Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pelatihan Produksi Sample Pakaian dengan Pola Digital di LPK Nadya Jaya Duri Kosambi Susi Hartanto; Injo Erlyn Yulita
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 2 (2019): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mempersiapkan Masyarakat Menghadapi Era I
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.19 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v2i0.287

Abstract

With apparel import restriction, government has stated their supports for micro businesses to have a better growth. Supports need to be balanced by local competitiveness so that fashion business owners no longer feel the need to import from neighboring countries, such as Vietnam, China, or Thailand. Taking community service partner, LPK Nadya Jaya, UPH Product Design tries to provide trainings to increase level of competitiveness in these forms: (1) communication jargons and information updates in fashion industry, (2) fashion business workflows and marketing calendar for Indonesian e-commerce platform, (3) giving awareness that digital methods can be used to accelerate sample making process through case studies, (4) exposure on supplier performance from other countries. These trainings are compiled as a first step from a 3-year community service plan. The result on this first period are co-creation of 7 basic slopers and 9 ready-to-wear patterns, all in digital forms along with the samples.
Modifikasi Desain, Produksi, & Pemasaran Pakaian Bersama Lpk Nadya Jaya & Lovadova Susi Hartanto
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 3 (2020): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menyongsong
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.884 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v3i0.906

Abstract

Permasalahan klasik PkM adalah PkM hanya berhenti sampai pelatihan dan sulit diteruskan ke tahap lebih lanjut karena banyak kendala seperti modal, SDM, produksi, pemasaran, dan lainnya. Untuk itu, PkM kali ini menggandeng mitra brand untuk membantu produksi dan pemasaran produk PkM. Melalui periode PkM sebelumnya, mitra PkM telah melihat manfaat pola digital yang praktis dan presisi. Dukungan dari mitra brand juga mulai terjalin sehingga terbentuk siklus utuh dari membuat hingga menjual. Desain pakaian yang berkembang terus dan tuntutan mitra brand yang selalu ingin produk baru membuat pelaku industri termasuk mitra harus terus belajar meningkatkan kemampuan membuat pola pakaian yang lebih kompleks dan beragam mengikuti tren. Periode ini juga memberikan pelatihan bahwa pola tidak harus menyontek 100%, melainkan bisa dimodifikasi sesuai ide, bahan dan aksesoris yang tersedia, batasan harga, dan lainnya. Dalam hal ini, mitra PkM mengikuti arahan mitra brand sebagai klien. Hasil PkM periode ini berupa pola digital dan sample pakaian diteruskan ke mitra brand untuk diproduksi dan dipasarkan. Pelatihan ini merupakan tahapan ketiga dari rangkaian PkM yang disusun dalam skema 3 tahun. Tahapan ketiga ini dibagi menjadi 2 rangkaian proses yang berjalan beriringan agar selaras dengan proses industri fesyen yang cepat.
Zalora Earth Edit: a corporate strategy for sustainable fashion products Susi Hartanto
Productum: Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk) Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/productum.v5i2.5134

Abstract

As of 2020, Zalora Indonesia campaigned earth friendly products under Earth Edit category. There are 5 Earth Edit Zalora criterias: 1) Earth friendly materials, 2) Earth friendly processes, 3) Fair production processes, 4) Animal friendly, and 5) Community involvement. Each supplier (brand) who wishes to be tagged as earth friendly brands need to go through layers of verification and need to provide certifications as proof. This article is expected to provide a reference for fashion product suppliers in earth friendly area, to be aware of industry standards applied in trusted fashion e-commerce platform in Indonesia.
PEMANFAATAN SERAT ALAMI RESAM DALAM PERANCANGAN AKSESORIS RUMAH Susi Hartanto; Rosalineo Rosaline; Aloysius Baskoro
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 12 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.525 KB) | DOI: 10.25105/dim.v12i2.56

Abstract

AbstractResam (Dicranopteris linearis) is a type of weed that dominates the rubberplantation areas and empty lands in Jambi. Although this plant is regarded asone that needs to be destroyed, it is not easy to do so as it grows really fast. Inorder to solve this and make better use of the resam, local craftsmenusually usethe inner filling of the trunk to create various weaving products such as tissuebox, flower pot, hat, bag, bracelet, photo frame, and other decorative itemsforinterior. However, these weaving products do not really interest consumers.This is mainly because the resam material has not been used accordingly basedon its nature. With its vast amount in Jambi province, it is good to work it outand make selling products from it. However, the goods need to be not only prettybut also designed in a careful way suitable with the resam's characteristics. Nodoubt, the creativity of the craftsmen is also a crucial part determining thesuccess of the products.This research aims to define material characteristics of resam and to apply it on adesigned product. The research results may not be perfect, but will bringpositive impact since better products make better sales. Future research canfocus mainly on how to apply it maximally on other non-decorative items, suchas furniture. Abstrakpenduduksekitar biasanya memanfaatkan isi batang resam dengan membuatnyamenjadi berbagai anyaman produk sepertikotak tisu, pot bunga, topi,tas, gelang, bingkai foto, hiasan dinding dan produk dekorasi interiorlainnya. Material resam di manfaatkan penduduk karena pendudukResam ( tumbuh subur di lahan perkebunan atautanah kosong yang lembab dan biasanya mudah mendominasipermukaan areal perkebunan karet dan lahan kosong di Jambi. Begitusuburnya, tanaman ini dianggap sebagai gulma atau pengganggu yangharus dimusnahkan. Untuk mengatasi gulma tersebutyang dulunya bekerja sebagai penganyam rotan menemukan masalahuntuk mencari material rotan di sekitar mereka. Hal ini menyebabkan penduduk mencari alternatif lain sebagai mata pencaharian mereka.Namun produk-produk yang telah dihasilkan dari anyaman resamkurang diminati masyarakat luas. Hal ini dikarenakan pemanfaatanmaterial resam yang belum dilakukan secara benar berdasarkan sifatmaterial tersebut. Dengan melimpahnya material tersebut di ProvinsiJambi, maka sangat baik untuk mengembangkan material tersebutmenjadi produk yang bernilai jual. Produk yang dihasilkan tentunyayang menarik dari sisi bentuk tetapi produkyang dirancang dengan memperhatikan dan memanfaatkan sifatmaterial resam dengan benar serta menggunakan kreatifitas parapengrajin anyam sehingga produk yang dihasilkan akan lebih diminatioleh konsumen.Penelitian ini bertujuan terutama untuk mendefinisikan karakteristikmaterial resam dan mengaplikasikannya dalam produk. Hasilpenelitian tentunya belum sempurna, tetapi tentunya akan bisaberdampak positif bagi para pengrajin anyam di Jambi karena hasilkerajinan yang lebih unggul bisa dijual dan memberikan pendapatanbagi pengrajin, selain itu juga meningkatkan nilai kebersihan lahanlahandi Provinsi Jambi. Penelitian ini mudah-mudahan menjadi awalpenelitian serat alami resam selanjutnya sehingga pemanfaatannyamenjadi material utama produk kerajinan atau lainnya (misalkanmebel) bisa lebih maksimal.
APLIKASI TEORI DESAIN BARAT DALAM PERANCANGAN KURSI SANTAI BERGAYA DINASTI MING Susi Hartanto; Chou Wei Liang
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.642 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i1.402

Abstract

AbstractModernism and Postmodernis design theories are commonly used as the basic thinking of any design today, whereas one of the most vivid examples is in furniture design, chair. Chair designs have made through a lot of the development, where function is not the only design factor, but cultural element is definitely the added value of it, such as Y chair designed Hans J.  Wegner which was  inspired from dinasti MIng AbstrakTeori desain Modernism dan Posmodernism banyak digunakan sebagai pola pikir desain sampai saat ini, dan salah aplikasi desain yang paling nyata adalah kursi. Desain Kursi mengalami banyak perkembangan  yang tidak hanya mengutamakan sisi fungsi , tetapi juga memasukkan visual elemen budaya sebagai nilai tambah, seperti Y chair yang didesain oleh Hans J Wegner yang terinpirasi dari dinasti Ming   
PENELITIAN POTENSI PRODUK HASIL EKSPLORASI LIMBAH POLIESTER DARI INDUSTRI TAS Studi Kasus PT. Tasindo Tassa Industries Susi Hartanto; Rafael Trihardy
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 13 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.428 KB) | DOI: 10.25105/dim.v13i1.1777

Abstract

AbstractAs main reference for this research, PT. Tasindo Tassa Industries produces around 3 tons of fabric waste from bags production, in which 80% is of polyester kind. Fabric waste are cheaply bought by local waste collector to be remaked as bucket, as oneexample. Other simple methods of processing fabric waste, such as patchwork, quilting, resin, and webbing are commonly made into craft products, and can be easily found anywhere. Hence, focus of this research is to explore polyester waste with certaintechnique with innovative value, and to design it into sellable products. Through focus group discussion and a series of experiments, polyester waste are made into bags collection using fabric manipulation technique. Results of this research can be used as reference to help home industry or small scale craftsmen to produce ready-to-sellproducts.AbstrakPT. Tasindo Tassa Industries sebagai studi kasus penelitian ini, menghasilkan sekitar 3 ton limbah kain hasil produksi tas, dimana 80% adalah jenis poliester. Sampah kain biasanya dibeli oleh bandar sampah dengan harga yang sangat murah untuk diproduksi lagi menjadi berbagai produk sederhana, sepertiember salah satunya. Sampah kain pada umumnya biasa diolah lagi menjadi produk kerajinan dengan teknik sederhana seperti patchwork, quilting, resin, dan anyam, yang bisa dengan mudah ditemukan dimana-mana. Fokus penelitian ini adalah mengeksplorasi sampah poliester dengan teknik yangmemiliki nilai kebaruan dan merancangnya menjadi produk layak jual. Melalui focus group discussion dan eksperimen, sampah poliester dirancang menjadi koleksi tas dengan menggunakan teknik manipulasi kain. Hasil penelitian bisa dipakai sebagai acuan dasar untuk membantu industri skalarumahan atau pengrajin kecil memproduksi barang siap jual.
PENELITIAN SECANG SEBAGAI PEWARNA ALAMI ROTAN DAN APLIKASINYA PADA PRODUK HOME DECOR Susi Hartanto; Tanu Rudyanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1913.066 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2325

Abstract

AbstractSynthetic colorants (lacquer or nitro-based clear finishes, cellulose acetate butyrate - CAB, polyurethane, acid catalyst clear lacquers, polyester, waterbased colorants, etc) are commonly used to produce colors on various rattan products. Although water based colorants are claimed to be environmentally friendly, but many industry stakeholders still continue using other synthetic colorants due to cost consideration.As an effect, environmental cost is inevitable. Prior experiment shows that natural colorant like sappanwood produce red color on rattan peel, though color adhesiveness is not stable. This re search maintains focus on sappanwood as natural red colorant, but type of rattan is shifted to rattan flat core, presumed to produce higher color adhesiveness and stability. Result of research is applied on home décor products, using small to medium home industry quantity to test the stability and uniformity of colors on one production batch. Future research may use this reference to investigate other natural rattan colorants. Keywords: sappanwood, rattan, natural colorant, red AbstrakProduk rotan pada umumnya diberi pewarna sintetis (NC, Stain, Fancy Colors, pewarna water based, dan lainnya) untuk menghasilkan berbagai macam warna. Walaupun pewarna water based diklaim lebih ramah lingkungan, tetapi masih banyak pelaku industri yang menggunakan pewarna sintetis lainnya karena harganya yang lebih ekonomis, dan akibatnya, pasti ada pencemaran lingkungan. Sesuai eksperimen sebelumnya, pewarna alami seperti secang bisa menghasilkan warna alami merah pada rotan peel (kulit), walaupun daya rekat warnanya belum maksimal. Penelitian kali ini berfokus tetap pada secang, namun jenis rotan sesuai asumsi dialihkan menjadi jenis fitrit agar daya rekat dan ketahanan warna lebih tinggi. Hasil penelitian diaplikasikan pada produk dekorasi/ aksesoris dengan kuantitas produksi kecil-menengah untuk menguji kestabilan hasil pewarnaan pada satu kali produksi.Diharapkan penelitian ini bisa menjadi referensi untuk penelitian pewarnaalami rotan lainnya.
PENELITIAN DESAIN FURNITUR BERBASIS PANGKALAN DATA 3D SEBAGAI STRATEGI R&D & MANUFAKTUR PERUSAHAAN STUDI KASUS: CS TRADING SDN BHD, MALAYSIA Susi Hartanto; Devanny Gumulya; Aditya Cipta Sugandhi; Jonathan Ariefianto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1948.789 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i2.2866

Abstract

AbstractOne of the most competitive markets in product design is furniture market. Every company tries to provide the best in terms of products and services. CS Trading is a Malaysian trading house with top US retailer clients such as Topline and Homelegance. CS provides design services, include receive and modify data from clients, and position themselves as a mediator between retailers and manufacturers. All of CS drawings comein 2D CAD or PDF or other 2D form files, which in current industry competition, it has becoming less representative and not visually attractive. This research aims to create 3D database based on CS existing 2D data. 3D data are then categorized according to furniture items and its components, where new designs can be easily extracted. Fromthe research, 294 furniture databases are made. Modularity and carry over strategy are the most suitable R&D and manufacture strategy, because these strategies are good for companies with large product categories. From the research result, CS Trading can accelerate R&D process and manufacturing. In the long run they can excel in terms ofvariety of products and speed of service.  AbstrakIndustri furnitur adalah salah satu industri desain produk terbesar dan dengan persaingan yang sangat kompetitif. Setiap perusahaan berusaha memberikan produk dan servis yang terbaik. CS. Trading Sdn Bhd. adalah perusahaan trading dengan klien peritel dari Amerika seperti Topline dan Homelegance. Proses desain yang mereka lakukan adalah menerima dan atau memodifikasi gambar dari klien dan menjadi mediator antara klien dan manufaktur. Dengan posisinya sebagai mediator, CS mengalami beberapa kendala dalam proses desain, yaitu proses desain yang masih dalam bentuk gambar 2D, sehingga gambar kurang representatif dan tidak menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengubah proses desain CS dengan strategi membuat data 3D desain berdasarkan data gambar 2D yang ada. Data ini dianalisa dan dibuatkan pangkalan data berdasarkan kategori jenis furnitur dan komponennya, dimana desain baru dengan mudah bisa dihasilkan dengan cepat. Hasil penelitian ini adalah pembuatan 294 database furnitur. Strategi R&D dan manufaktur yangtepat diterapkan pada CS Trading adalah strategi modularitas dan strategicarry over detail. Karena kedua strategi ini cocok bagi perusahaan yang memiliki kategori produk yang banyak. Dengan hasil dari penelitian ini proses desain CS Trading menjadi lebih efektif dan efisien dari sebelumnya sehingga memiliki keunggulan dari sisi keragaman produk dan kecepatan servis
LIMBAH LOOM SEBAGAI ALTERNATIF MATERIAL MEBEL (Studi Kasus: PT House of Rattan & CV Property, Cirebon) Susi Hartanto; Kezia Natalie Sutanto; Michae Limahelu
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 15 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.715 KB) | DOI: 10.25105/dim.v15i2.5645

Abstract

AbstractFurniture factories are one of Cirebon's economy boosters as they employ many workers and produce numerous products for local and export orientation. As a consequence, this industry produces quite a large amount of waste, one of them is paper loom. Loom is a woven paper threads and metal wires which is used to wrap a number of furniture components, such as seat, backrest, etc. Case studies in 2 major factories in Cirebon, total loom waste reaches around 3 tonnes a month. This research providesrecommendations of waste usage for furniture.  AbstrakPabrik mebel merupakan salah satu penggerak ekonomi Cirebon, karenamenghasilkan lapangan pekerjaan baik untuk produk orientasi lokal ataupun ekspor. Sebagai konsekuensi, industri ini menghasilkan limbah produk, salah satunya adalah loom. Loom adalah kawat yang dibungkus kertas dan dianyam bersama sehingga menjadi gulungan bahan yang siap digunakan untuk berbagai komponen mebel seperti sandaran dan dudukan. Dengan studi kasus di 2 pabrik mebel di Cirebon, ada sekitar 3 ton sisa loom dalam sebulan. Penelitian ini memberikan rekomendasi akan pemanfaatan sisa loom pada mebel.
INOVASI INKREMENTAL SEBAGAI STRATEGI & KEUNGGULAN DAYA SAING DI INDUSTRI FURNITURE VIETNAM (STUDI KASUS: FULL IN INDUSTRIAL, CO., LTD) Susi Hartanto; Aditya Cipta Sugandha
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1478.502 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i1.6160

Abstract

AbstractUS-China trading wars has brought positive impact to the growth of Vietnam furniture industry, due to supplier shifts or factory relocation. Many factories benefit with the increased number of purchase orders, but some suffer with stagnancy or even loss. Price, design, quality, finishing, and other factors all play significant roles in determining a factory’s performance. Full In as a research partner, have been running in only 1/3of the production capacity, consequently for its 20 percent higher price compared to competitors with similar products, and for too ordinary designs. Cheap is not always the best strategy. Design approaches (material replacement and appearance change) and strategies (reissue iconic furniture, develop American aesthetic preference furniture,develop refreshed contemporary furniture) are ways to mark Full In’s competitive advantage. Taking advantage of the trade momentum, and by collaboration with UPH research team, there are 8 new designs that will be exhibited in Vietnam International Furniture Fair 2020. In hope, good design may attract customers who afford higher prices; Full In has competitive advantage compared to other competitors.AbstrakAdanya perang dagang US-China memberikan dampak positif bagipertumbuhan industri furniture di Vietnam karena perpindahan supplier atau relokasi pabrik. Banyak pabrik mengalami peningkatan purchase order, tetapi ada juga yang stagnan atau justru menurun. Harga, desain, kualitas, finishing, dan faktor lainnya semua saling terkait menentukan performa sebuah pabrik. Full In sebagai mitra penelitian hanya mampu berjalan 1/3 dari kapasitas produksi seharusnya karena harga 20% lebih mahal dari kompetitor dengan produk serupa dan desain yang cenderung menduplikasi. Murah tidak selalu adalah strategi terbaik. Desain dengan pendekatan mengganti material dan penampilan; strategi merilis kembali produk ikon, mengembangkan produk dengan gaya Amerika dan sentuhan kontemporer merupakan strategi dan keunggulan desain yang diaplikasikan untuk Full In. Memanfaatkan momentum dagang dan lewat kolaborasi dengan tim peneliti UPH, ada 8 desain baru yang akan dipamerkan pada Vietnam International Furniture Fair premium, Full In memiliki keunggulan daya saing dibanding  kompetitor lainnya.