Verry Willyam
Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Memaknai Prinsip Hidup Rukun dalam Persaudaraan sebagai Anugerah dari Allah Prespektif Kitab Mazmur 133 Verry Willyam; Priyantoro Widodo
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i1.74

Abstract

The study of Psalm 133 is more aimed at living in harmony among believers that need to be lived, illustrated through this song as a form or metaphor of the journey of the Israelites walking together through struggles, obstacles, and trials to get to the holy city of Jerusalem, worship God there, gather together brethren in faith (Jews), it is a great joy to be able to gather together. The method used in the study of the text of Psalm 133 is by using the method of short criticism (Low Criticism) through the word study method by doing hermeneutics on the Hebrew text. Thus it can be found the meaning that needs to be applied by today's believers, as a form of harmony in the body of Christ, no longer distinguished by doctrines or dogmas raised by the church which until now is still trapped in the polarization of worship of God. Gathered with one goal, namely fellowship together for honor and glory to God. From the research results studied regarding harmony in the book of Psalms, it can be interpreted as a goal of the lives of believers glorifying God through unity in love in the body of Christ. Abstrak:Kajian dari Mazmur 133 lebih bertujuan mengenai hidup kerukunan diantara orang percaya sangatlah perlu dihidupi, digambarkan melalui nyanyian ini sebagai bentuk atau metafora perjalanan orang-orang Israel berjalan bersama melewati pergumulan, rintangan dan pencobaan untuk menuju kota suci Yerusalem, menyembah Tuhan di sana, berkumpul bersama saudara seiman (orang-orang Yahudi), merupakan suatu kebahagiaan yang sangat luar biasa dapat berkumpul bersama-sama. Metode yang digunakan dalam kajian teks Mazmur 133 ini dengan menggunakan metode kritik pendek (Low Criticsm) melalui metode studi kata dengan melakukan hermeneutik pada teks Ibrani. Dengan demikian dapat ditemukan makna yang perlu diaplikasikan oleh orang-orang percaya masa kini, sebagai bentuk kerukunan dalam tubuh Kristus, tidak lagi dibedakan doktrin atau dogma yang dimunculkan gereja yang hingga kini masih terjebak dalam polarisasi penyembahan kepada Tuhan. Berkumpul dengan satu tujuan, yaitu bersekutu bersama bagi hormat dan kemuliaan bagi Tuhan. Dari hasil penelitian yang dikaji mengenai kerukunan dalam kitab Mazmur, dapat diartikan sebagai sebuah tujuan dari hidup orang percaya dalam memuliakan Allah melalui kesatuan dalam Kasih dalam tubuh Kristus. Kata Kunci: Mazmur 133, Analisis Teks, Memaknai Mazmur 133
Analisis Kata “Gembala” pada Mazmur 23:1 Dan Implikasinya Dalam Praktik Kepemimpinan Kristen di Era Disrupsi Teknologi Verry Willyam
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 4, No 1 (2023): Kepemimpinan Kristen dan Pendidikan Kristiani - Juni 2023
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v4i1.138

Abstract

Christian leadership in the current era of disruption looks like it has lost its way, especially in terms of examples. This article aims to re-open the eyes of Christian leaders who are already satisfied with their leadership style, let alone feel they are the most spiritual. Often say and recite the word of God in sermons and advice but ignore the meaning that can be used as a benchmark for a healthy leader for the people he leads. By studying Ps. 23:1 regarding the image that God is my shepherd, invites the reader to interpret literally the meaning of the metaphor in the canticle, where the magnitude of the role of a shepherd (leader) is in the life of the Israelites. By using the text analysis method in finding and understanding the meaning of the verse both lexically and in in-depth grammatical exploration through text analysis, Allah is my shepherd and making it happen for pastoral leadership in the era of disruption. It is described that the intention of the psalmist is like a hope that the Israelites (sheep) can always be under God's guidance through leaders (prophets, kings, elders, and priests) who imitate God as the picture of the perfect Shepherd at that time. Thus, in the era of disruption, it is hoped that shepherds can emulate and be the answer to David's song, and have a positive impact in serving believers (Christians). To always hope in God. As well as having leaders who imitate Christ and lead believers in responding to the changing times that are getting faster. AbstrakKepemimpinan Kristen di era disrupsi saat ini terlihat seperti kehilangan arah terutama dalam hal keteladanan. Tulisan ini bertujuan membuka kembali mata para pemimpin Kristiani yang sudah merasa puas terhadap gaya kepemimpinannya, apalagi merasa paling rohani. Sering mengucapkan dan melafalkan firman Tuhan di dalam khotbah dan nasihat-nasihat namun mengabaikan makna yang dapat dijadikan sebuah tolak ukur pemimpin yang sehat bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dengan mengkaji Mzm. 23:1 mengenai gambaran Allah adalah gembalaku, mengajak pembaca memaknai secara harafiah maksud dari metafora di dalam kantikel tersebut, di mana besarnya peran seorang gembala (pemimpin) dalam kehidupan bangsa Israel. Dengan menggunakan metode analisis teks dalam menemukan dan menafsirkan makna ayat tersebut baik secara leksikal dan gramatikal menggali secara dalam melalui analisis teks Allah adalah gembalaku dan implikasinya bagi kepemimpinan gembala di era disrupsi. Digambarkan bahwa maksud dari pemazmur ialah seperti sebuah harapan bangsa Israel (domba) dapat senantiasa selalu dalam tuntunan Allah melalui pemimpin ( nabi, raja, tua-tua, dan imam) yang meneladani Allah sebagai gambaran Gembala yang sempurna pada masa itu. Demikian di era disrupsi, para gembala diharapkan dapat meneladani dan menjadi jawaban atas nyanyian Daud tersebut, dan membawa dampak positif dalam melayani orang percaya (Kristen). Agar senantiasa selalu berharap kepada Tuhan. Serta memiliki pemimpin yang meneladani Kristus yang memimpin orang percaya dalam menyikapi perubahan zaman yang semakin cepat.
Dampak Musik Gereja bagi Pertumbuhan Iman Jemaat: Sebuah Studi di Gereja Kristen Jawa Celengan, Klasis Tuntang Barat, Pepanthan Verry Willyam; Aji Suseno
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2: Juni 2023
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v4i2.72

Abstract

The presence of music in Christianity is not only a gift but an extraordinary divine blessing. Every believer is led to feel God's presence through instrumental and contemporary music tones in his presence in the church. Focusing on reformed church music which tends to use hymn and instrumental music, is self-awareness that every church music has almost the same spiritual level if the goal and focus are God, inseparable from the meaning of the Gospel that will be conveyed. This study uses a qualitative method, in which the author is a sympathizer of the Javanese Christian Church in Celengan, West Tuntang Class, to interpret the congregation's spirituality through church music, which is an integral part of worship and has roots since Christianity arrived from Europe. The form and meaning of church music remain centered on Christ, but Locus prioritizes the culture and traditions of the church.  AbstrakKehadiran musik di dalam Kekristenan bukan saja merupakan anugerah melaikan berkat ilahi yang luar biasa. Setiap orang percaya dituntun dalam merasakan hadirat Tuhan melalui nada-nada musik instrumetal dan musik kontemporer dalam keberadaannya di dalam gereja. Memfokuskan diri dalam musik gereja reforms yang lebih cenderung menggunakan musik hymne dan instrumental menjadi sebuah kesadaran sendiri bahwa setiap musik gerejawi memiliki kadar kerohanian yang hampir sama. Tujuan utama kajian ini ialah menemukan makna spiritual di dalam ibadah musik bagi pertumbuhan iman jemaat dan tentu tidak terlepas dari makna Injil yang akan disampaikan di dalam ibadah. Dalam paper ini metode yang diggunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan langsung ke jemaat, guna memaknai spiritualitas jemaat lewat musik gereja yang menjadi bagian penting dalam ibadah dan sudah berakar dari sejak kekristenan masuk dari eropa. Bentuk dan makna musik gereja tetap berpusat kepada Kristus, namun Locus lebih mengutamakan culture dan tradisi gereja berada.   
Kualitas Orang Benar di Tengah Relativitas Postmodernisme Samuel Wasikin; Verry Willyam
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 13 No 1 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v13i1.198

Abstract

Today, Christianity is facing a decline in morals and faith in the era of progress and advancement. The current generation lacks an understanding of the importance of moral ethics in building healthy and proper relationships. The Post-Modernism era has brought a mindset of relativism, making it easier for people to weigh everything, including technology. The purpose of this article is to explore the meaning of the righteous person in Genesis 18:16-33 the relevance of the life righteous in the postmodern era. The method presented in this writing is by using the Narrative Criticism approach to the book of Genesis 18:16-33, where Abraham converses with God in his intercession for Sodom and Gomorrah. Abraham seeks to advocate for the "righteous people" so that God may spare the city, but the number he proposes is not fulfilled. And ultimately, the profound meaning of the "righteous people" is those who live according to divine law and have faith in God. In the postmodern era, views on truth are relative, but Abraham's story shows that God still values the existence of righteous individuals amidst moral decay. Believers need to uphold religious values and become examples that glorify God in facing the changes of time.
KONTEKSTUALISASI PENGGUNAAN CAMPURSARI DALAM IBADAH GEREJAWI : STUDI KASUS GKJ KENALAN MAGELANG Purnomo, Andreas Kurniawan; Willyam, Verry
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.191

Abstract

Musik telah digunakan dalam ibadah sejak awal kemunculan ibadah itu sendiri. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, permohonan, dan imannya kepada Tuhan dengan cara yang lebih indah daripada sekedar kata-kata yang diucapkan. Musik memberikan dimensi yang baru dalam hal keterlibatan penyembah, maupun kemampuannya untuk menarik perhatian pendengarnya. Tujuan kajian ini ialah menemukan dan menjelaskan mengenai manfaat dan fungsi musik ansambel (Pengiring) di dalam ibadah melalui musik campursari di Gereja Kristen Jawa Kenalan, Magelang. Metode yang diggunakan dalam penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pengamatan fenomena yang terjadi pada jemaat serta pendekatan accindental terhadap informan dan di dukung hasil kajian literature sebelumnya sebagai bahan perbandingan dalam fenomena yang diamati. Melalui pendekatan tersebut diharapkan dapat menjelaskan mengenai manfaat sarana musik gereja sebagai bentuk kontekstualisasi melalui musik campursari yang diggunakan dalam menarik dan mendekatkan musik gereja dengan budaya setempat yang di dalamnya jemaat menemukan medium ekspresi yang sesuai dengan latar belakang budaya dan talenta yang dimilikinya, serta menjadi bentuk upaya pelestarian budaya dan penanda identitas GKJ dalam budaya Jawa., serta memiliki manfaat sebagai : 1) Menjadi upaya bagi gereja untuk nguri-uri kebudayaan Jawa, yaitu pelestarian budaya Jawa. 2) Memberikan kesegaran baru dalam Ibadah, 3) mempertahankan identitas GKJ Kenalan dalam Kebudayaan Jawa.
Penggunaan Problem Solving Melalui Pendekatan Coaching dalam Kepemimpinan Kristen Masa Kini Firman Apri Yanto, Guntur; Willyam, Verry
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 4 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v4i2.131

Abstract

The church in its physical form and organism is a realm of service that has existed since ancient times until now. Leaders are always needed in the church according to the times. Many Christian leaders are faced with choices and decisions to solve problems in ministry. Service problems must be resolved wisely and precisely. Therefore Christian leaders must continue to learn to improve their problem-solving skills or solve problems. It is good to use a coaching approach to improve problem-solving skills or solve problems for Christian leaders in church and community. This paper is based on the results of a literature study that examines primary sources or existing research and scientific writings using qualitative methods and is explained descriptively. This paper describes the complexity of the problems faced by Christian leaders in the church and shows the effectiveness of the coaching approach to improve the ability of Christian leaders to solve problems faced appropriately in church and community services. Gereja dalam bentuk fisik maupun organisme merupakan ranah pelayanan yang ada sejak jaman dulu hingga sekarang. Pemimpin selalu dibutuhkan dalam gereja sesuai perkembangan zaman. Pemimpin Kristen banyak diperhadapkan dengan pilihan maupun keputusan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam pelayanan. Masalah-masalah pelayanan harus diselesaikan dengan bijak dan tepat. Oleh sebab itu pemimpin Kristen harus terus belajar dalam meningkatkan kemampuan problem solving atau memecahkan masalah. Hal itu baik jika menggunakan pendekatan coaching dalam meningkatkan kemampuan problem solving atau memecahkan masalah pada pemimpin Kristen baik di gereja maupun komunitas. Tulisan ini berdasarkan hasil studi pustaka yang mengkaji sumber-sumber utama ataupun penelitian serta tulisan ilmiah yang ada dengan metode kualitatif dan dijelaskan secara deskriptif. Tulisan ini menguraikan kompleksitas masalah-masalah yang dihadapi pemimpin Kristen dalam gereja dan menunjukkan efektifitas pendekatan coaching untuk meningkatkan kemampuan pemimpin Kristen dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan tepat dalam pelayanan gereja maupun komunitas.
Analisis kata kerja Deponen dalam Yohanes 1:20 mengenai perkataan Yohanes Pembaptis: “Aku bukan Mesias” Willyam, Verry
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 13 No 1 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v13i1.268

Abstract

Kata kerja “Deponen” dalam kitab Injil Yohanes 1:20 cukup lama menjadi gejolak dalam perdebatan para teolog, mengenai penafsiran mengenai Yohanes pembaptis sebenarnya. Konteks alkitab dalam lingkup teologi yang beragam menimbulkan pelbagai macam tarfsiran terhadap ayat tersebut, sehingga diperlukan analisis mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mengali dan mendeskripsikan kata kerja deponen pada Yohanes 1:20, sehingga menghasilkan pemahaman makna kata yang tepat dalam mengartikan menerjemahkan istilah kata di dalam Alkitab. Metode yang digunakan dalam analisis kata dalam paper ini ialah dengan studi literatur yang menjadi pokok sumber dalam menganalisis kata kerja dan pendekatan studi kata dalam mengali makna teks dengan pemaknaan leksikal dan gramatikal. Melalui hasil kajian teks, ditemukan fakta penggunaan kata deponen merupakan sebuah metafora terhadap Mesias yang dilakukan Yohanes. Tujuannya diharapkan dapat dipahami oleh semua pihak yang menafsirkan alkitab dan juga akademisi dalam menafsirkan serta menemukan frasa tersebut secara teks dan konteks, sehingga dapat mengurangi tafsiran secara alegori.
Kontribusi Karakter Nuh dalam Noahic Covenant dan Implementasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini. Nugroho, Imanoel Seno; Willyam, Verry; Raflesia, Ketut Mashana
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v2i1.22

Abstract

Through Noah's character God has a new purpose for humanity through the Noahic Covenant. The purpose of this paper is to reflect on the character of Noah, who is considered to have the character of a righteous person in an intimate relationship with God. From his example for believers, we can learn to have a righteous life before God. The method used in this study is a qualitative research of literature by examining the source of the scriptures. The low criticism approach is carried out to describe the meaning contained in it. Through this paper, it is hoped that it can provide an overview of the character and leadership style of Noah as God's people, who were saved from disaster, by a very intimate relationship with God. As well as being a representation of God's plan and love for mankind in eternal salvation.AbstrakMelalui karakter Nuh Allah memiliki tujuan baru bagi umat manusia melalui Noahic Covenant. Tujuan dalam tulisan ini ialah merefleksikan karakter Nuh, yang dianggap memiliki karakter sebagai orang benar dalam relasi intim dengan Allah. Dari keteladanannya bagi orang percaya, kita dapat belajar agar memiliki kehidupan benar dihadapan Allah. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah penelitian kualitatif literatur dengan mengkaji sumber kitab suci. pendekatan kritik rendah dilakukan guna menguraikan makna yang terdapat di dalamnya. Melalui paper ini diharapkan dapat memberikan gambaran Melalui karakter dan gaya kepemimpinan Nuh sebagai umat Allah, yang diluputkan dari bencana, oleh relasi dengan Allah yang sangat intim. Serta menjadi representasi rencana dan kasih Allah bagi umat manusia dalam keselamatan kekal.
Implementasi Sikap Toleransi Beragama dan Pengaruhnya Bagi Anak di Era Disrupsi Parida, Naumi; Kurniawati, Yuni; Willyam, Verry
DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 1: Juni 2023
Publisher : STIPAK Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32490/didaktik.v6i1.167

Abstract

Abstract: The purpose of research in this journal is that the implementation of religious tolerance can affect children's thinking patterns in understanding and appreciating the diversity of religions around them. The research method used in this paper is a literature method where the source material is obtained based on references from books, journals, articles related to the theme discussed. In this study there were several serious religious conflicts and intolerance among Indonesian society, resulting in rejection of the construction of places of worship, blasphemy, and persecution of certain religious groups. Based on the results of each existing study, it is concluded that Indonesia needs an understanding of tolerance in differences, especially religion. Tolerance in diversity is very important for every society to have and must be instilled from an early age in individual Indonesian society. With the attitude of religious tolerance in children, it will prepare children as the next generation of the nation to have an attitude of mutual respect, respect for differences, and live the freedom of rights in choosing each other's beliefs.Abstrak: Tujuan penelitian dalam jurnal ini adalah agar implementasi sikap toleransi beragama dapat memengaruhi pola berpikir anak dalam memahami dan menghargai keragaman agama di sekitarnya. Metode penelitian yang dipakai dalam tulisan ini ialah metode kepustakaan yang dimana sumber materi didapatkan berdasarkan referensi dari buku-buku, jurnal, artikel yang terkait dengan tema yang dibahas. Dalam penelitian ini terjadi beberapa konflik agama dan intoleran secara serius di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga terjadilah penolakan pembangunan tempat ibadah, penistaan agama, dan penganiayaan terhadap kelompok agama tertentu. Berlandaskan hasil setiap kajian yang ada, maka disimpulkan bahwa Indonesia memerlukan pemahaman sikap toleransi dalam perbedaan terutama agama. Sikap toleransi dalam keberagaman sangatlah penting untuk dimiliki oleh setiap masyarakat dan harus ditanamkan sejak dini dalam diri individu masyarakat Indonesia. Dengan adanya sikap toleransi beragama dalam diri anak maka akan mempersiapkan anak sebagai generasi penerus bangsa untuk memiliki sikap saling menghargai, menghormati perbedaan, dan menghidupi kebebasan hak dalam memilih keyakinan satu sama lain.
DARI LAYAR KE ALTAR: PENDAMPINGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN PADA GENERASI Z Easteria, Harnum; Willyam, Verry
The Way: Jurnal Teologi dan Kependidikan Vol. 11 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54793/teologi-dan-kependidikan.v11i1.221

Abstract

Generasi Z erat kaitannya dengan teknologi karena tumbuh di era digital. Pola interaksi Generasi Z berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi Z banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi di dunia digital dengan menatap layar gadget. Karakteristik ini memberikan manfaat dan hambatan bagi gereja dan pendidik agama Kristen di era digital untuk melakukan pendampingan terhadap Generasi Z. Dalam penyusunan Artikel ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologi guna mendalami pengalaman digital Generasi Z serta merumuskan strategi pendampingan yang optimal.Tujuan penelitian ini agar pendidikan agama Kristen tetap bisa dilakukan dengan manfaatkan peluang yang ada di era digital. Solusi terbaiknya adalah melakukan pelayanan melalui layar gadget, menciptakan pengalaman ibadah yang setara dengan pertemuan tatap muka layaknya di altar. Dengan memanfaatkan berbagai konten di platform media sosial, pendampingan pendidikan agama Kristen dapat dilakukan secara efektif untuk menjangkau Generasi Z. Dengan demikian, tujuan utama pendidikan agama Kristen yaitu mengalami perjumpaan dengan Kristus dapat tercapai. Perjumpaan dengan Kristus membentuk Generasi Z beriman teguh di era digital yang penuh tantangan. Maka dari layar ke altar, teknologi digital dapat menjadi jembatan perjumpaan rohani bagi Generasi Z.