Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Strategi Penerjemahan Lagu dalam Sulih Suara Bahasa Indonesia di Film Moana Amelia Cindy Mogi; Golda Juliet Tulung; Garryn Christian Ranuntu
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i1.2452

Abstract

Penerjemahan memiliki banyak jenis disesuaikan dengan wacana atau materi yang diterjemahkan. Salah satu penerjemahan yang populer dan sering dilakukan adalah penerjemahan film dan lagu. Film musikal adalah film yang menggabungkan dua jenis penerjemahan itu. Salah satu contoh film itu adalah film Moana. Penerjemahan lagu dalam bentuk sulih suara perlu penyesuaian terhadap strategi penerjemahan yang akan digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan strategi penerjemahan yang digunakan untuk lagu-lagu dalam sulih suara bahasa Indonesia di film Moana. Rancangan kualitatif deskriptif digunakan untuk menjawab rumusan masalah dengan sumber data empat lagu dari film Moana versi Bahasa Inggris dan versi terjemahan sulih suara Bahasa Indonesia. Data yang didapatkan sebanyak 126 data untuk masing-masing versi. Analisis deskriptif data menggunakan teori strategi penerjemahan puisi Lefevere. Dari data yang dianalisis, penerjemahan sulih suara dari lagu-lagu film Moana menggunakan lima strategi. Strategi penerjemahan metrikal mendominasi dengan penggunaan sebanyak 46%. Lalu, penerjemahan bait kosong (23, 8%), penerjemahan interpretasi (11,9%), fonemik (11,1%), dan terakhir harfiah dengan 7,1%.
Analisis Kontrastif Infiksasi Bahasa Tombulu dan Bahasa Indonesia: Sebuah Tinjauan Morfosintaksis Imbang, Djeinnie; Korompis, Ferry Lourens Sampel; Pua, Christo; Palit, Anatje; Mogi, Amelia Cindy
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i2.5606

Abstract

Morfosintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang memadukan antara morfologi dan sintaksis dalam suatu struktur bahasa. Salah satu yang dipelajari adalah afiksasi yang keberadaannya dapat mengubah struktur kalimat. Dalam rangka menambah bahan pembelajaran bahasa untuk pemertahanan bahasa daerah, penelitian ini mengkaji infiksasi, salah satu jenis afiksasi pada bahasa Minahasa dialek Tombulu yang kemudian dikontraskan dengan bahasa Indonesia dari sudut pandang morfosintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbandingan infiksasi bahasa Tombulu dan infiksasi bahasa Indonesia melalui pendekatan morfosintaksis. Studi ini mengambil pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengambilan data berupa wawancara, observasi dan studi pustaka kemudian dianalisis dengan teknik Pilah. Model ini menggabungkan metode dasar, teknik Pilah Unsur Penentu (PUP), dengan metode lanjutan, teknik Hubung Banding (HB) dan teknik Hubung Banding Menyamakan Hal Pokok (HBSP). Hasil yang ditemukan adalah dialek Tombulu mengalami cukup kaya akan proses infiksasi (14 kata menggunakan infiks -in-, 5 kata menggunakan infiks -um-, dan 9 kata menggunakan infiks -im-) dibandingkan bahasa Indonesia (3 kata dengan infiks -in-, 2 kata dengan infiks -el-, 3 kata dengan infiks -em-, dan 1 kata dengan infiks -er-) dan proses infiksasi memiliki pengaruh sintaksis lebih signifikan dibanding infiks dalam bahasa Indonesia.
The Development of an English Achievement Test at a Private Senior High School in Manado Mogi, Amelia Cindy; Sinadia, Alfrits Roul
DIDASCO Vol 1 No 2 (2023): August 2023
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted due to the unavailability of teacher-made tests developed based on the principles of developing quality tests for use in schools. This study aims to analyze the quality of a Grade X English test items developed together with an English teacher at a private high school in Manado City, North Sulawesi. The developed test was intended to measure student achievement in the middle of the semester or called the midterm exam. The test consisted of 50 multiple-choice items that were tested on 133 Grade X students at the school. The results of the analysis show the quality of each item in terms of difficulty, discriminating power, and effectiveness of distractors. The final evaluation results on the quality of each item showed that, out of 50 items, there were only 11 items that met the category of qualified item difficulty level and differentiating power. Some items have one, two, or three distractors that do not function properly or are ineffective for their function as distractors. For this reason, all ineffective distractors must be corrected so that the items can be used to measure student achievement. Keywords— test item analysis, test item quality, item difficulty, item discrimination power, distractor effectiveness Penelitian ini dilakukan karena tidak tersedianya tes buatan guru yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan tes yang berkualitas untuk digunakan di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas butir soal mata pelajaran bahasa Inggris Kelas X yang dikembangkan bersama dengan guru bahasa Inggris di sebuah SMA swasta di Kota Manado, Sulawesi Utara. sekolah. Tes yang dikembangkan merupakan tes yang diperuntukkan untuk mengukur prestasi belajar siswa di tengah semester atau ujian tengah semester. Tes ini terdiri dari 50 butir pilihan ganda yang diujicobakan kepada 133 siswa Kelas X di sekolah tersebut. Hasil analisis kualitas butir soal menunjukkan kualitas setiap butir dalam hal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan efektivitas distraktor. Hasil evaluasi akhir mengenai kualitas setiap butir menunjukkan bahwa dari 50 butir soal hanya terdapat 11 butir yang memenuhi kategori tingkat kesukaran dan daya pembeda yang baik. Beberapa butir soal memiliki satu, dua, atau tiga distraktor yang tidak berfungsi dengan baik atau tidak efektif untuk fungsinya sebagai pengecoh. Untuk itu, semua distraktor yang tidak efektif harus diperbaiki agar butir soal tersebut dapat digunakan untuk mengukur prestasi siswa. Kata kunci— analisis butir soal, kualitas butir soal, tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, efektivitas distraktor
Analisis Kontrastif Infiksasi Bahasa Tombulu dan Bahasa Indonesia: Sebuah Tinjauan Morfosintaksis Imbang, Djeinnie; Korompis, Ferry Lourens Sampel; Pua, Christo; Palit, Anatje; Mogi, Amelia Cindy
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i2.5606

Abstract

Morfosintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang memadukan antara morfologi dan sintaksis dalam suatu struktur bahasa. Salah satu yang dipelajari adalah afiksasi yang keberadaannya dapat mengubah struktur kalimat. Dalam rangka menambah bahan pembelajaran bahasa untuk pemertahanan bahasa daerah, penelitian ini mengkaji infiksasi, salah satu jenis afiksasi pada bahasa Minahasa dialek Tombulu yang kemudian dikontraskan dengan bahasa Indonesia dari sudut pandang morfosintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbandingan infiksasi bahasa Tombulu dan infiksasi bahasa Indonesia melalui pendekatan morfosintaksis. Studi ini mengambil pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengambilan data berupa wawancara, observasi dan studi pustaka kemudian dianalisis dengan teknik Pilah. Model ini menggabungkan metode dasar, teknik Pilah Unsur Penentu (PUP), dengan metode lanjutan, teknik Hubung Banding (HB) dan teknik Hubung Banding Menyamakan Hal Pokok (HBSP). Hasil yang ditemukan adalah dialek Tombulu mengalami cukup kaya akan proses infiksasi (14 kata menggunakan infiks -in-, 5 kata menggunakan infiks -um-, dan 9 kata menggunakan infiks -im-) dibandingkan bahasa Indonesia (3 kata dengan infiks -in-, 2 kata dengan infiks -el-, 3 kata dengan infiks -em-, dan 1 kata dengan infiks -er-) dan proses infiksasi memiliki pengaruh sintaksis lebih signifikan dibanding infiks dalam bahasa Indonesia.
Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon Imbang, Djeinnie; Tulung, Golda Juliet; Pua, Christo; Mogi, Amelia Cindy
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7359

Abstract

Penelitian ini berjudul “Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Adapun yang melatarbelakangi penelitian ini adanya keanekaragaman  bahasa yang digunakan di daerah tersebut. Penelitian dialektologi mengenai bahasa daerah di wilayah ini belum pernah dilakukan, sehingga belum tersedianya peta bahasa yang mendeskripsikan secara menyeluruh kondisi kebahasaan di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan di empat kelurahan yang ada di Kota Tomohon. Dalam pelaksanaan, tahapan penyediaan data digunakan metode cakap (wawancara) dengan teknik cakap semuka dan  teknik catat. Selanjutnya analisis data digunakan metode dialektometri, yaitu menghitung persentase leksikon untuk pengkategorisasian beda bahasa, beda dialek, beda subdialek, beda wicara atau tidak ada perbedaan.  Metode dialektometri ini  mengacu pada daftar kosakata dasar   yang berjumlah 795 kata dan beberapa frasa/klausa berdasarkan taksonomi sebagaimana contoh daftar pertanyaan yang ada pada bagian lampiran buku Nadra dan Reniwati (2023) yang disesuaikan dengan keadaan alam dan masyarakat daerah penelitian. Hasil penelitian ini adalah adanya perbedaan fonologi dan leksikal.  Berdasarkan hasil akhir penghitungan persentase kosakata, diperoleh simpulan bahwa tingkat kekerabatan bahasa berdasarkan penghitungan leksikon  terjadi perbedaan subdialek, yakni di bawah 25%.  Tampak dari 21 taksonomi yang terdiri atas 725 glos  pada keempat titik pengamatan,  perbedaannya berada pada  5,65 persen. Demikian juga dengan frasa dan klausa yang berjumlah 68 glos, hasilnya tidak ada perbedaan, perbedaan pada variasi tataran wicara saja.   Hasil ini menunjukkan bahwa dialek Tombulu  pada 4 titik pengamatan,  umumnya memiliki kesamaan karena berada di atas rata-rata atau sejumlah 94,35%.   Setiap taksonomi berbeda jumlah glos, disesuaikan dengan keadaan geografis titik pengamatan