Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Bulletin of Scientific Contribution : Geology

PETA RAWAN LONGSOR DESA NANGGERANG, KECAMATAN SUKASARI, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT MENGGUNAKAN ANALISIS KESTABILAN LERENG TIGA DIMENSI Aruan, Immanuel Hareanto; Yuniardi, Yuyun; Khoirullah, Nur; Sophian, Raden Irvan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.55505

Abstract

Pada tanggal 3 Februari 2024, terjadi longsor di Desa Nanggerang, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Longsor ini terjadi di lereng persawahan masyarakat setempat. Berangkat dari hal ini, dilakukan penelitian mengenai peta kerawanan longsor lereng lokal di Desa Nanggerang untuk memberikan informasi kepada masyarakat setempat mengenai potensi longsor yang ada. Penelitian dilakukan menggunakan analisis kestabilan lereng tiga dimensi (3D) dengan perangkat Rocscience Slide 3. Geometri lereng diidentifikasi menggunakan proses fotogrametri yang diakuisisi oleh pesawat nirawak. Sedangkan lapisan yang dibagi, yaitu top soil OH, tanah MH, dan batuan andesit terlapukkan, diidentifikasi melalui observasi lapangan dan uji laboratorium mengenai sifat fisik dan mekaniknya. Dengan memasukkan index properties ke dalam model 3D lereng hasil proses fotogrametri, perhitungan kestabilan lereng menggunakan metode Janbu dilakukan untuk mendapatkan peta rawan longsor di daerah penelitian. Hasil komputasi menunjukkan, lereng di Desa Nanggerang berada pada kondisi stabil pada kondisi kering (FK = 1,5). Sedangkan pada kondisi jenuh dan pseudo-statis lereng mengalami keruntuhan (FK <1). Oleh karena itu, disarankan untuk mengefisiensikan penggunaan lahan dan aliran pada persawahan guna mengurangi risiko terjadinya longsor.
PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA-KOTA BESAR PESISIR PANTAI UTARA JAWA (STUDI KASUS : KOTA SEMARANG) Sophian, Raden Irvan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 1 (2010): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v8i1.55904

Abstract

ABSTRACTMajor cities in the north coast of Java developed in estuarine watersheds.  Genetically, sediment material scattered in the region.  Sediments of  weathering and erosion result,  is carried by a river sediment in the river estuaries.  Characteristics of the material-forming region, is dependent upon the crushed rock by river. Phenomenon of subsidence / land subsidence occurred in this many areas. Naturally, these regions experiencing land subsidence resulting from sediment material properties. This subsidence can be caused by various factors, for example due to soil load itself, so there is a decrease naturally. Consolidation is  included in the normal consolidation. Factors considered in knowing subsidence, is a load of soil itself on each layer of fine-clastic, so that can be known susidence due to overburden load. Within a certain timeframe land subsidence is still going to happen, especially in the northern part of  Semarang city (old city) which can be resulted in a tide flood so that it must consider its handling.  Keywords: alluvial, land subsidence, consolidation, overburden, tide flood ABSTRAKKota-kota besar di pesisir pantai utara Jawa banyak berkembang di daerah muara aliran sungai. Secara genetik, di wilayah tersebut tersebar material endapan aluvial. Endapan-endapan hasil  pelapukan dan erosi terbawa oleh air sungai yang mengendap di muara sungai. Karakteristik material  penyusun wilayah sangat tergantung oleh batuan yang digerus oleh sungai tersebut. Fenomena amblesan/ penurunan muka tanah  banyak terjadi di wilayah ini. Secara alami, daerah tersebut mengalami penurunan muka tanah akibat dari sifat material endapan aluvial. Penyebab terjadinya penurunan ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, salah satunya akibat beban tanah itu sendiri, sehingga terjadi penurunan secara alami. Konsolidasi yang terjadi termasuk ke dalam normal konsolidasi.  Faktor yang diperhitungkan untuk mengetahui penurunan yang terjadi, adalah beban tanah itu sendiri pada setiap  lapisan klastika halus, sehingga dapat diketahui penurunan akibat beban overburden. Dalam jangka waktu tertentu penurunan muka tanah masih akan terjadi, terutama di kota Semarang bagian utara (kota lama) yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir laut pasang sehingga perlu dipikirkan penanggulangannya.        Kata kunci: aluvial, land subsidence, konsolidasi, overburden, banjir rob
PERAN INTENSITAS HUJAN TERHADAP STABILITAS LERENG DI DAERAH JATISARI, KECAMATAN BOJONGPICUNG, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT Sholtan, Devanya Anantasya; Sophian, Raden Irvan; Hardiyono, Adi; ., Iskandar
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 3 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i3.59017

Abstract

Pada tanggal 25 April 2024 diketahui telah terjadi peristiwa gerakan tanah di daerah Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Menurut keterangan warga sekitar, persitiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan durasi yang cukup panjang. Studi ini bertujuan untuk melihat keterkaitan hujan dengan persitiwa gerakan tanah yang terjadi di daerah Jatisari. Metode yang dilakukan pada penelitian ini meliputi pengamatan lapangan, pembuatan geometri lereng, pengujian laboratorium, dan pemodelan. Pemodelan yang dilakukan berupa analisis rembesan air hujan dengan perangkat lunak Geostudio SEEP/W dan analisis kestabilan lereng dengan perangkat lunak Geostudio Slope/W. Dari analisis tersebut diketahui hujan yang terjadi selama 12 hari dengan intensitas 1.8 mm/jam atau hujan 6 hari dengan intensitas 60 mm/jam dapat menurunkan faktor keamanan (FK) hingga rentang nilai 0.684 – 0.763. Mekanisme berkurangnya kestabilan lereng ini terjadi akibat hilangnya matric suction. Hilangnya matric suction merupakan pengaruh dari infiltrasi air hujan ke dalam permukaan lereng.
GEOTECHNICAL ENGINEERING DESIGN FOR SETTLEMENT MITIGATION IN THE DEEP FOUNDATION CONSTRUCTION AREA, NORTH SUMATRA PROVINCE, INDONESIA Malik Muhammad, Kemal; Sophian, Raden Irvan; Helmi, Faisal; Prasetyo, Rahmat Dwi; Damanhuri, Hilman
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 3 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i3.59032

Abstract

The construction project in area Y, North Sumatra will be installed with piles as the preliminary foundation for a multi-story building. The installation of these piles resulted in settlement at several boreholes points analyzed using Rocscience Settle3. The settlement ranged from 65 mm - 95 mm at over 11 boreholes over the construction area. This settlement has the potential to cause structural damage to the building, therefore geotechnical engineering is needed as a solution to prevent it. Ground improvement as geotechnical engineering can be done to support the design of safer foundations by increasing soil consistency in shallow to deep layers. Vibro compaction geotechnical engineering reduces the total settlement of the research area from 90 mm to 68 mm in BH-01, BH-04, and BH-06. In boreholes with low bearing capacity and medium settlement values such as BH-1, monitoring using a settlement gauge is required to provide efficient prevention in safe foundation planning without neglecting cost effective concern.
JENIS LONGSORAN BERDASARKAN BIDANG DISKONTINUITAS PADA TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT. PAMAPERSADA NUSANTARA DISTRIK ASMI, KALIMANTAN TENGAH Akbar, Faisal; Sophian, Raden Irvan; Muslim, Dicky; Manullang, Sahala
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 2 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i2.27598

Abstract

Kehadiran struktur geologi pada lereng tambang terbuka merupakan kerugian yang dapat menjadikan lereng tidak stabil atau rentan longsor. Analisis kinematik untuk lereng tambang terbuka merupakan salah satu aspek yang penting terhadap pengaruh struktur geologi dalam meminimalisir terjadinya tanah longsor. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi tipe longsoran pada lereng penelitian. Metode yang dilakukan yaitu dengan pengumpulan data sekunder, observasi lapangan, dan analisis kinematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lereng daerah penelitian disusun oleh material batuan sedimen berupa batupasir, batulempung, batulanau, batulempung karbonan, dan batubara. Struktur geologi yang berkembang berupa kekar dan dua buah sesar normal yang berdekatan serta memiliki strike/dip 317°E/74° dan N 296°E/35°. Akibat dari perbedaan nilai strike/dip tersebut menyebabkan sesar normal saling berpotongan yang dapat menjadi penyebab longsoran. Dengan demikian, lereng daerah penelitian memiliki potensi tipe longsoran baji sehingga perlu dipertimbangkan dalam proses penambangan selanjutnya.Kata kunci : analisis kinematik, kestabilan Lereng, struktur geologi
PENENTUAN KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN KUALITAS MASSA BATUAN PADA AREA LOWWALL PIT X PT. BUKIT ASAM TBK SUMATRA SELATAN Khodijah, Siti; Monica, Utari Sonya; Ersyari, Jordistriawan; Khoirullah, Nur; Sophian, Raden Irvan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 20, No 3 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v20i3.42691

Abstract

Daerah penelitian memiliki kondisi geologi yang cuku kompleks yaitu termasuk ke cekungan Sumatra Selatan. Formasi Muara Enim merupakan formasi penghasil batubara ekonomis pada daerah penelitian. Proses penambangan pada PT. Bukit Asam Tbk yaitu metode tambang terbuka sehingga proses penggaliannya berhubungan dengan kestabilan lereng dan sifat keteknikannya. Pit X diiterpretasikan sebagai sayap antiklin utara Muara Tiga Besar dengan jurus perlapisan batuan relatif ke arah barat laut sehingga memiliki bentuk pit relatif searah jurus perlapisan batuan. Area lowwall sebagai lereng yang didesain mengikuti kemiringan perlapisan batuan menjadi ketertarikan dalam melakukan penelitian dikarenakan berpotensi tinggi terjadi longsoran bidang sehingga perlu dilakukan analisis kualitas massa batuannya. Metode Rock Mass Rating merupakan pembobotan bersistem dalam menentukan kualitas massa batuan dan dapat digunakan untuk menilai stabilitas lereng dan rekomendasi sudut aman maksimal yang dapat diterapkan melalui Slope Mass Rating. Kaitannya dengan kualitas massa batuan, dilakukan pengamatan pada 8 titik massa batuan selain batubara pada area lowwall Pit X menggunakan metode scanline. Berdasarkan pembobotan rock mass rating, daerah penelitian terdiri dari 2 (dua) kelas massa batuan yaitu kelas III (fair rock) dan IV (weak rock). Berdasarkan slope mass rating, daerah penelitian terdiri dari lereng bad dengan stabilitas tidak stabil dan lereng normal dengan stabilitas stabil sebagian. Adapun sudut lereng yang direkomendasikan pada area lowwall berkisar antara 30°-34°. Kata kunci: area lowwall, massa batuan, RMR, SMR, sudut aman lereng
THE VOLCANIC DEPOSIT WEATHERED PRODUCT IN JATINANGOR AREA, WEST JAVA Sophian, Raden Irvan; Abdurrokhim, .; Haryanto, Iyan; Hendarmawan, .
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1242.17 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i2.13396

Abstract

ABSTRAKPembangunan di Kawasan Jatinangor dalam beberapa waktu ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Jatinangor adalah daerah baru yang dikembangkan untuk Pendidikan dari beberapa kampus seperti Unpad, ITB, IKOPIN, dan IPDN. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah penduduk tiap tahunnya dan juga menyebabkan berkembangnya infrastruktur untuk mendukung kegiatan Pendidikan di daerah ini. Untuk mengetahui hambatan dan menghindari terjadinya bencana alam di masa depan, maka harus dipahami perilaku tanah permukaan sebagai pondasi bangunan berbagai sarana prasarana. Metode penelitian meliputi pemetaan geologi teknik, pengambilan sampel tanah tidak terganggu, uji tes pit, analisis sifat petrologi atau batuan. Kondisi Geologi daerah ini terdiri dari produk vulkanik muda yang tidak terpisahhkan, yang terdiri dari breksi tufan, tuf, lahar, tuf lapilli, dan abu vulkanik yang berumur kuarter (kurang dari 2 Ma). Kondisi geomorfologi daerah ini terdiri dari dataran hingga perbukitan landai di selatan Gn. Manglayang. Berdasarkan hasil penelitian, kawasan Jatinangor memiliki distribusi tanah terdiri dari lanau hingga lempung berplastisitas tinggi (MH dan CH). Kondisi ini menyiratkan produk vulkanik yang tidak terkonsolidasi dan tanah residu semi-konsolidasi sebagai produk pelapukan dari ash dan alterasi dari tuff. Kata Kunci: Jatinangor, Sifat Fisik Tanah, Tuff, Material Vulkanik Muda belum Terpisahkan ABSTRACTThe development of jatinangor area in recent time has experienced a very rapid development. Jatinangor is the new location for Education area from several campuses such as Unpad, ITB, IKOPIN, and IPDN. This results in an increase in the number of population each year and also led to a growing development of infrastructure to support educational activities in this area. To know the obstacles and avoid the occurrence of natural disasters in the future, it should be understood the behavior of surface soil as the building foundation of various infrastructure facilities. The research method includes engineering geologic mapping, undisturbed soil sampling, test pit, petrologic or rock properties analysis. The geology of this area consists of undifferentiated young volcanic product (Qyu), containing tuffaceous breccia, tuff, lava, lapilli tuff, and volcanic ash. This product is deposited on Quaternary geologic age (less than 2 Ma). The geomorphology of this area consists of plain to hilly land at the south of Mount Manglayang. Result of this study shows that around Jatinangor area the distribution of soils consists of high plasticity silt and clay (MH and CH). This condition implies to semiconsolidated-nonconsolidated volcanic product and semi-consolidated residual soil as the weathering product of ash and tuff alterations. Keywords: Jatinangor, physical properties soil, tuff, undifferentiated young volcanic product
Aktivitas Tanah Lempung Pada Formasi Bojongmanik Terhadap Kestabilan Lereng di Daerah Cikopomayak, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat Alifahmi, Alifahmi; Sophian, Raden Irvan; Muslim, Dicky
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.745 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i3.11069

Abstract

Formasi Bojongmanik merupakan formasi yang salah satu material penyusunya merupakan batulempung. Berdasarkan pemetaan geologi teknik yang telah dilakukan daerah penelitian memiliki jenis tanah lempung berplastisitas tinggi (CH) dan lanau berplastisitas tinggi (MH) menurut klasifikasi USCS (Unified Soil Clasification System).  Kondisi tanah dengan plastisitas tinggi merupakan kondisi dimana tanah dapat merubah bentuk dengan mudah akibat adanya pengaruh kenaikan kandungan air. Aktivitas mineral lempung merupakan salah satu faktor yang mengatur kestabilan lereng, dimana tanah lempung memiliki sifat dapat menyusut dan mengembang bergantung pada kadar air. Berdasarkan nilai aktivitas lempung yang diperoleh pada daerah penelitian dengan membandingkan nilai indeks plastisitas terhadap presentase kandungan lempung didapat pada lapisan bagian atas tanah (kedalaman 0.5-1m) memiliki nilai aktivitas lempung yang tinggi (>125) dengan jenis lempung Montmorilonite dan lapisan tanah bagian bawah (kedalaman 2-4m) memiliki nilai aktivitas lempung rendah (<0.75) dengan jenis mineral kaolinite hingga aktivitas lempung normal (0.75-1.25) dengan jenis mineral illite. Meskipun nilai safety factor pada daerah penelitian lebih besar dari angka stabil yang dinyatakan oleh Bowles, yaitu diatas 1.25, bahaya longsor masih memungkinkan terjadi pada saat tanah berada dalam kondisi basah, hal ini dikarenakan kandungan air dalam lempung meningkat memicu kenaikan aktivitas lempung sehingga menyebabkan kenaikan volume pada lempung. Pada peristiwa tersebut kondisi lereng akan mengalami ketidak stabilan sehingga pergerakan massa tanah terjadi untuk mencapai titik setimbang lereng tersebut. Kata kunci: kestabilan lereng, safety factor, mineral lempung, longsor
AKTIVITAS TEKTONIK BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DI DAS CIBANTEN, PROVINSI BANTEN MATUZA, MUHAMMAD HERYOGA; Sophian, Raden Irvan; Khoirullah, Nur
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 3 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i3.35942

Abstract

Daerah penelitian secara geografi berada di DAS Cibanten, Serang, provinsi Banten. Daerah ini terdiri dari batuan vulkanik kwarter, memiliki kenampakan alam yang bervariasi dan juga terdapat sesar di sekitar daerah penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder.  Daerah penelitian dipelajari untuk mengetahui kondisi geologi, identifikasi aktivitas tektonik dengan analisis kuantitatif pada parameter morfometri berupa rasio percabangan sungai (Rb), indeks gradien sungai (SL), asimetri pengaliran (AF) bentuk sungai (Bs), serta sinusitas muka gunung (Smf). Pola kelurusan sungai dominan berorientasi barat laut-tenggara Dari keenam parameter diperoleh nilai yang menunjukkan daerah penelitian memiliki tingkat aktivitas tektonik yang bervariasi, dari aktif hingga tidak aktif, dan dominan pada tingkat aktivitas tektonik rendah hingga tidak aktif.