Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Impact of Child Victims 'Behavior on Judges' Light Vantages for Persons of Criminal Acts of Ability or Abuse Betra Sarianti; JT Pareke
Jurnal Penegakan Hukum Indonesia Vol. 3 No. 3 (2022): Edisi Oktober 2022
Publisher : Scholar Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51749/jphi.v3i3.91

Abstract

The Child Protection Act has given severe sanctions to perpetrators of sexual intercourse and obscene acts as regulated in Article 81 and Article 82 of the Child Protection Law with a minimum penalty of 5 years and a maximum of 15 years in prison. This study aims to determine whether the behavior of the victim's child is considered by the judge in passing a verdict on the perpetrator of sexual intercourse/obscenity and what is the basis for the judge's authority to decide cases based on the provisions of the law. The method used in this study is a normative legal research method (juridical normative) using a statute approach, a conceptual approach, and a case approach. The results of the study show that the behavior of the victim's child becomes the judge's consideration in deciding on the perpetrator. If the victim can prove that the child knows that intercourse is prohibited, and there is no attempt to refuse and continue to do, even accept something from the perpetrator, the judge will give a lighter sentence to the perpetrator of sexual intercourse/obscenity, not by the provisions of Articles 81 and 82 of Child Protection, which is at least 5 years in prison. The judge's authority to decide cases of criminal acts of sexual intercourse or obscenity based on the provisions of the law is regulated in Article 24 paragraph (1) of the 1945 Constitution in conjunction with Article 1 paragraph (1) of Law Number 48 of 2009 concerning Judicial Power which states that judges have the freedom to implement justice for the sake of law and justice.
STRATEGI MUHAMMADIYAH DALAM MENGHADAPI PELEMAHAN IDEOLOGI DAN DOKTRIN BAGI ANGGOTA PERSYARIKATAN Betra Sarianti
EL-TA’DIB: Journal of Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Univesitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/eltadib.v3i1.5684

Abstract

Ditengah arus globalisasi dan modernisasi tentu Muhammadiyah mengalami pelemahan ideologi dan doktrin bagi sebagian anggotanya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya atau strategi Muhammadiyah dalam menghadapi pelemahan ideologi bagi anggota persyarikatan. Metode yang digunakan adalah study Pustaka yang berkaitan dengan ideologi dan doktrin Muhammadiyah yang bersumber dari buku buku maupun jurnal hasil Penelitian. Hasil Penelitian dari studi ini menunjukan strategi yang dilakukan Muhammadiyah dalam menghadapi pelemahan ideologi adalah melalui: Pertama Pola rekruitmen pengelola amal usaha Muhammadiyah(guru, dosen, tenaga medis, karyawan) melalui atau dengan persetujuan Pimpinan Muhammadiyah pada level masing masing supaya didapat SDM yang betul betul berkomitmen mau mengembang Muhammadiyah. Kedua Melalui kaderisasi mulai dari Lembaga Lembaga Pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah, mengoptimalkan kenerja Majelis Pendidikan Kader dari mulai tingkat ranting, cabang da wilayah, terahir dengan memulai pengkaderan dari keluarga keluarga Muhammadiyah. Lembaga keluarga sesungguhnya memainkan peran yang cukup besar dalam mempersiapkan kader kader Muhammadiyah. Dari keluarga keluarga Muhammadiyah seharusnya pengkaderan dimulai. Kata Kunci : Ideologi, Muhammadiyah, Pengkaderan
The Impact of Child Victims 'Behavior on Judges' Light Vantages for Persons of Criminal Acts of Ability or Abuse Betra Sarianti; JT Pareke
Jurnal Penegakan Hukum Indonesia Vol. 3 No. 3 (2022): Edisi Oktober 2022
Publisher : Scholar Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51749/jphi.v3i3.91

Abstract

The Child Protection Act has given severe sanctions to perpetrators of sexual intercourse and obscene acts as regulated in Article 81 and Article 82 of the Child Protection Law with a minimum penalty of 5 years and a maximum of 15 years in prison. This study aims to determine whether the behavior of the victim's child is considered by the judge in passing a verdict on the perpetrator of sexual intercourse/obscenity and what is the basis for the judge's authority to decide cases based on the provisions of the law. The method used in this study is a normative legal research method (juridical normative) using a statute approach, a conceptual approach, and a case approach. The results of the study show that the behavior of the victim's child becomes the judge's consideration in deciding on the perpetrator. If the victim can prove that the child knows that intercourse is prohibited, and there is no attempt to refuse and continue to do, even accept something from the perpetrator, the judge will give a lighter sentence to the perpetrator of sexual intercourse/obscenity, not by the provisions of Articles 81 and 82 of Child Protection, which is at least 5 years in prison. The judge's authority to decide cases of criminal acts of sexual intercourse or obscenity based on the provisions of the law is regulated in Article 24 paragraph (1) of the 1945 Constitution in conjunction with Article 1 paragraph (1) of Law Number 48 of 2009 concerning Judicial Power which states that judges have the freedom to implement justice for the sake of law and justice.
SOSIALISASI HUKUM PAJAK SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN PAJAK BAGI PELAKU UMKM DAN MASYARAKAT KELURAHAN PEMATANG GUBERNUR Reni Indriani; Riri Tri Mayasari; Betra Sarianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ekonomi dan Bisnis Digital Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpmebd.v1i2.1117

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum pajak di kalangan warga Kelurahan Pematang Gubernur melalui sosialisasi dan Diskusi Fokus (Focus Group Discussion). Kegiatan ini diadakan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam membangun ekonomi yang kuat melalui pemahaman hukum pajak, yang sering kali terhambat oleh kurangnya pemahaman mengenai kewajiban dan hak pajak. Ketidakpahaman ini dapat menyebabkan ketidakpatuhan dan penghindaran pajak, serta rendahnya kepatuhan pajak yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kesadaran yang rendah, proses administrasi yang rumit, dan penegakan hukum yang kurang efektif. Selain itu, ketidaksetaraan ekonomi yang tinggi dapat memicu ketidakadilan dalam sistem perpajakan, sedangkan perubahan regulasi perpajakan yang sering dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan membuat masyarakat serta pelaku usaha enggan untuk mematuhi kewajiban pajak. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah sosialisasi untuk memberikan informasi dasar tentang hukum pajak dan Diskusi Fokus untuk membahas isu-isu spesifik serta mendapatkan umpan balik dari peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman tentang kewajiban pajak dan penerimaan terhadap pentingnya kepatuhan pajak di kalangan peserta. Kegiatan ini berhasil membuka dialog mengenai tantangan dan solusi dalam hukum pajak, serta memberikan wawasan tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi ketidakpastian dan ketidakadilan dalam sistem perpajakan. Kata Kunci : Kesadaran Hukum, Ekonomi, Solusi, Tantangan
The Aisyiyah Child Protection Model: A Retrospective Life-Course Analysis of Maqâshid al-Syarî‘ah in Adolescent Pregnancy Betra Sarianti; Linda Safitra
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 30, No 1 (2026): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v30i1.11037

Abstract

This article examines the Aisyiyah Child Protection Model as a transformative framework for addressing teenage pregnancy within Islamic family law in Indonesia, moving beyond formal legal marriage. Driven by the high number of requests for marriage dispensations, this study aims to evaluate the effectiveness of this non-marital support ecosystem against the legalistic enforcement of the Religious Court. Employing a qualitative-empirical approach within a retrospective life-course analysis, data were collected from a qualitative content analysis of 408 marriage dispensation case files at the Class 1A Religious Court of Bengkulu (2020-2024), alongside in-depth, open-ended interviews with key institutional and community informants. These informants included executives of Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Aisyiyah, professional social workers (Peksos), religious court judges, biological/adoptive parents, and the Head of Neighborhood Unit 16 in Rawa Makmur, Bengkulu City, who served as a 25-year community historical witness for past retrospective cases. The findings reveal a judicial paradox where judges granted 100% of dispensation petitions due to emergency pregnancies and intense parental pressure to conceal social stigma, which conversely triggered high school dropout rates and long-term socio-economic vulnerability. Conversely, the Aisyiyah Protection Model has proven highly successful in the long term. By enforcing strict conditionality for absolute educational continuity, utilizing structured family economic empowerment, and leveraging community-backed foster care systems, the model successfully secures the dimensions of hifz al-nafs (protection of life) and hifz al-nasl (protection of lineage). Longitudinal evidence demonstrates that by bypassing forced marriage, teenage mothers successfully achieved university degrees while their children transitioned into adulthood (16-20 years old) with a stable, multidimensional quality of life (hayat tayyibah). Artikel ini mengkaji Model Perlindungan Anak Aisyiyah sebagai kerangka kerja transformatif dalam menangani kehamilan remaja dalam ranah hukum keluarga Islam di Indonesia, dengan melangkah melampaui formalitas pernikahan legal. Dipicu oleh tingginya permohonan dispensasi kawin, studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekosistem pendampingan non-marital ini terhadap penegakan legalistik di Pengadilan Agama. Menggunakan pendekatan kualitatif-empiris dengan analisis alur-hidup retrospektif (retrospective life-course analysis), data dikumpulkan melalui analisis isi kualitatif terhadap 408 berkas perkara dispensasi kawin di Pengadilan Agama Kelas 1A Bengkulu (2020-2024), serta wawancara mendalam dan terbuka dengan informan kunci institusional dan komunitas. Informan tersebut meliputi pengurus Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Aisyiyah, pekerja sosial profesional (Peksos), hakim pengadilan agama, orang tua kandung/angkat, dan Ketua RT 16 Rawa Makmur, Kota Bengkulu yang bertindak sebagai saksi sejarah komunitas selama 25 tahun untuk kasus-kasus retrospektif masa lalu. Temuan penelitian mengungkap adanya paradoks yudisial di mana hakim mengabulkan 100% permohonan dispensasi akibat kehamilan darurat dan tekanan kuat orang tua untuk menutupi aib sosial, yang sebaliknya justru memicu tingginya angka putus sekolah dan kerentanan sosio-ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, Model Perlindungan Anak Aisyiyah terbukti sangat sukses dalam jangka panjang. Dengan menerapkan syarat ketat untuk keberlanjutan pendidikan mutlak, memanfaatkan pemberdayaan ekonomi keluarga yang terstruktur, dan menggerakkan sistem orang tua asuh berbasis komunitas, model ini berhasil mengamankan dimensi hifz al-nafs (perlindungan jiwa) dan hifz al-nasl (perlindungan keturunan). Bukti longitudinal menunjukkan bahwa dengan menghindari pernikahan paksa, ibu remaja sukses meraih gelar sarjana sementara anak-anak mereka tumbuh dewasa (usia 16-20 tahun) dengan kualitas hidup multidimensi yang stabil (hayat tayyibah).