Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Remaja Masjid dalam Penerapan Nilai-Nilai Al-Islam Melalui Pelatihan Dasar Kepemimpinan Saleh Molla; Ardi Rumallang; Nurdin Nurdin
Madaniya Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.436

Abstract

Remaja masjid adalah salah satu komponen generasi muda pada usia mengcari jadi diri, sehingga tidak sedikit yang kemudian terpengaruh nilai kebarat-baratan (westernisasi), nilai-nilai amoral seperti pergaulan bebas, kebiasaan minum khamar, dan lain-lain sehingga identitas sebagai generasi muda Islam sering menjadi baur, padahal mereka adalah generasi harapan bangsa dan ummat yang kelak akan menjadi pemimpin, oleh karena itu diperlukan peneguhan kembali nilai-nilai Islam, melalui pengabdian masyarakat yang dikemas dalam pelatihan dasar kepemimpinan dengan menerapkan nilai-nilai Al-Islam. Tujuan pengabdian adalah memberi pemahaman kepada remaja masjid tentang kepeminpinan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam. Metode pengabdian melalui ceramah dan diskusi Kelompok. Hasil post test yang dilakukan setelah kegiatan menunjukkan bahwa peserta yang berjumlah 30 orang telah memahami tentang kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, terutama tentang aqidah, ibadah, dan akhlak dengan nilai rata-rata 85 dari nilai-nilai rata berkisar 55 ketika dilakukan pratest. Manfaat pertama yang dari pengabdian ini kepada mitra adalah mitra memiliki wawasan tentang kepemimpinan yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Manfaat kedua adalah remaja dapat menghindari kegiatan yang tidak produktif. Kesimpulan dari pengabdian ini adalah remaja masjid Al-Aqabah Desa Bissoloro telah memahami dan menyadari bahwa seorang pemimpin harus mampu menginternalisasi nilai-nilai al-Islam dalam kepeminpinan pada masa yang akan datang ketika mereka menjadi pemimpin.
Analisis Penguasaan Lahan Petani Sawah Urban dan Keberlanjutan Pertanian Secara Ekologi Nurdin Mappa; Saleh Molla; Ardi Rumallang
Jurnal Ilmiah Membangun Desa dan Pertanian Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Agribusiness, Halu Oleo University Jointly with Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37149/jimdp.v9i1.433

Abstract

Land tenure for farmers is very urgent because land is one of the natural resources that is a place to do farming. Without farming land, it isn't easy to carry out. Recently, land tenure for farmers has decreased, and some farmers even have almost no land to work on. One of the components of farmers experiencing a land crisis is farmers living in urban areas, especially those living on the city's outskirts. This study aims to analyze land tenure institutions for urban farmers and the ecological sustainability of agriculture in the Bangkala sub-district, Manggala sub-district, Makassar City. This research lasted for three months, from June 2021 to August 2021. This study used 21 rice field farmers as informants, determined by the snowball method. How does one urban farmer know as a paddy rice manager? So far, he knows enough other urban farmers. They provide information on other farmers who can provide data, and so on, until the researcher gets information on 21 people. This method is used because urban farmers are hard to find. The data is in the form of primary data obtained through saturated or in-depth interviews, namely obtaining the same or repeated answers from informants using interview sheets. In contrast, secondary data is obtained through available documents to support this research, and the data analysis technique used is a qualitative descriptive analysis. The results showed that the total land tenure by farmers was 18.13 hectares, all of whom were cultivators with a land tenure system through leasing or sakap. On average, per farmer only controls 0.86 hectares of land per person. The control of paddy fields is getting narrower. Based on this condition, land tenure by urban farmers in Bangkala Village, Manggala District, cannot be expected to support ecologically sustainable agriculture.