Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Assessment of Complete Immunization Coverage in Infants Aged 0-12 Months Liananiar Liananiar; Yuswita Yuswita; Nuraina Nuraina; Yulia Ernida; Anna Malia; Siti Rahmah
International Journal of Health and Medicine Vol. 1 No. 3 (2024): July : International Journal of Health and Medicine
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhm.v1i3.45

Abstract

Achievement of Complete Basic Immunization (IDL) in eleven Indonesian provinces in 2022 is still below the national target of 90%. The eleven provinces in question are West Sulawesi, Southeast Sulawesi, Maluku, East Nusa Tenggara, North Kalimantan, Riau, West Kalimantan, West Papua, West Sumatra, Papua and Aceh.The type of research used in this research is descriptive observational research. The data used in this study is secondary data, namely monthly reports on the results of routine immunizations for babies. It was found that the majority of basic immunization coverage for babies born in January 2022 was higher than for babies born in January 2023. Coverage for basic immunization types for babies was highest in 2022. (73.3%) was obtained from Hepatitis B, BCG, and Polio 1 immunization. The highest coverage of basic types of infant immunization in 2023 was obtained from Hepatitis B immunization (73.3%). Hepatitis B immunization received a high score for babies born in January 2022. Coverage of basic immunization types for babies born in January 2022 for types DPT-HB-Hib 1, 2, 3, Polio 2, 3, 4, received 36.7% -73, 3%, and Measles-Rubella got 33.3%. The frequency of immunization against PVC-1 (23.3%), RV-1 (6.7%), and IPV-1 (13.3%) is still low due to not visiting posyandu and giving immunizations past the immunization deadline. The average value of basic immunization coverage for babies born in January 2023 (10%) is lower than babies born in January 2022 (43.3%) with a difference of 33.3%.
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGGUNAAN METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI DESA RISEH TEUNGOH KECAMATAN SAWANG KABUPATEN ACEH UTARA Nurhasanah; Dewi Maritalia; Anna Malia
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 13 No. 2 (2025): Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v13i2.3744

Abstract

Metode kontrasepsi jangka panjang merupakan suatu program Pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Rendahnya minat penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang di Indonesia menjadi salah satu tantangan bagi Tenaga Kesehatan dalam meningkatkan promosi kesehatan tentang kontrasepsi. Di Desa Riseh Teungoh Kecamatan Sawang penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang tahun 2024 sebesar 15%. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang yaitu tingkat pendidikan serta pengetahuan akseptor tentang kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang di Desa Riseh Teungoh Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang diguna$kan berupa data sekunder yang diperoleh dari Puskesmas Sawang. Teknik pengambilan sampel secara total populasi dengan jumlah sampel 57 responden akseptor KB tahun 2025. Instrumen yang digunakan berupa lembar checklist dan analisa data multivariat menggunakan uji regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan dari jumlah sampel 57 responden, yang menggunakan kontrasepsi MKJP sebanyak 16 responden (28,1%) dan selebihnya menggunakan kontrasepsi non MKJP sebanyak 41 responden (71,9%). Dari hasil uji statistik diperoleh nilai r = 0,408 yang berarti terdapat pengaruh dengan kategori sedang antara tingkat pendidikan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang dan nilai ANOVA = 0,002 (p<0,05), yang berarti terdapat pengaruh tingkat pendidikan dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa jika tingkat pendidikan ibu menengah ke atas, maka peluang akseptor KB untuk menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang akan lebih tinggi. Saran bagi Tenaga Kesehatan supaya dapat lebih berpartisipasi dalam mengajak akseptor KB dapat menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang. Kata kunci: Kontrasepsi; MKJP; Akseptor KB; Tingkat Pendidikan