Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ANDHARUPA

Pencampuran Budaya Cina, Jawa, dan Belanda pada Budaya Makan Cina Peranakan gumulya, devanny
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 3 No. 02 (2017): August 2017
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v3i02.1353

Abstract

AbstrakBudaya Cina peranakan merupakan hasil dari proses akulturasi beberapa budaya.  Oleh karena itu, budaya ini sangat menarik untuk dikaji.  Paper ini mencoba mengkaji dengan metode studi literatur latar belakang sejarah dan keunikan budaya cina peranakan pada budaya makan mulai dari etiket, menu dan peralatan makan.  Dari hasil studi ditemukan bahwa walaupun Cina Peranakan terbentuk dari proses akulturasi budaya Jawa, Cina dan Belanda tetapi dalam hal budaya makan, budaya Cina masih mendominasi terutama dalam etiket dan peralatan makan, karena bagi orang Cina makan dipandang sebagai pemersatu keluarga. Akulturasi terjadi pada menu makanan ada unsur bercampur dengan bahan yang tersedia di Indonesia, hal ini terjadi pada lumpia Semarang yang terkenal dengan lumpia berisi rebung sesuai dengan bahan yang tersedia di Semarang.  Kata kunci : Akulturasi Budaya, Cina Peranakan, Budaya makan   AbstractCina Peranakan culture is a result of acculturation from different cultures. Therefore, this culture is so interesting to be researched. With literature study method, this paper tries to elaborate the historic point of view to gain closer understanding and synthesize the culture uniqueness with eating culture as object study case. From the study founded that although Cina Peranakan is the melting pot between Java, Dutch and Chinese Cultures, but in food culture the Chinese culture still dominates specially in eating etiquette and tableware. This because for Chinese food is believed as means for family gathering. Meanwhile, the acculturation can be seen in the food menu, because the ingredients needs to be adapted with resources available in Indonesia, this can be seen in Semarang Lumpia that is reknown for rebung, the vegetable available there.  Keywords : Culture assimilation, Cina Peranakan culture, Eating culture
Desain User Interface Ramah bagi Austism Spectrum Disorder melalui Pengembangan Website Aplikasi "Teman Inklusi” Gumulya, Devanny
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 9 No. 03 (2023): September 2023
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v9i03.6966

Abstract

Orang dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menghadapi masalah yang berbeda ketika berinteraksi dengan informasi di situs web. Penelitian ini menginvestigasi rekomendasi desain User Interface (UI) yang dapat diakses untuk ASD melalui panduan UI ramah ASD serta pedoman easy to read information untuk orang dengan gangguan belajar. Penelitian ini berjenis kualitatif, dan mengikuti lima tahap design thinking: berempati, definisi masalah, ideasi, prototipe, dan pengujian. Hasil penelitian ini adalah rancangan User Interface "Teman Inklusi" yaitu aplikasi situs web pembelajaran assitif untuk ASD. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa saat membuat situs web untuk ASD, desainer harus dengan seksama mengatur variabel presentasi dan interaksi UI. Komponen UI harus memiliki lebih sedikit animasi, lebih sedikit jenis dan sedikit perbedaan ukuran font, lebih sedikit gambar kompleks, lebih banyak area putih, dan pembahasan suatu topik yang kompleks dibuat dengan penyajian informasi disertai contoh yang disampaikan secara visual dan audio.  Dengan mengimplentasikan prinsip – prinsip UI ramah ASD dan pedoman easy to read information untuk orang dengan gangguan belajar, website aplikasi Teman Inklusi berhasil mendapatkan rata-rata penilaian 96 (dari skala 1-100) dari uji coba pada 9 mahasiswa ASD. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan tentang prinsip-prinsip User Interface untuk mengembangkan situs web ramah autisme untuk konteks digital. Kata Kunci: design thinking, User Interface, web ramah autisme AbstractPeople with Autism Spectrum Disorder (ASD) encounter distinct issues when interacting with information on websites. We investigate the requirements for developing an accessible User Interface for users with autism spectrum disorders (ASD) as well as the rules for producing easy-to-read material for people with learning difficulties in this work. The research is qualitative, and it follows the five stages of design thinking: empathize, define, ideate, prototype, and test. The study's outcome is the User Interface of "Teman Inklusi," a learning assistive website application for people with autism spectrum disorder. According to the study, while creating a website for ASD, designers should carefully arrange the UI presentation and interaction. It must have less animation, fewer font types and sizes, fewer complex pictures, more white space, and an example that is conveyed both visually and audibly when discussing complex topics. By implementing the UI for ASD and easy to read and the guidelines for the production of easy-to-read information for people with learning disabilities, the proposed website application "Teman Inklusi" got an average score of 96 from scale 1–100 from user Testing with 9 ASD. This research contributes to a better knowledge of the User Interface principles for developing autism-friendly websites in the digital world. Keywords: austism spectrum disorder friendly website, design thinking, User Interface
ANALISA FAKTOR USER EXPERIENCE “SENSE-AWARE” PADA PENGALAMAN INTERAKSI ANAK AUTIS SPECTRUM DISORDER DENGAN PLATFORM YOUTUBE KIDS gumulya, devanny
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi berperan penting dalam komunikasi, pembelajaran, dan interaksi sosial anak dengan ASD, salah satunya melalui YouTube Kids yang menyediakan konten sesuai gaya belajar mereka. Namun, meningkatnya diagnosis ASD di Indonesia menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan dan kenyamanan penggunaan platform tersebut. Penelitian ini mengevaluasi sejauh mana YouTube Kids ramah bagi pengguna dengan ASD, khususnya dalam aspek “sense-aware” dalam interaksi manusia-komputer. Hal ini penting mengingat anak-anak dengan ASD sering mengalami sensitivitas sensori di seluruh lima panca indera. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara online dan observasi lapangan secara online dengan enam anak berusia 6 -12 tahun dengan tingkat ASD level 1 dan 2. Temuan penelitian ini menyoroti aspek pengalaman pengguna YouTube Kids yang sejalan dengan faktor-faktor UX sense-aware seperti tata letak dan bahasa. Namun, masih ada area yang memerlukan perbaikan, dalam hal grafis, audio, dan pengelolaan sensori. Beberapa fitur YouTube Kids tidak sesuai dengan kebutuhan ASD, seperti penggunaan warna terang yang berlebihan, iklan yang muncul tiba-tiba, kebisingan tinggi, dan suara yang cepat. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merekomendasikan panduan bagi para desainer untuk meningkatkan interaksi manusia-komputer bagi anak-anak dengan ASD. Studi ini berkontribusi dalam pengembangan inklusivitas di dunia digital, meningkatkan pengalaman pengguna untuk anak-anak dengan ASD.