Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

De Groote Postweg Sebagai Pemicu Perubahan Struktur Kota di Jawa Bagian Barat Firmansyah Bachtiar; Albertus Sidharta; VG Sri Rejeki; Riandy Tarigan; Antonius Ardiyanto
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 4 No. 02 (2022): Arsitekta : Jurnal Arsitektur Kota dan Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v4i02.358

Abstract

Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) merupakan suatu bentuk pengembangan infrastruktur peninggalan kolonial yang menjadi salah satu pemicu pertumbuhan kawasan perkotaan di sepanjang jalur yang dilaluinya. Jaringan jalan ini melintas dari Anyer hingga Panarukan dan diantaranya melewati beberapa kota besar pada 5 provinsi di Pulau Jawa. Jalur jalan ini di masa sekarang terkenal sebagai jalur transportasi darat utama khususnya di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa, menghubungkan wilayah barat dan timur sepanjang sekitar 1.000 km. Pada wilayah di sisi barat Pulau Jawa, jalur jalan tersebut antara lain melewati wilayah Serang, Jakarta, Bogor, Bandung, dan Cirebon. Kota-kota tersebut berkembang saat ini dengan struktur kota yang dipengaruhi oleh keberadaan De Groote Postweg yang mengubah tatanan kota pada masa lalu sehingga berkembang layaknya sekarang. Perubahan struktur ruang kota itu antara lain terjadi dalam bentuk pemindahan pusat kota maupun perubahan pola jaringan jalan sehingga membuat pemanfaatan ruang di kota-kota yang dilalui cenderung berorientasi ke jalan raya pos sebagai media transportasi logistik dan pasukan di era Daendels. Perkembangan kota—kota tersebut seperti yang dapat dilihat hingga kini merupakan salah satu dampak dari perubahan struktur ruang pasca kota-kota tersebut terhubung oleh jalur De Groote Postweg.
Representation of Liturgical Symbolic Meaning in the Temporary Worship Space of the St. Pius X Catholic Church, Karanganyar Bonifacio Bayu Senasaputro; Riandy Tarigan; Fransiska Helena Putri
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 15 No. 1 (2026): JLBI ( on Progress )
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v15i1.582

Abstract

In the Catholic Church tradition, the worship space serves as a critical architectural framework for liturgical activities and for spatial articulations of symbolic meaning that structure ritual experience. Previous studies have predominantly addressed permanent church buildings, while investigations into temporary worship spaces remain limited, particularly in terms of their spatial adaptability and symbolic performance. This study aims to examine how the Pastoral Service Building, adapted as a temporary worship space at St. Pius X Catholic Church, Karanganyar, spatially represents liturgical symbolic meaning and constructs a sense of sacredness through architectural configuration. The research adopts a qualitative case study approach, employing direct observation of spatial geometry, circulation patterns, visual orientation, and lighting conditions during liturgical celebrations, complemented by in-depth interviews with the pastor, church administrators, and congregants. A semiotic framework is used to analyze and interpret spatial signs and architectural elements within the liturgical context. The findings show that despite physical constraints and the absence of permanent sacred elements, strategic spatial arrangement, such as geometry, circulation, congregation–altar orientation, sanctuary configuration, and lighting, preserves the symbolic structure of Catholic liturgy and supports a coherent ritual experience. The study offers insights into adaptive design strategies for temporary worship spaces, particularly in addressing spatial constraints while preserving symbolic and ritual functions.