Yustinus Yustinus, Yustinus
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Parodi “Perjamuan Terakhir” Olimpiade Paris Sebagai Produk Kontradiktif Postmodern terhadap Nilai Kristiani Yustinus, Yustinus; Sirait, Hikman; Romika, Romika
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 4, No 3 (2024): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2024
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v4i3.109

Abstract

AbstractThis study aims to discuss the parody of "The Last Supper" presented during the opening of the 2024 Paris Olympics as a contradictory product of postmodern values against Christian values. This research employs a qualitative method through literature review. The method not only focuses on collecting data but also aims to deeply analyze the identified sources so that each piece of data can provide arguments that either support or refute the main analysis. The study explores the value conflicts arising between the original meaning of The Last Supper in Matthew 26:17-29 and its reinterpretation in modern culture. The findings reveal that the narrative of The Last Supper in the Gospel carries several significant messages or meanings, which give rise to spiritual values as part of God's covenant with His people. The first meaning is that Jesus' Last Supper serves as a reminder of God's promise to reunite with His people at the Lamb's Supper in Heaven. The second meaning is the value of liberation. The third meaning highlights the understanding that the disciples are part of the same body of Christ. The fourth meaning is the fellowship value (1 Corinthians 10:16b). The fifth meaning pertains to sanctification, where the wine shared by Jesus symbolizes His blood shed for all humanity. The sixth meaning emphasizes gratitude, as The Last Supper embodies a practice of thanksgiving. The seventh meaning views The Last Supper as a sacred liturgy. The eighth meaning focuses on evangelism. The ninth meaning reflects the extraordinary value of Jesus' total surrender. Finally, the tenth meaning represents The Last Supper as a symbol of the New Covenant. In conclusion, understanding the profound and sacred values of The Last Supper opens the eyes of Christians to the immense love and grace of God for humanity. These values should inspire Christians to remain steadfast and grow stronger in their faith in Christ.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membahas parodi “Perjamuan Terakhir” yang ditampilkan dalam pembukaan Olimpiade Paris 2024 sebagai produk kontradiktif nilai-nilai postmodern terhadap nilai-nilai Kristiani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur. Metode ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga bertujuan untuk menganalisis secara mendalam sumber-sumber yang diidentifikasi, sehingga setiap data yang diperoleh dapat memberikan argumen yang mendukung atau menampik analisis utama.  Penelitian ini mengeksplorasi konflik nilai yang muncul antara makna asli Perjamuan Terakhir dalam Matius 26:17-29 dengan interpretasi budaya modern. Hasil penelitian yaitu narasi Perjamuan Terakhir di Injil mengandung beberapa makna atau pesan penting yang melahirkan nilai-nilai spiritual sebagai bagian dari janji Allah bagi umat-Nya. Makna pertama, Perjamuan Terakhir Yesus sebagai pengingat akan janji Allah untuk berkumpul bersama Tuhan kembali dalam Perjamuan Anak Domba Allah di Surga, Makna kedua adalah makna pembebasan, makna ketiga memberi pemahaman bahwa para murid adalah bagian dari satu tubuh Kristus yang sama. Makna keempat, Perjamuan Tuhan memiliki makna persekutuan (1 Kor 10:16b). Makna kelima, yakni nilai pengudusan. Anggur yang Yesus bagikan adalah simbol darah-Nya yang tercurah bagi semua umat manusia. Makna keenam, Perjamuan Terakhir sebagai praktik pengucapan syukur. Makna ketujuh, Perjamuan Terakhir sebagai liturgi sakral. Makna kedelapan, adalah makna penginjilan. Makna kesembilan adalah nilai penyerahan total Yesus yang luar biasa. Makna kesepuluh, Perjamuan Terakhir sebagai simbol Perjanjian Baru. Kesimpulan Pemahaman akan makna Perjamuan Terakhir yang mengandung nilai-nilai suci dan mulia membuka mata umat Kristen akan besarnya kasih dan anugerah Tuhan bagi manusia. Nilai-nilai yang selayaknya membuat umat Kristen bertahan bahkan semakin kuat dengan imannya kepada Kristus.
Kristen Progresif – Inkonsistensi Misi yang Menginjak Otoritas Alkitab Sirait, Hikman; Yustinus, Yustinus
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.284

Abstract

This article investigates the missions of Progressive Christian organizations that seek to construct a better system than the one that existed previously through humanism and modernist approaches, as well as reinterpreting Biblical passages. Progressive Christians believe that their eight missions have the potential to influence many aspects of society. Compared to the Christian approach, which is deemed too judgmental and authoritative. The research is qualitative in nature and employs the library research method or library study, which entails collecting data from books, dictionaries, journal articles, periodicals, and so on. Data collecting revealed at least five inconsistencies in Progressive Christian missions. Aside from inconsistencies, progressive Christian missions undermine the Bible's absolute and final authority. The findings indicate that the eight Progressive Christian missions are unsystematic, theologically weak, and ideologically poor. Artikel ini mengkaji misi-misi kelompok Kristen Progresif yang bertujuan membentuk tatanan yang lebih baik dari sebelumnya melalui pendekatan humanis, modernist, dan tafsir ulang teks-teks Alkitab. Kristen Progresif memandang kedelapan misi mereka akan mampu mentransformasi banyak bidang kehidupan di tengah masyarakat. dibandingkan pendekatan Kristen yang dinilai terlalu menghakimi dan otoriter. Penelitian bersifat kualitatif dengan menggunakan metode library research atau studi pustaka, yakni pengumpulan data melalui buku, kamus, artikel jurnal, majalah, dan lain sebagainya. Melalui pengumpulan data ditemukan minimal lima inkonsistensi di dalam misi-misi Kristen Progresif. Selain inkonsistensi, misi-misi Kristen Progresif juga menginjak otoritas Alkitab yang mutlak dan final. Berdasarkan hasil temuan dapat disimpulkan bahwa kedelapan misi Kristen Progresif tidak sistematis, lemah secara teologis, dan illogical.
Orang Samaria di Tengah Krisis Empati: Teologi Belas Kasih dalam Aksi Nyata Yustinus, Yustinus
Jurnal Lentera Nusantara Vol 4, No 2 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v4i2.387

Abstract

Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25–37) menyingkap krisis empati di tengah masyarakat modern yang ditandai oleh individualisme dan apatisme sosial. Narasi ini menantang religiositas kering yang mengabaikan keberpihakan dalam tindakan kasih konkret. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana kisah tersebut mengungkap dan merespons krisis empati dalam konteks sosial kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif-kontekstual, berupa analisis teks Injil Lukas dan telaah literatur teologis terkait empati dan tanggung jawab sosial. Temuan menunjukkan bahwa dua tokoh religius (imam dan orang Lewi) gagal mengekspresikan kasih sebagai wujud empati, sementara orang Samaria yang dianggap “asing” berani berhenti, merawat, dan menolong tanpa syarat. Tindakan ini merepresentasikan empati yang transformatif dan menembus sekat identitas. Implikasi penelitian ini mendorong gereja dan individu Kristen untuk mengaktualisasikan empati sebagai tindakan iman yang melampaui ritual dan batas budaya, sehingga mampu menghadirkan kehadiran Kerajaan Allah dalam keseharian sosial.
Yesus sebagai Juru Selamat Dunia dalam Dialog dengan Perempuan Samaria: Kajian Kristologis Yohanes 4:1-42 Yustinus, Yustinus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.378

Abstract

Jesus, who deliberately crossed the region of Samaria—an area avoided by the Jews—to meet a Samaritan woman near Jacob’s well in the town of Sychar, raised many questions about the purpose and theological significance of His action. This study investigated the Christological meaning of Jesus’ self-revelation as the Messiah and Savior of the world in the dialogue with the Samaritan woman in John 4:1–42. Using a qualitative method through literature study and textual exegesis, the research found that Jesus’ intentional passage through Samaria, an area traditionally avoided by Jews, carried divine intent as part of God's universal plan of salvation. This act by Jesus reflected the early stage of salvation for non-Jewish nations and served as an example for the disciples prior to receiving His message in Acts 1:8. This study affirmed the importance of an inclusive and missiological Christology in responding to a socially fragmented reality marked by ethnic, gender, and religious divisions.AbstrakYesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria yang dihindari orang Yahudi, untuk menjumpai perempuan Samaria dekat sumur Yakub, di kota Sikhar, menimbulkan banyak pertanyaan tentang tujuan dan makna teologis tindakan Yesus. Penelitian ini menyelidiki makna Kristologis dari pewahyuan diri Yesus sebagai Mesias dan Juru Selamat dunia dalam peristiwa dialog dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:1-42. Pemakaian metode kualitatif melalui tahapan studi literatur dan eksegesis teks, menemukan bahwa tindakan Yesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria, wilayah yang secara tradisional dihindari oleh orang Yahudi, mengandung intensi ilahi sebagai bagian dari agenda keselamatan Allah yang bersifat universal. Tindakan Yesus ini merupakan cerminan awal dari misi keselamatan bagi bangsa-bangsa non Yahudi dan sekaligus menjadi teladan bagi para murid sebelum menerima pesan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8. Penelitian ini menegaskan pentingnya Kristologi yang inklusif dan misiologi dalam menghadapi realitas sosial yang terfragmentasi secara etnis, gender, dan agama.
Pemulihan Elia sebagai Model Teologis-Psikologis bagi Intervensi Depresi Pada Remaja Yustinus, Yustinus
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.138

Abstract

Depression was a form of mental health disorder that was widely experienced by adolescents in Indonesia, influenced by biological, psychological, social, and spiritual factors. Treatment that focused on clinical and psychological aspects was indeed beneficial, yet it often did not address the spiritual dimension that could support holistic recovery. This study aimed to develop a theologically and psychologically informed intervention model based on the narrative of Elijah’s restoration in 1 Kings 19 to support adolescents experiencing depression holistically. The research employed a qualitative approach with library research, integrating biblical exegesis, pastoral theology literature, and adolescent psychospiritual theories. The findings indicated that integrated physical, emotional, and spiritual recovery enhanced adolescents’ psychological resilience, reduced depressive symptoms, and fostered meaning and hope. This model held practical implications for counselors, pastors, and Christian educational institutions in designing contextual and holistic interventions for adolescent depression. Thus, the study affirmed that Elijah’s restoration narrative could serve as an applicable theological-psychological framework for adolescent depression interventions.AbstrakDepresi sebagai bentuk gangguan kesehatan mental yang banyak dialami oleh remaja di Indonesia, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Penanganan yang berfokus pada aspek klinis dan psikologis memang bermanfaat, namun kerap belum menyentuh dimensi spiritual yang dapat mendukung pemulihan secara holistik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model intervensi teologis-psikologis berbasis narasi pemulihan Elia dalam 1 Raja-Raja 19 untuk mendampingi remaja yang mengalami depresi secara holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, mengintegrasikan eksposisi Biblika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulihan fisik, emosional, dan spiritual yang terintegrasi mampu meningkatkan ketahanan psikologis remaja, menurunkan gejala depresi, dan membangun makna serta harapan. Model ini memiliki implikasi praktis bagi konselor, pendeta, dan lembaga pendidikan Kristen dalam merancang intervensi depresi remaja yang kontekstual dan holistik.Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa narasi pemulihan Elia dapat menjadi kerangka konseptual teologis-psikologis yang aplikatif bagi intervensi depresi remaja.
Prinsip Mendengarkan dalam Pemulihan Trauma Anak di Panti Asuhan Kristen: Sebuah Pendekatan Psikoteologis Yustinus, Yustinus; Meriyana, Meriyana; Romika, Romika
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.446

Abstract

Child trauma recovery in Christian orphanages requires a holistic approach integrating psychology and theology. However, practical models that operationally blend these two perspectives remain limited. This qualitative study aims to develop a mentoring model based on the principle of "listening" through a psychotheological approach. Using a literature study method, this research synthesizes theories of humanistic and trauma psychology (particularly from Carl Rogers and Danel Siegel) with a hermeneutical analysis of Biblical texts. The study yields an integrative model comprising three practical steps: unconditional self-acceptance, strengthening self-esteem, and providing space for self-expression. These three steps operationalize the listening principle within a framework combining attentiveness, valuing, empathizing, and loving. This study provides a theoretical contribution to Christian counseling literature by offering a structured psychotheological model. Practically, this model can serve as an applicable guide for orphanage caregivers in creating a restorative environment for child trauma survivors.AbstrakPemulihan trauma anak di panti asuhan Kristen memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan ilmu psikologi dan teologi. Namun, model praktis yang secara operasional memadukan kedua perspektif tersebut masih terbatas. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model pendampingan berbasis prinsip "mendengarkan" melalui pendekatan psikoteologis. Dengan metode studi literatur, penelitian ini mensintesis teori-teori psikologi humanistik dan trauma (terutama dari Carl Rogers dan Danel Siegel) dengan hermeneutika teks Alkitab. Penelitian menghasilkan model integratif tiga langkah praktis, yaitu penerimaan diri tanpa syarat, penguatan harga diri, dan pemberian ruang ekspresi diri. Ketiga langkah ini mengoperasionalisasikan prinsip mendengarkan dalam sebuah kerangka kerja yang memadukan sikap memperhatikan, menghargai, berempati, dan mengasihi. Studi ini memberikan kontribusi teoretis bagi literatur konseling Kristen dengan menawarkan sebuah model psikoteologis yang terstruktur. Secara praktis, model ini dapat dijadikan panduan aplikatif bagi pembina panti asuhan dalam menciptakan lingkungan yang memulihkan bagi anak-anak korban trauma.
Model Pelayanan Holistik Gereja dalam Perspektif Injil Lukas: Studi Kasus Panti Asuhan Stergein Yustinus, Yustinus; Yobel, Christian; Sudarsono, Sudarsono; Tambunan, Brio Gideon
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.215

Abstract

Children in orphanages face complex issues that are often not addressed holistically due to limited funds and resources. This qualitative case study, conducted at the Stergein Orphanage, aims to examine the implementation of holistic church ministry based on Luke 4:18-19 and to formulate an applicable ministry model for the local church. The findings reveal that while basic physical and spiritual needs are largely met, psychological aspects, particularly inner healing, remain unaddressed. Consequently, this study underscores the need for local churches to develop integrated psychological support programs to complement existing ministry efforts. The research offers novelty by systematically integrating the narrative of Luke 4:18-19 with the contextual case study of the Stergein Orphanage to propose an applicable model of holistic ministry.AbstrakAnak-anak di panti asuhan menghadapi masalah kompleks yang sering kali tidak tertangani secara holistik akibat keterbatasan dana dan sumber daya. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi pelayanan holistik gereja berdasarkan Lukas 4:18-19 di Panti Asuhan Stergein dan merumuskan model pelayanan yang aplikatif bagi gereja lokal. Studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus di Panti Asuhan Stergein ini menemukan bahwa pelayanan jasmani dan rohani pada dasarnya sudah dipenuhi, namun aspek psikologi terutama terkait pemulihan jiwa belum terpenuhi. Berdasarkan temuan ini, gereja lokal perlu mengembangkan program pendampingan psikologis yang terintegrasi untuk melengkapi pelayanan di Panti Asuhan Stergein. Kajian ini menawarkan kebaruan dengan integrasi narasi Lukas 4:18–19 dan studi kasus Panti Asuhan Stergein untuk model pelayanan holistik yang aplikatif bagi gereja lokal.
Allah yang Mati: Sebuah Kajian Soteriologis atas Paradoks Kematian Yesus Kristus Yustinus, Yustinus
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.57

Abstract

Jesus' death on the cross presents a paradox between God's eternal nature and the reality of a dying God, sparking intense debate in pluralistic societies. This study analyzes the relationship between Jesus' divinity and death from a soteriological perspective using systematic theology and historical-biblical analysis. The research demonstrates that the doctrines of communicatio idiomatum and Chalcedonian Christology resolve this paradox by maintaining the integrity of both natures in one Divine Person of Jesus. The findings reveal that Jesus' death in human nature constitutes the ultimate expression of God's saving love. Precisely because Jesus is God, His sacrifice is able to redeem all humanity, while His humanity enables this redemptive event to occur. These findings not only strengthen the theological foundation of redemption doctrine but also provide a relevant resolutive framework for contemporary dialectics about Christ's identity. The theological implications require the church to embody cruciform spirituality through practices of kenosis and solidarity with the suffering.AbstrakKematian Yesus di atas salib menghadirkan paradoks antara natur Allah yang kekal dan realitas Allah yang mati, serta memicu perdebatan intens dalam masyarakat yang plural. Penelitian ini menganalisis relasi keilahian dan kematian Yesus dalam perspektif soteriologis melalui pendekatan teologi sistematis dan analisis historis-biblis. Kajian membuktikan bahwa doktrin communicatio idiomatum dan kristologi Kalkedon menyelesaikan paradoks ini dengan mempertahankan integritas kedua natur dalam satu Pribadi Ilahi Yesus. Temuan penelitian mengungkap bahwa kematian Yesus dalam natur manusia justru menjadi puncak pernyataan kasih Allah yang menyelamatkan. Hanya karena Yesus adalah Allah, maka pengorbanan-Nya sanggup menebus semua manusia, sementara kemanusiaan-Nya memungkinkan peristiwa penebusan itu terjadi. Temuan ini tidak hanya memperkuat fondasi teologis doktrin penebusan, tetapi juga memberikan kerangka resolutif yang relevan bagi dialektika kontemporer tentang identitas Kristus. Implikasi teologisnya menuntut gereja untuk menghidupi spiritualitas salib melalui praktik kenosis dan solidaritas dengan mereka yang menderita.