Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEBERLANJUTAN WIRAUSAHA UMKM PETERNAK SAPI DENGAN PENGENDALIAN KUALITAS Mochammad Rofieq; Primahasmi Dalulia; Renny Septiari; Joko Ary Wahyudi
KAIZEN : Management Systems & Industrial Engineering Journal Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/kaizen.v6i1.16355

Abstract

Most of the population in Pujon District, Malang Regency are smallholder farmers for dairy cattle. This business is very promising because of the availability of abundant natural resources. The main problem in increasing livestock productivity is the difficulty in providing feed on an ongoing basis both in quantity and quality. The quality of cow's milk produced from this business is highly dependent on the quality of animal feed. In supporting the growth and development of livestock, the animal feed industry is an industry that is needed in the region. The SAE Pujon Cooperative is one of the MSMEs that produces fodder to meet the needs of cattle breeders in terms of fodder. The problem that sometimes occurs is the presence of animal feed products that do not meet the standards. At the SAE Pujon Cooperative MSME scale, quality control methods have never been applied. This is due to the inadequate level of knowledge of cooperative managers regarding quality control of animal feed products. For that we need an analysis of the factors that cause products that do not meet the standards. This study aims to determine the characteristics of Critical to Quality (CTQ) in cattle feed products to obtain information about the factors affecting production quality and alternative solutions to improve product quality. The method used in this study is Six Sigma by applying quality control tools. Prior to conducting an analysis of quality control with six sigma, the SAE Pujon Cooperative had not been able to carry out an analysis related to quality problems and prevention in a preventive form. It is hoped that with this quality control analysis, the quality control system at the SAE Pujon Cooperative can be compiled using a more systematic method. Critical to Quality (CTQ) that occurs in the process of making cattle feed is an inhomogeneous product, bad smell and damaged packing. As a complementary conclusion from this study it was found that in the production process a sigma capability value of 3.10 was obtained, this indicates that the capability of the process of making cattle feed still needs to be improved. So that if the company controls the quality of its products, then the needs of cattle breeders in terms of the quality of their fodder will be fulfilled. In the end this will maintain the sustainability of cattle breeders in entrepreneurship. Keywords: Entrepreneurship, Quality Control, Six Sigma, SMES ABSTRAK Sebagian besar penduduk di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang merupakan peternak rakyat untuk komoditas sapi perah. Usaha ini sangat menjanjikan karena ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Masalah utama dalam peningkatan produktivitas ternak adalah sulitnya menyediakan pakan secara berkesinambungan baik jumlah maupun kualitasnya. Kualitas susu sapi yang dihasilkan dari usaha ini sangat tergantung pada kualitas pakan ternak. Dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan ternak, industry pakan ternak merupakan industry yang diperlukan di wilayah tersebut.  Koperasi SAE Pujon adalah salah satu UMKM yang memproduksi makanan ternak untuk memenuhi kebutuhan para peternak sapi dalam hal makanan ternaknya. Permasalahan yang kadangkala terjadi adalah adanya produk pakan ternak yang belum memenuhi standard. Pada skala UMKM Koperasi SAE Pujon, penerapan metode pengendalian kualitas belum pernah dilakukan. Hal ini disebabkan tingkat pengetahuan dari pengelola koperasi tentang pengendalian kualitas dari produk pakan ternak yang belum memadai. Untuk itu diperlukan sebuah analisis terhadap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya produk yang belum memenuhi standard. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Critical to Quality (CTQ) pada produk pakan ternak sapi sehingga diperoleh informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produksi serta alternatif solusi untuk meningkatkan kualitas produknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Six Sigma dengan menerapkan alat pengendalian kualitas. Sebelum dilakukan analisis pengendalian kualitas dengan six sigma, Koperasi SAE Pujon belum dapat melakukan analisis terkait permasalahan kualitas serta pencegahan dalam bentuk preventif. Harapannya dengan adanya analisis pengendalian kualitas ini, system pengendalian kualitas di Koperasi SAE Pujon dapat disusun dengan metode yang lebih sistematis. Critical to Quality (CTQ) yang terjadi pada proses pembuatan pakan ternak sapi adalah produk tidak homogen, bau tidak sedap dan packing rusak. Sebagai simpulan pelengkap dari penelitian ini adalah ditemukan bahwa dalam proses produksi diperoleh nilai kapabilitas sigma sebesar 3.10, hal ini menunjukkan bahwa kapabilitas proses pembuatan pakan ternak sapi ini masih perlu ditingkatkan lagi. Sehingga apabila perusahaan melakukan pengendalian kualitas produknya, maka kebutuhan para peternak sapi dalam hal kualitas makanan ternaknya akan terpenuhi. Pada akhirnya hal ini akan menjaga keberlanjutan peternak sapi dalam berwirausaha. Kata kunci:  Kewirausahaan, Pengendalian Kualitas, Six Sigma, UMKM
Evaluasi Defect pada Makanan Ringan Kacang Atom Oven Digitha Oktaviani Putri; Kukuh Setya Widodo; Ken Erliana; Primahasmi Dalulia
Journal of Industrial View Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jiv.v7i2.16463

Abstract

Quality is one of the factors that can determine the success of a product in order to penetrate its market, besides that quality is also used as a reference for whether or not a product is suitable for use or consumption. One of the efforts to maintain quality is by implementing strict quality control so that defects do not occur. There are several defects in the production process of oven sukro beans such as burnt, overcooked, coupled, broken, and without ose. The type of broken defect is the highest type of defect of 764 kg. From the results of the analysis using 5 why analysis methods, it was found that 4 root causes of broken defects such as the setting of the coating machine carried out by employees is still not in accordance with the provisions, the operator does not understand the inline roasting ignition standards, raw materials that are often changed, and the lack of supervision from the PIC on employees in carrying out the jobdesk. The factors that cause the type of defect to break are human and material. The results of FMEA method based on RPN number show that setting coating machine is priority to be solved   Kualitas merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan dari suatu produk agar menembus pasarnya, selain itu kualitas juga dijadikan sebagai acuan layak atau tidaknya suatu produk untuk dipakai atau dikonsumsi. Upaya untuk menjaga kualitas yaitu salah satunya dengan menerapkan pengendalian kualitas secara ketat agar tidak terjadi defect. Terdapat beberapa defect pada proses produksi kacang sukro oven seperti gosong, overcook, gandeng, pecah, dan tanpa ose. Jenis defect pecah merupakan jenis defect tertinggi sebanyak 764 kg. Dari hasil analisis menggunakan 5 why analysis dan ditemukan 4 akar penyebab terjadinya defect pecah seperti setting mesin coating yang dilakukan karyawan masih kurang sesuai dengan ketentuan, operator kurang memahami standar pengapian roasting inline, bahan baku yang sering ganti, kurangnya pengawasan dari PIC terhadap karyawan dalam melaksanakan jobdesk. Faktor-faktor penyebab jenis defect pecah disebabkan manusia dan material. Hasil analisis FMEA berdasarkan nilai RPN terbesar menunjukkan prioritas penanganan penyebab masalah adalah pada setting mesin coating yang dilakukan karyawan masih kurang sesuai dengan ketentuan