Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Metode Rehabilitasi Spiritual Hypnosis Motivation Theraphy pada Pasien Skizofrenia di Ponpes Nurul Firdaus Ciamis Firdaus, Fiqri Nurul; Agustina, Citra Fitri; Arifandi, Firman
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i2.3271

Abstract

Gangguan skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima, dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukan emosi, merasakan dan menunjukan emosi dan berprilaku dengan sikap yang kurang dapat diterima secara sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah metode SHOT dan bagaimana proses rehabilitasi yang dilakukan pada orang dengan skizofrenia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif observasional., Tahapan analisis dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, analisis, dan simpulan. Hasil penelitian menunjukan penerapan metode SHOT pada pasien Skizofrenia di Lembaga Rehabilitasi Mental Nurul Firdaus dapat mengembalikan fungsi kehidupan baik dari aspek fisik,sosial,spiritual dll tetapi tidak dapat menghilangkan atau menyembuhkan gejala dari skizofrenia. 
Pengaruh Adiksi Internet dengan Pola Tidur Malam Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2021 dan 2022 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Dilvianika, Rilla; Kamal Anas; Agustina, Citra Fitri; Karimulloh
Junior Medical Journal Vol. 2 No. 6 (2024): February 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v2i6.4122

Abstract

Kecanduan internet sangat berkembang pesat dan mengkhawatirkan di seluruh dunia. Adiksi internet dapat menimbulkan masalah psikologis dan fisik seperti mata kering, nyeri punggung, dan pola tidur yang buruk. Salah satu faktor yang memicu terjadinya pola tidur yang buruk adalah mengakses internet menggunakan perangkat elektronik. Penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa fakultas kedokteran Universitas YARSI Angkatan 2021 dan 2022 yang sudah diambil menggunakan Nonprobability purposive sampling dengan jumlah 100 responden dan dianalisis menggunakan uji spearman rank. Berdasarkan penelitian terdapat 62 responden (62%) yangmengalami adiksi internet dan mayoritas mengalami adiksi ringan sebanyak 41 responden (41%). Berdasarkan pola tidur terdapat 85 responden (85%) yang mengalami pola tidur yang buruk. Terdapat hubungan yang positif dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah sehingga tidak terdapat korelasi yang signifikan antara pengaruh adiksi internet dengan pola tidur.
Laporan Kasus : Gejala Psikotik pada Pasien dengan Riwayat Epilepsi disertai Komorbid Penyalahgunaan Obat-Obatan dengan Ciri Kepribadian Antisosial PRATAMA, MAULANA YUDHA; Ahdimar, Friendy; Maryudhiyanto, Liko; Agustina, Citra Fitri
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.4824

Abstract

Gejala psikotik adalah tanda yang menunjukkan gangguan dalam pemikiran, persepsi, atau perilaku seseorang. Gejala psikotik dapat muncul dalam berbagai kondisi mental, termasuk halusinasi organik. Pada kasus Tn. K, laki-laki 20 tahun, datang dibawa oleh keluarga dengan keluhan utama yaitu pasien merasa terganggu dengan bisikan-bisikan di telinganya serta. Menurut keluarga, pasien menunjukan sikap-sikap yang tidak biasa seperti bicara sendiri, perilaku kadang-kadang aneh seperti sifat kekanak-kanakan, sulit tidur, emosi tanpa sebab, memarahi setiap orang yang berinteraksi dengannya, selalu curiga dengan lingkungan sekitar dan selalu keluar rumah bahkan ketika malam hari. Keluarga pasien mengaku bahwa pasien memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan tramadol dan hexymer sejak 1 bulan yang lalu. Pasien juga memiliki riwayat epilepsi sejak usia 10 bulan sampai sekarang, kejang terakhir 1 hari SMRS. Pasien juga menunjukkan halusinasi auditorik dan waham rujukan. Diagnosis adalah Halusinosis Organik dengan GAF 40-31. Kasus ini menunjukkan bahwa pasien dengan riwayat epilepsi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan psikotik. Temuan dalam laporan kasus ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian yang ada mengenai dampak penyalahgunaan zat seperti Trihexyphenidyl dan tramadol terhadap perkembangan gejala psikotik. Pada pasien ini juga menunjukkan ciri kepribadian antisosial yang dimana belum memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian antisosial (ASPD). Tatalaksana psikotik akibat kondisi medis umum utama adalah mengobati kondisi medis umum yang menyebabkan psikotiknya tersebut melalui pemberian psikofarmaka dan psikoterapi yang tepat. Prognosis bergantung pada reversibilitas dari penyakit yang mendasarinya dan kemampuan otak untuk menahan pengaruh penyakit dasarnya.
Prevalensi Sindrom Metabolik Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta Barat dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Naya, Nur Afifah Inayah; Agustina, Citra Fitri; Anshar, Fazlurrahman; Eliana, Fatimah
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.5037

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang menyebabkan delusi, halusinasi, dan gangguan dalam berpikir, persepsi, serta perilaku. Pengidap skizofrenia sering mengalami peningkatan risiko sindrom metabolik, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia, peningkatan kadar gula darah puasa, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi sindrom metabolik pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, serta distribusinya berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasi deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan melakukan pengukuran fisik seperti lingkar pinggang, tekanan darah, dan kadar gula darah puasa. Analisis data menggunakan analisis univariat Hasil dan Simpulan: Sampel penelitian terdiri dari 58 pasien skizofrenia yang dirawat inap di rumah sakit di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa sindrom metabolik dialami oleh 22 orang (37,9%), sementara 36 orang (62,2%) tidak menderita sindrom metabolik. Sindrom metabolik lebih banyak terjadi pada pasien perempuan (51,7%) dibandingkan laki-laki (24,1%). Selain itu, prevalensi sindrom metabolik lebih tinggi pada pasien berusia >25 tahun (46,5%) dibandingkan pasien berusia <25 tahun (13,3%). ABSTRACT Introduction: Schizophrenia is a severe mental disorder characterized by delusions, hallucinations, and disruptions in thinking, perception, and behavior. Individuals with schizophrenia often face an increased risk of metabolic syndrome, which includes central obesity, dyslipidemia, elevated fasting blood glucose, and hypertension. This study aims to determine the prevalence of metabolic syndrome among schizophrenia patients at Soeharto Heerdjan Hospital and its distribution based on gender and age groups. Methodology: This study employed a quantitative approach with a descriptive observational design. Primary data were collected through physical measurements, including waist circumference, blood pressure, and fasting blood glucose levels. Data analysis was conducted using univariate analysis. Results and Conclusion: The study involved 58 schizophrenia patients hospitalized at Soeharto Heerdjan Hospital. The findings revealed that 22 patients (37.9%) were diagnosed with metabolic syndrome, while 36 patients (62.2%) did not have the condition. Metabolic syndrome was more prevalent among female patients (51.7%) compared to male patients (24.1%). Additionally, the prevalence of metabolic syndrome was higher in patients aged >25 years (46.5%) than those aged <25 years (13.3%).
Terapi Budaya: Putus Pengobatan pada Skizofrenia Paranoid Ulviena, Lulu; Frijanto, Agung; Agustina, Citra Fitri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 2 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.052.10

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis dengan gejala positif, negatif, dan kognitif, dengan tipe paranoid paling sering dijumpai. Kekambuhan dialami sekitar 80% pasien, terutama akibat penghentian obat. Dilaporkan kasus pria 25 tahun dengan riwayat skizofrenia paranoid yang mengalami kekambuhan setelah 1 tahun putus obat. Gejala berupa halusinasi auditorik-visual, waham kejar dan pengendalian, perubahan perilaku, serta peniruan tokoh. Diagnosis ditegakkan sebagai F20.0 Skizofrenia Paranoid dengan GAF 51–60. Terapi diberikan risperidone 3 mg dua kali sehari serta edukasi kepatuhan. Diskusi menekankan bahwa kekambuhan umumnya dipicu putus obat, sehingga kepatuhan merupakan faktor kunci dalam pencegahan relaps. Optimalisasi terapi memerlukan kombinasi antipsikotik, intervensi psikososial, dan dukungan keluarga. Kasus ini menegaskan pentingnya terapi jangka panjang dan edukasi berkelanjutan untuk mempertahankan perbaikan gejala serta kualitas hidup pasien. Selain itu, terapi memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan lingkungan budaya.
Self-Harm Behavior Among Medical Profession Students at YARSI University and its Review from an Islamic Perspective Hartono, Animas Arum Kholifah; Agustina, Citra Fitri; Karimulloh, Karimulloh; Pusparini, Miranti
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 2 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i2.52827

Abstract

Self harm behavior is a deliberate act of injuring oneself without suicidal intent, often emerging as a response to emotional distress. Medical clerkship students are vulnerable to such behavior due to academic pressure, clinical responsibilities, and psychological stress, which can affect both mental health and academic performance. This research aims to describe the level of self harm tendency, its psychological and academic impacts, and to examine this behavior from an Islamic perspective among medical clerkship students at YARSI University. This research employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach involving 96 medical clerkship students. Data were collected using the 22-item Self-Harm Inventory (SHI) questionnaire and analyzed descriptively using IBM SPSS Statistics version 26. The mean SHI score was 28.99, with most respondents categorized as having a low self-harm tendency (85.4%), followed by moderate (13.5%) and high (1%) tendencies. The majority also exhibited low levels of psychological and academic impact, although a small proportion experienced emotional instability and decreased learning motivation. Overall, most students demonstrated a low tendency toward self-harm, yet those with moderate to high scores require particular attention. In Islam, self harm is prohibited as it contradicts the principle of ḥifẓ al-nafs (protection of life). It is recommended that universities provide accessible counseling services, mental health support, and spiritual guidance programs as preventive and promotive measures to help students manage academic and emotional stress more adaptively.
Self-Harming Behavior Among Students in the Medical Program at Yarsi University and Its Review From an Islamic Perspective Nabilla, Fudia Zalza; Agustina, Citra Fitri; Karimulloh, Karimulloh; Pusparini, Miranti
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 2 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i2.52879

Abstract

Self-harm is a self-injurious behavior that commonly occurs among young adults, including medical students who are highly susceptible to academic and psychological stress. This study aims to describe the tendency of self-harm among medical students at YARSI University and review it from an Islamic perspective. A quantitative descriptive design was applied using the Self-Harm Inventory (SHI) as the research instrument. The study involved 141 participants selected through total sampling, and the data were analyzed descriptively. The findings revealed that all respondents (100%) exhibited a tendency toward self-harm, with an average score of 30.11 (range 22–71). Most respondents were categorized as low (49.6%), followed by moderate (34.8%) and high (15.6%). The majority experienced low levels of psychological and academic impact. Predominantly, respondents were female, 20 years old, and from the 2022 cohort. From an Islamic perspective, self-harm is strictly prohibited as it represents self-destruction, aligning with the prohibition stated in Surah An-Nisa :29. These findings underscore the need for comprehensive interventions that combine psychological support, academic guidance, and spiritual reinforcement to prevent self-harm among medical students.