Diketahui bahwa pada masing-masing vendor trucking PT LK mengalami keterlambatan pengiriman barang setiap bulannya. PT LK mempunyai toleransi keterlambatan pengiriman barang yaitu sebanyak 5%. Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks diuraikan dalam suatu hirarki kriteria yang terstruktur. Technique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS) adalah Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yaitu teknik pengambilan keputusan dari beberapa pilihan alternatif yang ada, khususnya MADC (Multi Attribute Decision Making). Pengiriman dengan bobot 0.40, yang meliputi subkriteria ketepatan waktu pengiriman dan keamanan barang pada saat pengiriman sampai ke titik tujuan. Kualitas dengan bobot 0.30, yang meliputi subkriteria kondisi fisik kendaraan yang layak untuk beroperasi, perlengkapan keamanan, dan memiliki moda transportasi yang lengkap. Harga dengan bobot 0.20, yang meliputi subkriteria harga yang kompetitif dan kemudahan untuk negosiasi dalam biaya tak terduga. Pelayanan dengan bobot 0.10, yang meliputi subkriteria kemudahan untuk menghubungi driver dan informasi yang diberikan jelas. Berdasarkan nilai bobot hasil perhitungan AHP, kemudian dilakukan pengolahan data menggunakan TOPSIS sehingga diketahui urutan prioritas dan nilai preferensi masing-masing alternatif vendor yaitu Citrabati dengan bobot preferensi tertinggi yaitu 0.61, peringkat kedua oleh Kurnia Darwan Sejahtera yang menghasilkan bobot preferensi yaitu 0.37, peringkat ketiga oleh Sabda Jaya Abadi dengan nilai bobot preferensi 0.23, dan posisi terakhir adalah Nusa Semesta Logistics dengan bobot preferensi 0.06.