Sutanto Sutanto
Teknik Geologi UPN "Veteran" Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PALEOEKOLOGI DAN PALEOIKLIM DAERAH TANJUNG JABUNG BARAT, JAMBI Sapto Kis Daryono; Carolus Prasetyadi; Sutanto Sutanto; Eko Teguh Paripurno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i2.9510

Abstract

Lintasan Oligosen-Miosen yang tersingkap di Lintasan Stratigrafi Lubuk Lawas dan Lubuk Bernai di Bukit Tigapuluh, Subcekungan Jambi, Indonesia, mengarsipkan sisa-sisa vegetasi khatulistiwa pada saat pemanasan global yang ekstrem dan mendekati permulaan tumbukan mikrokontinen Jawa Timur-Eurasia, diteliti dengan menggunakan pemetaan permukaan, stratigrafi dan palinologi.  ingkungan pengendapan berubah dari waktu ke waktu, melewati dari cekungan tektonik yang sempit dan bersisi curam, selama Oligosen Awal hingga Akhir, diikuti oleh suatu cekungan lakustrin hingga palustrin dengan pengaruh lautan, sebagai akibat dari pergerakan distensif E-W antara Sesar Jambi dan Sesar Sunda di Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah.Variasi fosil polen penentu ekologi dan iklim masa lalu berkembang Palynomorph Marine, Palynomorph Continentaldengan sublingkungan Mangrove-Backmangrove, Peat Swamp, Freshwater Swamp, Freshwater Algae, Riparian dan Montane. Terjadinya serbuk sari angiosperma yang sangat beragam secara taksonomi di ketiga zona palinologi membuktikan flora tropis daratan dan dekat pantai yang sangat kaya di bawah rezim curah hujan musiman yang kuat. Iklim tetap hangat dan menjadi semakin lembab menjelang akhir Miosen.Kata Kunci : Oligosen, Miosen, Paleoekologi, Paleoiklim, Tanjung Jabung Barat, Jambi
GEOLOGI DAN PENGAYAAN ENDAPAN MINERAL TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG (UTJ) SEKUNDER PLACER DAN TAILING DAERAH CAMBAI SELATAN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI BANGKA BELITUNG Dwi Aji Disastra; Sutarto Sutarto; Sutanto Sutanto
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v8i1.9609

Abstract

Lokasi penlitian terletak secara administratif pada daerah Desa Cambai, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan koordinat kavling lapangan lokasi penelitian pada Universal Tranverse Mercator (UTM) zona 48S pada 622.275 mE – 629.503 mE dan 9.747.050 mN – 9.752.452mN. 35 km2 (7 km x 5 km). Secara geomorfologi daerah telitian dibedakan menjadi 4 bentukasal yakni bentukasal antropogenik, vulkanik, struktural, dan fluvial, dimana bentukasal antropogenik terbagi atas bentuklahan pit, dan tailing, bentukasal vulkanik yakni bentuklahan bukit intrusi granit, bentukasal struktural berupa bentuklahan bukit struktural dan bentukasal fluvial berupa dataran alluvial. Stratigrafi daerah telitian diurutkan dari yang paling tua yakni terdiri atas Satuan Batupasir Tanjunggenting kemudian Satuan Granit Klabat dan Endapan Alluvial. Struktur Geologi yang berkembang adanya kekar dan kekar berpasangan pada singkapan batupasir dan batu granit dengan arah umum tegasan utama berarah utara timur laut – selatan barat daya (NNE – SSW). Berdasarkan analisis XRF dan ditambah analsisis petrografi bahwa berkembang potensi timah dan mineral tanah jarang sekunder pada daerah endapan placer dan endapan tailing dengan sumber pembawa intrusi GranitKlabat. Analisis Petrografi menunjukkan keterdapatan mineral-mineral pembawa UTJ pada batuan Granit Klabat, seperti mineral Allanit; Monazite; dan Zirkon. Genesa MIT yang ada di Kecamatan Cambai merupakan tipe letakan (sekunder) sebagai hasil proses rombakan dan sedimentasi. menunjukkan sketsa dari genesa MIT di mana MIT bersumber dari bukit intrusi formasi Granit Klabat yang mengalami rombakan atau erosi tertransportasi. Berdasarkan analisis XRF Sn tertinggi terdapat pada endapan Tailing adalah sebesar 630 ppm pada LP 110, UTJyang paling tinggi pada endapan alluvial adalah pada unsur pada lp 4 dengan 340 ppm Ce, 129 ppm La, 114 ppm Nd, dan Y 142 ppm. Sn tertinggi terdapat pada endapan Tailing adalah sebesar 630 ppm pada LP 110, UTJ paling tinggi pada endapan tailingadalah pada unsur pada lp 19 dengan 340 ppm Ce, 129 ppm La, 114 ppm Nd, dan Y 142 ppm.Kata-kata Kunci : Geomorfologi, Stratigrafi, Endapan Alluvial, Timah, Unsur Tanah Jarang, Granit Klabat, Batupasir Tanjunggenting, Tambang Terbuka.
PALEOENVIRONMENT ENDAPAN PALEOGEN, DAERAH SUNGAI KETALO- MALAKO, JAMBI Sapto Kis Daryono; Carolus Prasetyadi; Sutanto Sutanto; Eko Teguh Paripurno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 9, No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v9i1.9533

Abstract

Lintasan Oligosen-Miosen yang tersingkap di Lintasan Stratigrafi Sungai Ketalo dan Malako di Jambi Barat, Subcekungan Jambi, Indonesia, mengarsipkan sisa-sisa vegetasi khatulistiwa pada saat pemanasan global yang ekstrem dan permulaan tumbukan mikrokontinen Jawa Timur-Eurasia, diteliti dengan menggunakan pemetaan permukaan dan palinologi. Satuan batuan diendapkan selama satu fase sedimentasi, yaitu fase endapan kontinental, yang terdiri dari konglomerat, batupasir kerikilan dan batupasir yang mengisi cekungandiikuti oleh endapan transgresif yang terkait dengan pendalaman lingkungan cekungan. Tiga zona palinologi Meyeripollis naharkotensis (Oligosen), Florschuetzia trilobata (Miosen Awal) dan Florschuetzia levipoli (Miosen Tengah) diidentifikasi secara stratigrafi berdasarkan kelimpahan taksa polen ini di atas yang lain. Perlapisan batuan merupakan endapan dari Oligosen Awal hingga Miosen Tengah dari bawah ke arah atas. Lingkungan pengendapan berubah dari waktu ke waktu, melewati dari cekungan tektonik yang sempit dan bersisi curam, selama Oligosen Awal hingga Akhir, diikuti oleh suatu cekungan lakustrin hinggapalustrin dengan pengaruh lautan, sebagai akibat dari pergerakan distensif E-W antara Sesar Jambi dan Sesar Sunda di Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah.Kata Kunci : Oligosen-Miosen, Lingkungan Pengendapan, Sungai Ketalo-Malako, Jambi