Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Ibu Kota Negara yang (tak) Dirindukan: Kendi Nusantara, Jawaisme Jokowi, dan Semiologi Barthesian Nanik Yuliana; Moh Atikurrahman
Jurnal Ilmiah FONEMA : Jurnal Edukasi Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Dr. Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.698 KB) | DOI: 10.25139/fn.v5i2.5044

Abstract

Kendi Nusantara dianggap oleh beberapa kalangan sebagai simbol Jawaisme Presiden Joko Widodo. Di lain pihak, prosesi Penyatuan Tanah dan Air Nusantara (14/3/22) sebagai fokus penelitian ini dipahami bagian dari sistem lambang yang melampaui kode-kode kebahasaan terkait awal pembangunan IKN Nusantara. Pesannya jelas: Jokowi tidak ingin mengulangi langgam para pendahulunya yang memimpikan pemindahan ibu kota negara namun akhirnya kandas menjadi wacana belaka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis data Model Alir Miles & Huberman. Pokok pembahasan tertuju pada simbol dan wacana yang berserakan dalam prosesi awal pembangunan IKN Nusantara. Ritual yang kental dengan nuansa mistik menjadi sinyalemen yang khas dari seorang pemimpin berlatar kebudayaan Jawa. Kendi Nusantara menjadi representasi dari politik klenik ala Presiden Jokowi. Sebagai simbol, kendi identik dengan sistem budaya Jawa. Simbolisasi kendi sebagai bagian dari ritual mistik politik Jokowi (serta wacana-wacana yang melatarinya) ditelaah sebagai fenomena penandaan, yakni relasi antara penanda (signifier) yang konkrit dan petanda (signified) yang abstrak. Sistem tanda dalam penelitian ini menggunakan konseptual semiologi Roland Barthes yang menyakini proses penciptaan tanda selalu bersifat rumit dan kompleks (konotatif) dan tidak simplisitis (denotatif). Makna sebuah tanda yang hadir di tengah masyarakat senantiasa bersifat ambigu, dinamis, bahkan tidak jelas. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menarik kesimpulan mitos seputar ritual Kendi Nusantara adalah cara komunikasi presiden yang tidak lagi memanfaatkan kode-kode linguistik verbal. Dalam artian, tujuan dari ritual tersebut lebih tampak sebagai aksi simbolik sehubungan dengan realisasi pembangunan IKN Nusantara.
The Semiotics of Sadism in Putu Wijaya’s Nyali: A Todorov's Semiotic Perspective Annisa Rahma Sari; Moh Atikurrahman
Hortatori : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 2 (2022): Hortatori: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.154 KB) | DOI: 10.30998/jh.v6i2.1103

Abstract

Literary work is an structure of expression built from a second level semiotic system (connotative). Literary language is distinctive and different from everyday language (denotative). Elements in literature emphasize communicative elements in the form of creativity and authenticity of pronunciation (narratology). To find out the meaning of literary texts, semiotics offers a systematic approach in studying the signs contained in a literary work. This study places Nyali, a Putu Wijaya’s novel as the object of study using Tvetan Todorov's semiotic approach. In marking schemes such as literary works, Todorov divides semiotic levels into syntax, semantics, and pragmatics. The results of the study concluded that in both aspects, namely the syntax contains prepositions and sequences; Semantics shows that there are two characters that become the common thread of character and character elements, namely Kropos and General Leonel. Kropos is stubborn, strange, consistent, firm and steadfast. On the other hand, General Leonel has an arrogant, shrewd, structured and decisive character.Keywords: Nyali, Putu Wijaya, semiotic, Todorov, G30S.
KUASI NARASI, KUASA GRAMATIKA: STRATEGI INKLUSI VAN LEEUWEN DALAM PEMBERITAAN MAHASISWA TOLAK KENAIKAN HARGA BBM: Narrative Quality, Gramatic Power: Van Leeuwen's Inclusion Strategy in Student Reporting Rejecting The Increase of Fuel Price Nanik Yuliana; Adi Syaiful Muchtar; Moh Atikurrahman
TOTOBUANG Vol. 11 No. 1 (2023): TOTOBUANG: EDISI JUNI 2023
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/totobuang.v11i1.427

Abstract

Abstract News narratives ideally provide credible and accurate information for the audience. The narrative construction of the news created by the mass media (online) should contain clear and non-taxical information. However, the fact that the media tends to use language in construction makes the information reported blurry and even distorted. The purpose of this qualitative research is to reveal the strategies and performances of actors (subjects) in two news narratives, “BEM SI Demo at the Ricuh Horse Statue, Students Break through Barbed Wire” (idntimes.com) and “Demo Reject Fuel Increase at the Horse Statue Colored by Mutual Action. Push” (Tribunnews.com). The two objects will be studied using Theo Van Leeuwen's theory of discourse analysis, especially regarding the inclusion strategy, namely how a party or group is presented in the news narrative. The data collection technique was carried out with the technique of note-taking and free-to-talk, while the data analysis method used the Flow and Agih method. Based on the analysis that has been done, idntimes.com and Tribunnews.com use inclusion strategies in the form of differentiation, abstraction, and assimilation. In the news narrative, differentiation creates a contrasting effect on social actors, abstraction causes social actors and events to not appear clearly or abstractly, while assimilation makes social actors anonymous. Keywords: Theo Van Leeuwen's Discourse Analysis, rising fuel prices, inclusion strategy   Abstrak Narasi berita idealnya memberikan informasi yang kredibel dan akurat bagi khalayak pembaca. Dalam hal itu, konstruksi naratif pemberitaan yang diciptakan media massa (daring) idealnya memuat informasi yang jelas dan tidak taksa. Namun fakta media cenderung memainkan bahasa dalam kontruksi narasi membuat informasi yang diberitakan cenderung menjadi kabur dan terdistorsi. Tujuan penelitian kualitatif ini untuk mengungkap strategi dan penampilan aktor (subjek) pada dua narasi berita, “Demo BEM SI di Patung Kuda Ricuh, Mahasiswa Terobos Kawat Berduri” (idntimes.com) dan “Demo Tolak Kenaikan BBM di Patung Kuda Diwarnai Aksi Saling Dorong” (Tribunnews.com). Kedua objek tersebut akan dikaji menggunakan teori analisis wacana Theo Van Leeuwen khususnya tentang strategi inklusi, yaitu bagaimana suatu pihak atau kelompok ditampilkan dalam narasi berita. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat dan simak bebas libat cakap, sedangkan metode analisis data menggunakan metode Alir dan Agih. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, idntimes.com dan Tribunnews.com menggunakan strategi inklusi bentuk diferensiasi, abstraksi, dan asimilasi. Dalam dua narasi berita tersebut di atas, diferensiasi menimbulkan efek kontras mengenai aktor sosial; abstraksi menyebabkan aktor sosial dan peristiwa tidak tampil secara jelas alias kabur; sedangkan asimilasi membuat aktor sosial menjadi anonim.Kata Kunci: Analisis wacana, Theo Van Leeuwen, harga BBM, strategi, inklusi
ANTARA IKLAN & DAKWAH: REPRESENTASI POSTINGAN REELS RABBANI TENTANG KERUDUNG SYAR’I HINGGA ISU PELECEHAN SEKSUAL Annisa Agripina; Moh Atikurrahman; Wahidah Zein Br. Siregar
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 8 No. 4 (2023): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v8i4.233

Abstract

Artikel ini mengevaluasi unggahan akun Instagram resmi Rabbani (@rabbaniprofesorkerudung) pada 25 Desember 2022 yang bertajuk “Re-Arise”. Sebagai tema promosi produk, Re-Arise memiliki pesan bahwa tindak pelecehan seksual yang marak terjadi belakangan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pakaian (terkhusus kerudung/hijab). Tak ayal, postingan Reels  Rabbani tersebut menuai respon baik pro serta kontra. Di sisi lain, fitur Reels pada aplikasi Instagram kerapkali dimanfaatkan merek besar untuk melakukan promosi (marketing campaign). Sebagai salah satu strategi pemasaran, substansi dari kontroversi memang dibutuhkan oleh sebuah merek untuk meningkatkan popularitas produk yang ditawarkan. Re-Arise dapat dipahami sebagai sebuah tajuk promosi dengan pesan tersirat yang ditujukan pada konsumen Muslim Indonesia. Dalam artikel ini, unggahan tersebut dipahami sebagai suatu fenomena penandaan. Dengan menggunakan skema semiotik yang dipaparkan John Fiske, penelitian ini menjabarkan mengenai dimensi realitas (reality), representasi (representation), dan ideologi (ideology) dari unggahan Reels bertajuk Re-Arise yang diunggah pada akun Instagram resmi merek Rabbani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video tersebut  mempresentasikan bagaimana fenomena pelecehan seksual yang kerap terjadi dengan menampilkan hal-hal yang berkaitan. Pada level realitas, komunikasi dakwah disampaikan melalui kode gambar dan tulisan. Pada level representasi, komunikasi dakwah disampaikan melalui kode suara yang mengandung prespektif. Dan pada level ideologi, komunikasi dakwah disampaikan menggunakan ideologi agama Islam.  
Casual But Sunnah: Zaafer Indonesia and the Metamorphosis of the Robe as Fashion in Urban Muslim Communities in Indonesia Putri Berliana Candra; Moh Atikurrahman; Jiphie Gilia Indriyani
TASAMUH Vol. 21 No. 2 (2023): DA'WAH AND COMMUNITY EMPOWERMENT ACCELERATION OPPORTUNITIES AND CHALLENGES
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tasamuh.v21i2.8049

Abstract

This article discusses the shift in the image of robes from Muslim clothing (sacred or religious) to casual clothing (profane or everyday). In the context of this article, the robes produced by Zaafer Indonesia represent a change in the orientation of Indonesian Muslim OOTD from initially tending to be conservative to becoming fashionable and stylish. In this research, clothing is considered a complex sign system. On a piece of clothing, there is a message that the wearer wants to convey. By using the Saussurean semiology paradigm, this article understands that in clothing there is a system of signifiers and signifieds. Clothing is a language (language of fashion) that is built from the language and parole system. The research results show several semiotics in the robes of Zaafer Indonesia products. There is Saussure's synchronic linguistic concept, which is related to several dichotomies, such as signifier, signified, parole, and langue