Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara
Department Of Child Health, Faculty Of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Vitamin E terhadap Kadar Oksidan pada Leukemia Limfoblastik Akut Fase Induksi Dewi Anggraeni; Hikari Ambara Sjakti; Bernie Endyarni Medise
Sari Pediatri Vol 23, No 6 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.6.2022.402-8

Abstract

Latar belakang. Penderita leukemia limfoblastik akut (LLA) akan mengalami perubahan status oksidan dan antioksidan sejak awal diagnosis dan selama kemoterapi. Vitamin E merupakan antikarsinogenik dan berperan mencegah kerusakan oksidatif pada struktur sel dan jaringan lewat reaksi pemecahan radikal bebas. Tujuan. Mengetahui pengaruh vitamin E terhadap kadar oksidan, kadar enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi. Metode. Uji klinis acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok vitamin E dengan kelompok plasebo pada penderita LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi pada bulan Juni-November 2019 di poliklinik Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM Kiara. Hasil. Terdapat peningkatan kadar median MDA saat awal fase induksi dan terjadi penurunan MDA secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Terdapat peningkatan median enzim transaminase (AST dan ALT) saat awal fase induksi dan terjadi penurunan delta median AST secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Insiden demam neutropenia (per episode) ditemukan hampir sama pada kelompok vitamin E dan kelompok plasebo. Kesimpulan. Vitamin E tidak terbukti secara bermakna memperbaiki kadar MDA, enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada penderita LLA fase induksi.
Peran Pemeriksaan Immature Platelet Fraction dalam Imun Trombositopenia Fatimah Saidah; Hikari Ambara Sjakti
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.341 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.190-6

Abstract

Latar belakang. Pemeriksaan immature platelet fraction (IPF) untuk mengetahui produksi trombosit dapat membedakan trombositopenia yang disebabkan gangguan trombopoiesis atau peningkatan destruksi trombosit. Nilai diagnostik IPF pada imun trombositopenia (ITP) belum dapat dibuktikan secara konsisten. Tujuan. Mengetahui manfaat pemeriksaan IPF dalam penegakan diagnosis ITP pada anak. Metode. Pencarian artikel dilakukan menggunakan instrumen PubMed, Cochrane, dan Google Cendekia dengan kata kunci yang sesuai. Seleksi dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi serta telaah judul dan abstrak. Telaah kritis dilakukan dengan evaluasi validity, importance, dan applicability. Hasil. Diperoleh dua artikel berupa studi potong lintang dan studi retrospektif. Kedua studi melaporkan nilai IPF yang lebih tinggi pada pasien ITP dibandingkan dengan kelompok kegagalan sumsum tulang maupun kontrol (p<0,001). Studi pertama mendapatkan nilai IPF 9,4% bersifat diagnostik untuk ITP dengan sensitivitas 88%, spesifisitas 85,7%. Dari studi kedua didapatkan nilai IPF >8,45% memiliki sensitivitas 80,4% dan spesifisitas 79,9% untuk membedakan ITP dengan penyebab trombositopenia lainnya. Kesimpulan. Nilai IPF yang meningkat dapat bermanfaat untuk membantu diagnosis pada kasus ITP yang tidak disebabkan ganggguan trombopoiesis. Nilai IPF yang normal atau rendah tidak selalu dapat menyingkirkan diagnosis ITP mengingat kemungkinan adanya gangguan trombopoiesis pada ITP.
Fungsi Sistolik dan Diastolik Jantung pada Pasien Anak dengan Osteosarkoma yang Mendapat Terapi Doksorubisin Di RS Cipto Mangunkusumo Kristin Handojo; Hikari Ambara Sjakti; Piprim B. Yanuarso; Arwin AP Akib
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.149-56

Abstract

Latar belakang. Doksorubisin merupakan obat golongan antrasiklin yang penting dan efektif pada pengobatan tumor padat pada anak. Doksorubisin mencegah sintesis RNA dan DNA melalui proses interkalasi. Kardiotoksisitas dilaporkan paling banyak karena penggunaan doksorubisin tersebut sehingga penggunaannya masih terbatas.Tujuan. Mengetahui fungsi jantung pada anak dengan osteosarkoma setelah mendapat terapi doksorubisin di RSCM.Metode. Studi deskriptif potong lintang dilakukan di RSCM, Divisi Hematologi-Onkologi IKA dan Sub Bagian Onkologi Orthopedik dan Traumatologi, dengan menelusuri catatan registrasi dan rekam medis pasien anak dengan osteosarkoma sejak 1 Januari 2005 sampai dengan 31 Desember 2012.Hasil. Terdapat 25 subjek penelitian, 21 di antaranya selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin dengan rentang 300 mg/m2 sampai 675 mg/m2. Fungsi sistolik LV mengalami penurunan rerata fraksi ejeksi 3,3% dan pemendekan 2,5% setelah mendapat doksorubisin. Fungsi diastolik LV mengalami penurunan rerata rasio E/A 17,6%. Sembilan dari 18 pasien yang selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin 375 mg/m2 mengalami gangguan fungsi diastolik tidak disertai gangguan fungsi sistolik. Kardiomiopati dilatasi ditemukan pada satu pasien setelah mendapat dosis kumulatif doksorubisin 300 mg/m2 dan satu pasien setelah mendapat dosis 675 mg/m2. Pasien berusia ≥10 tahun dan berjenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami penurunan fungsi sistolik dan diastolik LV setelah mendapat doksorubisin.Kesimpulan. Fungsi sistolik dan diastolik LV menurun setelah pasien mendapat terapi doksorubisin dengan dosis kumulatif 300 mg/m2. Penurunan fungsi diastolik mendahului penurunan fungsi sistolik LV. Dosis, usia, dan jenis kelamin perempuan dapat menjadi faktor risiko penurunan fungsi jantung setelah pemberian doksorubisin.
Penggunaan Granulocyte Colony-Stimulating Factor pada Pasien Tumor Padat yang Mengalami Neutropenia Rosary Rosary; Hikari Ambara Sjakti
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.707 KB) | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.428-33

Abstract

Infeksi yang terkait dengan neutropenia pasca kemoterapi merupakan salah satu penyebab morbiditas danmortalitas yang cukup sering pada pasien kanker. Neutropenia pasca kemoterapi selain akan memperpanjanglama rawat dan meningkatkan risiko infeksi, juga menyebabkan tertundanya pemberian kemoterapi danpengurangan dosis kemoterapi. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kesintasan pasien.Hematopoietic growth-stimulating factor adalah sitokin yang mengatur proliferasi, diferensiasidan fungsi sel hematopoietik. Penggunaan granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) dan granulocytemacrophagecolony-stimulating foctor(GM-CSF) saat ini banyak diteliti pada pasien kanker yang berisikomengalami neutropenia. Pemberian G-CSF pada manusia menyebabkan peningkatan neutrofil yangbersirkulasi karena berkurangnya masa transit dari sel induk menjadi neutrofil matur, oleh karenanyazat ini sering dipakai untuk mengatasi neutropenia. Tujuan penulisan untuk mengetahui kegunaanyapada pasien tumor padat yang mengalami neutropenia.
Fungsi Ginjal Pasien Thalassemia Mayor yang Mendapatkan Kelasi Besi Oral Teny Tjitra Sari; Aulia Fitri Swity; Hikari Ambara Sjakti; Eka Laksmi Hidayati; Dian Puspita Sari
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.396 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.242-8

Abstract

Latar belakang. Peningkatan angka kelangsungan hidup pasien thalassemia menyebabkan terdeteksinya berbagai penyakit komorbid termasuk komplikasi pada ginjal. Anemia kronis, kelebihan besi, dan pemakaian kelasi besi, terutama kelasi besi oral diduga berpengaruh pada fungsi ginjal. Berbagai derajat disfungsi tubular dan abnormalitas laju filtrasi glomerulus (LFG) dideteksi dengan berbagai macam pemeriksaan. Tujuan. Membandingkan laju filtrasi ginjal (tubulus dan glomerulus) pada pasien thalassemia yang mendapatkan kelasi besi oral.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di Pusat Thalassemia RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada bulan Maret – Juli 2017. Kriteria inklusi adalah pasien thalassemia major berusia <18 tahun, dan telah mendapatkan kelasi oral minimal selama 1 tahun. Kriteria eksklusi adalah pasien telah memiliki penyakit atau kelainan ginjal sebelumnya dan menggunakan kelasi besi kombinasi. Pasien menjalani pemeriksaan hematologi, kreatinin serum, feritin serum, dan pengambilan urin pagi sewaktu untuk pemeriksaan kadar kalsium dan kreatinin urin sewaktu.Hasil. Penurunan nilai LFG pada 15 pasien deferipron (DFP) 53,6%, tetapi masih dalam batas normal, sedangkan 12 pasien deferasirox (DFX) 46,2%. Tidak ada perbedaan bermakna antara fungsi tubular ginjal yang dinilai berdasarkan rasio kalsium kreatinin urin pada pasien thalassemia yang mendapatkan DFP dibandingkan dengan DFX. Terdapat 1 (3,6%) pasien dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFP dan 7 pasien (12,9%) dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFX.Kesimpulan. Terdapat penurunan fungsi ginjal pada pasien yang mendapat kelasi besi oral, walaupun hal ini tidak bermakna. Pemeriksaan fungsi tubular maupun glomerular ginjal pasien thalassemia mayor perlu dinilai secara berkala, mengingat penggunaan kelasi besi jangka panjang dan cukup tingginya angka kejadian penurunan LFG dan hiperkalsiuria. Pemeriksaan rasio kalsium kreatinin urin maupun LFG perlu diukur pada saat pasien kontrol bersamaan dengan pemeriksaan kreatinin serum.
Pola Infeksi pada Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak Hikari Ambara Sjakti; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 13, No 6 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.6.2012.426-30

Abstract

Latar belakang. Leukemia mieloblastik akut cenderung memiliki risiko terkena infeksi yang lebih tinggi dibandingkan keganasan lainnya. Angka kematian pada pasien LMA di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM cukup tinggi, dan sebagian besar disebabkan oleh infeksi atau sepsis.Tujuan. Mengetahui gambaran infeksi yang terjadi pada pasien LMA di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.Metode. Penelitian deskritifretrospektif dilakukan terhadap rekam medis pasien anak penderita LMA yang terdiagnosis antara Januari 2007-Desember 2010. Hanya pasien yang memiliki data biakan darah atau urin yang diikutsertakan pada pada penelitian ini. Data hasil biakan dan luaran pasien dikumpulkan dan dianalisis. Hasil. Terdapat 93 pasien baru LMA yang terdiagnosis selama kurun waktu penelitian, namun hanya 37 pasien yang memiliki data biakan darah atau urin. Enam belas dari 39 biakan darah dan 26 dari 42 biakan urin tumbuh bakteri yang sebagian besar adalah bakteri Gram negatif. Tujuh belas dari 23 pasien yang meninggal pada penelitian ini disebabkan oleh sepsis. Angka kematian akibat sepsis ini cenderung lebih tinggi dibandingkan penelitian lain. Hal ini mungkin terkait dengan toksisitas kemoterapi dan fasilitas perawatan khusus pasien imunokompromais yang tidak memadai. Kesimpulan. Penyebab kematian tersering pada pasien LMA adalah infeksi bakteri Gram negatif. Perawatan suportif yang baik akan menurunkan kejadian komplikasi infeksi pada psien LMA yang menjalani kemoterapi.
Pengaruh Kadar Hemoglobin Pre-transfusi dan Feritin Serum terhadap Pertumbuhan Fisik Pasien Thalassemia β Mayor Cece Alfalah; Dewi A. Wisnumurti; Endang Windiastuti; Hikari A. Sjakti; Dwi Putro; H.F. Wulandari; Yoga Devaera
Sari Pediatri Vol 19, No 6 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.6.2018.349-55

Abstract

Latar belakang. Kadar hemoglobin pre-transfusi dan feritin serum memengaruhi pertumbuhan anak dengan thalassemia β-mayor. Penelitian tentang thalassemia sudah dilakukan di Indonesia, tetapi penelitian tentang hubungan thalassemia dengan pertumbuhan fisik masih terbatas.Tujuan. Mengetahui pengaruh kadar Hb pre-transfusi dan feritin serum terhadap pertumbuhan fisik pasien thalassemia β-mayor.Metode. Penelitian berupa analitik observasional potong lintang, menganalisis pengaruh kadar Hb pre-transfusi dan feritin serum terhadap parameter (perawakan pendek dan sangat pendek, gizi kurang dan buruk, usia tulang yang terlambat). Dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2017 pada pasien thalassemia β-mayor yang berobat ke Thalassemia-Centre RSUD Pekanbaru.Hasil. Subjek 41 orang, rentang usia 18-204 bulan. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan (53,7% vs 46,3%). 40% subjek mengalami retardasi pertumbuhan. Terdapat korelasi bermakna antara kadar Hb pre-transfusi dengan Z-score TB/U (r=0,507, p=0,001) dan LILA/U (r=0,467, p=0,02). Hb pre-transfusi berpengaruh terhadap interpretasi duduk/umur (p=0,007, IK95%: -1,5 - -0,3), subischial leg length/umur (p=0,002), tetapi tidak pada interpretasi rasio segmen atas/bawah dan usia tulang. Hasil berbeda pada kadar feritin yang tidak memiliki korelasi terhadap semua variabel.Kesimpulan. Terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik antara kadar Hb pre-transfusi dengan parameter penelitian serta tidak terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik antara kadar feritin serum dengan parameter tersebut.
Hasil Pengobatan Leukemia Mieloblastik Akut pada Anak Hikari Ambara Sjakti; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.544 KB) | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.40-5

Abstract

Latar belakang. Leukemia mieloblastik akut (LMA) merupakan penyakit keganasan yang sering ditemukan pada anak. Hasil pengobatan LMA di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM dalam satu dekade terakhir belum pernah dievaluasi. Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien LMA dan evaluasi hasil pengobatan serta protokol pengobatan.Metode. Penelitian deskritif dilakukan secara retrospektif terhadap rekam medis pasien LMA yang didiagnosis antara Januari 2007-Desember 2010 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Karakteristik pasien secara klinis dan laboratoris dicatat, dan hasil pengobatan dianalisis. Estimasi kesintasan dihitung menggunakan metode Kaplan-Meier dengan bantuan program statistik.Hasil. Selama rentang waktu penelitian didapatkan 93 pasien baru LMA. Overall survival (OS) adalah 46,2% (95% IK: 21,1%;31,2%) dan event-free survival(EFS) 6,5% (95% IK: 3,1%;6,2%). Angka loss to follow-upmencapai sepertiga jumlah pasien yang mempengaruhi hasil estimasi kesintasan (overall survival). Rendahnya EFS disebabkan oleh angka kematian yang tinggi mencapai 50 dari 93 pasien dan 62% di antaranya disebabkan oleh sepsis.Kesimpulan. Keberhasilan pengobatan LMA masih sangat rendah dibandingkan laporan penelitian dari negara lain. Faktor yang paling berperan terhadap hal ini adalah kematian yang tinggi akibat infeksi berat atau sepsis. Komplikasi infeksi mungkin terjadi akibat toksisitas obat dan fasilitas perawatan untuk pasien LMA kurang memadai. Stratifikasi risiko pasien LMA dan evaluasi protokol kemoterapi yang diberikan serta penyediaan fasilitas perawatan yang baik akan memperbaiki hasil pengobatan LMA
Comparison of surgical vs. non-surgical closure procedures for secundum atrial septal defect Mazdar Helmy; Mulyadi M. Djer; Sudung O. Pardede; Darmawan B. Setyanto; Lily Rundjan; Hikari A. Sjakti
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 2 (2013): March 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.18 KB) | DOI: 10.14238/pi53.2.2013.108-16

Abstract

Backgi-ound Surgery has been the standard therapy for secundumatrial septa! defect (ASD) closure, but it has significant associatedmorbidities related to st ernotomy, car diopulmonary bypass,complications, residual scars, and trauma. A less invasive nonsurgicalapproach with transcatheter devices was developed toocclude ASD. Amplatzer® septa! occluder (ASO) is a commondevice in transcatheter closure.Objective To compare two secundum ASD closure procedures,transcatheter closure by ASO and surgical closure, in terms ofefficacy, complications, length of hospital stay, and total costs.Methods A retrospective analysis was performed on childrenwith secundum ASD admitted to the Cardiology Center ofCipto Mangunkusumo Hospital from January 2005 to December2011. Patients received either transcatheter closure with ASOor surgical closure procedures. Data was obtained from patients'medical records.Results A total of 112 secundum ASD cases were included in thisstudy, consisting of 42 subjects who underwent transcatheter closureprocedure by ASO and 70 subjects who underwent surgical closureprocedure. Procedure efficacies of surgery and ASO were not significantlydifferent (98.6% vs 95.2%, respectively, P= 0.555). However,subjects who underwent surgical procedures had significantly morecomplication s than subjects who underwent transcatheter closureprocedure (60% vs 28.6%, respectively, OR 1.61; 95%CI 1.19 to2.18; P= 0.001). Hospital stays were also significantly longer forsurgical patients than for transcatheter closure patients (6 days vs2 days, respectively, P< 0.0001). In addition, all surgical subjectsrequired intensive care. Transcatheter closure had a mean total costof 52.7 (SD 6.7) million Rupiahs while the mean cost of surgery was47 (SD 9.2) million Rupiahs (P< 0.0001) . Since the ASO devicecost represented 58% of the total cost of transcatheter closure, themean cost of transcatheter closure procedure without the deviceitself was less costly than surgery.Conclusion Transcatheter closure using ASO has a similar efficacyto that of surgical closure procedure. However, subjects whounderwent transcatheter closure have lower complication ratesand shorter length ofhosp ital stays than subjects who had surgery,but transcatheter closure costs are higher compared to the surgicalprocedure.
Feeding difficulties in children with cerebral palsy Hikari Ambara Sjakti; Damayanti Rusli Syarif; Luh Karunia Wahyuni; lmral Chair
Paediatrica Indonesiana Vol 48 No 4 (2008): July 2008
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi48.4.2008.224-9

Abstract

Background Children with cerebral palsy (CP) often have feedingdifficulties due to their disability. This results in inadequate calorieintake which finally leads to malnutrition. Several studies foundthat 30-90% of children with CP have feeding difficulties associ-ated with malnutrition. There has been no sufficient publisheddata about this problem in Indonesia.Objective To determine the prevalence of feeding difficulties andmalnutrition in children with CP.Methods A cross-sectional study was done from January toSeptember 2005 in the pediatric outpatient clinic of Dr. CiptoMangunkusumo Hospital (CMH). Children with CP underwentnutritional and feeding difficulties assessment. Nutritional sta-tus was determined by the ratio of body weight to body heightstandardized to CDC-NCHS 2000 growth curve and wereclassified based on Waterlow. Calorie intake was evaluated bydietary analysis and defined as adequate if it reached 13.9 kcal/em BH ± 10%. Feeding difficulties assessment included historytaking, physical examination and observation of feeding skill inthe outpatient clinic.Results Fifty-five children with CP were included in this study,most of them were spastic type, mainly spastic diplegic and spasticquadriplegic cerebral palsy (SQCP). Malnutrition was found in76% subjects, most were SQCP. Feeding difficulties were found in76% subjects, half of them were SQCP, 38% with spastic diplegic.Thirty- eight percents of the parents whose children had feedingdifficulties was not aware of these problems in their children.Parallel with data above, 78% subjects received inadequatecalorie intake.Conclusions The prevalence of undernourished and severemalnutrition in children with CP is 66% and 11% respectively.Malnutrition in CP patients tends to be related with inad-equate calorie intake due to feeding difficulties that is found in78% subjects especially those with SQCP