Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PERBANDINGAN NILAI PRAKTIKUM HISTOLOGI BERDASARKAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA KEDOKTERAN Chris, Arlends; Dewi, Sari Mariyati; Tarcisia, Twidy; Tasdin, Willy
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v1i1.440

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa pasti akan mengalami kecemasan dalam berbagai situasi lingkungan akademik. Mahasiswa kedokteran khususnya, memiliki kecenderungan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa lainnya dalam rentang umur sebaya. Tingkat kecemasan ini dapat memberikan efek negatif bila tidak tertangani dengan baik, terutama terhadap performa akademik mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan nilai praktikum Histologi mahasiswa berdasarkan tingkat kecemasan mahasiswa. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengurangi tingkat kecemasan mahasiswa kedokteran dalam menjalani pendidikannya sebagai calon dokter. Metode yang digunakan adalah desain kuantitatif dengan membandingkan tingkat kecemasan terhadap hasil ujian mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI) dan tes akademik. Responden terdiri dari 88 orang mahasiswa yang dipilih dengan cara purposive non-random sampling. Data yang didapatkan dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22 menggunakan one-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa rata-rata nilai ujian praktikum Histologi pada mahasiswa dengan tingkat kecemasan rendah (mean=80.95±8.78) lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa dengan tingkat kecemasan sedang (mean=72.87±12.03) dan tinggi (mean=77.00±10.81). Hasil uji homogenitas variansi dengan Levene Statistic adalah 0.651 dengan nilai kemaknaan sebesar 0.524 (p>0.05) yang berarti variansi dari ketiga ujian sama. Hasil uji statistik dengan one-way ANOVA menunjukkan nilai F hitung adalah 5.362 dengan nilai kemaknaan sebesar 0.006 (p<0.05) yang berarti terdapat perbedaan nilai ujian praktikum histologi mahasiswa terhadap tingkat kecemasan. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan rata-rata nilai ujian praktikum Histologi lebih tinggi pada mahasiswa dengan tingkat kecemasan rendah dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki tingkat kecemasan sedang dan tinggi. Kata kunci: pendidikan kedokteran, histologi, kesehatan mental, kecemasan, BAI
Ki-67 marker useful for classification of malignant invasive ductal breast cancer Irmawati Hassan; Twidy Tarcisia; Agnestina Agnestina; Santoso Cornain; I Made Nasar
Universa Medicina Vol. 32 No. 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2013.v32.179-186

Abstract

BACKGROUND Breast cancer is an important health problem in the world. Uncontrolled cell proliferation represents a malignant characteristic of neoplasia such as breast cancer, and can be examined immunohistochemically by measuring the Ki-67 proliferative marker. The objective of this study was to determine the role of Ki-67 for classification of the degree of malignancy in women with invasive ductal breast cancer.METHODSA cross-sectional study was conducted on 20 women with invasive ductal breast cancer. The samples were immuno-histochemically tested for Ki-67 using anti-Ki-67 primary antibody. The Ki-67 proliferative index was determined by enumerating the proportion of Ki-67 positive nuclei among the total number of cells in ten areas observed at 400x magnification, using a 20% cut-off value to distinguish between low and high proliferative indices. Statistical analysis was by means of the chi-square test.    RESULTSSeventy five persent of the high grade malignancies had a high Ki-67 proliferative index (>20%), while only 12.5% of the low grade malignancies had a high Ki-67 index (>20%). The difference in grade malignancy was statistically significant (p=0.022), whereas tumor size was not associated with a statistically significant difference in Ki-67 index (p=0.648). CONCLUSIONThe study showed that invasive ductal breast cancer with high Ki-67 index was significantly associated with high grade of malignacy. The high Ki-67 marker index can be used for classification of the grade of malignancy of invasive ductal breast cancer.
PENINGKATAN KEWASPADAAN TERHADAP SINDROM ME PADA LANSIA DI KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA Twidy Tarcisia; Idawati Karjadidjaja; Alexander Halim Santoso
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.122 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i2.7219

Abstract

Penambahan umur harapan hidup menyebabkan peningkatan populasi lanjut usia (lansia) yang berpengaruh terhadap angka kejadian penyakit degeneratif seperti sindrom metabolik. Sindrom metabolik adalah kumpulan gangguan metabolik seperti hipertrigliserida, hyper-low-density lipoprotein (LDL), hypo-high-density lipoprotein (HDL), resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, hipertensi dan abdominal obesity. Prevalensi sindrom metabolik pada dekade terakhir dilaporkan meningkat terutama di negara berkembang. Tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kejadian sindrom metabolik adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan dini. Komisi kesehatan Keuskupan Agung Jakarta (KK KAJ) adalah upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengembangan program preventif seperti pemeriksaan kesehatan. Dari uraian tersebut kami bekerja sama dengan KK KAJ menyelenggarakan kegiatan PKM berupa pemeriksaan kesehatan dalam bentuk pemeriksaan fisik  dan pemeriksaan darah dengan target peserta lansia untuk mendeteksi adanya sindrom metabolik sehingga dapat mengurangi angka resiko kecacatan dan kematian. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah pemeriksaan tekanan darah. Sedangkan pemeriksaan darah yang dilakukan mencakup pemeriksaan gula darah dan kolesterol seperti glukosa darah, HDL, LDL dan trigliserida. Peserta yang telah melakukan pemeriksaan darah dapat berkonsultasi dengan tim dokter untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan. Jumlah peserta yang berpartisipasi pada kegiatan ini adalah 320 peserta. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah peserta mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan darah yang dapat menggambarkan status kesehatan peserta. Dengan diketahuinya status kesehatan diri sendiri, diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan diri terhadap sindrom metabolik baik melalui tindakan promotif dan preventif.
EDUKASI PENCEGAHAN PENYAKIT PARU PADA ANAK JALANAN DAN MARJINAL KOMUNITAS SAHABAT ANAK GROGOL JAKARTA BARAT Octavia Dwi Wahyuni; Hadisono Hadisono; Twidy Tarcisia
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v3i2.9490

Abstract

Lung and respiratory disease are a condition that generates the largest burden of disability-adjusted life-years (DALYs) and most common in the world. The top estimated 10 causes of death worldwide are in 2040, three of them are due to lower respiratory tract infections, chronic obstructive pulmonary disease and lung cancer, which are members of "The Big Five". Common risk factors for respiratory disease are active and passive smoking, pollutants, densely populated areas with low socioeconomic conditions. So, the most vulnerable to exposure are street and marginalized children. In Sahabat Anak Community, which serves street and marginalized children, many children who suffer from acute respiratory infection or cough and colds that aren’t getting better, some even have tuberculosis and shortness of breath. That is because they don’t understand and care about the situation. Therefore, the easiest solution is providing health education and examples directly to prevent disease transmission. Participants were 100 children who assisted by Sahabat Anak Grogol, aged 4-19 years, but only 77 children from grade 4 elementary school filled the questionnaire. The results of the pre-test and post-test to determine the level of knowledge and understanding obtained an average increase from 28.57% to 71.43%. Pollutants on the road (vehicle fumes, dust, cigarette smoke, etc.) are the main risk factors for COPD in street children. Increased understanding and knowledge can change behaviour so the incidence of non-communicable and non-communicable lung and airway diseases in Sahabat Anak Community can reduced and ultimately will improve their quality of lifeABSTRAK:Penyakit paru dan saluran napas merupakan keadaan yang menghasilkan beban disability-adjusted life-years (DALYs) terbesar dan paling sering terjadi di dunia. Estimasi 10 terbanyak penyebab kematian di seluruh dunia pada tahun 2040, tiga diantaranya diakibatkan berturut-turut oleh infeksi saluran napas bawah, penyakit paru obstruksi kronik dan kanker paru yang merupakan anggota “The Big Five”. Faktor risiko umum dari penyakit paru dan saluran napas tersebut yaitu perokok aktif maupun pasif, polutan, wilayah padat penduduk dengan sosioekonomi rendah sehingga yang paling rentan terpapar adalah anak jalanan dan marginal. Di Komunitas Sahabat Anak yang melayani anak-anak jalanan dan marjinal masih banyak yang menderita ISPA (infeksi saluran napas akut)/batuk pilek tidak sembuh-sembuh, beberapa bahkan TBC dan sesak napas. Hal tersebut karena mereka tidak paham dan tidak peduli mengenai keadaan tersebut. Oleh karena itu, maka solusi yang paling mudah dilakukan adalah memberikan penyuluhan dan contoh langsung cara pencegahan penularan penyakit. Peserta kegiatan adalah 100 anak binaan Sahabat Anak Grogol dengan rentang usia 4-19 tahun, tetapi pengisian kuesioner hanya dilakukan oleh 77 anak dari kelas 4 SD ke atas. Hasil pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman didapatkan rerata peningkatan 28,57% menjadi 71,43%. Polutan di jalan (asap kendaraan, debu, asap rokok, dan lain-lain) menjadi faktor risiko utama terjadinya PPOK pada anak jalanan. Peningkatan pemahaman dan pengetahuan dapat merubah perilaku sehingga menurunkan angka kejadian penyakit paru dan saluran napas tidak menular serta tidak menular di Komunitas Sahabat Anak dan akhirnya meningkatkan kualitas hidup mereka. 
PROFIL SUHU DAN TEKANAN DARAH PENERIMA VAKSIN BOOSTER COVID-19 DI SENTRA VAKSIN UNTAR Chrismerry Song; Octavia Dwi Wahyuni; Twidy Tarcisia
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v5i2.19464

Abstract

The SARS-CoV-2 virus has experienced thousands of mutations and has led to the emergence of new, relatively more dangerous variants. Analysis results of several patients who were hospitalized in the period January - February 2022 showed that most of the patients who died had not been fully vaccinated. Results of the study showed a decrease in antibodies 6 months after the complete primary dose of COVID-19 vaccination, so booster dose was needed to increase individual protection. The implementation of education at Universitas Tarumanagara (UNTAR), especially medical faculty, requires face-to-face hands-on learning activities so that all components involved in these activities need to get booster vaccinations for protection. UNTAR in collaboration with health institution held community service activities in the form of giving booster vaccinations to support government programs, as well as launching academic activities. Blood pressure (< 180/110 mmHg) and temperature (<37,5oC) screening are important requirements that must be considered before receiving a booster vaccine. Measurement of blood pressure and body temperature using a sphygmomanometer and digital thermometer which is calibrated before the day of implementation. The screening is carried out to prevent the occurrence of follow-up events after immunization, worsening of the recipient's health condition, and reduction of vaccine effectiveness. A total of 666 participants attended and all of them had normal temperatures with a range between 36oC to 37.1oC. A total of 148 (22.22%) participants had normal blood pressure (blood pressure <120/80 mmHg), 250 (37.54%) participants were classified as pre-hypertension (blood pressure 120/80 and <140/90 mmHg), and 268 (40.2%) participants had hypertension. The high prevalence of hypertension is hoped can be reduced by performing “PATUH“ and “CERDIK” behavior. Education was carried out by the medical team of UNTAR when the blood pressure examination was found to be ≥ 120/80 mmHg. ABSTRAK: Virus SARS-CoV-2 hingga saat ini mengalami ribuan mutasi dan menyebabkan munculnya varian baru yang relatif lebih berbahaya. Sejumlah pasien rawat inap RS pada periode Januari - Februari 2022 menunjukkan sebagian besar pasien yang meninggal belum divaksinasi lengkap. Hasil studi menunjukkan penurunan antibodi pada 6 bulan pasca vaksinasi COVID-19 dosis primer lengkap, sehingga dibutuhkan pemberian dosis lanjutan (booster) untuk meningkatkan proteksi individu. Penyelenggaraan pendidikan di Universitas Tarumanagara (UNTAR) terutama Fakultas Kedokteran memerlukan kegiatan praktik hands-on learning secara tatap muka sehingga seluruh komponen yang terlibat perlu mendapatkan vaksinasi booster untuk perlindungan. UNTAR bekerja sama dengan instansi kesehatan menyelenggarakan kegiatan PKM berupa pemberian vaksin booster sebagai upaya mendukung program pemerintah, juga melancarkan kegiatan akademik. Penapisan berupa pemeriksaan tekanan darah (< 180/110 mmHg) dan suhu tubuh (<37,5oC) merupakan syarat penting yang harus diperhatikan sebelum menerima vaksin booster. Pengukuran tekanan darah dan suhu tubuh menggunakan tensimeter dan termometer digital yang diterima sebelum hari pelaksanaan. Penapisan dilakukan untuk mencegah terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi, perburukan kondisi kesehatan penerima serta pengurangan efektivitas vaksin.  Total sebanyak 666 peserta yang hadir dan semuanya memiliki suhu normal dengan rentang suhu antara 36oC hingga 37,1oC. Sebanyak 148 (22,22%) peserta memiliki tekanan darah normal (tekanan darah <120/80 mmHg), 250 (37,54%) peserta tergolong pre-hipertensi (tekanan darah ≥120/80 dan <140/90 mmHg), dan 268 (40,2%) peserta memiliki tekanan darah tinggi/hipertensi. Tingginya angka prevalensi hipertensi diharapkan dapat diturunkan dengan melakukan perilaku “PATUH” dan “CERDIK”. Edukasi dilaksanakan oleh tim medis UNTAR saat pemeriksaan tekanan darah didapatkan ≥120/80 mmHg
Prospect of umbilical cord mesenchymal stem cell culture waste in regenerative medicine Jeanne Adiwinata Pawitan; Melisa Leviana; Dewi Sukmawati; Isabella Kurnia Liem; Ria Margiana; Twidy Tarcisia
Journal of Global Pharma Technology Volume 9 Issue 07
Publisher : Journal of Global Pharma Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Objective:to analyzevarious growth factor (GF) content in umbilical cord derived mesenchymal stem cell (UC-MSC) culture waste at harvest.Methods: We cultured UC- MSCs in complete medium, and collected the medium waste at harvests.  We noted the time of harvests, and measured the concentrations of EGF, VEGF, NGF and Pl GF in the various medium wastes using ELISA method. We grouped GF concentrations according to various culture lengthsat harvest, and calculated themean values and standard deviations of the various GF. We compareddescriptively the GF concentrations at various culture lengths at harvests to conclude which condition yielded the overall highest GF concentration.Results: EGF, VEGF and PlGF concentrations were highest at harvest day-3, whileNGF concentration was the highest at harvest-day-5, respectively. Therefore, overall highest concentration of most GF was at harvest day 3.Conclusion:UC-MSC culture waste at harvest day-3 containedEGF, VEGF, NGF and PlGF, which might be used in regenerative medicine.
Gambaran penyakit arteri perifer pada warga obesitas di atas usia 50 tahun Kelurahan Jatirasa Kevin Pratama Diliano Siswoto; Twidy Tarcisia
Tarumanagara Medical Journal Vol. 5 No. 1 (2023): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v5i1.21901

Abstract

Obesitas merupakan suatu keadaan di mana terjadi akumulasi lemak berlebihan di tubuh. Akumulasi lemak berlebihan dapat terjadi pada arteri sehingga menyebabkan aterosklerosis. Penyakit arteri perifer (PAP) ditandai dengan adanya penyumbatan pada arteri yang umumnya disebabkan oleh aterosklerosis. Keadaan ini menimbulkan gangguan perfusi hingga kematian jaringan pada ekstremitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran warga obesitas berusia di atas 50 tahun yang mengalami PAP di wilayah Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi pada Bulan Oktober-November 2022. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Teknik consecutive sampling digunakan dalam pengambilan 72 subyek. Data identitas subyek dan anamnesis terkait kriteria inklusi dan eksklusi dikumpulkan menggunakan teknik wawancara sedangkan data obesitas menggunakan pengukuran antropometri dan PAP menggunakan pengukuran ankle brachial index (ABI). Hasil penelitian menunjukkan rerata usia subyek adalah 58 tahun dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 52 subyek (72,2%). Rerata IMT subyek sebesar 30,9 kg/m2 dan 16 (22,2%) subyek mengalami PAP. Pada penelitian ini, perempuan mengalami PAP lebih banyak dibandingkan laki-laki (28,8% vs 5%). Kelompok usia 61-65 tahun dibandingkan dengan kelompok usia lainnya (50-55 tahun 56-60 tahun, 66-70 tahun, dan 71-75 tahun) dan subyek dengan IMT ≥35 kg/m2 paling banyak mengalami PAP, masing-masing sebesar 41,7% dan 50%. Kesimpulan penelitian ini ialah kejadian PAP meningkat seiring dengan bertambahnya usia, peningkatan pada IMT atau berat badan. Jenis kelamin juga berpengaruh pada peningkatan kejadian PAP.
Penapisan Hipertensi melalui Pelayanan Pengukuran Tekanan Darah bagi Warga Desa Kampung Baros Ciherang Pacet Paska Bencana Gempa Cianjur Alexander Halim Santoso; Octavia Dwi Wahyuni; Twidy Tarcisia; Denny Denny
Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Februari : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/nusantara.v3i1.696

Abstract

Geographically, the archipelago Indonesia is located on the Ring of Fire which is the meeting point of many tectonic plates. This condition causes Indonesia to be prone to earthquakes. The West Java Cianjur earthquake in November 2022 was a 5.6 MW earthquake with a depth of 10 km, which was caused by the movement of the Cugenang fault. Ciherang Village in the Pacet sub-district, Cianjur is one of the villages affected by the Cianjur earthquake. Victims of natural disasters are physically, psychologically and socially faced with very complex situations and circumstances. These problems cause stress for all residents and can cause hypertension. The purpose of this Community Service activity is to help ease the mental burden of Ciherang villagers who were affected by the earthquake. It is hoped that through this blood pressure measurement activity, the hypertension status of residents can be known. The results of blood pressure measurements showed that 9.7% had high blood pressure (130-139/85-89 mmHg) and 37.1% of residents had hypertension (≥140/90 mmHg).
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA WARGA ≥50 TAHUN KELURAHAN JATIRASA BEKASI Tarcisia, Twidy; Siswoto, Kevin Pratama Diliano; Wahyuni, Octavia Dwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.44202

Abstract

Beberapa tahun terakhir angka kejadian obesitas di Indonesia meningkat dari 10,5% (2017) menjadi 21,8% (2018). Obesitas sebagai major modifiable risk factor penyakit kardiovaskuler memegang peranan dalam meningkatkan angka kejadian penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskular adalah penyakit jantung-pembuluh darah dengan patofisiologi utama penyumbatan pembuluh darah (aterosklerosis). Aterosklerosis adalah deposit lemak, fibrin, platelet, kalsium dan debris seluler pada endotel pembuluh darah yang dapat menyumbat lumen pembuluh darah sehingga menyebabkan kematian. Aterosklerosis merupakan penyebab tersering kematian dengan peningkatan angka kejadian pada usia ≥ 50 tahun. Indikator untuk menilai adanya aterosklerosis pada individu adalah menilai ada tidaknya PAP pada individu tersebut. Pemeriksaan yang digunakan untuk melihat adanya PAP adalah pemeriksaan ABI, sedangkan pemeriksaan untuk menilai status obesitas individu adalah pemeriksaan IMT. Maka dari itu kami ingin meneliti hubungan IMT dan ABI pada warga ≥50 Tahun Kelurahan Jatirasa Bekasi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan teknik non-randomized consecutive sampling. Data yang terkumpul di uji normalitas dengan analisis hubungan antar variabel menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian kami menunjukkan tingginya angka kejadian IMT tidak diikuti dengan tingginya angka kejadian ABI tidak normal. Ditemukan hubungan tidak bermakna antara nilai IMT dan ABI (p value 1,84). Hal ini terjadi karena peranan ABI dalam menentukan resiko penyakit kardiovaskular lebih dikaitkan dengan status lemak viseral (CI) dibandingkan status obesitas (IMT).
PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA PEREMPUAN 17-22 TAHUN TENTANG SUNSCREEN DI FK UNTAR Maharani, Fauziah Dea Ratna; Tarcisia, Twidy
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.22938

Abstract

Remaja, sebagai fase transisi menuju kedewasaan, mengalami perubahan signifikan baik secara hormonal, fisik, psikologis, maupun sosial. Perubahan ini mendorong mereka untuk mengeksplorasi aktivitas baru, dengan olahraga seperti lari dan bersepeda menjadi pilihan utama, karena bersifat inklusif dan sering dilakukan di luar ruangan, memberikan paparan sinar matahari yang lebih intens. Namun, penting untuk diingat bahwa paparan berlebihan terhadap sinar matahari dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan kulit, seperti sunburn, tanning, penuaan dini, dan meningkatkan risiko kanker kulit. Meskipun pengetahuan remaja tentang pentingnya tabir surya sudah relatif baik, perilaku penggunaannya masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan edukasi untuk meningkatkan kesadaran dan praktik penggunaan tabir surya. Penelitian ini fokus pada remaja perempuan usia 17-22 tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik, dengan pengumpulan data melalui survei menggunakan kuesioner pre-test dan post-test melalui aplikasi Google Form. Edukasi dilakukan melalui video animasi untuk meningkatkan pengetahuan dan praktek penggunaan tabir surya yang benar. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Variabel bebas adalah pengetahuan, sedangkan variabel tergantungnya adalah perilaku penggunaan tabir surya. Analisis statistik, termasuk analisis univariat dan bivariat Wilcoxon, dilakukan dengan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, pengetahuan mahasiswi FK UNTAR sudah baik, dengan 97,1% responden memiliki tingkat pengetahuan yang memadai. Praktek penggunaan tabir surya juga cenderung baik, dengan 82,4% responden menunjukkan tingkat penggunaan yang memadai. Meskipun demikian, edukasi masih diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan praktek yang optimal terkait tabir surya.