Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASUPAN GIZI 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK Halimah Tusya Diah Harahap; Rani Darma Sakti Tanjung; Fitriyani Nasution
Jurnal Keperawatan Priority Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jukep.v6i1.3250

Abstract

The first thousand days of life is a golden period or what is known as Golden Age for a child to grow and develop optimally. Brain growth is very rapid during this period, which can determine the quality of life of children in the future. Nutritional behavior is very important because it is a direct cause of nutritional problems in Indonesia Indonesia. However, any interruption during this period will impact the continuity of life and development of children. To find out the relation of a mother's behavior about 1000 days of the first life with the nutritional status of a toddler at the Sigambal Health Center, Rantau Selatan District, Labuhanbatu Regency. This research is an analytic survey with a cross-sectional approach. The study’s population was all mothers with children aged 0-24 months, totaling 40 people. The sampling technique in this study used the total population technique. After the statistical test (Chi-Square) was carried out, it was found that there was a relationship between the mother's knowledge and a value of p = 0.010 (p <0.05) and there was a relationship between the mother's attitude and a value of p = 0.011 (p <0.05) about the first 1000 days of life and the growth and development of children at the Puskesmas. Sigambal. Exist The relationship between mother's knowledge and attitudes about the first 1000 days of life with child growth and development at the Sigambal Health Center, Rantau Selatan District, Labuhanbatu Regency. nutritional status.
Evaluasi Kebijakan Sistem Rujukan Berjenjang Dalam Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia Supriati Supriati; Fitriyani Nasution; Rika Handayani; Suci Ardia Ningsi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2572

Abstract

Sistem rujukan berjenjang dalam pelayanan kesehatan primer di Indonesia merupakan salah satu kebijakan penting yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, kualitas, dan aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat. Kebijakan ini mengharuskan pasien untuk mendapatkan perawatan pertama di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, dan hanya dirujuk ke rumah sakit apabila memerlukan penanganan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi sistem rujukan berjenjang, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan mixed-method, yang menggabungkan analisis kuantitatif melalui survei terhadap tenaga medis dan pasien, serta analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem rujukan berjenjang memiliki dampak positif terhadap kualitas pelayanan kesehatan, seperti peningkatan aksesibilitas dan efisiensi penggunaan sumber daya. Namun, beberapa tantangan masih ada, seperti keterbatasan infrastruktur, kekurangan tenaga medis terlatih, serta masalah koordinasi antar fasilitas kesehatan. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan infrastruktur puskesmas, pelatihan tenaga medis, dan pengembangan sistem informasi kesehatan yang lebih baik untuk mengoptimalkan implementasi sistem rujukan berjenjang. Dengan adanya perbaikan tersebut, diharapkan sistem rujukan berjenjang dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia
Dampak Implementasi Sistem Jaminan Kesehatan Nasional Terhadap Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Riyan Agus Faisal; Rani Darma Sakti Tanjung; Fitriyani Nasution; Ramada Sandi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v4i2.3399

Abstract

Implementasi Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat miskin. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketimpangan dalam akses terhadap pelayanan kesehatan, mengurangi beban biaya pengobatan, dan memastikan bahwa setiap individu, terlepas dari status sosial ekonomi, dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas. Meskipun JKN telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan akses layanan kesehatan, masih ada sejumlah hambatan yang dihadapi oleh masyarakat miskin dalam memanfaatkan layanan tersebut. Hambatan ini meliputi faktor geografis seperti jarak dan lokasi fasilitas kesehatan, faktor sosial dan ekonomi yang berkaitan dengan pendapatan, pendidikan, serta keterbatasan informasi mengenai prosedur klaim JKN. Selain itu, meskipun biaya pelayanan menjadi lebih terjangkau, kualitas layanan di beberapa fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan JKN masih belum memadai, seperti waktu tunggu yang lama dan kekurangan tenaga medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan melalui JKN dan memberikan rekomendasi untuk mengatasi hambatan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun JKN telah memberikan kontribusi positif terhadap akses layanan kesehatan, perbaikan dalam hal distribusi fasilitas, kualitas layanan, dan peningkatan penyuluhan kepada masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan efektivitas program ini.
Implementasi sistem rujukan dan intervensi gizi dalam upaya pencegahan stunting Halimah Tusya Diah Harahap; Rani Darma Sakti Tanjung; fitriyani Nasution; Supriati
Battuta-Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 1 No 2 (2024): Edisi Mei
Publisher : LPPM Universitas Battuta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi badan dibawah rata-rata. Hal ini diakibatkan asupan gizi yang diberikan, dalam waktu yang panjang, tidak sesuai dengan kebutuhan. Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Permasalahan Stunting ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di berbagai negara, disebutkan bahwa WHO mengestimasikan jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah (prevalensi) Stunting (balita kerdil) di seluruh dunia sebesar 22 persen  atau sebanyak 149,2 juta jiwa pada tahun 2020. Di Indonesia, berdasarkan data Asian Development Bank, pada tahun 2022 persentase Prevalence of Stunting Among Children Under 5 Years of Age di Indonesia sebesar 31,8 persen. Jumlah tersebut, menyebabkan Indonesia berada pada urutan ke-10 di wilayah Asia Tenggara.  Selanjutnya pada tahun 2022, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, angka stunting Indonesia berhasil turun menjadi 21,6 persen. Kegiatan Pengabdian ini diharapkan bahwa target persentase stunting di Indonesia pada tahun 2024 dapat turun hingga 14 persen dengan cara melakukan edukasi tentang pola makan yang seimbang dan asupan Gizi. Desa Janji merupakan salah satu daerah yang terdapat kasus stunting. Kegiatan posyandu merupakan alternative yang dapat digunakan untuk bertemu langsung kepada sasaran. Kegiatan dilakukan dengan memerikan penyuluhan, menjelaskan jenis- jenis makanan yang mengandung gizi serta mengolah makanan yang benar yang selanjutnya makanan tersebut dibagikan kepada Ibu yang memiliki bayi.  Kegiatan tersebut berlangsung dengan tertib dengan dihadiri 20 orang Ibu yang memiliki Bayi, mereka merespon dengan baik dan terjadi umpan balik