Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Tumbuhan Halaban (Vitex pinnata) Sebagai Obat Herbal Bagi Masyarakat Kalimantan Tengah Fatimah Fatimah; Nanik Lestariningsih; Fatri Najwa; Noor Ainullatiffah; Aupi Dalila
Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan (JPSP) Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/jpsp.v3i1.6034

Abstract

Kalimantan merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal dengan pengetahuan mengenai penyembuhan tradisional mereka yang menggunakan tumbuhan dan pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada generasi-generasinya. Salah satu tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat pedalaman Kalimantan Tengah yaitu tumbuhan halaban, yang mana tumbuhan halaban ini merupakan suatu tumbuhan khas kalimantan yang biasa orang dayak mengenalnya dengan laban. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan deskriptif, adapun untuk metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dan wawancara. Dari data yang kami temukan dapat dilihat bahwa tumbuhan halaban kaya akan manfaat, yaitu pada bagian daun berfungsi sebagai menstabilkan kadar gula darah, mencegah pertumbuhan bakteri yang menempel pada darah. Bagian akar berfungsi mengobati diabetes melitus, hipertensi dan maag. Bagian kulit batang berfungsi Mengobati luka luar, mengobati sakit perut, anti mikroba, anti cendawan dan anti bakteri. Dari semua data analisis yang telah dilakukan, penulis ingin menyampaikan informasi mengenai pemanfaatan tumbuhan halaban sebagai obat herbal kepada generasi muda sebagai ujut upaya pelestarian budaya.
Efek Antimikroba Kombinasi Ektrak Daun Isotoma longinflora (L). C. Presl dan Bunga Clitoria ternatea terhadap S. aureus dan Fusarium sp. sebagai Faktor Pemicu Resiko Infeksi Konjungtiva secara In Vitro Noor Hujjatusnaini; Ridha Nirmalasari; Astuti Muh Amin; Nor Mila; Luthfi Aulia Rahman; Utin Tria Marshanda; Annisa Maharani Awaluddin; Ayu Tiara Putri; Fatri Najwa; Mila Mila
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i1.18409

Abstract

Infeksi konjungtiva sering disebabkan oleh berbagai mikroorganisme patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan Fusarium sp. Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek antimikroba dari kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea terhadap Staphylococcus aureus dan Fusarium sp., yang berpotensi menyebabkan infeksi konjungtiva secara in vitro. Kombinasi ekstrak kedua tanaman dibuat dalam formulasi 1:1, dengan mencampurkan 50% ekstrak Isotoma longiflora dan 50% Clitoria ternatea. Formulasi kombinasi ini diuji pada konsentrasi 50%, 60%, 70%, 80%, dan 90%, dengan waktu pengamatan selama 72 jam. Hasil uji statistik menggunakan One-Way ANOVA menunjukkan pengaruh signifikan dari kombinasi ekstrak terhadap pertumbuhan kedua mikroba (p=0,001; p<0,05). Kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea memiliki efektivitas penghambatan lebih tinggi terhadap Staphylococcus aureus dibandingkan Fusarium sp., terutama pada konsentrasi 50%. Diduga dipengaruhi kandungan senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang merusak dinding sel dan membran bakteri. Sebaliknya, efektivitas penghambatan terhadap Fusarium sp. relatif lebih rendah karena struktur dinding sel jamur yang lebih kompleks. Simpulan bahwa efek kombinasi ekstrak Isotoma longiflora dan Clitoria ternatea lebih besar sebagai antibakteri bakteri Gram-positif seperti S. aureus, dibandingkan terhadap Fusarium sp., sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memvalidasi temuan dalam penelitian ini. Kata Kunci: Clitoria ternatea, Isotoma longinflora, S. aureus, Fusarium sp. Conjunctival infections are often caused by various pathogenic microorganisms, including Staphylococcus aureus and Fusarium sp. Isotoma longiflora and Clitoria ternatea are known to contain secondary metabolites with potential as antimicrobial agents. This study aimed to test the antimicrobial effects of a combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea against Staphylococcus aureus and Fusarium sp., which can potentially cause conjunctival infections, in vitro. The combined extract of the two plants was formulated in a 1:1 ratio, mixing 50% Isotoma longiflora extract and 50% Clitoria ternatea. This combination was tested at concentrations of 50%, 60%, 70%, 80%, and 90%, with an observation period of 72 hours. Statistical testing using One-Way ANOVA showed a significant effect of the combined extract on the growth of both microorganisms (p=0.001; p<0.05). The combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea exhibited a higher inhibitory effect against Staphylococcus aureus than Fusarium sp., especially at the 50% concentration. This effect is thought to be influenced by compounds such as flavonoids, tannins, and saponins that can damage bacterial cell walls and membranes. Conversely, the inhibition effect on Fusarium sp. was relatively lower, possibly due to the more complex structure of fungal cell walls. In conclusion, the combined extract of Isotoma longiflora and Clitoria ternatea demonstrates a stronger antibacterial effect against Gram-positive bacteria like Staphylococcus aureus compared to Fusarium sp., indicating a need for further research to validate these findings.