berimbang.
Makna Upacara Kematian dalam Keagamaan Marapu Teresia Noiman Derung; Marlin Bitu Meja; Martinus Hary Purwanto; Teresia Ose
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 4 (2022): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.55 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i4.1268

Abstract

Upacara kematian menurut adat Sumba berkaitan erat dengan adat kebiasaan menurut aliran kepercayaan Marapu. Sebagai masyarakat yang menganut keagamaan Marapu di sumba, percaya bahwa upacara-upacara dalam keagamaan Marapu dianggap keramat. Baik dari segi tempat, waktu, benda, alat, ataupun orang-orang yang menjalankan upacara tersebut. Adapun makna dari upacara kematian dan hewan kurban ini ialah bahwa upacara kematian merupakan penghormatan terakhir bagi yang meninggal, sedangkan hewan kurban dimaknai sebagai penjalin hubungan yang harmonis dengan arwah leluhur, dan untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak akibat adanya anggota kabihu (marga/klan) yang melanggar adat istiadat. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dari upacara kematian dalam keagamaan Marapu. Jenis Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif tentang makna upacara kematian dan hewan kurban dalam keagamaan Marapu. Teknik pengumpulan data yaitu melalui pengumpulan data dengan studi pustaka. Adapun upaya yang dilakukan ialah menggali makna upacara kematian dan hewan kurban dalam keagamaan Marapu dari berbagai sumber.
Makna Upacara Reba dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Langa Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada Teresia Noiman Derung; Aurelia Yosefa Moi; Fransisca Rida; Rikky
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 7 (2022): Juli
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.84 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i7.1274

Abstract

Agama adalah salah satu institusi sosial yang merupakan bagian dari fakta sosial. Selain itu agama juga sering kali didefinisikan sebagai kepercayaan Tuhan yang maha kuasa. Jika budaya itu di langgar, maka akan mendapatkan musiba yang setimpal. Tujuan dari penelitian ini supaya manusia lebih memahami nilai agama dan budaya, sehingga bisa diterapkan dengan baik di lingkungan masyarakat. Dalam Penelitian ini peneliti meneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian pustaka yang diperoleh dari dokumen- dokumen seperti artikel, buku dan juga dari internet. Hasil penelitian menemukan bahwa upacara reba sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang didapatkan selama setahun. Dalam menjalankan upacara reba ada tiga tahap atau rangkaian penting didalamnya yaitu; kobe dheke, kobe dhoi, dan kobe su’i. Kobe dheke menjadi kegiatan inti yang harus dilakukan karena semua anggota keluarga berkumpul di rumah adat atau Sa’o. Perbuatan masyarakat yang berada di Desa Langa harus seimbang, baik agama mapupun budaya yang dipercayainya.
Membangun Toleransi Umat Beragama dalam Masyarakat yang Majemuk Teresia Noiman Derung; Anna Bernadette Sampelan; Hermina Serang Lubur; Nicomedes San Juang Tukan
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 8 (2022): Agustus
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.844 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i8.1275

Abstract

Negara republik Indonesia adalah bangsa yang memiliki beragam budaya dengan sifat keanekaragaman meliputi budaya, agama, ras, bahasa, suku, tradisi dan sebagainya. Dalam bangsa yang pluralistik, sering kali terdapat krisis dan pertikaian yang terjadi antara kelompok-kelompok budaya dan membawa pengaruh pada kerukunan hidup. Tujuan penulisan ini adalah membahas keragaman budaya bangsa Indonesia, toleransi, moderisasi beragama dalam keragaman dan peran penyuluh agama dalam mewujudkan kedamaian bangsa Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka. Kesimpulan kajian ini adalah bahwa dalam kehidupan multikultural diperlukan pemahaman dan kesadaran multibudaya yang menghargai perbedaan, kemajemukan dan kemauan berinteraksi dengan siapapun secara adil. Diperlukan sikap moderasi beragama berupa pengakuan atas keberadaan pihak lain, memiliki sikap toleran, penghormatan atas perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak dengan cara kekerasan. Diperlukan peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan para penyuluh agama untuk mensosialisasikan, menumbuhkembangkan sikap toleransi dan moderasi beragama kepada masyarakat sehingga terbentuknya kehidupan yang tentram dan nyaman.
Totemisme Mentawai: Menggali Makna Arat Sabulungan dalam Pembangunan Uma bagi Orang Mentawai Teresia Noiman Derung; Karolina Kalli Ghoba; Mike Ardila; Yoseph Ivan Inzaghi W Pandity
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 8 (2022): Agustus
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.8 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i8.1276

Abstract

Totemisme adalah istilah menunjuk pada suatu kepercayaan atau agama yang hidup pada sebuah komunitas atau organisasi. Mereka mempercayai bahwa adanya daya atau sifat ilahi yang dikandung didalamnya merupakan pegangan hidup mereka. Pada temuan Durkheim tentang totemisme sebagai sistem agama yang paling sederhana dan primitif serta menjadi lambang organisasi sosial yakni oleh masyarakat tertentu. Orang Mentawai memiliki kepercayaan sendiri yang dianut oleh orang asli suku Mentawai yaitu Arat Sabulungan. Mereka percaya bahwa benda memiliki roh dan jiwa yaitu Seperti dalam pembangunan Uma, orang Mentawai memiliki ritual dalam pembangunan Uma. Jika ritual itu tidak dilaksanakan akan mengakibatkan orang yang membangun Uma celaka dan sakit. Sehingga dalam ritual pembangunan Uma orang Mentawai memaknai hal itu adalah sebagai keselamatan bagi mereka dan terhindar dari kesialan dan penyakit. Adapun tujuan penulis, ingin lebih menggali makna Arat Sabulungan dalam pembangunan Uma bagi orang Mentawai. Hasil penelitian diukur menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara tertutup.
Makna Tari Tor-tor dalam Perayaan Ekaristi di Paroki St. Gregorius Agung Jambi Teresia Noiman Derung; Roberta Sestriani; Monalisah Putri Br Marbun; Damian Febrianto
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 9 (2022): September
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.094 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i9.1277

Abstract

Tor-tor merupakan salah satu tarian yang berasal dari suku Batak. Penggunaan Tor-tor sering dijumpai pada acara pernikahan, kematian, dan pesta Batak. Selain itu tari Tor-tor menjadi sebuah ekspresi gerakan estetis serta artistik di mana setiap tarian yang ditampilkan memiliki makna dari setiap gerakannya. Dalam Gereja Katolik penggunaan tari Tor-tor digunakan pada saat perarakan dan persembahan misa Inkulturasi. Yang menjadi permasalahan umat kurang memahami makna penggunaan tari Tor-tor dalam perayaan Ekaristi dan sebagian umat menyampaikan bahwa penggunaan tari Tor-tor dalam perayaan Ekaristi justru mengurangi kesakralan Misa Ekaristi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman umat mengenai makna serta tujuan tari Tor-tor dalam perayaan Ekaristi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah teknik observasi dan wawancara. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif. Adapun hasilnya bahwa tari Tor-tor tidak memiliki makna khusus dalam perayaan Ekaristi, penggunaannya hanya sebagai hiburan misa inkulturasi.
Studi Analisis Pengalaman Krisis Manusia dalam Misteri Ritual Sesajen Jawa Ditinjau dari Sosiologi Agama Menurut Weber Teresia Noiman Derung; Maria Frameliza Zefanya; Yohanes Emanuel Bisu; Martina Dhale
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 10 (2022): Oktober
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.76 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i10.1278

Abstract

Sebagian masyarakat Indonesia, belum tangguh dalam menghadapi pengalaman krisis seperti sakit penyakit, bencana, penderitaan, kematian dan pengalaman krisis lainnya dalam hidup meski mereka berkuasa dan kaya raya. Karena sadar bahwa, dirinya merasa tidak mampu melewati pengalaman- pengalaman krisis, ia lebih memilih untuk percaya kepada kekuatan-kekuatan di luar iman yang dianutnya. Masyarakat Jawa sendiri memiliki tradisi budaya yaitu sesajen. Tradisi sesajen merupakan sebuah tindakan rasa syukur masyarakat terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan. Tindakan inilah merupakan salah satu cara bagi masyarakat Jawa menanggulangi krisis-krisis dalam hidup. Tujuan penelitian ini adalah 1) Menganalisis pengalaman krisis manusia 2) mendeskripsikan kebudayaan sesajen sebagai tanda ucapan syukur atas kehidupan masyarakat Jawa, 3) mendeskripsikan sosiologi agama dalam tradisi sesajen. Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dengan menggunakan tiga teknik SLR. Hasil dari penulisan ini mau menunjukan bahwa, masyarakat Jawa masih mempercayai budaya tradisi sesajen sebagai ucapan syukur atas kehidupan yang diperoleh.
Fungsi Agama terhadap Perilaku Sosial Masyarakat Teresia Noiman Derung; Maria Mandonza; Gathan Aryasena Suyatno; Alexius Mete
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 11 (2022): November
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.703 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i11.1279

Abstract

Agama merupakan bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati yang berkaitan dengan Tuhan Sang Maha Kuasa yang menyertai seluruh ruang lingkup kehidupan manusia baik individu maupun masyarakat. Dengan mengetahui fungsi yang terkandung di dalam agama, maka orang yang beragama dapat merasakan nilai-nilai yang luhur terutama dalam berperilaku ditengah masyarakat. Agama memiliki fungsi yang harus dijaga dan dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat antara lain: Fungsi Edukatif, fungsi penyelamat, fungsi sebagai pendamaian, fungsi kontrol sosial, fungsi pemupuk rasa solidaritas, fungsi transformatif, fungsi kreatif, fungsi sublimatif. Kesimpulannya Agama berfungsi sebagai sarana dan lambang keagamaan dalam masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas, kewajiban serta perilaku sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Peneliti mendeskripsikan dan menguraikan fungsi agama terhadap perilaku sosial masyarakat. Data tersebut diolah melalui beberapa artikel, jurnal dan berita.
Weekend Paroki Sebagai Sarana Kesiapan Calon Katekis dalam Berpastoral Martina Minaratih; Teresia Noiman Derung
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 3 No. 2 (2023): Februari
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v3i2.1858

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini mengacu pada pentingnya keaktifan para calon katekis dalam menjalankan kegiatan Weekend Pastoral. Hal itu sebagai sarana persiapan diri menghadapi Gereja di masa mendatang dalam konteks keragaman budaya dan tradisi setempat. Kegiatan Week End merupakan salah satu kegiatan wajib bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia dalam rangka pembinaan, penginternalisasian, motivasi, meningkatkan semangat, kemampuan serta keterampilan dalam pekerjaan pastoral. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, dan interpretasi pada teks-teks primer dan sekunder. Hasil penelitian menemukan bahwa calon katekis mendalami panggilannya dalam panca tugas gereja bagi perkembangan umat yang dibinanya menghadapi situasi zaman dan perubahannya yang berdampak bagi pertumbuhan iman umat. Misi pewartaan Sabda Allah masa kini diharapkan mampu mengayomi umat tanpa melepaskan identitas duniawinya. Pengenalan dan pendalaman akan karya keselamatan Allah masuk dalam situasi dunia masa kini melalui panca tugas gerejawi. Pekerja pastoral dapat diterima dalam pelayanannya, maka diperlukan persiapan mengenal budaya baru setiap generasi melalui keaktifan pada weekend.
Partisipasi Mahasiswa STP-IPI Malang sebagai Calon Katekis dalam Kegiatan Doa di Lingkungan Yuliana Jawa; Teresia Noiman Derung
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 3 No. 9 (2023): September
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v3i9.1878

Abstract

Partisipasi Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang sebagai calon katekis dalam kehidupan doa di lingkungan yang menjadi tempat domisili mahasiswa saat ini. Penelitian ini lakukan karena masih ada mahasiswa yang belum terlibat aktif di lingkungannya. Dengan penulisan ini, penulis dapat mengetahui penyebab dari kurangnya keterlibatan mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang di lingkungan dengan notabene sebagai calon katekis. Keterlibatan mahasiswa ini sangat di perlukan. Karena walaupun memperoleh ilmu (materi) yang begitu banyak, namun dalam kehidupan doa lingkungan kurang terlibat, maka ilmu itu mati karena tidak berkembang. Mengingat pentingnya partisipasi mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang sebagai calon katekis dalam kegiatan doa dilingkungan, maka penulis meneliti menggunakan metode kuantitatif kepada 30 responden. Metode ini sangat membantu dalam penulisan agar dapat mengetahui apakah mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang sebagai calon katekis sungguh terlibat dan sungguh mengahayati imannya dalam kegiatan doa dilingkungan sebagai bekal untuk kedepannya.