Irfa ina Rohana Salma, Irfa ina Rohana
Balai Besar Kerajinan dan Batik

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

UKIRAN KERAWANG ACEH GAYO SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN MOTIF BATIK KHAS GAYO Salma, Irfa ina Rohana; Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i2.1636

Abstract

ABSTRAK Industri batik mulai berkembang di Gayo, tetapi belum memiliki motif batik khas daerah. Oleh karena itu perlu diciptakan motif batik khas Gayo, dengan mengambil inspirasi dari ukiran yang terdapat pada rumah tradisional yang biasa disebut ukiran kerawang Gayo. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menciptakan motif batik yang memiliki ciri khas Gayo. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi ide, perancangan, dan perwujudan menjadi motif batik. Dalam kegiatan ini telah diciptakan enam motif batik khas Gayo yaitu: (1) Motif Ceplok Gayo; (2) Motif Gayo Tegak; (3) Motif Gayo Lurus; (4) Motif Parang Gayo; (5) Motif Gayo Lembut; dan (6) Motif Geometris Gayo. Hasil uji kesukaan terhadap motif kepada lima puluh responden menunjukkan bahwa Motif Ceplok Gayo paling banyak dipilih oleh responden yaitu sebesar 19%, sedangkan Motif Parang Gayo 18%, Motif Gayo Lembut 17%, Motif Geometris Gayo 17%, Motif Gayo Lurus 15% dan Motif Gayo Tegak 14%. Rata-rata motif yang dihasilkan mendapatkan apresiasi yang baik dari responden, sehingga semua motif layak diproduksi sebagai batik khas Gayo.Kata kunci: batik Gayo, Motif Ceplok Gayo, Motif Parang Gayo.ABSTRACTBatik industry began to develop in Gayo, but have not had a typical batik motif itself. Therefore, it is necessary to create batik motifs of Gayo, by taking inspiration from the carvings found in traditional houses commonly called kerawang Gayo. The purpose of this art is to create motifs those have a Gayo characteristic. The method used are the idea exploration, design, and motifs embodiment. In this activity has created six Gayo batik motifs, namely: (1) Motif Ceplok Gayo; (2) Motif Gayo Tegak; (3) Motif GayoLurus; (4) Motif Parang Gayo; (5) Motif Gayo Lembut; dan (6) Motif Geometris Gayo. The test results fondness of the motives to fifty respondents indicated that the Motif Ceplok Gayo most preferred by respondents ie 19%, while Motif Parang Gayo 18%, Motif Gayo Lembut 17%, Motif Geometris Gayo 17%, Motif Gayo Lurus 15% and Motif Gayo Tegak 14%. Average motifs generated to get a good appreciation of the respondents, so they all can be produced as batik Gayo.Keywords: batik Gayo, Motif Ceplok Gayo, Motif Parang Gayo.
PENAMBAHAN NILAI GUNA PADA KREASI BARU PRODUK BONEKA BATIK KAYU KREBET BANTUL Sukaya, Yaya; Eskak, Edi; Salma, Irfa ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v35i1.3826

Abstract

Penciptaan produk baru merupakan aspek penting bagi IKM industri kreatif dalam menjalankan usahanya. Kebaruan desain menjadi salah satu daya tarik konsumen dalam membeli suatu produk. Salah satu cara memberi nilai kebaruan adalah dengan menambahkan nilai guna pada produk. Penambahan nilai guna pada produk batik kayu Krebet Bantul dapat menambah keunggulan produk yaitu selain indah juga mempunyai kegunaan tertentu secara fisik. Tujuan penelitian penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan produk baru dengan ide menambahkan nilai guna pada produk boneka batik kayu. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain, pembuatan kerajinan kayu, pembatikan pada bahan kayu, dan uji tahan luntur warnanya. Hasil penelitian ini berupa kreasi produk baru yang dikembangkan dari inspirasi boneka multifungsi. Uji tahan luntur penting dilakukan untuk memastikan warna pembentuk motif batik pada permukaan kayu tidak mudah luntur. Hal ini untuk menjamin kualitas produk dalam perdagangan. Skor nilai uji dengan penilaian angka 1 - 5. Nilai uji ketahanan luntur warna terhadap gosok kering dan basah 4- 5 (baik), uji ketahanan luntur warna terhadap cahaya terang hari 3- 4 (cukup baik), dan uji ketahanan luntur warna yang dilapisi cat bening 5 (sangat baik).
DIVERSIFIKASI DESAIN PRODUK TENUN IKAT NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN PADUAN TEKNIK TENUN DAN TEKNIK BATIK Salma, Irfa ina Rohana; Syabana, Dana Kurnia; Satria, Yudi; Christianto, Robets
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v35i2.4174

Abstract

ABSTRAK Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis kain tradisional indah dan unik, salah satunya adalah kain tenun ikat. Tenun ikat memiliki pola-pola tertentu yang menghasilkan motif-motif khas untuk keperluan tradisional. Seiring dinamika perkembangan zaman dan selera fasyen yang berubah, maka perlu dilakukan pengembangan desain motif baru sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian dan penciptaan seni ini bertujuan melakukan diversifikasi produk baru dengan cara mengombinasikan teknik tenun ikat dan teknik batik dalam selembar kain. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data, perancangan desain tenun ikat kombinasi batik, pengikatan dan pencelupan warna, penenunan, dan pembatikan. Tematik motif  yang diangkat yaitu seni budaya Nusa Tenggara Timur. Produk baru paduan tenun + batik ini disingkat nuntik. Tenun + batik = nuntik.  Kegiatan ini menghasilkan tujuh motif  nuntik yaitu Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Kata kunci: diversifikasi, desain, tenun ikat, batik, nuntik, Nusa Tenggara Timur  ABSTRACT Indonesia has a wealth of different types of beautifully decorated traditional fabrics admired by the world, one of which is ikat cloth. Traditional ikat motifs have certain patterns that produce distinctive motifs to meet various traditional activities or ceremonies. Along with the dynamics of the times and changing fashion tastes, it is necessary to develop a new motif design in accordance with the demands of the times. This art research and creation aims to improve aesthetic values or discover new aesthetics as a result of combining ikat weaving techniques and batik techniques in a piece of cloth. The method used is data collection, design design weaving bundle of batik combination, binding and dyeing, weaving, and batik. Thematic traditional motifs adopted are the arts of East Nusa Tenggara, because it is hoped that the technology and design of the motifs produced can be a diversification of new weaving products typical of East Nusa Tenggara. This new product of batik weaving / batik is shortened nuntik, tenun + batik = nuntik. This activity produced seven motive motions, namely Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Keywords: Value increase, design, batik alloy weaving, nuntic, East Nusa Tenggara
REVIEW: PENGEMBANGAN BATIK MOTIF KHAS DAERAH DI BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK Salma, Irfa ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v36i2.4766

Abstract

Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) adalah lembaga pemerintah dibawah Kementerian Perindustrian  yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) kompetensi industri kerajinan dan batik, kerjasama, standardisasi, pengujian, sertifikasi, dan kalibrasi. Pengembangan motif batik khas daerah merupakan salah satu kegiatan dari pengejawantahan tugas sebagai lembaga litbang industri kerajinan dan batik. Kegiatan ini dilaksanakan agar setiap daerah memiliki batik dengan ciri khas dan keunikan tersendiri yang berbeda dengan corak batik  daerah lain. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui kegiatan yang telah dilakukan BBKB dalam mengembangkan desain batik motif khas daerah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan mendapatkan data dari literatur jurnal, buku, katalog, dan internet. Pengembangan motif telah dilaksanakan sejak tahun 1970-an. Model pengembangan yang dilakukan yaitu melalui program kerja litbang tahunan kantor, penerbitan buku dan katalog, pelatihan batik daerah, lomba desain motif batik, dan kreativitas mandiri pegawainya. Pengembangan desain motif khas daerah telah menghasilkan batik yang memiliki ciri khas kedaerahan yang semakin menambah khasanah kekayaan corak batik Indonesia. 
MOTIF UKIR DALAM KREASI BATIK KHAS JEPARA Wulandari, Eka Amalia; Salma, Irfa ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v36i1.4777

Abstract

Kepandaian membatik di Jepara sudah ada sejak zaman R.A. Kartini (1879-1904), tetapi tidak berkembang sebagaimana industri kreatif lainnya seperti ukir kayu, perhiasan monel, ataupun tenun Troso. Dewasa ini kegiatan industri batik di Jepara mulai tumbuh dan berkembang kembali. IKM melakukan penciptaan motif khas daerah dengan mengambil inspirasi dari motif seni ukir kayu, namun hasilnya masih terlihat kaku atau kurang sesuai untuk motif hias pada kain sandang. Tujuan penciptaan seni ini adalah sebagi  ikhtiar sumbangsih untuk menghasilkan motif batik yang lebih serasi terinspirasi dan dikembangkan dari seni ukir kayu Jepara. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, perwujudan menjadi kain batik, dan penilaian estetika motif. Kegiatan ini menghasilkan 10 motif  yaitu Lung Merak, Lung Ngrembaka, Lung Cinta Jepara, Lung Wuni, Lung Gunung, Lung Lereng, Ceplok Semi, Ceplok Poleng, Ceplok Ukir, dan Ceplok Bal. Motif yang mendapat penilaian baik sekali (A) adalah motif Lung Merak, Ceplok Ukir, dan Ceplok Bal.
PENGEMBANGAN MOTIF BATIK JEPARA BERBASIS BUDAYA LOKAL Salma, Irfa ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v38i1.6316

Abstract

Batik adalah salah satu kain berdekorasi indah kebanggaan Indonesia, yang pembuatannya menggunakan teknik rintang lilin panas dan proses pewarnaan tutup celup. Batik juga pernah berkembang di Jepara yang dipelopori oleh RA Kartini (1879-1904), namun meredup dan kurang berkembang.  Dewasa ini industri kecil batik berkembang kembali dengan cukup pesat di Jepara. Berbagai kreasi penciptaan motif batik khas Jepara bermunculan. Hal ini menarik untuk dilakukan pengkajian tentang kegiatan penciptaan motif batik khas Jepara yang kreatif dan produktif. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif. Data diperoleh observasi lapangan, buku, jurnal, dan media elektronik. Model pembinaan IKM yang ada di Jepara yaitu kreativitas mandiri, pelatihan batik, lomba desain batik, dan pendidikan formal batik.  Kegiatan yang paling menojol dan efektif adalah kreativitas mandiri dari IKM batik Jepara. Pengembangan motif batik Jepara semakin memperkaya beraneka produk industri kreatif dari Jepara.
DIVERSIFIKASI PRODUK BATIK PADA IKM BAJUMI COLLECTION TANJUNG BUMI BANGKALAN MADURA Salma, Irfa ina Rohana; Satria, Yudi; Wibowo, Anugrah Ariesahad; Isnaini, Isnaini; Haerudin, Agus; Sulistyaningsing, Tika; Eskak, Edi; Nur Azizah, Steffi Anggraini
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v39i2.7760

Abstract

ABSTRAK Industri kecil menengah (IKM) Bajumi Collection sebagaimana para perajin batik lainnya di sentra industri batik Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, umumnya menggunakan pewarna sintetis dalam produksinya. Namun dengan pemasaran yang semakin meluas banyak konsumen batik dari kota-kota lainnya yang memesan batik khas Tanjung Bumi dengan pewarnaan alami. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan konsultansi dan pendampingan penerapan pewarnaan alami di IKM Bajumi Collection melalui program Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI) Kementerian Perindustrian yang dilaksanakan oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB). Metode yang dilaksanakan yaitu: konsultansi, pendampingan penerapan teknologi pewarnaan alami, pengujian kualitas warna batik yang dihasilkan, dan monitoring, Hasilnya didapatkan bahwa IKM dapat menerapkan teknologi pewarnaan alami pada produk batik dengan nilai tahan luntur kain 4-5 (baik dan sangat baik).