Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengetahuan Maskne Saat Pandemi Covid-19 pada Siswa-Siswi Kelas X SMA Kalam Kudus Catharina Sagita Moniaga; Anggita Tamaro; Alicia Sarijuwita; Jasmine Syabania Noviantri
Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): Juni : Perigel: Jurnal Penyuluhan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/perigel.v2i2.721

Abstract

During the Covid-19 pandemic, facial dermatitis namely acne due to masks (maskne), is well-recognized.. This disorder arises due to long-term use of masks, and leads to acne eruption. Maskne often occurs in society and the medical community, especially in the young age group. Wearing a mask can cause humidity and high skin temperature, which allows the growth of acne-causing bacteria, increased sweating, and continuous friction of the skin with the mask, which triggers the appearance of a maskne. Therefore, a good understanding of maskne, especially among adolescents, needs to be addressed and improved if necessary. The results of observations on Class X (Social Class) Kalam Kudus II Senior High School Jakarta showed that the understanding of maskne was not comprehensive. After the students received counseling about maskne, an increase in knowledge about maskne was obtained. This shows that knowledge about maskne as a type of disorder that emerged during the Covid-19 pandemic needs to be disseminated so that correct information can be obtained by the public.
Peran Asam Lemak Omega-3 (EPA versus DHA) dalam Tata Laksana Gangguan Mood: Sebuah Tinjauan Naratif Jasmine Syabania Noviantri; Alexander Halim Santoso
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 3 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i3.450

Abstract

Latar belakang: Gangguan mood, terutama gangguan depresi mayor (major depressive disorder/MDD) dan gangguan bipolar, merupakan penyumbang utama beban disabilitas global, sementara farmakoterapi konvensional masih dibatasi oleh respons parsial, awitan lambat, dan efek samping. Asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang omega-3 (n-3 PUFA), khususnya asam eikosapentaenoat (EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA), telah lama diteliti sebagai terapi tambahan, namun peran diferensial keduanya masih diperdebatkan. Tujuan: Merangkum dan menyintesis bukti mekanistik dan klinis terkini mengenai peran EPA versus DHA pada gangguan mood serta implikasinya terhadap praktik. Metode: Tinjauan naratif terhadap meta-analisis, uji acak terkontrol (randomized controlled trial/RCT), dan pedoman praktik yang ditelusuri dari PubMed, Scopus, dan Google Scholar. Pembahasan: Bukti secara konsisten menunjukkan bahwa formulasi dengan proporsi EPA tinggi (≥60% dari total EPA+DHA) pada dosis ≤1–2 g/hari memberikan efek antidepresan, sedangkan formulasi dominan-DHA tidak. Mekanisme yang diusulkan mencakup resolusi inflamasi melalui mediator lipid pro-resolving, jalur sitokrom P-450 dan endokanabinoid yang khas EPA, serta modulasi membran, neurotransmisi, dan neuroplastisitas yang lebih terkait DHA. Pada gangguan bipolar, n-3 memperbaiki gejala depresi tetapi tidak gejala mania. Pedoman International Society for Nutritional Psychiatry Research (ISNPR) merekomendasikan 1–2 g EPA netto/hari sebagai terapi adjuvan. Kesimpulan: EPA tampaknya merupakan komponen utama yang bertanggung jawab atas efek antidepresan omega-3, dengan DHA berperan lebih struktural; penggunaannya bersifat tambahan, bukan pengganti terapi standar.