Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENUKARAN UANG BARU MENJELANG HARI RAYA IDUL FITRI Bariroh, Muflihatul
An-Nisbah: Jurnal Ekonomi Syariah Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/an.2016.2.2.101-126

Abstract

In Islam, money is not regarded as a commodity that can be traded as in the conventional economic system. Its utilization is limited as a medium of exchange and a measure of value. If a money in the same kind will be exchanged, the payment must be balanced and cash. The violation of these regulations resultsin the ‘fadl’ usury (Riba Fadl). This research was conducted on the basis of a fatwa Indonesian Ulema Council (MUI) Jombang East Java, which establishes the prohibition of new money exchange transactions before Idul Fitri for the indication of usury. While on the other hand, the practice is more wide spread and becomes a part of the wheels of the economy of Islamic society every Idul Fitri. The results of research show that consideration of Islamic law should be able to participate in shaping the public life and has the sensitivity to goodness (sense of maslahah). The author concludes that the practice of a new money exchange is allowed. As to the difference of exchanged money does not include the fadl usury, but it becomes wages (ujroh) which must be received by the provider of service as an income when waiting to exchange money in the bank.Keywords: Money, Usuary, Wages, Maslahah
Hibah dan Utang Piutang dalam Potret Resiprositas Tradisi Becekan Masyarakat Muslim Pedesaan di Kabupaten Tulungagung Bariroh, Muflihatul
Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47971/mjhi.v7i1.909

Abstract

Masyarakat desa tidak bisa lepas dari berbagai macam tradisi yang dijalankan secara turun temurun sebagaimana halnya tradisi sumbangan termasuk praktik becekan, yakni tradisi saling membantu dan menyumbang dalam berbagai acara hajatan yang idealnya tidak mengharapkan balasan apapun. Seiring perkembangan sosial, praktik becekan menunjukkan adanya isyarat transisi peralihan makna. Budaya becekan menjadi suatu budaya tuntutan pengembalian yang pernah didapatkan dari pemberi yang menyerupai transaksi utang-piutang. Penelitian ini berjenis kualitatif melalui pendekatan kombinasi studi kasus dan etnografi karena berkaitan dengan tradisi masyarakat. Hasil analisis menyatakan bahwa status pemberian becekan pada prinsipnya merupakan hadiah dan tidak dikatakan sebagai utang-piutang sehingga tidak ada kewajiban untuk mengembalikan becekan tersebut, hanya dianjurkan saling membalas sebagaimana petunjuk hadis Nabi. Dikecualikan jika terdapat kebiasaan masyarakat setempat yang disepakati secara tegas bahwa hal tersebut adalah pinjaman seperti becekan dalam jumlah besar, maka harus dinyatakan secara jelas bahwa becekan tersebut merupakan pinjaman utang yang harus dibayar kembali di kemudian hari.
Peningkatan Visiblitas Usaha Mikro Kecil Menengah Melalui Optimasi Google Maps dan Pendaftaran QRIS: Best Practice di Desa Besuki Kabupaten Tulungagung Sampurno, Rama Wahyu; Setiyorini, Egista Yessandrina; Lestari, Aprilia Qori Aina; Bariroh, Muflihatul
Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom Vol. 5 No. 2 (2025): Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom
Publisher : LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/9vmfyq23

Abstract

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a strategic role in supporting the national economy and generating employment, particularly in rural areas. However, limited digital literacy and skills remain major constraints in the effective use of technology to expand market reach and enhance competitiveness, as experienced by business actors in Besuki Village, Tulungagung Regency. This community engagement program aimed to enhance the digital literacy and skills of MSME actors through participatory and practical mentoring. The Participatory Action Research (PAR) method was employed to ensure partners' active involvement at every stage of the program, from planning and implementation to evaluation. The program involved 15 MSMEs from various sectors and was conducted intensively and collaboratively to promote partners’ independence in adopting digital technologies. The results indicate an improvement in participants’ understanding and skills in utilizing digital platforms for promotion and transactions. Most partners were able to actively manage their digital business presence through Google Maps, QRIS, and social media, indicating that participatory-based digitalization mentoring is effective in expanding market access and strengthening business sustainability in rural areas. Keywords: Digitalization of MSMEs, Google Maps, QRIS, Social Media. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan strategis dalam menopang perekonomian nasional dan penciptaan lapangan kerja, khususnya di wilayah pedesaan. Namun, keterbatasan literasi dan keterampilan digital masih menjadi kendala utama dalam pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing, sebagaimana dialami oleh pelaku usaha di Desa Besuki, Kabupaten Tulungagung. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas literasi serta keterampilan digital pelaku usaha melalui pendampingan partisipatif dan aplikatif. Metode Participatory Action Research (PAR) digunakan untuk memastikan keterlibatan aktif mitra pada setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Program ini melibatkan 15 UMKM dari berbagai sektor dan dilaksanakan secara intensif dan kolaboratif guna mendorong kemandirian mitra dalam mengadopsi teknologi digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan mitra dalam memanfaatkan platform digital sebagai sarana promosi dan transaksi. Sebagian besar mitra telah mampu mengelola kehadiran digital usaha melalui Google map, QRIS dan media sosial secara aktif yang mengindikasikan bahwa pendampingan digitalisasi berbasis pendekatan partisipatif efektif dalam memperluas pasar dan memperkuat keberlanjutan usaha di kawasan pedesaan. Kata kunci: Digitalisasi UMKM, Google Maps, QRIS, Media Sosial.