Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

EFEKTIFITAS JALUR HIJAU DALAM MENGURANGI POLUSI UDARA OLEH KENDARAAN BERMOTOR Lukmanul Hakim; Priambudi Trie Putra; Azka Lathifa Zahratu
NALARs Vol 16, No 1 (2017): NALARs Vol 16 No 1 Januari 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.1.91-100

Abstract

ABSTRAK. Ameliorasi iklim adalah salah satu manfaat yang diberikan alam khususnya tumbuhan terhadap lingkungan hidup, dengan cara meningkatkan kualitas lingkungan untuk menjamin tersedianya lingkungan yang sehat. Salah satunya adalah dengan menyediakan oksigen (O2) untuk kebutuhan pernafasan dan meminimalisir gas buang kendaraan bermotor yang beracun seperti gas carbon monooksida (CO) dan debu timbal (Pb). Kedua zat beracun ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, khususnya yng berada disekitar jalan raya dan sekitar kawasan industri.Green belt adalah salah satu desain penghijauan yang fungsi utamanya adalah untuk mengurangi debu pencemaran ini. Yang diuji dalam penelitian ini adalah efektifitas desain green belt di sisi jalan raya dalam menangkap atau menjerap partikel (debu) polusi yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor. Fakta dalam percobaan yang dilkukan menunjukkan, bahwa bentuk struktur tajuk dan luas penampang daun sangat menentukan efektifitas dari penyerapan debu polusi. Daun yang mempunyai permukaan yang lebih luas dan mempunyai permukaan yang kasar, mempunyai nilai efektifitas yang tinggi. Begitu juga dengan pohon yang bertajuk rapat dan lebat akan sangat efektif dalam menjerap debu polusi atau polutan. Dalam hal ini, untuk desain green belt, diperlukan beberapa pertimbangan untuk efektifitas dalam mengurangi polusi udara. Yaitu pemilihan jenis vegetasi yang mempunyai daun yang lebar dan kasar serta pemilihan jenis struktur tajuk pohon yang disesuaikan dengan lokasi green belt tetapi dipilih yang rimbun dan lebat.Kata kunci: Ameliorasi iklim, vegetasi, penyerapan dan polusiABSTRACT. Climate amelioration is one of the many benefit from that nature, particularly plant that, provides to the environment, by enhancing quality of environment and guaranting the provision of healthy environment. For example is by providing oxygen (O2) for respiration and minimalizing toxic gas such as carbon monoxide (CO) and lead dust (Pb) emitted by vehicle. Both mentioned are toxic substances which highly dangerous for human health, especially for those residing around streets and industrial areas.Green belt is a greening design having main function to reduce pollution dust. This research tested the effectiveness of green belt on side roads in catching or absorbing pollution dust or particles emitted by vehicles. Facts from this research showed that the shape of canopy structure and leaves’ cross sectional area highly determine the effectiveness of pollution dust absorpsion. Leaves with wider surface area and rough texture have high effectiveness. Trees having dense canopy and bushy are very effective in absorpsion of pollution dust. In this case, to design a green belt will required a few considerations that are affecting effectiveness in reducing air polution. Namely, selection of vegetation that has wide and rough leaves and type selection of tree canopy structure that is dense and bushy and suitable to green belt location.Keywords : climate amelioration, vegetation, absorpsion and pollution
IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN HAYATI RTH DI KOTA DEPOK Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra; Pitria Ramadanti; Daisy Radnawati; Siti Nurisjah
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.29-38

Abstract

ABSTRAK. Pembangunan perkotaan tidak hanya harus terfokus pada lanskap binaan tetapi juga pada lanskap alami. Salah satu elemen lunak yang dianggap penting yaitu keberadaan ruang terbuka hijau (RTH). Pengembangan RTH di lanskap perkotaan selama ini umumnya lebih terfokus dalam mencapai tujuan mereduksi polutan, menciptakan kenyamanan termal, dan juga estetika. Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan manfaat RTH dari sudut pandang konservasi khususnya flora dan fauna. Studi ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman hayati di Kota Depok untuk menjadi acuan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan (green development), sehingga kualitas lingkungan dapat ditingkatkan dan fungsional bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi flora dan fauna. Studi dilaksanakan di tiga lokasi dengan karakter yang berbeda yaitu Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, dan Jalan Juanda. Hasil yang diperoleh nilai keanekaragaman vegetasi berturut-turut berada pada Tahura Pancoran Mas (2,535), Taman Lembah Gurame (1,287), dan Jalan Juanda (0,967). RTH di Jalan Juanda merupakan RTH dengan nilai keanekaragaman vegetasi paling rendah. Rendahnya nilai keanekaragaman vegetasi berpengaruh langsung terhadap keberadaan fauna yang tidak ditemukan pada RTH Jalan Juanda. Studi ini juga berhasil mendata vegetasi-vegetasi penting pada tiap-tiap lokasi yang dapat memberikan informasi mengenai mampu tidaknya vegetasi tersebut beradaptasi dengan lingkungannya. Kata kunci: fauna, flora, konservasi, lanskap perkotaan, ruang terbuka hijau. ABSTRACT. Urban development should not only focus on the man-made landscape but also the natural landscape. One of the important natural landscape is the existence of green open space. Green open space development in urban landscape areas has generally been more focused on achieving the goal of reducing pollutants, creating thermal comfort, as well as aesthetics. Unfortunately, the benefits of green space from the conservation, especially for flora and fauna are still largely ignored. This study aims to record biodiversity in Depok City to become a reference in achieving sustainable development (green development), so that environmental quality can be improved and functional not only for human but also for flora and fauna. The study was conducted in three locations with different characters namely Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, and Jalan Juanda. The results obtained by the value of vegetation diversity are consecutively in Tahura Pancoran Mas (2,535), Lembah Gurame Park (1,287), and Jalan Juanda (0.967). Green open space on Jalan Juanda has the lowest value of vegetation diversity. The low value of vegetation diversity directly affects the presence of fauna because not found in the Jalan Juanda. This study also managed to record important vegetations in each location that can provide information for whether or not the vegetation well-adapted in its environment. Keywords: conservation, fauna, flora, green open space, urban landscape
PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT MEDIKA DRAMAGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS VISUAL Priambudi Trie Putra; Moh. Sanjiva Refi Hasibuan; Ray March Syahadat
NALARs Vol 17, No 1 (2018): NALARs Volume 17 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.17.1.39-50

Abstract

ABSTRAK. Beberapa penelitian melaporkan cara negara-negara di berbagai belahan bumi melestarikan kualitas visual lanskap. Tingginya apresiasi terhadap lanskap membuat mereka selalu melakukan sebuah penilaian atau assessment setiap adanya penambahan struktur baru pada lanskap. Hal inilah yang membuat kualitas visual mereka tetap terjaga dari kerusakan baik yang disengaja maupun tak disengaja. Di Indonesia, perhatian ini masih lemah dan belum ada peraturan dari pemerintah yang khusus mengaturnya. Penelitian ini mencoba melakukan penilaian terhadap kualitas visual pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga yang didirikan pada tahun 2012. Proses proyek dan setelah proyek memiliki beberapa efek yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah dampak visual konstruksi pada lanskap sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis dampak visual dari kegiatan pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga bagi masyarakat sekitar yang dilihat dari aspek natural resources dan cultural resources; dan 2) mengidentifikasi persepsi dan preferensi masyarakat sebagai user utama. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi perlindungan visual setelah adanya pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga terhadap lanskap sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode visual impact assessment (VIA) dengan menggunakan pendekatan dari Ogawa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa kualitas visual Rumah Sakit Medika Dramaga umumnya dapat diterima secara visual, namun perlu dilakukan sedikit tindakan mitigasi (modifikasi kecil) untuk menghilangkan kontras visual yang terjadi dengan lingkungan. Kata kunci: kualitas lingkungan, lanskap, penilaian dampak visual, kualitas visual ABSTRACT. The prior researches in many countries report about preserving their visual landscape qualities. Due to their high appreciation for managing their landscape makes them always conduct an assessment of every new structure in its landscape. That is what makes their landscape well managed. In Indonesia, the attention to that case is still weak, and there are no specific rules issued by the governments. This research tries to assess the visual quality development of Medika Dramaga Hospital that built in 2012. The project process and after the project has several effects that must be considered. One of them is the visual impact of construction on the surrounding landscape. The aims of this article are to 1) analyze the visual impact of Medika Dramaga Hospital towards the community nearby based on natural resources and cultural resources aspects, and 2) to identify the community perception and preference as the primary user. The output of this research is a recommendation for the visual preservation after the completed process of Medika Dramaga Hospital development towards is landscape. This study using visual impact assessment (VIA) method based on Ogawa approaches. The results of the assessment of visual quality Medika Dramaga Hospital acceptable as visually, but need to do a few of mitigation actions (minor modifications) to eliminate the visual contrast that occurs with the surrounding environment. Keywords: environmental quality, landscape, visual impact assessment, visual quality
KONSEP PERENCANAAN TATA HIJAU LANSKAP SEMPADAN SETU MANGGA BOLONG SEBAGAI AREA KONSERVASI TUMBUHAN BERNILAI EKOLOGIS DAN BUDAYA Sitti Wardiningsih; Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra; Retno Purwati; Moh Sanjiva Hasibuan
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.135-144

Abstract

ABSTRAK. Setu Mangga Bolong memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi bagi tanaman khas Betawi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk merencanakan lanskap sempadan Setu Mangga Bolong dengan konsep ekologis tanpa melupakan identitasnya sebagai kawasan budaya. Untuk mencapai tujuan ini maka dilakukan analisis perubahan lahan selama periode 2005-2015. Penilaian kualitas visual dengan menggunakan metode scenic beauty estimation (SBE), semantic differential (SD), dan multidimensional scalling (MDS). Selanjutnya vegetasi yang ada diinventarisasi. Kemudian, vegetasi dalam peraturan dan kebijakan yang memiliki nilai ekologi dan budaya dipertimbangkan. Hasil yang diperoleh kondisi badan air Setu Mangga Bolong pada periode 2005-2015 lebih baik dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, terjadi penurunan area hijau di sempadan Setu Mangga Bolong selama periode tahun 2005-2015. Berdasarkan hasil analisis kualitas visual, lanskap pada area sudut setu yang berbentuk irregular (cekungan) dan juga sudut setu yang berdekatan dengan inlet memiliki kualitas visual yang rendah. Untuk merencanakan tata hijau sempadan setu sebagai area konservasi tanaman bernilai ekologis dan budaya, empat puluh spesies vegetasi eksisting perlu dipertahankan selama tidak mengganggu kualitas dan kuantitas badan air. Vegetasi terpilih direkomendasikan ke lanskap Setu Mangga Bolong sebagai ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi ekologis dan budaya Betawi. Kata kunci: Betawi, regulasi, seleksi, vegetasi ABSTRACT. Setu Mangga Bolong has opportunity to be developed into a conservation area for Betawinese plants. The purpose of this article was to plan the landscape of Mangga Bolong Lake with the ecological concept without forgetting its identity as a cultural area. To achieve these objectives, an analysis landuse change on 2005 to 2015 was executed. Visual quality analysis used scenic beauty estimation (SBE), semantic differential (SD) and multidimensional scalling (MDS). Next, inventory of existing vegetation was executed. Then, the vegetation in the regulation and policy on ecological and cultural value was considered. The results howed that water body condition of Setu Mangga Bolong in 2005 to 2015 period is better from year to year. However, there was a decrease of the green area in Setu Mangga Bolong during the period. Based on the results of visual quality analysis, landscape on the irregular edge of lake and close to the inlet, has low visual quality. To plan the green open space of Setu Mangga Bolong  as ecologicaland cultural plants conservation, the forty species existing vegetation should be maintained as long as it does not  effect for the quality and quantity of water body of the lake. Selected vegetation have been recommended to be applied within Setu Mangga Bolong landscape as green open space that has ecological and cultural functions. Keywords: Betawi, regulation, selection, vegetation
ANALISIS TAPAK LANSKAP WISATA CURUG CIPEUTEUY SEBAGAI ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Dimas Muhammad Thoifur; Daisy Radnawati; Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra; Anendawaty Roito Sagala; Shinta Pertiwi; Ridwansyah Trisnanda Putra
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Nasional Gunung Ciremai sebagai salah satu taman nasional yang ada di Indonesia memiliki 30% area zona pemanfaatan. Oleh masyarakat setempat, area zona pemanfaatan ini dikelola secara swadaya dan diperuntukan sebagai tempat wisata. Salah satu area yang dikembangkan yaitu area Curug Cipeteuy. Sejauh ini, pengembangan area wisata di zona tersebut belum memiliki perencanaan yang matang sesuai tahapan perencanaan lanskap pada umumnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tapak agar dapat digunakan sebagai data dasar dalam proses perencanaan lanskap wisata. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi literatur. Data dianalisis secara deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif. Konsep yang direkomendasikan yaitu area lanskap wisata Curug Cipeteuy yaitu penerapan konsep selaras alam karena berdasarkan hasil analisis scenic beauty estimation (SBE), sebanyak 88,9% area memiliki kualitas visual yang tinggi karena keasriannya. Dalam perencanaan tata hijau, tidak diperkenankan mengintroduksi vegetasi dari luar untuk menjaga sistem ekologi di dalamnya. Material yang direkomendasikan yaitu material-material yang ketersediaanya ada dalam tapak atau tidak jauh dari tapak untuk mendukung konsep selaras alam. Material-material tersebut antara lain kayu pinus, bambu, batu kali, dan batu andesit.
EVALUASI TAMAN JANGKRIK SEBAGAI RTRA DI CIGANJUR, JAKARTA SELATAN Ridwansyah Trisnanda Putra; Daisy Radnawati; Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra; Dimas Muhammad Thoifur
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Jangkrik terletak di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Taman ini rencananya akan dijadikan salah satu ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). Tujuan dari artikel ini yaitu mengevaluasi kondisi eksisting Taman Jangkrik untuk mendukung perencanaan RPTRA. Hal-hal yang dievaluasi antara lain, tautan lingkungan, daya dukung, sosial, visual, vegetasi, dan bangunan lanskap. Data dikumpulkan dengan pendekatan observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Data dianalisis dengan statistika deskriptif. Khusus untuk analisis visual, digunakan analisis scenic beauty estimation (SBE). Hasil yang diperoleh antara lain 1) daya dukung kawasan sudah mencukupi, 2) belum ada pembagian ruang yang jelas, 3) sirkulasi dalam tapak belum optimal, 4) jenis dan cara penanaman vegetasi sudah sesuai, 5) elemen amphitheater pada tapak tidak sesuai dengan standar, 6) kualitas visual masih dapat ditingkatkan dengan pengindahan, 7) material pada playground sudah mulai rusak dan cenderung membahayakan anak.
Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Kualitas Pisang Cavendish pada Periode Pascapanen Ray March Syahadat; Ismail Saleh; Ridwansyah Trisnanda Putra; Risalah Rabbani Ramadhan; Dimas Muhammad Thoifur; Ivan Satriawan Putra; Hindun Hestiningsih; Sukirno Sukirno; Priambudi Trie Putra
AGRO SINTESA JURNAL ILMU BUDIDAYA PERTANIAN Vol 1, No 2 (2018): AGRO SINTESA JURNAL ILMU BUDIDYA PERTANIAN
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.479 KB) | DOI: 10.33603/jas.v1i2.1923

Abstract

Penanganan pascapanen pada pisang tidak hanya dapat dilakukan dengan cara mengatur pemananen atau dengan perlakuan kimia. Perlakuan fisik seperti pengemasan juga dapat menjaga kualitas pisang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tipe kemasan dalam mempertahankan kualitasbuah pisang cavendish. Penelitian dilaksanakan selama tujuh hari dengan menilai 10 parameter.Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal dan dianalisis dengan sidik ragam. Datanonparametrik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis H. Hasil yang diperoleh susut bobot dan indeks warnaterbaik terdapat pada perlakuan pengemasan dengan menggunakan plastik polietilen (PE) dan plastikwrap. Meskipun demikian, kedua perlakuan tersebut tidak dapat mempertahankan daya simpan buah.Perlakuan tanpa pengemasan dan dikemas dengan menggunakan kertas hampir unggul pada semua ujiorganoleptik. Hasil skoring menunjukkan pisang cavendish dengan perlakuan tanpa pengemasan danyang dikemas dengan kertas merupakan perlakuan yang direkomendasikan untuk menjaga kualitaspascapanen.Kata kunci: daya simpan, organoleptik, polietilen, susut bobot. 
PEMELIHARAAN HAZARD DI PADANG GOLF MATOA NASIONAL, JAKARTA SELATAN Samsud Dlukha; Sitti Wardiningsih; Yusi Febriani; Ray March Syahadat; Priambudi Trie Putra
BUANA SAINS Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.888 KB) | DOI: 10.33366/bs.v17i2.810

Abstract

Padang Golf Matoa Nasional is a 18 hole golf course that located in South Jakarta and designed with international standards. A game area of golf courses consist of several zones. The zones need to be maintained by form of ideal and maintenance activities. This study focuses on the maintenance of hazard zones (bunkers, water hazards, and rough) as important part of the golf game area. The purpose of this article provides recommendations on system maintenance hazard in Padang Golf Matoa Nasional so that the quality of the landscape and the game remains optimal. The results obtained in general maintenance hazard zone has been good. To realize optimal results, it is required labor ratios ranging from 1:0,1 to 1:0,3. Furthermore, it is needed to increase the number and renewing putty knife and hoe for effective use of maintenance process.
EDUTOURISM LANDSCAPE PLANNING IN SUKAMULYA VILLAGE, BOGOR DISTRICT Indah Ulfia Utami; Priambudi Trie Putra; Moh. Sanjiva Refi Hasibuan
Journal of Synergy Landscape Vol. 2 No. 2 (2023): Vol 2, No 2, February 2023
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/tjsl.v2i2.16310

Abstract

Sukamulya village is located in Sukamakmur district, Bogor regency. This village is also included in the plan to develop and repair the Puncak Dua line carried out by the Bogor district government. Sukamulya village has a rural landscape with main activities such as agriculture, plantations, and agroforestry. Coffee is one of the primary commodities that is quite potential since the development of coffee plantations in this area. In addition, Sukamulya village's landscape consists of hills with good views and a relatively large river, namely the Cipamingkis river. The site's location is in an area with fertile soil conditions but has a potential risk of moderate-category landslides. This area also needs better access and needs facilities to support tourist activities. This also makes this area lag behind compared to the area traversed by the Puncak Utama route. This article discussed the landscape planning process of Sukamulya Village, which has the potential to be developed as an educational tourism destination in order to compete with other tourist attractions in the Puncak area. The method used in this research is descriptive and scoring with SWOT Analysis. The stages of the landscape planning process are carried out, starting with inventory activities, data analysis, synthesis, and producing a block plan. The analysis results show that efforts are needed to increase the potential of local resources, such as conducting environmental conservation. Landscape planning of Sukamulya Village as educational tourism produces three zoning divisions: the intensive zone, semi-intensive zone, and extensive zone. Further studies are needed on the variety of forms of tourism activities that have educational value in Sukamulya village in order to be able to compete with other tourist attractions in the region and be sustainable.
Pathways of Identity: Sustainable Campus Signage with Digital Integration Khairini, Yulika; Barliana, Dhea Fatha; Trie Putra, Priambudi; Indira, Sri Shindi
Indonesian Green Technology Journal Vol. 15 No. 1 (2026): Indonesian Green Technology Journal
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.igtj.2026.015.01.01

Abstract

The growing need for dependable navigation across the National Institute of Science and Technology (ISTN) emerges as the campus environment becomes more complex. As a higher-education institution in Jakarta, the National Institute of Science and Technology continues to expand its academic and spatial functions, prompting demand for a cohesive wayfinding system that supports daily mobility and reinforces institutional branding. This study adopts a qualitative descriptive approach, grounded in site observation, movement pattern analysis, and the identification of recurring disorientation points, to examine existing navigational conditions across the campus. Based on these findings, a structured and user-focused signage framework is developed to enhance circulation clarity and visual coherence. Readability, consistency, and legibility form the basis of the design strategy, while institutional identity is expressed through controlled formal language, legible typography, and differentiated color cues that assist users in recognizing faculties, departments, and key facilities. Beyond physical signage, the system integrates QR codes to extend navigational and institutional information without disrupting the existing spatial structure. Through this integrated approach, the proposed wayfinding system improves campus legibility while subtly reflecting institutional values embodied in the institution’s motto Wedha Wiyata Wira Sakti, resulting in a coherent, inclusive, and forward-looking campus environment that balances identity, technology, and sustainability