Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERSEPSI DAN KESIAPAN DIRI MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN TERHADAP IMPLEMENTASI INTERPROFESSIONAL EDUCATION DI UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Mario Esau Katuuk; Angelina Stevany Regina Masengi; Ollivia Enggelina Supit
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jikeperawatan.v9i1.1249

Abstract

The need for an interprofessional education learning system started from the complexity of health services and social services. It requires the effective coordination and collaboration of health professions. Higher education institutions providing health education are encouraged to implement interprofessional education system by conducting an assessment of student readiness and perceptions regarding interprofessional education system. The purpose of this study was to identify the perceptions and self-readiness of undergraduate students at the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University regarding the implementation of interprofessional education system. This research method uses a descriptive research design using a questionnaire distributed using an online form. Univariate data analysis was performed and results are presented in a frequency distribution table. The results showed that most of the respondents had a good perception of interprofessional education (97.9%), while 3% had an adequate perception. A relatively similar picture is found for self-readiness where 75.9% of respondents have good self-readiness, the rest are in the sufficient category (24.1%). It can be concluded that according to students' perceptions and self-readiness, shows that there are excellent opportunities for educational institutions to develop and implement interprofessional learning systems, especially in the health sector to improve communication and collaboration as well as health services quality.
EVALUATION OF ADHERENCE AND INSULIN INJECTION PRACTICES IN PEOPLE WITH TYPE II DIABETES MELLITUS Mario Esau Katuuk; Gresty Natalia Maria Masi; Muhamad Nurmansyah
INTERNATIONAL JOURNAL OF NURSING AND MIDWIFERY SCIENCE (IJNMS) Vol 7 No 1 (2023): VOLUME 7 ISSUE 1 APRIL 2023
Publisher : Departement Research and Community Engagement Bina Sehat PPNI Institute of Health Science, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29082/IJNMS/2023/Vol7/Iss1/446

Abstract

The practice of insulin injection in people with Diabetes Mellitus must be carried out appropriately and obediently by the patient for optimal regulation of glycemic control, preventing complications, and improving quality of life. This study was conducted to identify the description of insulin injection adherence and insulin injection practice in individuals with type 2 diabetes mellitus. This study was a quantitative research design with a cross-sectional approach using a questionnaire distributed to 32 respondents. The research was held at Club Prolanis Manado. Descriptive data analysis was conducted to describe the research variables. The findings showed that 100% of the respondents adhered well to insulin injections (Auto compliance > 80%), most respondents do not prime to check insulin flow and expel air before injecting insulin (78.1%), most respondents rotate the injection locations (75%), most respondents do not experience lipodystrophy (87.5%), more than half of the respondents experienced pain (53.1%), most of the respondents did not experience insulin leakage (81.2%), more than half of the respondents pinched during injection (56.2%), most of the respondents waited 10 seconds before removing the needle (75%). Skills and adherence in injecting insulin must be improved through continuous education and evaluation to achieve optimal glycemic control.
EDUKASI DAN PELATIHAN RENTANG GERAK SENDI AKTIF DAN GUIDED IMAGERY PADA KELOMPOK PROLANIS Muhamad Nurmansyah; Mario Esau Katuuk; Suharno Usman
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 5 (2023): Volume 4 Nomor 5 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i5.19811

Abstract

Kemajuan teknologi mengubah gaya hidup sosial dan ekonomi Indonesia yang mengakibatkan perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit tidak menular. Beberapa penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan serius yakni hipertensi dan diabetes melitus tipe 2. Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 yakni tindakan promotif yaitu edukasi dan preventif yakni cek kesehatan rutin, nutrisi, terapi farmakologi serta terapi non farmakologi berupa latihan fisik dan guided imagery. Latihan fisik berupa rentang gerak sendi aktif dan guided imagery dapat menurunkan resistensi pembuluh darah dan menekan aktivitas saraf simpatik yang dapat menurunkan tekanan darah serta meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin berdampak terhadap penurunan kadar glukosa darah sehingga mencegah komplikasi penyakit. Metode pelaksanaan pada kegiatan ini yakni edukasi tentang penyakit kronik dan melakukan pelatihan rentang gerak sendi aktif dan guided imagery pada penderita penyakit kronik. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan 1 dan 2 desa pinilih, Kabupaten Minahasa Utara dengan 36 peserta. Hasil dari kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan baik sebesar 33,3% yaitu sebelum edukasi (55,5%) dan setelah edukasi (88,9%). Dari hasil observasi didapatkan sebagian besar peserta mampu melakukan kembali gerakan latihan gerak sendi aktif dan guide imagery secara mandiri namun, terdapat 7 peserta yang belum mampu melakukan gerakan latihan secara mandiri sehingga akan diberikan pendampingan lanjutan. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan kegiatan rutin program prolanis di puskesmas.
Pemberdayaan Keluarga Sebagai Support System dalam Pencegahan Hipertensi Pondaag Ferlan Ansye; Mario Esau Katuuk; Christin Rumokoi
Jurnal Lentera Sehat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Lentera Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/2wse9y62

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang erat kaitannya dengan gaya hidup dan kebiasaan dalam keluarga, seperti konsumsi makanan tinggi garam, kurangnya aktivitas fisik, dan kebiasaan merokok. Dukungan keluarga berperan penting sebagai support system dalam mendorong penerapan perilaku hidup sehat serta pencegahan hipertensi sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga mengenai perannya dalam pencegahan hipertensi melalui pendekatan berbasis keluarga. Kegiatan dilaksanakan pada 47 anggota Wanita Kaum Ibu (WKI) Jemaat GMIM Bukit Sion Mapanget yang meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi mengenai pola hidup sehat, serta pelatihan pengukuran tekanan darah secara mandiri menggunakan tensimeter digital. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh peningkatan pemahaman mengenai faktor risiko hipertensi, pentingnya peran keluarga sebagai support system, serta mampu melakukan pengukuran tekanan darah secara mandiri dengan pendampingan tim pengabdian. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan keluarga dalam membangun kebiasaan hidup sehat, melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin, serta mencegah hipertensi dan komplikasinya sejak dini.
Karakteristik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Terapi Insulin: Studi Deskriptif Mario Esau Katuuk; Toar Calvin Christo Paat; Bisuk Parningotan Sedli
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61280

Abstract

Abstrak Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan masalah kesehatan global yang terus mengalami secara signifikan. Terapi insulin menjadi salah satu pilar utama tatalaksana DMT2 untuk mencapai kendali glikemik yang optimal. Namun, tantangan untuk mencapai kendali glikemik yang optimal masih ditemukan terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan karakteristik pasien DMT2 yang menjalani terapi insulin, termasuk karakteristik demografis dan data klinis yang menunjukkan kendali glikemik. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang deskriptif dengan melibatkan 104 individu dengan DMT2 yang menjalani terapi insulin. Hasil penelitian menunjukkan rerata usia responden adalah 57,63 tahun (±11,21), dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (60,6%). Rerata kadar HbA1c adalah 8,86% (±2,01), dan sebanyak 76% pasien memiliki kendali glikemik yang tidak terkontrol (HbA1c > 7%). Regimen insulin premiks merupakan regimen yang paling banyak digunakan (47,1%), diikuti oleh regimen basal-bolus (21,2%), basal (17,3%), dan bolus (14,4%). Selain itu, sebanyak 52,9% peserta telah didiagnosis menderita diabetes selama lebih dari lima tahun, sedangkan 76% telah menjalani terapi insulin selama lima tahun atau kurang. Penelitian ini menunjukkan masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam pencapaian kontrol glikemik pada pasien DMT2 yang menjalani terapi insulin. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; karakteristik; terapi insulin; Abstract Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a global health problem that continues to increase significantly. Insulin therapy is one of the main pillars of treatment for T2DM patients to achieve glycemic control. However, challenges in achieving optimal glycemic control are still found, especially in areas with limited resources. The aim of this study is to identify and describe the profile and characteristics of T2DM patients undergoing insulin therapy, including demographic characteristics and clinical data indicating glycemic control. This study used a cross-sectional design involving 104 T2DM patients undergoing insulin therapy. The results showed that the average age of respondents was 57.63 years (±11.21), with the majority being female (60.6%). The average HbA1c level was 8.86% (±2.01), and as many as 76% of patients had uncontrolled glycemic control (HbA1c > 7%). The premixed insulin regimen was the most commonly used regimen (47.1%), followed by the basal-bolus regimen (21.2%), basal (17.3%), and bolus (14.4%). In addition, 52.9% of participants had been diagnosed with diabetes for more than five years, while 76% had used insulin therapy for five years or less. This study shows that there is still a significant gap in achieving glycemic control among T2DM patients using insulin therapy. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus; characteristic; insulin therapy