Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisa Drop Tegangan pada Feeder K3 Gardu Induk Kota Kabupaten Ida Widihastuti; Dedi Nugroho
TRANSISTOR Elektro dan Informatika Vol 4, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/ei.4.3.208-217

Abstract

Feeder 3 Gardu Induk Kudus memliki panjang feeder mencapai 16,62 km, oleh karena itu untuk mengantisipasi drop tegangan berlebihan maka sistem tegangan disisi pangkal feeder tersebut menggunakan tegangan 20,9 kV atau 4,5% dari tegangan standar PLN 20 kV. Untuk mengetahui unjuk kerja sistem tegangan tersebut terhadap drop tegangan di titik – titik tertentu sepanjang feeder, maka diperlukan perhitungan drop tegangan. Metode  yang digunakan dalam riset ini adalah melakukan perhitungan drop tegangan disepanjang seksi – seksi feeder  berdasarkan data-data ril, diantaranya panjang seksi feeder, jenis, ukuran dan impedansi konduktor dan beban harian rata – rata feeder. Perhitungan dilakukan untuk kondisi real time dengan tegangan 20,9 kV dan perhitungan secara simulasi dengan asumsi tegangan sumber feeder 20 kV, mengacu pada tegangan nominal PLN untuk feeder primer. Hasil simulasi memperlihatkan bahwa drop tegangan di titik ujung feder dengan tegangan real sumber 20,9 kV adalah 19,06 kV atau mengalami drop tegangan 8,88 %.   Jika merujuk pada tegangan standar PLN untuk tegangan sistem 20 kV maka batas maksimum drop tegangan diizinkan adalah 5% atau 19 kV, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem feeder tersebut diatas telah mengalami kondisi kritis, meskipun masih dapat dizinkan, namun  dampaknya beban – beban diujung feeder akan mengalami gangguan seperti ketidakstabilan tegangan karena tegangannya berada diambang kritis, oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk memperbaiki profil tegangan tersebut.
Alat Pengusir Hama Tikus Sawah Dengan Tenaga Surya Di Desa Kandangan Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan Azka Adzkiya; Dwi Prasetyo; Bara Kristanto; Ida Widihastuti
Jurnal Igakerta Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Igakerta
Publisher : IGAKERTA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70234/gzmeze86

Abstract

Hama pada tanaman padi, terutama di lahan sawah Indonesia, menjadi tantangan utama bagi petani karena dapat menyebabkan penurunan hasil panen dan kerugian ekonomi. Salah satu hama utama yang meresahkan adalah tikus sawah (Rattus argentiventer), yang sulit dikendalikan dan berdampak signifikan terhadap produktivitas pertanian. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, dengan tujuan memberikan solusi teknologi tepat guna berupa alat pengusir hama tikus berbasis tenaga surya. Alat ini dirancang untuk bekerja dengan memancarkan gelombang ultrasonik guna mengusir tikus, serta memanfaatkan energi matahari sebagai sumber dayanya. Proses pelaksanaan meliputi perancangan alat, perakitan, pengujian fungsional, dan sosialisasi kepada petani setempat. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pada frekuensi 30 kHz hingga 40 kHz, tikus mulai menunjukkan respons menghindar dan ketakutan. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu petani mengatasi gangguan hama secara efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan tanpa risiko dari penggunaan racun atau perangkap listrik
Analisis Pemanfaatan Automatic Meter Reading Guna Monitoring Pemakaian Listrik Pada Pelanggan Potensial PLN UP3 Balikpapan (Studi Kasus PT. Total Prime Engineering) Alya Dewi Ishma Wardhani; Ida Widihastuti
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 4 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v4i3.1159

Abstract

PT. PLN (Persero) UP3 Balikpapan telah mengimplementasikan sistem Automatic Meter Reading (AMR) untuk memonitor pemakaian listrik pada pelanggan potensial. Namun tantangan berupa susut non-teknis masih dihadapi, yang disebabkan oleh anomali pada kWh meter, kesalahan pembacaan manual, maupun pelanggaran pemakaian listrik. Penelitian ini berfokus pada studi kasus di PT. Total Prime Engineering, yang terdeteksi mengalami anomali pemakaian listrik melalui aplikasi AMICON pada Maret 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kesalahan pengukuran pada kWh meter pelanggan yang terintegrasi dengan sistem AMR, membandingkan hasil pengukuran data telemetering dari AMICON dengan kalibrasi langsung menggunakan alat CALMET, dan menghitung potensi kerugian finansial yang belum tertagih akibat ketidak-akuratan pengukuran. Metodologi yang digunakan adalah studi kasus dengan pengumpulan data teknis (pengukuran langsung dengan CALMET) dan data non-teknis (aplikasi AMICON dan EIS). Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaknormalan pada data pemakaian listrik pelanggan antara tanggal 7 hingga 26 Maret 2025. Pengujian langsung dengan CALMET menemukan rata-rata error meter yang signifikan sebesar -19.331%, yang melebihi batas toleransi yang diizinkan. Perhitungan potensi tagihan susulan menunjukkan perbedaan besar antara data AMICON (Rp. 1.720.271) dan data kalibrasi CALMET (Rp. 4.198.689). Hal ini menekankan pentingnya penggunaan teknologi AMR untuk mendapatkan data real-time yang lebih akurat, transparan, dan adil dalam perhitungan tagihan, serta membantu mengurangi kerugian non-teknis bagi PLN. PT. PLN (Persero) UP3 Balikpapan has implemented the Automatic Meter Reading (AMR) system to enhance the monitoring of electricity consumption among priority customers. Nevertheless, the utility continues to encounter significant challenges related to non-technical losses, which are primarily attributed to anomalies in kWh meters, inaccuracies in manual readings, and instances of electricity theft. This research focuses on a case study at PT. Total Prime Engineering, which was detected to experience electricity usage anomalies through the AMICON application in March 2025. This study aims to detect measurement errors in customer kWh meters integrated with the AMR system, compare the results of telemetering data measurements from AMICON with direct calibration using the CALMET tool, and calculate potential uncollected financial losses due to measurement inaccuracies. The methodology used is a case study with the collection of technical data (direct measurements with CALMET) and non-technical data (AMICON and EIS applications). The research results showed abnormalities in customer electricity usage data between March 7 and 26, 2025. Direct testing with CALMET found a significant average meter error of -19.331%, exceeding the permitted tolerance limit. Calculation of potential follow-up bills showed a significant difference between AMICON data (Rp. 1.720.271) and CALMET calibration data (Rp. 4.198.689). This underscores the importance of using AMR technology to obtain more accurate, transparent, and fair real-time data in bill calculations, as well as help reduce non-technical losses for PLN.
CALCULATION OF POWER LOSS DURING THE CALIBRATION PROCESS OF AGED PREPAID APP METERS Saddam Saddam; Ida Widihastuti
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9000

Abstract

The decreasing accuracy of prepaid APP meters that have been in operation for more than ten years causes energy measurement deviations, resulting in power losses that impact the electricity provider’s revenue. This study aims to analyze the magnitude of power losses caused by calibration inconsistencies in old prepaid APP meters in the PLN ULP Tanjung Redeb area. The research method includes technical observation of APP meters, accuracy testing using portable test equipment and the Hioki CM 3286 clamp meter, and analysis of customer energy consumption data four months before and after meter replacement. The results show that old prepaid APP meters exhibit energy measurement deviations exceeding the ±1% tolerance limit for Class 1 accuracy meters, with error values reaching more than 10%, leading to under-registration. Comparison of energy consumption data indicates a significant increase in recorded energy after meter replacement, implying substantial power losses in old meters. These findings confirm that old prepaid APP meters no longer meet measurement accuracy standards and may cause economic losses to the electricity provider. Therefore, periodic calibration and systematic replacement of aging meters are essential to reduce non-technical losses.PERHITUNGAN RUGI DAYA PADA PROSES KALIBRASI APP METER PRABAYAR GENERASI LAMAPenurunan akurasi pada APP (Alat Pembatas dan Pengukur) meter prabayar yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun menyebabkan deviasi pengukuran energi dan memunculkan rugi daya (losses) yang berdampak pada kerugian penyedia listrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis besarnya rugi daya yang ditimbulkan akibat ketidaksesuaian kalibrasi pada APP meter prabayar generasi lama di wilayah PLN ULP Tanjung Redeb. Metode penelitian meliputi observasi teknis APP, pengujian akurasi menggunakan alat portable test equipment dan tang ampere Hioki CM 3286, serta analisis data konsumsi energi pelanggan empat bulan sebelum dan sesudah penggantian meter. Hasil penelitian menunjukkan adanya deviasi pengukuran energi pada APP prabayar generasi lama yang melampaui batas toleransi standar ±1% kelas akurasi 1, dengan nilai error mencapai 7,18% dimana nilai ini jauh melampaui batas toleransi error SPLN (±5%) sehingga menyebabkan pencatatan energi lebih kecil dari aktual (under register). Perbandingan data konsumsi energi menunjukkan peningkatan energi tercatat setelah penggantian meter, yang mengindikasikan adanya rugi daya signifikan pada meter generasi lama. Setelah dilakukan program penggantian APP meter prabayar generasi lama, pendapatan PLN meningkat sebesar Rp 323.237,16/tahun. Hasil ini membuktikan bahwa program penggantian meter prabayar generasi lama layak dan efisien secara ekonomi. Oleh karena itu, kalibrasi berkala dan program penggantian meter generasi lama menjadi langkah strategis untuk mengurangi losses non teknis