Doni Heryanto
Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Role Model Kompetensi Kepemimpinan Rohani Paulus dalam Kisah Para Rasul: Studi pada Majelis Daerah GPdI Papua Timotius Dawir; Doni Heryanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 5, No 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.76

Abstract

An important demand is placed on a leader, which is their leadership competency. The purpose of this research is to demonstrate the spiritual leadership competency of Paul, as portrayed by the author of Acts, as a role model for the Pentecostal Church in Indonesia in Papua. The method used is descriptive with a qualitative approach to the literature review related to the issue or topic of leadership with Paul as the role model. Leadership narratives in Acts become the main source, supplemented by various references from sources such as journal articles and books. In conclusion, Paul's post-conversion spiritual competency can be a guide and role model for leaders of the Majelis Daerah GPdI in Papua.  AbstrakAda hal penting yang dituntut dari seorang pemimpin, yakni kompetensi kepemimpinan-nya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kompetensi kepemimpinan rohani Paulus yang diperlihatkan oleh penulis Kisah Para Rasul, sebagai sebuah role model kepemimpinan bagi majelis daerah Gereja Pantekosta di Indonesia di Papua. Metode yang digunakan adalah deksriptif dengan pendekatan kualitatif pada kajian literatur terkait isu atau topik kepemimpinan dengan Paulus sebagai role modelnya. Penggunaan narasi kepemimpinan dalam Kisah Para Rasul menjadi sumber utama yang dilengkapi dengan berbagai referensi terkait dari berbagai seumber seperti artikel jurnal dan buku-buku. Kesimpulannya, kompetensi kerohanian Paulus pascapertoba-tannya dapat menjadi sebuah panutan dan role model bagi pemimpin Majelis Daerah GPdI Papua. 
KAJIAN TEOLOGIS YOHANES 10:1-18 MEMBENTUK ULANG KONSEP GEMBALA SEBAGAI TELADAN Manuel Marto Pasau; Doni Heryanto; Daud Manno
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Vol. 6 No. 2 (2023): Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/phr.v6i2.413

Abstract

The call to be a pastor in the post-truth era has resulted in the birth of church leaders who lack competence. This problem is challenging for the church to rethink what a true shepherd looks like. This research examines a very famous metaphor from John chapter 10:1-18. It describes how a good shepherd is a characteristic every church leader must have. This research provides three profiles of a good shepherd: content, character, and competence. These three values make a pastor an impactful leader. Here, pastors need to be seen as others who are present as role models, not just leaders with various functions and characters. By studying theology, it is necessary to understand pastors in the current context.
Pola Pengasuhan Berbasis Keluarga dalam Pembentukan Karakter Kristen Anak Remaja di Panti Asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali Elsye Ribkah Runkat; Doni Heryanto; Noldy Najoan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 6, No 2 (2024): Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.234

Abstract

This article provides significant insight regarding family-based parenting patterns which have strong implication for shaping the Christian character of adolescent children raised in a social community in a Christian orphanage. Basing a family-based parenting pattern on the Bible is a very appropriate choice because the principles of family-based parenting pattern, as taught by Moses to the Israelities, have had a long-term impact in which the personality of the Israelitie family was formed according to the tradition stated by God in Deuteronomy 6:4-9. This family-based parenting pattern was also exemplified by the Lord Jesus in His life and ministry, becoming an inspiration that is able to transform the character of teenegers undergoing a typical crisis at the age of searching for self-identity. The result guarantee expectations rather than maintaining a collective parenting pattern that provides general attention without considering the uniquesness of each individual adolescent child who is still experiencing ongoing identity struggles. So the family-based parenting pattern according to the Bible for teenegers at the “Budi Mulia” orphanage in Pekutatan, Jembrana Bali will soon be realized continuously or sustainably. This paper was preceded by qualitative research on leaders, caregevers, spiritual mentors, and several teenegers aged 12 to 18 years, as concrete experiences and events for a credible, constructive an tranformative solution.Artikel ini memberikan pemahaman signifikan terkait pola pengasuhan berbasis keluarga yang berimplikasi kuat membentuk karakter kristiani anak remaja diasuh dalam sebuah komunitas sosial di panti asuhan Kristen. Mendasari pola pengasuhan berbasis keluarga pada Alkitab merupakan pilihan yang sangat tepat karena prinsip-prinsip pola pengasuhan berbasis keluarga, seperti diajarkan Musa kepada bangsa Israel telah memberi dampak jangka panjang di mana kepribadian keluarga Israel terbentuk menurut tradisi yang difirmankan Tuhan dalam Ulangan 6:4-9. Pola pengasuhan berbasis keluarga ini pun diteladankan oleh Tuhan Yesus dalam hidup dan kehidupan pelayanan-Nya menjadi inspirasi yang mampu mentransformasi karakter anak remaja menjalani krisis khas di usia pencarian identitas diri. Hasilnya lebih menjamin ekspektasi ketimbang mempertahankan pola pengasuhan kolektif yang memberikan perhatian secara umum tanpa mempertimbangkan keunikan setiap individu anak remaja yang sedang mengalami pergumulan identitas masih berlangsung. Maka pola pengasuhan berbasis keluarga sesuai Alkitab bagi anak remaja di panti asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali segera direalisasikan secara terus-menerus atau berkelanjutan. Karya tulis ini telah didahului penelitian kualitatif terhadap pemimpin, pengasuh, pembina rohani, dan beberapa anak remaja usia 12 tahun hingga 18 tahun, sebagai pengalaman dan peristiwa kongkret bagi suatu solusi kredibel, konstruktif, dan transformatif.
SPIRITUALITAS ELISABET: INTEGRASI ANTARA IMAN, KETAATAN, DAN PELAYANAN DALAM LUKAS 1:5-45 Semelina Sertowati; Jonar Situmorang; Doni Heryanto
Sesawi Vol 7, No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v7i1.367

Abstract

Penelitian ini berangkat dari realitas bahwa figur perempuan dalam Alkitab, khususnya Elisabet dalam Lukas 1:5-45, sering kali kurang mendapat perhatian teologis yang mendalam dibanding tokoh lain seperti Maria, padahal narasi Lukas menampilkan Elisabet sebagai sosok yang beriman, taat, dan melayani dengan penuh kesetiaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap spiritualitas Elisabet sebagai integrasi antara iman, ketaatan, dan pelayanan serta relevansinya bagi pembentukan spiritualitas Kristen masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teologis-biblis terhadap teks Lukas 1:5-45, dengan menelusuri makna teologis dari tindakan dan respons Elisabet terhadap karya Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Elisabet merepresentasikan spiritualitas yang utuh dan integratif, di mana iman diwujudkan dalam ketaatan yang konsisten dan pelayanan yang berbuah dalam relasi dengan Allah dan sesama. Pembahasan ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak bersifat pasif atau individualistik, melainkan aktif, relasional, dan partisipatif dalam karya keselamatan Allah. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teologi spiritualitas dan refleksi peran perempuan dalam kehidupan gereja kontemporer.
Role Model Kompetensi Kepemimpinan Rohani Paulus dalam Kisah Para Rasul: Studi pada Majelis Daerah GPdI Papua Timotius Dawir; Doni Heryanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.76

Abstract

An important demand is placed on a leader, which is their leadership competency. The purpose of this research is to demonstrate the spiritual leadership competency of Paul, as portrayed by the author of Acts, as a role model for the Pentecostal Church in Indonesia in Papua. The method used is descriptive with a qualitative approach to the literature review related to the issue or topic of leadership with Paul as the role model. Leadership narratives in Acts become the main source, supplemented by various references from sources such as journal articles and books. In conclusion, Paul's post-conversion spiritual competency can be a guide and role model for leaders of the Majelis Daerah GPdI in Papua.  AbstrakAda hal penting yang dituntut dari seorang pemimpin, yakni kompetensi kepemimpinan-nya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kompetensi kepemimpinan rohani Paulus yang diperlihatkan oleh penulis Kisah Para Rasul, sebagai sebuah role model kepemimpinan bagi majelis daerah Gereja Pantekosta di Indonesia di Papua. Metode yang digunakan adalah deksriptif dengan pendekatan kualitatif pada kajian literatur terkait isu atau topik kepemimpinan dengan Paulus sebagai role modelnya. Penggunaan narasi kepemimpinan dalam Kisah Para Rasul menjadi sumber utama yang dilengkapi dengan berbagai referensi terkait dari berbagai seumber seperti artikel jurnal dan buku-buku. Kesimpulannya, kompetensi kerohanian Paulus pascapertoba-tannya dapat menjadi sebuah panutan dan role model bagi pemimpin Majelis Daerah GPdI Papua. 
Pastoral Holistik Yesus tentang Pernikahan dan Perceraian dalam Matius 19:1-9 Doni Heryanto; Terry Reney Manopo; Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/stq6y080

Abstract

The divorce rate continues to increase, including among Christian couples in the city of Jember, Indonesia. This study is an effort to find divorce solutions and strengthen the unity of the Christian family. Is it true that the congregation's pastor allows divorce? Is it true that Matthew 19:1-9 can be used as a Biblical basis for divorce? Using the interview method, to see what are the pastoral theological views held and what are the pastoral empirical attitude of the Pastor of the GPdI Jember Congregation regarding marriage and divorce. The literature study method was carried out to support a historical narrative hermeneutical study of Matthew 19: 1-9. The goal is to discover Jesus' holistic pastoral view and attitude towards marriage and divorce. It is hoped that the results of this study will be useful to help pastoral ministers who are looking for the pastoral theological basis of marriage and therefore argue that this passage can be used to legitimize divorce. Angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Keluarga Kristen di kota Jember juga mengalaminya. Studi ini merupakan upaya menemukan solusi bagi perceraian dan memperkuat keutuhan keluarga Kristen. Benarkah Gembala Jemaat mengijinkan perceraian? Apakah benar bahwa Matius 19: 1-9 dapat digunakan sebagai dasar Alkitabiah bagi perceraian?  Dengan metode wawancara, untuk melihat pandangan teologis pastoral yang dipegang dan sikap empiris pastoral Gembala Jemaat GPdI Jember terkait pernikahan dan perceraian. Metode studi pustaka dilakukan guna mendukung kajian hermeneutis naratif historis terhadap Matius 19: 1-9. Tujuannya, menemukan pandangan dan sikap pastoral holistik Yesus terhadap pernikahan dan perceraian. Hasil studi ini diharapkan bermanfaat membantu pelayan pastoral yang mencari dasar teologis pastoral pernikahan dan karena itu membantah bahwa perikop ini dapat digunakan untuk melegitimasi perceraian. 
Pola Pengasuhan Berbasis Keluarga dalam Pembentukan Karakter Kristen Anak Remaja di Panti Asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali Elsye Ribkah Runkat; Doni Heryanto; Noldy Najoan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.234

Abstract

This article provides significant insight regarding family-based parenting patterns which have strong implication for shaping the Christian character of adolescent children raised in a social community in a Christian orphanage. Basing a family-based parenting pattern on the Bible is a very appropriate choice because the principles of family-based parenting pattern, as taught by Moses to the Israelities, have had a long-term impact in which the personality of the Israelitie family was formed according to the tradition stated by God in Deuteronomy 6:4-9. This family-based parenting pattern was also exemplified by the Lord Jesus in His life and ministry, becoming an inspiration that is able to transform the character of teenegers undergoing a typical crisis at the age of searching for self-identity. The result guarantee expectations rather than maintaining a collective parenting pattern that provides general attention without considering the uniquesness of each individual adolescent child who is still experiencing ongoing identity struggles. So the family-based parenting pattern according to the Bible for teenegers at the “Budi Mulia” orphanage in Pekutatan, Jembrana Bali will soon be realized continuously or sustainably. This paper was preceded by qualitative research on leaders, caregevers, spiritual mentors, and several teenegers aged 12 to 18 years, as concrete experiences and events for a credible, constructive an tranformative solution.Artikel ini memberikan pemahaman signifikan terkait pola pengasuhan berbasis keluarga yang berimplikasi kuat membentuk karakter kristiani anak remaja diasuh dalam sebuah komunitas sosial di panti asuhan Kristen. Mendasari pola pengasuhan berbasis keluarga pada Alkitab merupakan pilihan yang sangat tepat karena prinsip-prinsip pola pengasuhan berbasis keluarga, seperti diajarkan Musa kepada bangsa Israel telah memberi dampak jangka panjang di mana kepribadian keluarga Israel terbentuk menurut tradisi yang difirmankan Tuhan dalam Ulangan 6:4-9. Pola pengasuhan berbasis keluarga ini pun diteladankan oleh Tuhan Yesus dalam hidup dan kehidupan pelayanan-Nya menjadi inspirasi yang mampu mentransformasi karakter anak remaja menjalani krisis khas di usia pencarian identitas diri. Hasilnya lebih menjamin ekspektasi ketimbang mempertahankan pola pengasuhan kolektif yang memberikan perhatian secara umum tanpa mempertimbangkan keunikan setiap individu anak remaja yang sedang mengalami pergumulan identitas masih berlangsung. Maka pola pengasuhan berbasis keluarga sesuai Alkitab bagi anak remaja di panti asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali segera direalisasikan secara terus-menerus atau berkelanjutan. Karya tulis ini telah didahului penelitian kualitatif terhadap pemimpin, pengasuh, pembina rohani, dan beberapa anak remaja usia 12 tahun hingga 18 tahun, sebagai pengalaman dan peristiwa kongkret bagi suatu solusi kredibel, konstruktif, dan transformatif.
Partikularitas dan Universalitas: Soteriologi Paulus di Roma 3 Aser Airey; Doni Heryanto; Oral Oko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.273

Abstract

This research discusses the theological understanding of how salvation works particularly for God’s chosen people, as well as the universality of the offer of salvation for all humanity. Romans 3 serves as a significant foundation for this understanding, where Paul explains that all humans have fallen into sin and need God’s grace through faith in Jesus Christ. The purpose of this study is to deeply analyze the role of grace in salvation and how the theological views of particular and universal salvation can be understood in light of Paul’s soteriology. By referring to Romans 3:22-23, this research also seeks to explain the connection between justification by faith and the universality of sin, which necessitates salvation through Christ. The method used in this research is a descriptive qualitative method with an expository approach to the biblical text, particularly the letter to the Romans. Textual analysis is carried out to explore the theological meaning of the concept of salvation in the context of Paul’s teachings. The results of the study show that while Paul speaks about the election of the chosen people, he still affirms that salvation is offered to all humanity through faith. Thus, Paul’s understanding of salvation unites both particular and universal aspects in the redemptive work of Christ. Penelitian ini membahas latar belakang pemahaman teologis tentang bagaimana keselamatan bekerja secara partikular bagi umat pilihan Allah, serta universalitas tawaran keselamatan bagi semua manusia. Roma 3 menjadi landasan penting dalam pemahaman ini, di mana Paulus menjelaskan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan membutuhkan anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam peran kasih karunia dalam keselamatan dan bagaimana pandangan teologi partikular dan universal dapat dipahami dalam terang soteriologi Paulus. Dengan mengacu pada Roma 3:22-23, penelitian ini juga berusaha menjelaskan keterkaitan antara pembenaran oleh iman dan universalitas dosa yang menuntut keselamatan melalui Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksposisi teks Alkitab, khususnya surat Roma. Analisis teks dilakukan untuk mengeksplorasi makna teologis dari konsep keselamatan dalam konteks ajaran Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus, meskipun berbicara tentang pemilihan umat pilihan, tetap menegaskan bahwa keselamatan ditawarkan kepada semua manusia melalui iman. Dengan demikian, pemahaman keselamatan Paulus menyatukan aspek partikular dan universal dalam karya penebusan Kristus.