Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

EFEKTIVITAS RUMPUT BEBEK (Lemna minor) DALAM PENYISIHAN KADMIUM (Cd) DAN CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) PADA LINDI TPA SAMPAH GAMPONG JAWA KOTA BANDA ACEH Juliansyah Harahap; Irhamni; Nazri Adhlani; T. Muhammad Ashari
Lingkar : Journal of Environmental Engineering Vol 3 No 2 (2022): LINGKAR : Journal of Environmental Engineering
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.034 KB) | DOI: 10.22373/ljee.v3i2.2304

Abstract

Lemna minor plant have the ability to reduce pollutant levels in Landfill leachate. The use of Lemna minor in leachate treatment was considered effective in degrading Cd and COD pollutants. The objective of this study was to determine the effectiveness and absorption rate of Lemna minor in degrading heavy metal Cd and reducing COD levels in Gampong Jawa Landfill leachate. This study used the phytoremediation method on a laboratory scale, and the leachate sampling method used the grab sampling technique. In testing both parameters, two types of test variations were carried out. First, in Reactor I, it was carried out without using an aerator, and in Reactor II, the test was carried out with the addition of an aerator. For duration, the variations of retention time were used are the third, sixth, ninth, and 12th days. The weight of the Lemna minor were used in each reactor was 35 grams for a leachate volume of 5 Liters. The results showed that Lemna minor was able to reduce pollutant levels in the Gampong Jawa Landfill leachate with the most optimal proportion of 15.92% for the heavy metal Cd, and 94.68% for the organic pollutant COD. Treatment on the 12th day for tests carried out in reactors that have an aeration system was the most effective variation in reducing the levels of Cd and COD parameters. Keywords : Lemna minor, Landfill Leachate, Phytoremediation
The Efficacy of Anaerobic Biofilter and Pre-Aeration with Microbubble Generator for Tofu Wastewater Treatment Harahap, Juliansyah; Ardhianto, Rachmad; Muliadita, Tiara Sekar; Mahdariza, Fathul; Ersa, Nanda Savira; Ashari, Teuku Muhammad
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 22, No 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v22i1.95-108

Abstract

The majority of tofu manufacturers lack the necessary infrastructure to treat wastewater, resulting in the direct discharge of wastewater into water bodies. Such practices have the potential to results in environmental pollution. This study examines the efficacy of combining anaerobic biofilter technology and pre-aeration with a microbubble generator for the treatment of wastewater generated by the tofu industry. The research focused on the impact of hydraulic retention time (HRT) on the reduction of pollutants, specifically chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), total suspended solids (TSS), and pH levels. The results indicated that prolonged HRT in the anaerobic biofilter significantly reduces pollutant concentrations. 48-hour HRT achieved reductions of 80.78% for COD, 78.53% for BOD, and 89.25% for TSS, respectively. The integration of a microbubble generator further enhanced treatment efficiency. The combination of a 48-hour anaerobic biofilter and a 180-minute microbubble generator achieved reductions of 93.82% for COD, 93.11% for BOD, and 97.5% for TSS. The effluent consistently met the pH quality standards set by the Indonesian government. The findings suggest the potential for optimizing retention times and combining anaerobic and aerobic treatments to address wastewater challenges in the tofu industry. 
PENGGUNAAN EKSTRAK KULIT SINGKONG (Manihot esculenta) SEBAGAI BIOKOAGULAN UNTUK MENURUNKAN PARAMETER PENCEMAR PADA LIMBAH CAIR RUMAH PEMOTONGAN AYAM Ashari, Teuku Muhammad; Hidayat , Fadhillah Ridha; Rohendi, Aulia
AMINA Vol. 5 No. 2 (2023): August 2023
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/amina.v5i2.4128

Abstract

Air limbah Rumah Pemotongan Ayam (RPA) terlebih dahulu harus diolah sebelum dibuang ke badan air. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar pencemar dalam air limbah RPA sesuai dengan baku mutu air limbah. Dalam penelitian ini dilakukan proses pengolahan air limbah RPA secara koagulasi-flokulasi dengan menggunakan biokoagulan ekstrak kulit singkong untuk menurunkan kadar pH, kekeruhan, TSS dan COD pada limbah RPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis biokoagulan ekstrak kulit singkong berpengaruh terhadap perubahan parameter pH, kekeruhan, TSS dan COD. Pengujian dilakukan dengan memvariasikan dosis biokoagulan yaitu 0 ml, 5 ml, 10 ml, 15 ml, 20 ml dan 25 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan nilai pH, kekeruhan, TSS dan COD paling optimum terjadi pada dosis biokoagulan 5 ml. Dosis biokoagulan sebanyak 5 ml mampu menurunkan nilai pH menjadi 7,5, menurunkan nilai kekeruhan menjadi 172,7 NTU dengan efisiensi sebesar 60,48%, menurunkan kadar TSS menjadi 220 mg/L dengan efisiensi 69,01% dan menurunkan COD menjadi 1.279 mg/L dengan efisiensi 34,97%. Biokoagulan ekstrak kulit singkong dapat menurunkan parameter pencemar pada limbah cair RPA, namun penurunan yang memenuhi baku mutu hanya pada parameter pH dan untuk parameter kekeruhan TSS dan COD mengalami penurunan namun belum memenuhi baku mutu air limbah RPA yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah.
Pembuatan Pupuk Cair dari Air Cucian Beras dan Sisa Sampah Dapur Yahya, Husnawati; Rohendi, Aulia; Ashari, Teuku Muhammad; Harahap, Juliansyah; Nur, Suardi; Fathma, Syarifah Seicha; Ginayatri, Lisa
Jurnal Inovasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/jippmas.v4i1.294

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu dari Tri Dharma perguruan tinggi bagi masyarakat. Air cucian beras dan juga limbah dapur merupakan sampah organik yang jarang dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pupuk yang ramah lingkungan. Sebagian besar sampah dapur dapat dijadikan pupuk kompos maupun pupuk cair. Tujuan dilakukan pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi bagi masyarakat tentang pemanfaatan limbah dapur dan juga air cucian beras sebagai salah satu unsur hara alami bagi tanaman. Dengan cara ini diharapkan dapat mengurangi sampah organik rumah tangga. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini berupa pemberian penyuluhan dan praktek pembuatan pupuk. Bahan yang digunakan berupa air cucian beras, gula merah dan juga sisa sampah dapur. Campuran tersebut difermentasi selama 7-10 hari. Selama proses ini berlangsung, tutup wadah dibuka sesaat untuk mengurangi kebocoran wadah akibat gas-gas hasil fermentasi yang dihasilkan oleh bakteri. Hasil fermentasi air cucian beras dan juga limbah dapur setelah 7-10 hari berwarna kecoklatan dan berbau sedikit asam. Hasil pengabdian ini berupa pupuk organik cair yang siap diaplikasikan bagi tanaman. Pengaruh pemberian pupuk terhadap tanaman belum dilakukan karena keterbatasan waktu dan akan dilakukan survei pada agenda kegiatan pengabdian berikutnya di Desa Lamreh.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ORGANIK RUMAH PEMOTONGAN AYAM (RPA) DENGAN METODE FITOREMEDIASI DENGAN TUMBUHAN KIAMBANG (Pistia stratiotes L) Ashari, Teuku Muhammad; Alfasyimi, Muhammad; Zulfahmi, Ilham
AMINA Vol. 3 No. 3 (2021): December 2021
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tumbuhan Pistia stratiotes L dalam menurunkan kadar pencemar pada pengolahan Air Limbah Rumah Pemotongan Ayam (RPA) dengan system wetlands lahan basa buatan. Perlakuan terdiri dari 2 variasi, pada bak reaktor pertama jumlah variasi tanamnya 10 tumbuhan dan pada bak kedua 20 tumbuhan. Dengan variasi waktu selama 5 hari (H5), 8 hari (H8), dan 10 hari (H10). Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah tumbuhan dan lama waktu tinggal berpengaruh terhadap penurunan kadar pencemar pada limbah RPA. Penurunan kadar pencemar yang paling efektif terjadi pada H10 pada bak reaktor yang ke 2 dengan jumlah 20 tumbuhan dengan persentase penurunan BOD sebesar 90.9%, COD sebesar 96.78%, dan TSS sebesar 96.27%. Sementara parameter pH mengalami kenaikan selama 10 hari tersebut akan tetapi masih memenuhi baku mutu limbah cair. Hasil pengukuran juga menunjukkan bahwa efektifitas penurunan kadar pencemar ditentukan oleh jumlah tumbuhan dan waktu tinggal, semakin banyak jumlah tumbuhan dan waktu tinggal maka semakin efektif dalam menurunkan BOD, COD, dan TSS.
PEMANFAATAN SERBUK BIJI KELOR (Moringa oleifera) SEBAGAI BIOKOAGULAN PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH PENATU Harahap, Juliansyah; Ashari, Teuku Muhammad; Munar, Cut Hidayatul
AMINA Vol. 4 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/amina.v4i1.2468

Abstract

Perkembangan usaha penatu memungkinkan peningkatan jumlah pemakai deterjen sehingga menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan apabila dibuang secara langsung ke perairan. Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah penatu akan mempengaruhi kualitas air yang berada di lingkungannya apabila tidak dilakukan pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis optimum serbuk biji kelor (Moringa oleifera) serta efesiensinya untuk menurunkan parameter COD, TSS, pH, dan turbiditas. Variasi dosis koagulan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu 0 g, 0,01 g, 0,05 g, 0,1 g, 0,3 g, 0,5 g, 0,7 g, 0,9 g, dan 1,2 g. Pengujian awal air limbah penatu sebelum dilakukan proses koagulasi-flokulasi untuk parameter COD, TSS, pH, dan turbiditas sebesar (733,48 mg/L), (110,0 mg/L), (8,7), dan (188,8 NTU) masih berada di atas baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 68 Tahun 2016. Setelah dilakukan penelitian, hasil menunjukkan bahwa pengaruh dosis optimum biokoagulan serbuk biji kelor terhadap penurunan parameter COD terjadi pada dosis 0,01 g sebanyak 82 mg/L, TSS terjadi pada dosis 0,01 g sebanyak 33 mg/L, pH terjadi pada dosis 1,2 g sebanyak 8,4, dan turbiditas terjadi pada dosis 0,01 g sebanyak 49 NTU.
DOMESTIC WASTEWATER TREATMENT PLANT DESIGN (CASE STUDY: MITA MULIA HOTEL, BANDA ACEH) Khalisa, Salsabila; Ashari, Teuku Muhammad; Viena, Vera
Indonesian Journal of Environmental Sustainability Vol. 1 No. 1 (2023): June 2023
Publisher : Center for Environmental Studies, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ijes.v1i1.4146

Abstract

Mita Mulia Hotel is located within the largest university in Aceh Province, Indonesia. The number of rooms occupied increases when events such as graduation ceremonies occur, resulting in a higher volume of wastewater generation. Mita Mulia Hotel produces approximately 30,000 liters of wastewater from the cafe, kitchen, laundry, bathrooms, and washbasins daily. Preliminary water quality tests for Mita Mulia Hotel's wastewater, including COD, BOD, TSS, Oil and Grease, and Ammonia parameters, have been shown to exceed the standards set by the Minister of Environment and Forestry Regulation Number 68 Year 2016 regulate Domestic Wastewater Quality Standards. Mita Mulia Hotel uses the Anaerobic-Aerobic Biofilter method to treat their wastewater, equipped with Grease Trap Tank, Initial Sedimentation Tank, Anaerobic Biofilter Tank, Aerobic Biofilter Tank, and Final Sedimentation Tank. The total planned land area required is 18.75 square meters, with the Bill of Quantities (BoQ) encompassing activities ranging from standard soil excavation for construction to reinforcement works with plain concrete steel (rebar). These include formwork for floors, walls, and roofs.